Selasa, 25 Maret 2025

Kisah Uwais Al-Qarni (r.a.) dengan Haram bin Hayyan (r.a.)

Hamba berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Dzat yang tetap memberi petunjuk makhluk-Nya meski tahu kebanyakan dari mereka akan mengabaikan. Salam dan sholawat bagi Nabi Muhammad (s.a.w.) hamba-Nya yang menjadi rahmatan lil alamin dengan kasih sayang. Demikian pula untuk keluarga dan keturunannya.

Dalam sebuah Riwayat yang diceritakan oleh Haram bin Hayan, dia berkata, “Telah sampai kepadaku dan telah aku terima sebuah hadits Nabi (s.a.w.) yang menjelaskan tentang Uwais (r.a.). Maka untuk menyatakan Riwayat tersebut, aku datang ke Kufah. Di sana aku tidak mempunyai tujuan yang lain, kecuali semata-mata untuk mencarinya. Akhirnya aku dapat menemuinya di tepi Sungai Efrat, di sekitar daerah Bagdad, dia sedang duduk berwudhu di siang hari. Aku mengetahui dia sesuai dengan ciri-ciri yang telah disampaikan oleh Nabi (s.a.w.) dalam salah satu haditsnya. Dia adalah seorang yang berbadan kurus, berkulit putih kemerah-merahan, rambutnya selalu tidak teratur, tatapannya menakutkan dan berwibawa.“

Aku menyampaikan salam kepadanya dan dia pun menjawab salam dari aku. Dia menatapku lantas aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya, namun dia tidak berkenan berjabat tangan denganku. Dalam situasi semacam itu, aku lalu mengucapkan doa: “Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu wahai Uwais (r.a.) dan semoga Allah memberikan ampunan kepadamu.” Tiba-tiba aku tidak tahan melihat keadaannya, timbullah rasa cinta dan ibaku kepadanya. Aku lalu menangis.

Dan dia pun menangis serasa berkata, “Dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu wahai Haram bin Hayyan. Bagaimana pula keadaanmu wahai saudaraku dalam iman? Laa Ilaha Illallah, Maha Suci Rabb kami, sungguh janji-Nya pasti terbukti.” Uwais (r.a.) melanjutkan pembicaraannya.

“Darimana engkau tahu namaku dan juga nama bapakku? Padahal aku sebelum ini tidak pernah berjumpa dengan engkau?”

“Yang memberitahu kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Waspada. Ruhku telah mengenal ruhmu ketika kita saling berbicara, sehingga ruhku dapat berbicara dengan ruhmu.” Jawab Uwais (r.a.). “Sesungguhnya ruh/jiwa[i] orang-orang mukmin itu dapat saling mengenal antara sebagian mereka dengan yang lainnya. Mereka saling berkasih sayang karena Allah, walaupun antara mereka itu belum pernah bertemu, walaupun kampung halaman mereka berjauhan, walaupun tempat tinggal mereka berlainan.” Uwais (r.a.) melanjutkan, seperti kepada dirinya sendiri.

“Berikanlah aku sebuah hadits dari Rasulullah (s.a.w.), wahai Uwais (r.a.)!”

“Sesungguhnya aku menjumpai masa Rasulullah (s.a.w.). Tetapi aku tidak menjadi sahabat beliau. Aku tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah (s.a.w.). Namun kami hanya bertemu dengan para sahabat beliau dan aku pun telah menerima hadits Rasulullah (s.a.w.) melalui mereka. Hanya aku tidak senang menjadi juru fatwa. Aku mempunyai kesibukan yang menyibukkan diriku dari para manusia. Aku lebih suka menyendiri.”

Haram bin Hayyan memohon dan meminta agar Uwais (r.a.) bersedia memberikan wasiat, “Wahai saudaraku, bacakanlah kepadaku akan ayat-ayat dari Kitabullah, sehingga aku dapat mendengarkan ayat-ayat tersebut darimu. Berilah aku wasiat, sehingga aku dapat memeliharanya darimu. Sungguh aku bersahabat denganmu di jalan Allah.”

Uwais (r.a.) lalu menggenggam tangan Haram bin Hayyan lalu mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk. Rabb-ku telah berfirman, suatu firman yang paling hak adalah firman Rabb-ku dan ucapan yang paling benar adalah ucapan Rabb-ku.” Lalu Uwais Al-Qarni (r.a.) membacakan ayat: Dan Kami  tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sungguh hari Keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya. Yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikit pun dan mereka tidak akan mendapat pertolongan kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. QS Ad Dukhan 44 ayat 38 – 42. Selesai membaca ayat tersebut, Uwais (r.a.) berteriak keras.

Haram bin Hayyan menduga bahwa dia telah pingsan.

Dalam keadaan seperti itu, Uwais (r.a.) berkata, “Wahai putra Hayyan, ayahmu telah wafat dan engkau pun akan wafat. Adakalanya ke Surga dan adakalanya ke neraka. Bapakmu Adam (a.s.) telah wafat, ibumu Hawa (a.s.) Nabi Musa (a.s.) telah wafat, Nabi Dawud (a.s.) telah wafat dan Nabi Muhammad (s.a.w.) juga telah wafat, sahabat Abu Bakar (r.a.) telah wafat, demikian pula Umar bin Al-Khathab juga telah wafat.”

“Sesungguhnya Umar bin Al-Khathab belum wafat.” Kata Haram bin Hayyan.

Uwais (r.a.) menyambung perkataannya, “Betul Umar (r.a.) telah wafat, Rabb-ku telah memberitahukan tentang kematiannya. Dan diriku sendiri telah memberitahukan tentang kematiannya. Aku dan engkau tergolong orang yang wafat.” Setelah ucapan ini, Uwais (r.a.) membaca sholawat atas Nabi (s.a.w.) dan berdoa dengan doa yang hanya sebentar dia panjatkan. Uwais (r.a.) berkata lagi, “Wasiat berikut ini adalah wasiat dariku untukmu. Tetaplah engkau selalu berpegang pada Kitabullah dan terimalah tentang berita kematian para Rasul, berita kematian para mukminin. Ingatlah selalu akan kematian. Janganlah ingat mati engkau lepaskan dari hatimu sekejap mata selama engkau masih hidup. Berilah segenap umat Islam akan nasihat-nasihat yang baik. Janganlah engkau memisahkan diri dari jamaah. Sebab kalau demikian, engkau tentu akan berpisah dengan agamamu sedang engkau sendiri tidak mengerti, yang akibatnya engkau masuk neraka. Doakanlah dirimu dan juga diriku.”

Sesudah menyampaikan wasiat seperti itu, lalu dia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Haram bin Hayyan ini telah menduga dirinya mahabbah kepadaku di jalan-Mu. Dan dia telah mengunjungi aku karena Engkau. Perlihatkanlah wajahnya di Surga. Masukkanlah dia ke dalam negeri-Mu, di negeri Kesejahteraan. Peliharalah dia selama masih hidup di dunia. Berilah dia rasa rela di dunia dengan kehidupan yang serba sedikit. Jadikanlah dia golongan orang-orang yang bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadanya, berilah dia balasan yang baik dariku.”

Selesai berdoa, Uwais (r.a.) mengucapkan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh sebagai tanda perpisahan. “Setelah hari ini aku tidak dapat melihatmu walaupun engkau mencariku. Aku tidak senang dimasyhurkan, aku lebih senang menyendiri. Karena aku banyak mengalami kesedihan selama aku hidup bersama umat manusia. Janganlah engkau bertanya tentang aku. Janganlah engkau mencariku. Ketahuilah bahwa engkau berada dalam suatu tingkah diriku walau aku tidak melihatmu dan walaupun engkau ingin melihatku. Ingatlah padauk, doakanlah aku, sebab aku akan berdoa untukmu dan insya Allah aku akan selalu mengingatmu.” Uwais (r.a.) kemudian melanjutkan, “Engkau di sini dan aku akan pergi ke tempat lain.”

Haram bin Hayyan berkata, “Mendengar penuturan Uwais (r.a.) itu, aku merasa sangat berkeinginan untuk mengikuti berjalan barang satu jam saja. Namun dia terus meninggalkan aku dengan menangis dan aku pun ikut menangis. Aku melihatnya waktu dia berjalan hingga dia masuk ke suatu jalan tikungan. Setelah peristiwa itu, aku mencoba bertanya-tanya tentang dia dan aku pun selalu mencari dia. Namun tidak seorang pun yang memberitahukan kepadaku tentang dia. Dan dalam setiap minggu aku selalu melihatnya dalam mimpi lebih dari satu kali.”

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Papahan, 4 Ramadhan 1446 / 4 Maret 2025

Referensi :

1.     Samsul Munir Amin, Kisah Sejuta Hikmah Kaum Sufi.



[i] Penggunaan istilah ruh atau jiwa seringkali membingungkan, apalagi kalau bukan dari naskah asli. Menurut hemat kami, istilah yang tepat adalah jiwa yang saat berupa sperma sudah mampu menyaksikan (syahadat), meski ruhNya belum dihembuskan.


Kamis, 13 Maret 2025

Pertemuan Uwais Al-Qarni (r.a.) dengan Umar (r.a.) & Ali (k.w.)

Hamba berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Dzat yang tetap memberi petunjuk makhluk-Nya meski tahu kebanyakan dari mereka akan mengabaikan. Salam dan sholawat bagi Nabi Muhammad (s.a.w.) hamba-Nya yang menjadi rahmatan lil alamin dengan kasih sayang. Demikian pula untuk keluarga dan keturunannya.

Umar (r.a.) dan Ali (k.w.) mencarinya selama sepuluh tahun, namun belum juga berhasil menjumpai Uwais Al-Qarni (r.a.). Setahun sebelum Umar (r.a.) wafat, Umar (r.a.) menjumpai sekelompok kabilah di gunung Abi Qubais. Pada pertemuan dengan kabilah itu, Umar (r.a.) memanggil kabilah tersebut dengan suara lantang, “Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian ada orang yang bernama Uwais (r.a.)?”

Mendengar ucapan Umar (r.a.), berdirilah seorang tua renta dengan rambut janggutnya yang Panjang. Dengan tertunduk dia berkata, “Aku tidak mengenal Uwais (r.a.) itu, tetapi ada anak saudaraku yang bernama Uwais (r.a.), dia tidak terkenal Namanya. Dia miskin dan sangat terhina bahkan orang menganggapnya gila. Dia suka bertempat di padang sahara, dia tidak memiliki teman dan tidak ada orang yang mau mendekatinya.” Orang itu mengakhiri jawabannya kepada Umar.

Umar (r.a.) menatap dalam-dalam orang tua itu.

“Uwais (r.a.) sedang menggembala unta-unta kami, dia adalah orang yang hina di kalangan kami.” Orang tua itu melanjutkan ceritanya.

“Dimanakah anak saudaramu itu? Apakah dia berada bumi Haram ini?” tanya Umar (r.a.).

“Ya, dia berada di sini.”

“Dimanakah dia dapat kutemui?”

“Di sekitar pepohonan Kurma di bukit Arafah.” Jawab orang tua itu sambil menunjuk kea rah pepohonan Kurma yang dimaksud.

Umar (r.a.) dan Ali (k.w.) lalu menuju bukit Arafah. Mereka berdua melihat Uwais (r.a.) sedang sholat menghadap ke arah pohon Kurma, sementara di sekelilingnya terdapat unta-unta yang sedang digembalakan. Umar (r.a.) dan Ali (k.w.) segera menambatkan keledai yang ditumpanginya dan seraya menghampiri Uwais (r.a.) lantas menyapanya dengan ucapan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

Mendengar ucapan salam itu, Uwais (r.a.) segera mempercepat sholatnya. “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab Uwais begitu selesai mengerjakan sholat. “Aku ini pengembala unta dan aku hanyalah seorang buruh di antara penduduk kabilah ini.” Uwais (r.a.) berkata kepada Umar (r.a.) dan Ali (k.w.)

“Kami berdua tidak bertanya kepadamu mengenai pekerjaan menggembala dan mengenai upah mengupah. Siapakah sebenarnya nama engkau?”

“Namaku Abdullah,” jawab Uwais (r.a.).

“Kami mengerti bahwa penduduk langit dan bumi seluruhnya adalah Abdullah. Tetapi sebenarnya siapakah namamu yang telah diberikan orang tuamu kepadamu?”

“Wahai saudara berdua, apakah keperluanmu berdua datang menemuiku?”

“Nabi Muhammad (s.a.w.) telah memberikan tanda-tanda dan ciri-ciri orang yang bernama Uwais Al-Qarni (r.a.) kepada kami. Dan sekarang kami telah menemui sedikit tanda-tanda itu, yaitu raut muka yang kelihatan pucat dan kulit putih kemerah-merahan. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga memberitahu kepada kami bahwa di bawah pundak orang yang bernama Uwais (r.a.) sebelah kiri terdapat kulit putih yang mengkilat. Maka sudilah kiranya engkau memperlihatkan kepada kami. Seandainya ternyata ada tanda-tanda itu, maka tentulah engkau Uwais Al-Qarni (r.a.) yang telah disebutkan Nabi (s.a.w.) itu.”

Uwais (r.a.) lalu memperlihatkan tanda-tanda itu, ternyata memang benar.

Melihat tanda-tanda itu, Umar (r.a.) dan Ali (k.w.) yakin bahwa orang yang di hadapannya itu adalah Uwais (r.a.) yang dimaksud Nabi (s.a.w.). dengan serta merta mereka berdua segera mencium Uwais (r.a.) sebagai tanda penghormatan.

Uwais (r.a.) kini merasa serba salah.

“Kami berdua bersaksi bahwa engkau adalah Uwais Al-Qarni (r.a.). Berdoalah kepada Allah, mohonkanlah ampunan kepada kami berdua, semoga Allah akan mengampuni.”

“Aku tidak mengkhususkan permohonan ampunan kepada Allah hanya bagi diriku dan juga bagi salah seorang anak Adam. Tetapi istighfar ini diperuntukkan bagi orang-orang mukmin dan orang-orang muslim, baik laki-laki maupun Perempuan, baik di darat maupun di laut.” Uwais (r.a.) memandangi Umar (r.a.) dan Ali (k.w.) yang kini ada di hadapannya. Lalu meneruskan, “Wahai saudara seiman, Allah telah mengenalkan kepadamu berdua mengenai keadaanku dan Allah telah memperkenalkan pula perkara dan urusanku. Siapakah sebenarnya kalian berdua?” tanya Uwais (r.a.) tanpa ekspresi.

“Yang datang bersamaku adalah Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab dan aku adalah Ali bin Abi Thalib.”

Sampai di sini, Uwais (r.a.) segera berdiri tegak lalu berkata, “Kesejahteraan bagimu wahai Amirul Mukminin dan semoga rahmat dan berkat-Nya pun senantiasa dilimpahkan kepadamu. Dan engkau wahai putra Abi Thalib, semoga Allah membalas kebaikan kepadamu selama engkau memegang pimpinan umat.”

“Semoga Allah membalas kepadamu dengan balasan yang baik.” Jawab Umar (r.a.) dan Ali (k.w.) serempak.

“Tetaplah engkau berada di tempat ini sampai aku kembali dari kota Mekah untuk datang menemuimu dengan membawa pemberianku sebagai hadiah untukmu dariku. Aku akan menemuimu di tempat ini lagi.” Kata Umar (r.a.).

“Wahai Amirul Mukminin, sudah tidak ada tempat bertemu lagi antara engkau dan aku. Setelah ini aku tidak dapat melihatmu lagi. Dan engkau pun tidak dapat melihatku lagi. Aku tidak membutuhkan hadiah dan aku juga tidak membutuhkan pakaian. Tidakkah engkau tahu bahwa aku hanya mempunyai dua buah pakaian dari bulu? Kapankah engkau mengetahui aku merusakkannya? Aku memiliki uang dari upah kerjaku empat dirham sebagai bekal hidupku. Itu saja sudah cukup, hingga sisanya aku serahkan kepada ibuku. Wahai Amirul Mukminin, sungguh antara engkau dan aku terbentang jalan yang sulit untuk ditempuh. Tiada orang yang dapat menempuhnya kecuali orang-orang yang kurus tubuhnya. Rajin-rajinlah wahai Umar (r.a.), semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.”

Mendengar kata-kata Uwais Al-Qarni (r.a.) itu, Umar (r.a.) menyesal lantas memukulkan cambuknya ke atas tanah. Kemudian dengan suara lantang Umar (r.a.) berkata, “Hendaknya dahulu ibuku tidak melahirkanku. Hendaknya dahulu ia mandul dan tidak usah melahirkanku. Ingatlah, siapa sebenarnya yang pantas memegang jabatan Khalifah?” Umar (r.a.) menyesali tindakannya. [Perihal saran Nabi (s.a.w.) kepada Umar (r.a.) dan Ali (k.w.) barangkali karena beliau sudah disaksikan akan adanya konflik antara Umar (r.a.) dan Ali (k.w.) yang berhubungan dengan pemilihan Khalifah. Ini merupakan bentuk teguran halus Nabi (s.a.w.) kepada para sahabat dengan cara yang netral dan lembut.].

“Wahai Amiirul Mukminin, perkenankanlah aku akan pergi, engkau tidak usah mencariku.” Kata Uwais (r.a.).

Umar (r.a.) lalu Kembali ke Mekah. Sementara Uwais (r.a.) berlalu menggiring unta-unta yang digembalakan dan diserahkannya unta-unta itu kepada kabilah yang memperkerjakannya.

Diceritakan bahwa Uwais (r.a.) senantiasa menggunakan waktu-waktunya untuk beribadat dan menyembah kepada Allah, hingga akhirnya meninggal dunia.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Papahan, 4 Ramadhan 1446 / 4 Maret 2025

Referensi :

1.     Samsul Munir Amin, Kisah Sejuta Hikmah Kaum Sufi.

Selasa, 04 Maret 2025

Uwais Al-QArni hamba yang dicintai Allah SWT

Hamba berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Dzat yang tetap memberi petunjuk makhluk-Nya meski tahu kebanyakan dari mereka akan mengabaikan. Salam dan sholawat bagi Nabi Muhammad (s.a.w.) hamba-Nya yang menjadi rahmatan lil alamin dengan kasih sayang. Demikian pula untuk keluarga dan keturunannya.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah (r.a.) bahwa suatu ketika Rasulullah (s.a.w.) bercerita: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung sangat mencintai kepada para hamba-Nya yang:

o   Bersih hatinya (tidak suka ghibah, tidak mengejar manfaat duniawi belaka, tidak sombong, tidak ujub, tidak suka iri apalagi dengki, berbelas kasih kepada yang terkena musibah dan tidak mencari kemasyhuran),

o   Selalu bersembunyi,

o   Selalu berbakti,

o   Tidak pernah mengatur rambut kepalanya,

o   Raut mukanya kelihatan berdebu,

o   Selalu lapar perutnya,

[Rasulullah (s.a.w.) tidak mengisyaratkan pentingnya nasab. Barangkali dengan meninggikan nasab akan menjadi pemicu orang lain merasa lebih inferior. Dan ini melenceng jauh dari Islam yang mengutamakan kesetaraan bagi semua orang. Yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya (QS Al Hujurat 49 ayat 13).]

Yaitu orang-orang yang:

o   manakala mereka diminta untuk datang kepada para penguasa, mereka tidak mau memberi kesempatan,

o   manakala mereka dipinang oleh wanita-wanita cantik, mereka tidak mau menerima dan tidak bersedia menikahi,

o   manakala mereka pergi, tiada orang yang merasa kehilangan,

o   manakala mereka datang, maka tiada sambutan yang menggembirakan,

o   manakala mereka sakit, tiada orang yang menjenguk,

o   manakala mereka wafat, tiada orang yang mengunjungi.”

“Wahai Rasulullah (s.a.w.), bagaimana kita mengenal salah seorang dari mereka?” tanya para sahabat.

“Salah seorang dari mereka adalah Uwais bin Amir Al-Qarni (r.a.).” Jawab Rasulullah (s.a.w.).

“Bagaimanakah ciri-ciri Uwais Al-Qarni (r.a.) itu?”

“Dia adalah seorang yang raut mukanya kelihatan pucat, kulitnya putih kemerah-merahan, lapang dadanya, tingginya sedang, raut mukanya cukup manis, selalu mendekatkan janggutnya kea rah dada, selalu melihat ke arah tempat sujudnya, selalu meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, selalu menangisi dirinya, hanya mempunyai dua potong pakaian dan tidak punya pakaian lain selain itu, dia mengenakan pakaian sarung dari bulu dan selendang dari bulu, dia tidak dikenal oleh para penghuni bumi, tetapi dia dikenal oleh para penghuni langit, seandainya dia bersumpah tentu dia tepati dalam sumpahnya. Ingatlah bahwa di bawah Pundak kirinya terdapat kulit putih yang mengkilat, ingatlah kelak di hari Kiamat akan dikatakan kepada sekalian hamba, “Masuklah ke Surga.” Dan dikatakan kepada Uwais Al-Qarni (r.a.), “Diamlah! Berikan syafaat!” Maka Allah berkenan memberikan izin kepada Uwais Al-Qarni (r.a.) untuk memberikan syafaat kepada golongan sejumlah suku Rabiah dan suku Mudhar.”

“Wahai Umar (r.a.), wahai Ali (k.w.), jika engkau berdua dapat bertemu dengan dia, mintalah kepada dia agar dia memintakan ampunan kepada Allah untuk kalian berdua. Tentu Allah akan memberikan ampunan terhadap kalian.” Lanjut Nabi (s.a.w.).

[Uwais (r.a.) belum pernah bertemu Nabi (s.a.w.) meski hidup sezaman. Namun tidak menghalangi Uwais (r.a.) bisa menjadi hamba yang dicintai Allah SWT. Dan kita tidak tahu pasti amalan apa yang telah membuatnya dicintai Allah SWT. Namun hadits ini menyemangati kita yang hidup tidak bertemu Nabi (s.a.w.), bahwa kita juga memiliki potensi yang sama untuk dicintai Allah. Untuk menjadi dicintai Allah tidak perlu menjadi orang lain, cukup dengan menjalani fitrah kita masing-masing untuk berjuang meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan selalu membersihkan hati (tazkiyatun-nafs).]

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Salamun 'ala minat-taba'al-huda.

Papahan, 4 Ramadhan 1446 / 4 Maret 2025

Referensi :

1.     Samsul Munir Amin, Kisah Sejuta Hikmah Kaum Sufi. 

Rabu, 08 Januari 2025

Persiapkan Dirimu Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Dzat yang tetap menciptakan makhluk-Nya meski tahu kebanyakan dari mereka akan durhaka kepada-Nya. Salam dan sholawat bagi Nabi Muhammad (s.a.w.) hamba-Nya yang terbaik yang bisa memenuhi harapan-Nya beserta keluarganya, keturunannya dan umatnya.

Manusia wajib merencanakan masa depannya. Baik itu untuk menarik manfaat atau mencegah terwujudnya resiko. Untuk itu ilmu melihat masa depan atau Eskatologi perlu difahami. Eskatologi bukan ramalan, tetapi bagian dari upaya mensukseskan diri. Ilmu Eskatologi harus berbasis kepada data-data yang sahih, tujuan yang pasti dan metologi ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.

Fitnah akhir zaman adalah beban bagi setiap umat. Karena fitnah adalah proses pemurnian. Setiap umat pasti menghadapi musibah, fitnah dan bala sesuai zamannya. Demikian pula pada zaman ini yang juga dipercayai sebagai akhir zaman. Disebut akhir zaman karena manusia sudah memasuski era dimana akal yang merupakan puncak dari sarana manusia telah ditunjukkan sebagai wujud di luar yang disebut dengan Artificial Intelligent (AI).

Dengan berbasis kepada Kitab-kitab terdahulu dan kejadian-kejadian yang telah dan sedang berlangsung, maka dapat diprediksi secara timeline sebagai berikut:

1.     Tahun 2025 akan banyak terjadi kematian akibat perang, bencana alam, pandemi dan lain-lain. Kelakuan oknum-oknum yang mengatas-namakan keluarga Nabi (s.a.w.) akan semakin buruk yang menciptakan kebencian umat kepada mereka, termasuk keluarga Nabi (s.a.w.) yang sebenarnya yang akan menjadi korban. Demikian pula dengan akhlak buruk para ulama yang mengklaim dirinya sebagai pewaris Nabi (s.a.w.) akan semakin mendorong kebencian umat kepada Islam.

2.     Tahun 2026 akan sama dengan tahun 2025, namun situasi dan kondisi semakin memburuk.

3.     Tahun 2027 situasi dan kondisi semakin memburuk dan awal kekeringan yang mencekik serta kebencian umat kepada keluarga Nabi (s.a.w.) beserta para pengaku keluarganya mendorong kepada tindak kekerasan bahkan pembunuhan. Tokoh yang disebut dengan Syufyani akan muncul memimpin tindak kekerasan ini.

4.     Tahun 2028 situasi dan kondisi tambah memburuk, kekeringan menjadi semakin parah. Pembunuhan kepada keluarga Nabi (s.a.w.) dan umat Islam semakin menjadi-jadi. Namun pada akhir tahun, Imam Mahdi (a.s.) akan dimunculkan Allah SWT dan memenangkan perang melawan Syufyani.

5.     Tahun 2029 kekeringan mencapai puncaknya dan perang dunia ketiga berlangsung. Imam Mahdi (a.s.) akan memenangkan perang tersebut. Hingga Dajjal Al Masih terpaksa harus keluar dengan kemarahan, karena strategi dan caranya telah dihancurkan Imam Mahdi (a.s.). kebanyakan umat manusia akan mengikuti Dajjal Al Masih karena sihirnya yang memukau yang membuat para pengejar kenikmatan dunia akan berpaling kepadanya. Hal ini memicu turunnya Isa Ibn Maryam (a.s.).

6.     Tahun 2030 Dajjal Al Masih akan dibunuh oleh Nabi Isa (a.s.) dan dunia akan mengalami pencerahan di bawah kepemimpinan Imam Mahdi (a.s.) beserta Isa Ibn Maryam (a.s.).

Allah SWT lebih mengetahui akan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung dan yang akan tejadi. Namun ini adalah prakiraan masa depan yang mestinya dijadikan pengingat. Tanamkan keimanan, hilangkan bibit-bibit kemunafikan sehingga hati kita betul-betul bersih dari kemunafikan sebagaimana diperintahkan Allah SWT dan telah disampaikan oleh Rasul-Nya (s.a.w.)!

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Papahan, 7 Rajab 1446 / 8 Januari 2025

Referensi :

1. 

Selasa, 27 Agustus 2024

Halusinasi Dalam Berketuhanan

Banyak pernyataan orang-orang bahwa kalau sudah hadir ke hadirat-Nya, janganlah berpaling atau mengaku sudah melihat Allah SWT dengan kesadaran atau mengaku sudah jadi ahli makrifat dan lain-lain. Hadits dari Muadz bin Jabal (r.a.) ini semoga menjadi pengingat kita semua bahwa itu hanyalah bagian dari proses perjuangan bukan berarti sudah mencapai maqam tersebut. Apalagi kalau ilmunya saja belum sampai kepadanya. Hadits di bawah  menjelaskan bahwa syarat-syarat untuk menembus langit sedemikian ketat dan tidak bisa dilobi. Maka, janganlah mudah terhalusinasi dalam berketuhanan. Itu adalah cara setan untuk membuat kita paling tidak tersesat.

Kisah berikut semoga menyadarkan mereka-mereka yang sudah terhalusinasi:

Telah diceritakan oleh Ibnu al-Mubarak tentang seorang laki-laki yang bernama Khalid bin Ma’dan, dimana ia pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal (r.a.), salah seorang sahabat Nabi Muhammad (s.a.w.), “Wahai Mu’adz! Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang telah engkau dengar langsung dari Rasulullah (s.a.w.), suatu hadits yang engkau hafal dan selalu engkau ingat setiap harinya disebabkan oleh sangat kerasnya hadits tersebut, sangat halus dan mendalamnya hadits tersebut. Hadits yang manakah yang menurut engkau yang paling penting?”

Kemudian, Khalid bin Ma’dan menggambarkan keadaan Mu’adz sesaat setelah ia mendengar permintaan tersebut, “Mu’adz tiba-tiba saja menangis sedemikian rupa sehingga aku menduga bahwa beliau tidak akan pernah berhenti dari menangisnya. Kemudian, setelah beliau berhenti dari menangis, berkatalah Mu’adz: Baiklah aku akan menceritakannya, aduh betapa rinduku kepada Rasulullah, ingin rasanya aku segera bersua dengan beliau”

Selanjutnya Mu’adz bin Jabal (r.a.) mengisahkan sebagai berikut, “Ketika aku mendatangi Rasulullah (s.a.w.), beliau sedang menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik di belakang beliau. Maka berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut. Sesaat kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian bersabdalah Rasulullah (s.a.w.), “Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang memberikan ketentuan (qadha) atas segenap makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, ya Mu’adz!”.

Aku menjawab, “Labbaik yaa Sayyidal Mursaliin”.

“Wahai Mu’adz! Sekarang akan aku beritakan kepadamu suatu hadits yang jika engkau mengingat dan tetap menjaganya maka (hadits) ini akan memberi manfaat kepadamu di hadhirat Allah, dan jika engkau melalaikan dan tidak menjaga (hadits) ini maka kelak di Hari Qiyamah hujjahmu akan terputus di hadhirat Allah Ta’ala!”

“Wahai Mu’adz! Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh lelangit dan bumi. Pada setiap langit tersebut ada satu Malaikat yang menjaga khazanah, dan setiap pintu dari pintu-pintu lelangit tersebut dijaga oleh seorang Malaikat penjaga, sesuai dengan kadar dan keagungan (jalaalah) pintu tersebut.

Maka naiklah al-Hafadzah (malaikat-malaikat penjaga insan) dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang telah ia lakukan semenjak subuh hari hingga petang hari. Amal perbuatan tersebut tampak bersinar dan menyala-nyala bagaikan sinar matahari, sehingga ketika al-Hafadzah membawa naik amal perbuatan tersebut hingga ke Langit Dunia mereka melipat gandakan dan mensucikan amal tersebut. Dan ketika mereka sampai di pintu Langit Pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ghiibah’, yang mengawasi perbuatan ghiibah (menggunjing orang), aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal ini melewatiku untuk menuju ke langit yang berikutnya!”

Kemudian naiklah pula al-Hafadzah yang lain dengan membawa amal shalih diantara amal-amal perbuatan seorang hamba. Amal shalih itu bersinar sehingga mereka melipat-gandakan dan mensucikannya. Sehingga ketika amal tersebut sampai di pintu Langit Kedua, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, karena ia dengan amalannya ini hanyalah menghendaki kemanfaatan duniawi belaka! Akulah ‘Malakal Fakhr’, malaikat pengawas kemegahan, aku telah diperintah Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan ini melewatiku menuju ke langit berikutnya, sesungguhnya orang tersebut senantiasa memegahkan dirinya terhadap manusia sesamanya di lingkungan mereka!”. Maka seluruh malaikat melaknat orang tersebut hingga petang hari.

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba yang lain. Amal tersebut demikian memuaskan dan memancarkan cahaya yang jernih, berupa amal-amal shadaqah, shalat, shaum, dan berbagai amal bakti (al-birr) yang lainnya. Kecemerlangan amal tersebut telah membuat al-Hafadzah takjub melihatnya, mereka pun melipat-gandakan amal tersebut dan mensucikannya, mereka diizinkan untuk membawanya. Hingga sampailah mereka di pintu Langit Ketiga, maka berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibil Kibr’, malaikat pengawas kesombongan, aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini lewat dihadapanku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya pemilik amal ini telah berbuat takabbur di hadapan manusia di lingkungan (majelis) mereka!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah yang lainnya dengan membawa amal seorang hamba yang sedemikian cemerlang dan terang benderang bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan, bagaikan kaukab yang diterpa cahaya. Kegemerlapan amal tersebut berasal dari tasbih, shalat, shaum, haji dan umrah. Diangkatlah amalan tersebut hingga ke pintu Langit Keempat, dan berkatalah Malaikat penjaga pintu langit kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah, punggung, dan perut dari si pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ujbi’, malaikat pengawas ‘ujub (mentakjubi diri sendiri), aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya si pemilik amal ini jika mengerjakan suatu amal perbuatan maka terdapat ‘ujub (takjub diri) didalamnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba hingga mencapai ke Langit Kelima, amalan tersebut bagaikan pengantin putri yang sedang diiring diboyong menuju ke suaminya. Begitu sampai ke pintu Langit Kelima, amalan yang demikian baik berupa jihad, haji dan umrah yang cahayanya menyala-nyala bagaikan sinar matahari. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya dan pikulkanlah pada pundaknya! Akulah ‘Shaahibul Hasad’, malaikat pengawas hasad (dengki), sesungguhnya pemilik amal ini senantiasa menaruh rasa dengki (hasad) dan iri hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu, dan terhadap sesama yang sedang beramal yang serupa dengan amalannya, dan ia pun juga senantiasa hasad kepada siapapun yang berhasil meraih fadhilah-fadhilah tertentu dari suatu ibadah dengan berusaha mencari-cari kesalahannya! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku untuk menuju ke langit berikutnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang memancarkan cahaya yang terang benderang seperti cahaya matahari, yang berasal dari amalan menyempurnakan wudhu, shalat yang banyak, zakat, haji, umrah, jihad, dan shaum. Amal perbuatan ini mereka angkat hingga mencapai pintu Langit Keenam. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu ini kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, sesungguhnya sedikitpun ia tidak berbelas kasih kepada hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa musibah (balaa’) atau ditimpa sakit, bahkan ia merasa senang dengan hal tersebut! Akulah ‘Shaahibur-Rahmah’, malaikat pengawas sifat rahmah (kasih sayang), aku telah diperintahkan Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya!”

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang lain, amal-amal berupa shaum, shalat, nafaqah, jihad, dan wara’ (memelihara diri dari perkara-perkara yang haram dan subhat/meragukan). Amalan tersebut mendengung seperti dengungan suara lebah, dan bersinar seperti sinar matahari. Dengan diiringi oleh tiga ribu malaikat, diangkatlah amalan tersebut hingga mencapai pintu Langit Ketujuh. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, pukullah anggota badannya dan siksalah hatinya dengan amal perbuatannya ini! Akulah ‘Shaahibudz-Dzikr’, malaikat pengawas perbuatan mencari nama-diri (ingin disebut-sebut namanya), yakni sum’ah (ingin termashur). Akulah yang akan menghijab dari Rabb-ku segala amal perbuatan yang dikerjakan tidak demi mengharap Wajah Rabb-ku! Sesungguhnya orang itu dengan amal perbuatannya ini lebih mengharapkan yang selain Allah Ta’ala, ia dengan amalannya ini lebih mengharapkan ketinggian posisi (status) di kalangan para fuqaha (para ahli), lebih mengharapkan penyebutan-penyebutan (pujian-pujian) di kalangan para ulama, dan lebih mengharapkan nama baik di masyarakat umum! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini lewat dihadapanku! Setiap amal perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlash karena Allah Ta’ala adalah suatu perbuatan riya’, dan Allah tidak akan menerima segala amal perbuatan orang yang riya’!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum, haji, umrah, berakhlak baik, diam, dan dzikrullah Ta’ala. Seluruh malaikat langit yang tujuh mengumandang-kumandangkan pujian atas amal perbuatan tersebut, dan diangkatlah amalan tersebut dengan melampaui seluruh hijab menuju ke hadhirat Allah Ta’ala. Hingga sampailah di hadhirat-Nya, dan para malaikat memberi kesaksian kepada-Nya bahwa ini merupakan amal shalih yang dikerjakan secara ikhlash karena Allah Ta’ala.

Maka berkatalah Allah Ta’ala kepada al-Hafadzah, “Kalian adalah para penjaga atas segala amal perbuatan hamba-Ku, sedangkan Aku adalah Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi atas segenap lapisan hati sanubarinya! Sesungguhnya ia dengan amalannya ini tidaklah menginginkan Aku dan tidaklah mengikhlashkannya untuk-Ku! Amal perbuatan ini ia kerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu yang selain Aku! Aku yang lebih mengetahui ihwal apa yang diharapkan dengan amalannya ini! Maka baginya laknat-Ku, karena ini telah menipu orang lain dan telah menipu kalian, tapi tidakklah ini dapat menipu Aku! Akulah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib, Maha Melihat segala apa yang ada di dalam hati, tidak akan samar bagi-Ku setiap apa pun yang tersamar, tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apa pun yang bersembunyi! Pengetahuan-Ku atas segala apa yang akan terjadi adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang baqa (kekal), Pengetahuan-Ku tentang yang awal adalah sama dengan Pengetahuan-Ku tentang yang akhir! Aku lebih mengetahui perkara-perkara yang rahasia dan lebih halus, maka bagaimana Aku dapat tertipu oleh hamba-Ku dengan ilmunya? Bisa saja ia menipu segenap makhluk-Ku yang tidak mengetahui, tetapi Aku Maha Mengetahui Yang Ghaib, maka baginya laknat-Ku!” Maka berkatalah malaikat yang tujuh dan 3000 malaikat yang mengiringi, “Yaa Rabbana, tetaplah laknat-Mu baginya dan laknat kami semua atasnya!”, maka langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya menjatuhkan la’nat kepadanya.

Setelah mendengar semua itu dari lisan Rasulullah (s.a.w.), maka menangislah Mu’adz dengan terisak-isak, dan berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau adalah utusan Allah sedangkan aku hanyalah seorang Mu’adz, bagaimana aku dapat selamat dan terhindar dari apa yang telah engkau sampaikan ini?”

Berkatalah Rasulullah (s.a.w.), “Wahai Mu’adz! Ikutilah Nabi-mu ini dalam soal keyakinan sekalipun dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan. Wahai Mu’adz! Jagalah lisanmu dari kebinasaan dengan mengghiibah manusia dan mengghiibah saudara-saudaramu para pemikul Al-Quran. Tahanlah dirimu dari keinginan menjatuhkan manusia dengan apa-apa yang kamu ketahui ihwal aibnya! Janganlah engkau mensucikan dirimu dengan jalan menjelek-jelekan saudara-saudaramu! Janganlah engkau meninggikan dirimu dengan cara merendahkan saudara-saudaramu! Pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan engkau bebankan kepada orang lain”

“Wahai Mu’adz! Janganlah engkau masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan urusan akhiratmu! Janganlah berbuat riya’ dengan amal-amalmu agar diketahui oleh orang lain dan janganlah engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga manusia takut dengan sikap burukmu!”

“Janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang sementara di hadapanmu ada orang lain! Janganlah engkau mengagung-agungkan dirimu dihadapan manusia, karena akibatnya engkau akan terputus dari kebaikan dunia dan akhirat! Janganlah engkau berkata kasar di majelismu dan janganlah engkau merobek-robek manusia dengan lisanmu, sebab akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka Jahannam!”
“Wahai Mu’adz! Apakah engkau memahami makna Firman Allah Ta’ala: “Wa naasyithaati nasythan!” (‘Demi yang mencabut/menguraikan dengan sehalus-halusnya!’, An-Naazi’aat [79]:2)?” Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Apakah itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah (s.a.w.) bersabda, “Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah daging manusia hingga terlepas dari tulangnya!”

Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Ya Rasulullah, siapakah manusia yang bisa memenuhi seruanmu ini sehingga terhindar dari kebinasaan?”

Rasulullah (s.a.w.) menjawab, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya hal demikian itu sangat mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala! Dan untuk memenuhi hal tersebut, maka cukuplah engkau senantiasa berharap agar orang lain dapat meraih sesuatu yang engkau sendiri mendambakan untuk dapat meraihnya bagi dirimu, dan membenci orang lain ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau benci jika hal itu menimpa dirimu sendiri! Maka dengan ini wahai Mu’adz engkau akan selamat, dan pasti dirimu akan terhindar!”

Khalid bin Ma’dan berkata, “Sayyidina Mu’adz bin Jabal (r.a.) sangat sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya beliau membaca Al-Quran dan sering mempelajari hadits ini sebagaimana seringnya beliau mempelajari Al-Quran di dalam majelisnya.”

Bukankah pengakuan bahwa kita sudah hadir di hadirat-Nya atau sudah melihat Allah SWT dengan kesadaran adalah bentuk2 ujub?

________________________________________________________

Papahan, 10 November 2022 / 07 Jumadil Awal 1446

Sumber:

1.     Al Qur`an Hafalan Al-Hufaz Per Kata, Cordoba, Bandung, 2020

2.     http://nurisaomar.blogspot.com

Sabtu, 24 Agustus 2024

Cara-cara Setan Yang Harus Kita Ketahui Sebagai Lawan

Strategi Iblis yang dilaknat Allah diimplementasikan dengan cara, yaitu:

1.     Godaan (an-nazgh)

QS Al A’raaf 7 ayat 200: Dan jika kamu ditimpa suatu godaan (yanzaghannaka) syaitan, maka berlindunglah kepada Allah.

QS Yusuf 12 ayat 100: .... Dan sesungguhnya Rabb-ku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (an-nazagha) antaraku dan saudara-saudaraku. ....

QS Al Isra 17 ayat 53: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan (yanzaghu) di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

QS Fushilat 41 ayat 36: Dan jika syaitan mengganggumu (yanzaghannaka) dengan suatu gangguan (nazghun), maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Godaan syaitan an-nazgh membuat kerusakan hubungan kasih sayang.

2.    Bisikan (al-hamaz)

QS Al Mu’minun 23 ayat 97: Dan katakanlah, “Ya Rabbi aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan (hamazati) syaitan.”

QS Al Qalam 68 ayat 11: yang banyak mencela (hammaazi), yang kesana kemari menghamburkan fitnah,

QS Al Humazah 104 ayat 1: Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat (humazatin) lagi pencela,

Dalam hadits Riwayat Ahmad, dari Ummu Salamah (r.a.), “Apabila Rasulullah (s.a.w.) bangun malam, beliau selalu berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan yang terkutuk, dari bisikan, hembusan dan tiupannya.”.”

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah, para sahabat bertanya kepada Nabi (s.a.w.), “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan bisikan, hembusan dan tiupan syaitan itu?”

Nabi (s.a.w.) menjawab, “Yang dimaksud dengan bisikan adalah sesuatu yang mematikan (kebimbangan), yang bisa menimpa seseorang. Sedangkan tiupannya adalah takabur dan hembusannya adalah syair.”

Bisikan syaitan al-hamaz akan menimbulkan kebimbangan.

3.    Hembusan (an-nafts)

Hembusan syaitan an-nafts akan membangkitkan ketakaburan, yaitu menolak kebenaran dan / atau meremehkan yang lain.

4.    Tiupan (an-nafkh)

Tiupan syaitan an-nafkh adalah syair.

5.    Kehadiran (al-hudhur)

QS Al Mu’minun 23 ayat 98: Dan aku berlindung kepada Engkau, ya Rabbi dari kedatangan (yachdluruwni) mereka kepadaku.”

6.    Kerasukan (al-mass)

QS Al Baqarah 2 ayat 275: orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan (al-massi) syaitan lantaran penyakit gila. ….

7.    Kesenangan (al-istimta’)

QS Al An’am 6 ayat 128: Dan hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.” Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, “Ya Rabbi, sesungguhnya sebahagian dari kami telah dapat kesenangan (astamta’a) dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Allah berfirman, “Nereka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali Allah menghendaki.” Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

8.    Waswas (al-waswasah)

QS Al A’raaf 7 ayat 20: Maka syaitan membisikkan pikiran jahat (fawaswasa) kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya dan syaitan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal.”

QS Thaha 20 ayat 120: Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat (fawaswasa) kepadanya dengan berkata, “Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

QS Qaf 50 ayat 16: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan (tuwaswisu) oleh hatinya (nafsuhu) dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

QS An-Naas 114 ayat 4 - 5: Dari kejahatan bisikan (al-waswaasi) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (yuwaswisu) ke dalam dada manusia. Karena waswas diterima oleh dada, maka waswas itu bermakna penilaian a5’’ yang salah atau keinginan a6’’ untuk memenuhi hawa nafsu.

9.    Wahyu (wachyu)

QS Al-An’am 6 ayat 112: Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan (yuwchiy) kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

QS Al An’am 6 ayat 121: Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan (layuwchuwna) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

10.  Hasutan (al-`uzz)

QS Maryam 19 ayat 83: Tidakkah kamu lihat bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasut (ta`uwzzuhum) mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?

Hasutan syaitan al-`uzz mendorong pada perbuatan maksiat.

11.   Turun (at-tanazzul)

QS Asy-Syu’ara ayat 26 ayat 221 – 222: Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun (tanazzalu)? Mereka turun (tanazzalu) kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran itu dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.

12.  Mengobarkan nafsu syahwat (al-istihwa)

QS Al An’am 6 ayat 71: Katakanlah, “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak mendatangkan kemudharatan kepada kita dan kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan (istahwat-hu) oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan, dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus, “Marilah ikuti kami”.” Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabbul ‘alamin.”

 

13.  Lupa (ath-thaif)

QS Al A’raaf 7 ayat 201 - 202: Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, bila mereka ditimpa lupa (thaa`ifun) dari syaitan, mereka ingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya.

 

Pengetahuan ini diharapkan bisa menyadarkan kita bahwa Iblis beserta syaitan bala tentaranya adalah musuh yang nyata. Oleh karena itu sikapilah mereka sebagai musuh dengan cara memahami strategi dan cara mereka, agar kita tidak tersesat apalagi dimurkai Allah. Itulah kemenangan yang pasti.

☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫☫

Papahan, 11 Jul 2022

Sumber:

1.     Al Qur`an Hafalan Al-Hufaz Per Kata, Cordoba, Bandung, 2020

2.    Muhammad Isa Dawud, Dialog Dengan Jin Muslim – Pengalaman Spiritual, Pustaka Hidayah, Bandung, 1996

3.    Rahnip M, B.A., Terjemah Injil Barnabas, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1984

Kisah Uwais Al-Qarni (r.a.) dengan Haram bin Hayyan (r.a.)

Hamba berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Dzat ya...