QS Shaad 38 ayat 7 - 8: Kami tidak pernah mendengar
hal ini dalam agama (al-millati) yang terakhir, ini tidak lain hanyalah yang
diada-adakan, mengapa Al Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita?
Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Qur`an Ku dan sebenarnya mereka belum
merasakan (yadzuwquw) azab Ku.
Istilah dzauq seringkali dihubungkan dengan rasa jiwa
atau bathin. Namun dari ayat di atas dzauq bisa merasakan azab Ilahi. Ini
berarti bahwa dzauq adalah rasa yang dirasakan oleh dirinya, yaitu oleh raga dan
jiwanya. Saat raga mengalami sakit, jiwa ikut menderita. Meskipun jiwa yang
diberi amanat sebagai pemimpin atas dirinya, mungkin bisa mengelola dengan
pengabaian. Demikian pula sebaliknya, saat jiwa sakit, seperti contoh orang
depresi, raga akan ikut terkena dampaknya.
Perihal dzauq atau rasa diri ini juga sudah dikuatkan dengan
hadits berikut:
Ibnu Abbas
mengatakan bahwa jiwa akan berselisih dengan raga dan jiwa akan berkata bahwa
tanggung jawab semua perbuatan ada pada raga.
Lalu raga
mengatakan bahwa ia mengikuti perintah-perintah jiwa dan bertindak hal yang
sama sebagaimana yang digambarkan kepadanya.
Allah
memerintahkan malaikat agar menyelesaikan perselisihan mereka.
Malaikat
mengatakan bahwa kasus mereka sama dengan kasus seorang yang pincang dan
seorang yang buta. Orang yang pincang memberitahu yang buta bahwa ia telah
melihat buah tetapi berada di luar jangkauannya. Kemudian orang buta
menyuruhnya naik di punggungnya. Orang yang pincang itu naik dan memetik buah
itu. Setelah mengutip contoh ini, malaikat menyuruh kepada jiwa dan raga
mengatakan yang mana dari keduanya yang melakukan pelanggaran?
Kedua jiwa dan
raga mengatakan bahwa kedua orang itu sama-sama bertanggung jawab.
Anas merujuk
ke sebuah hadits yang mengatakan bahwa pada hari kiamat, jiwa dan raga
berselisih. Raga berkata, “Aku terbaring seperti pohon palem, jika jiwa tidak
ada. aku tidak mungkin melakukan apa pun dengan cara menggerakkan tangan dan
kakiku.”
Jiwa berkata,
“Aku seringan udara, bila raga tidak ada, aku kehilangan daya untuk melakukan
apa pun.”
Setelah itu,
kasus jiwa dan raga akan dirujuk dengan kisah orang pincang dan orang buta
seperti dikisahkan di depan. Kemudian mereka akan sama-sama dimintai
pertanggungjawaban.
Penjelasan ini menegaskan bahwa baik jiwa dan raga
keduanya merasakan susah maupun senang bersama-sama.
Namun bagaimana dengan kisah orang-orang yang saat
wafatnya konon tidak diterima oleh bumi? Berikut adalah kisahnya:
Suatu saat seorang teman yang suka
mencari nomor buntut, menyepi ke tempat angker. Pada malam harinya, muncul
sesosok makhluk yang dikenal dengan sebutan jenglot. Lalu jenglot tersebut
ditanya, kamu siapa? Jenglot menjawab bahwa dia dulunya adalah manusia, namun
karena suka bertapa mencari kesaktian, akhirnya tanah tidak mau menerima jasadnya,
sehingga raganya menjadi jenglot.
Dalam kisah lain, ada juga orang
yang diselamatkan dari ancaman siluman harimau oleh seorang wanita yang tinggal
sebagai pembantu di alam siluman tersebut. Ketika ditanya, dia siapa? Wanita
itu menjawab bahwa dia adalah manusia yang dulunya mempelajari ilmu siluman
harimau dan ketika dia mati, maka dia menjadi pembantu di masyarakat siluman
harimau tersebut.
Kedua kisah ini, tidak bisa kita ukur kebenarannya. Pertama,
datanya adalah subyektif dari sang pencerita. Kedua, meski dari sumber primer,
namun tidak bisa tervalidasi kejujurannya. Ketiga, dari sisi nalar sulit untuk
dianalisa kebenarannya. Oleh karena itu dengan memperhitungkan risiko keselamatan
dirinya, sebaiknya kisah-kisah seperti ini cukup hanya dijadikan pelajaran
untuk tidak mencari ilmu-ilmu kesaktian dengan memanfaatkan makhluk-makhluk
tidak kasat mata.
Memang tidak dipungkiri bahwa adanya kisah-kisah
seperti ini, bisa menimbulkan keraguan perihal dzauq sebagai rasa diri bukan
sekedar raga. Informasi semacam ini juga bisa menimbulkan terkikisnya iman akan
ada tidaknya siksa kubur. Bukankah saat kematian jiwa dan raga sudah terpisah?
Dan bukankah raga yang sudah mati tidak mampu merasakan? Demikian pula jiwa
sudah berada dalam alamnya, konon orang-orang menyatakan berada di surga tanpa
bukti.
QS Thaha 20 ayat 55: Dari bumi itulah Kami
menjadikan kamu dan kepadanya Kami mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan
mengeluarkan kamu pada kali yang lain. Makna kepadanya Kami mengembalikan
kamu, bisa difahami bahwa setelah menerima laporan akan apa yang telah
dilakukan selama hidup di dunia sang jiwa dikumpulkan dengan raganya di bumi. Meski
keduanya tersekat (barzakh) namun masih terhubung. Hal ini dinyatakan dalam
hadits dari Muadz bin Jabal [Lihat Artikel Addiyn – Hisab Manusia Setelah Mati].
Hadits ini diperkuat dengan pengalaman beberapa orang yang mati suri yang
menjalani review kehidupan, yaitu dalam buku karya Raymond A. Moody JR. MD.
berjudul Life After Life.
Jadi dzauq adalah rasa diri yang merupakan suatu
kesatuan jiwa dan raga. Meski saat mati, jiwa dan raga terpisahkan, sang diri
tetap bisa merasakan azab Ilahi. Contoh sederhana adalah saat mimpi buruk dalam
tidur. Dengan demikian siksa kubur itu ada. Ingat, ALLAH bisa berbuat
sekehendaknya bahkan melampaui ilmu-Nya!
Marilah meneladani Nabi Muhammad s.a.w. melalui doa
beliau, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka,
fitnah hidup, fitnah mati dan dari fitnah Dajjal (HR Bukhari #2:459-S.A.).”
Papahan, 5 Jun 2026