Hamba berlindung kepada Allah dari
syaitan yang terkutuk. Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Segala puji bagi Dzat yang tetap memberi petunjuk makhluk-Nya meski
tahu kebanyakan dari mereka akan mengabaikan. Salam dan sholawat bagi Nabi
Muhammad (s.a.w.) hamba-Nya yang menjadi rahmatan lil alamin dengan kasih
sayang. Demikian pula untuk keluarga dan keturunannya.
Dalam sebuah Riwayat yang diceritakan oleh Haram bin Hayan, dia
berkata, “Telah sampai kepadaku dan telah aku terima sebuah hadits Nabi
(s.a.w.) yang menjelaskan tentang Uwais (r.a.). Maka untuk menyatakan Riwayat
tersebut, aku datang ke Kufah. Di sana aku tidak mempunyai tujuan yang lain,
kecuali semata-mata untuk mencarinya. Akhirnya aku dapat menemuinya di tepi
Sungai Efrat, di sekitar daerah Bagdad, dia sedang duduk berwudhu di siang
hari. Aku mengetahui dia sesuai dengan ciri-ciri yang telah disampaikan oleh
Nabi (s.a.w.) dalam salah satu haditsnya. Dia adalah seorang yang berbadan
kurus, berkulit putih kemerah-merahan, rambutnya selalu tidak teratur,
tatapannya menakutkan dan berwibawa.“
Aku menyampaikan salam kepadanya dan dia pun menjawab salam dari
aku. Dia menatapku lantas aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan
dengannya, namun dia tidak berkenan berjabat tangan denganku. Dalam situasi
semacam itu, aku lalu mengucapkan doa: “Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu
wahai Uwais (r.a.) dan semoga Allah memberikan ampunan kepadamu.” Tiba-tiba aku
tidak tahan melihat keadaannya, timbullah rasa cinta dan ibaku kepadanya. Aku
lalu menangis.
Dan dia pun menangis serasa berkata, “Dan semoga Allah melimpahkan
rahmatNya kepadamu wahai Haram bin Hayyan. Bagaimana pula keadaanmu wahai
saudaraku dalam iman? Laa Ilaha Illallah, Maha Suci Rabb kami, sungguh
janji-Nya pasti terbukti.” Uwais (r.a.) melanjutkan pembicaraannya.
“Darimana engkau tahu namaku dan juga nama bapakku? Padahal aku
sebelum ini tidak pernah berjumpa dengan engkau?”
“Yang memberitahu kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi
Maha Waspada. Ruhku telah mengenal ruhmu ketika kita saling berbicara, sehingga
ruhku dapat berbicara dengan ruhmu.” Jawab Uwais (r.a.). “Sesungguhnya ruh/jiwa[i]
orang-orang mukmin itu dapat saling mengenal antara sebagian mereka dengan yang
lainnya. Mereka saling berkasih sayang karena Allah, walaupun antara mereka itu
belum pernah bertemu, walaupun kampung halaman mereka berjauhan, walaupun tempat
tinggal mereka berlainan.” Uwais (r.a.) melanjutkan, seperti kepada dirinya
sendiri.
“Berikanlah aku sebuah hadits dari Rasulullah (s.a.w.), wahai
Uwais (r.a.)!”
“Sesungguhnya aku menjumpai masa Rasulullah (s.a.w.). Tetapi aku
tidak menjadi sahabat beliau. Aku tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah
(s.a.w.). Namun kami hanya bertemu dengan para sahabat beliau dan aku pun telah
menerima hadits Rasulullah (s.a.w.) melalui mereka. Hanya aku tidak senang
menjadi juru fatwa. Aku mempunyai kesibukan yang menyibukkan diriku dari para
manusia. Aku lebih suka menyendiri.”
Haram bin Hayyan memohon dan meminta agar Uwais (r.a.) bersedia
memberikan wasiat, “Wahai saudaraku, bacakanlah kepadaku akan ayat-ayat dari
Kitabullah, sehingga aku dapat mendengarkan ayat-ayat tersebut darimu. Berilah
aku wasiat, sehingga aku dapat memeliharanya darimu. Sungguh aku bersahabat
denganmu di jalan Allah.”
Uwais (r.a.) lalu menggenggam tangan Haram bin Hayyan lalu
mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk. Rabb-ku telah berfirman, suatu
firman yang paling hak adalah firman Rabb-ku dan ucapan yang paling benar
adalah ucapan Rabb-ku.” Lalu Uwais Al-Qarni (r.a.) membacakan ayat: Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang
ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya
melainkan dengan hak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sungguh hari
Keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya. Yaitu hari
yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikit pun dan
mereka tidak akan mendapat pertolongan kecuali orang yang diberi rahmat oleh
Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. QS Ad Dukhan
44 ayat 38 – 42. Selesai membaca ayat tersebut, Uwais (r.a.) berteriak keras.
Haram bin Hayyan menduga bahwa dia telah pingsan.
Dalam keadaan seperti itu, Uwais (r.a.) berkata, “Wahai putra
Hayyan, ayahmu telah wafat dan engkau pun akan wafat. Adakalanya ke Surga dan
adakalanya ke neraka. Bapakmu Adam (a.s.) telah wafat, ibumu Hawa (a.s.) Nabi
Musa (a.s.) telah wafat, Nabi Dawud (a.s.) telah wafat dan Nabi Muhammad
(s.a.w.) juga telah wafat, sahabat Abu Bakar (r.a.) telah wafat, demikian pula
Umar bin Al-Khathab juga telah wafat.”
“Sesungguhnya Umar bin Al-Khathab belum wafat.” Kata Haram bin
Hayyan.
Uwais (r.a.) menyambung perkataannya, “Betul Umar (r.a.) telah
wafat, Rabb-ku telah memberitahukan tentang kematiannya. Dan diriku sendiri
telah memberitahukan tentang kematiannya. Aku dan engkau tergolong orang yang
wafat.” Setelah ucapan ini, Uwais (r.a.) membaca sholawat atas Nabi (s.a.w.)
dan berdoa dengan doa yang hanya sebentar dia panjatkan. Uwais (r.a.) berkata
lagi, “Wasiat berikut ini adalah wasiat dariku untukmu. Tetaplah engkau selalu
berpegang pada Kitabullah dan terimalah tentang berita kematian para Rasul,
berita kematian para mukminin. Ingatlah selalu akan kematian. Janganlah ingat
mati engkau lepaskan dari hatimu sekejap mata selama engkau masih hidup.
Berilah segenap umat Islam akan nasihat-nasihat yang baik. Janganlah engkau
memisahkan diri dari jamaah. Sebab kalau demikian, engkau tentu akan berpisah
dengan agamamu sedang engkau sendiri tidak mengerti, yang akibatnya engkau
masuk neraka. Doakanlah dirimu dan juga diriku.”
Sesudah menyampaikan wasiat seperti itu, lalu dia berdoa, “Ya
Allah, sesungguhnya Haram bin Hayyan ini telah menduga dirinya mahabbah
kepadaku di jalan-Mu. Dan dia telah mengunjungi aku karena Engkau.
Perlihatkanlah wajahnya di Surga. Masukkanlah dia ke dalam negeri-Mu, di negeri
Kesejahteraan. Peliharalah dia selama masih hidup di dunia. Berilah dia rasa
rela di dunia dengan kehidupan yang serba sedikit. Jadikanlah dia golongan
orang-orang yang bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadanya,
berilah dia balasan yang baik dariku.”
Selesai berdoa, Uwais (r.a.) mengucapkan Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh sebagai tanda perpisahan. “Setelah hari ini aku
tidak dapat melihatmu walaupun engkau mencariku. Aku tidak senang dimasyhurkan,
aku lebih senang menyendiri. Karena aku banyak mengalami kesedihan selama aku
hidup bersama umat manusia. Janganlah engkau bertanya tentang aku. Janganlah
engkau mencariku. Ketahuilah bahwa engkau berada dalam suatu tingkah diriku
walau aku tidak melihatmu dan walaupun engkau ingin melihatku. Ingatlah padauk,
doakanlah aku, sebab aku akan berdoa untukmu dan insya Allah aku akan selalu
mengingatmu.” Uwais (r.a.) kemudian melanjutkan, “Engkau di sini dan aku akan
pergi ke tempat lain.”
Haram bin Hayyan berkata, “Mendengar penuturan Uwais (r.a.) itu,
aku merasa sangat berkeinginan untuk mengikuti berjalan barang satu jam saja.
Namun dia terus meninggalkan aku dengan menangis dan aku pun ikut menangis. Aku
melihatnya waktu dia berjalan hingga dia masuk ke suatu jalan tikungan. Setelah
peristiwa itu, aku mencoba bertanya-tanya tentang dia dan aku pun selalu
mencari dia. Namun tidak seorang pun yang memberitahukan kepadaku tentang dia.
Dan dalam setiap minggu aku selalu melihatnya dalam mimpi lebih dari satu kali.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Papahan, 4 Ramadhan 1446 / 4 Maret 2025
Referensi :
1. Samsul
Munir Amin, Kisah Sejuta Hikmah Kaum Sufi.
[i] Penggunaan istilah ruh atau jiwa seringkali membingungkan, apalagi
kalau bukan dari naskah asli. Menurut hemat kami, istilah yang tepat adalah
jiwa yang saat berupa sperma sudah mampu menyaksikan (syahadat), meski ruhNya
belum dihembuskan.