Tampilkan postingan dengan label Zaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zaman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2015

Sekarang Zaman Fitnah


Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri (r.a.), “Ali bin Abi Thalib (k.w.) pernah mengirimkan sepotong emas kepada Rasulullah (s.a.w.) dalam satu lembar kulit yang telah disamak, sedang emas itu belum dibersihkan tanahnya. Kemudian beliau membagi-bagikan emas tersebut kepada empat orang, yaitu ‘Uyainah bin Hishn, Aqra’ bin Habis, Zaid Al Khail dan orang yang keempat ini adalah Alqamah bin ‘Ulatsah atau Amir bin Thufail.[1]
Lalu ada seorang laki-laki dari sahabat beliau yang berkata, “Kami inilah yang lebih berhak akan emas ini daripada mereka!”
Kata-kata itu lalu sampai kepada Nabi (s.a.w.), maka beliau bersabda, “Apakah kalian tidak mempercayai aku, padahal aku ini orang yang terpercaya di kalangan penduduk langit dan berita langit datang kepadaku setiap pagi dan sore?”
Lalu berdirilah seseorang yang bermata cekung, benjol tulang pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, gundul kepalanya dan menyingsingkan lengan pakaiannya, kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, takutlah kepada Allah!”
Beliau menjawab, “Celakalah kamu, bukankah aku orang yang paling patut dari penduduk bumi ini untuk bertakwa kepada Allah?”
Setelah itu, orang itu berpaling, lalu Khalid berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah saya memenggal leher orang itu!”
Beliau menjawab, “Jangan, barangkali dia mengerjakan shalat.”
Khalid berkata, “Banyak sekali orang mengerjakan shalat hanya di mulutnya saja, tetapi di hatinya berlainan!”
Rasulullah (s.a.w.) bersabda, “Sesungguhnya, aku tidak diperintahkan untuk meneliti hati manusia dan tidak pula untuk membedah dada mereka.” Kemudian saat orang itu berpaling, beliau menatapnya dengan tajam seraya bersabda, “Sesungguhnya akan lahir dari keturunan orang ini suatu kaum yang hanya pandai membaca Kitab Allah, tetapi tidak meresap ke dalam hatinya; mereka lepas dari agama Islam, seperti lepasnya anak panah dari busurnya.”
Saya mengira beliau bersabda, “Andaikata aku mendapati mereka, pasti aku akan perangi sebagaimana memerangi Tsamud.”
Dalam riwayat yang lain dikisahkan[2]:
Anas (r.a.) bertutur, “Seorang lelaki pernah disebut-sebut di hadapan Rasulullah (s.a.w.). Orang tersebut memiliki kesungguhan dan semangat dalam perang.
Rasulullah  (s.a.w.) mengatakan “Aku tidak mengetahui orang tersebut.”
Anas (r.a.) mengatakan, “Ciri-ciri lelaki tersebut adalah begini dan begitu.”
Beliau (s.a.w.) tetap menjawab, ”Aku tidak mengetahuinya.”
Ketika  kami tengah membincangkan hal tersebut, seorang lelaki muncul. Lalu Anas (r.a.) mengatakan, “Inilah dia orangnya, wahai Rasulullah (s.a.w.).”
Beliau (s.a.w.) tetap menjawab, ”Aku tidak mengetahuinya. Namun sesungguhnya pada abad ini akan ada setan dengan ciri hitam kemerahan.” Ketika orang tersebut mendekat, dia mengucapkan salam kepada Nabi (s.a.w.) dan Nabi (s.a.w.) membalasnya. Rasulullah (s.a.w.) berkata kepadanya, “Bersumpahlah kepada Allah, apakah ketika kamu muncul kepada kami, dalam hatimu terbersit bahwa tiada seorang pun dari kaumku ini yang lebih utama daripada kamu?”
Ia menjawab, “Ya benar – dalam hatiku terbersit demikian – wahai Rasulullah (s.a.w.).” Ia pun masuk masjid dan shalat.”
Jabir (r.a.) menceritakan, seorang lelaki melewati Rasulullah (s.a.w.). Orang-orang pun membicarakan dan menyanjung kebaikan dia. Abu Bakar (r.a.) menuturkan, “Sesungguhnya Rasulullah (s.a.w.) pernah melewati orang tersebut ketika dia sedang sujud. Ketika itu Rasulullah (s.a.w.) bergegas pergi untuk menunaikan shalat. Usai menyelesaikan shalat, beliau kembali kepada orang tersebut. Ternyata orang itu masih dalam keadaan bersujud. Rasulullah (s.a.w.) besabda, “Siapakah yang dapat membunuh orang ini?”
Dalam redaksi yang lain disebutkan:
Rasulullah (s.a.w.) berkata kepada Abu Bakar (r.a.), “Wahai Abu Bakar, berdiri dan bunuhlah orang tersebut.”
Maka Abu Bakar masuk ke dalam masjid dan mendapati orang tersebut sedang berdiri shalat. Abu Bakar bergumam dalam hatinya, “Sesungguhnya dalam shalat ada hak-hak Allah yang mesti dijaga dan ditunaikan. Lebih baik aku berkonsultasi terlebih dahulu terhadap Nabi (s.a.w.).”
Beliau (s.a.w.) bertanya, “Sudahkah engkau membunuhnya?”
Abu Bakar (r.a.) menjawab, “Belum, karena aku melihatnya sedang shalat. Menurutku, sesungguhnya dalam shalat ada hak-hak Allah yang mesti dijaga dan ditunaikan. Jika aku berkeinginan untuk membunuhnya, aku pasti telah membunuhnya.”
Nabi (s.a.w.) berujar, “Engkau bukan orang yang mampu melakukannya. Pergilah engkau wahai Umar (r.a.), dan bunuhlah orang orang itu.”
Umar pun masuk masjid. Ternyata orang itu sedang bersujud sehingga Umar menunggunya cukup lama. Kemudian Umar bergumam, “Sesungguhnya dalam sujud terdapat hak Allah yang mesti dijaga.” Maka Umar (r.a.) kembali. “Seandainya aku berkonsultasi kepada Rasulullah (s.a.w.), sesungguhnya orang yang lebih baik dariku pun telah melakukannya.” Maka Umar (r.a.) mendatangi Rasulullah (s.a.w.).
Beliau (s.a.w.) bertanya, “Sudahkah engkau membunuhnya?”
Umar (r.a.) menjawab, “Belum, wahai Rasulullah (s.a.w.). Karena aku melihat dia sedang bersujud. Dan menurutku, sujud memiliki hak yang mesti dijaga. Jika aku berkehendak untuk membunuhnya, aku pasti telah melakukannya.”
Rasulullah (s.a.w.) bersabda, “Engkau bukan orang yang mampu melakukannya. Berdirilah wahai Ali (k.w.) dan bunuhlah olehmu jika kamu mendapati orang tersebut.”
Maka Ali (k.w.) pergi menuju orang tersebut. Ternyata orang tersebut telah keluar dari masjid. Akan tetapi, Ali kembali menuju Rasulullah s.a.w..
Lalu beliau (Nabi s.a.w.) bertanya kepada Ali (k.w.), “Sudahkah engkau membunuhnya?”
Ali (k.w.) menjawab, “Belum.” (Orang inilah yang terbunuh dalam perang Nahrawan melawan Ali (k.w.)).
Rasulullah (s.a.w.) bersabda, “Seandainya orang tersebut dibunuh hari ini, maka dua orang dari kalangan umatku tidak akan berselisih, sampai Dajjal keluar.”
Dalam redaksi lain disebutkan:
“Maka (fitnah Dajjal) akan menjadi fitnah pertama sekaligus terakhir.”
Dalam hadits lain dikisahkan[3]:
Dari Abdullah bin Umar bahwasanya dia berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk di hadapan Rasulullah memperbincangkan soal berbagai fitnah, beliau pun banyak bercerita mengenainya. Sampai akhirnya beliau menyebut tentang fitnah Ahlas. Maka seorang sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan fitnah Ahlas itu?”
Beliau menjawab, “Fitnah Ahlas yaitu orang-orang saling memutus hubungan dan saling berperang. Kemudian setelahnya akan terjadi fitnah Sara’(kemakmuran hidup), sumber asapnya berasal dari dua telapak kaki seorang laki-laki dari keturunanku. Ia mengklaim dirinya sebagai bagian dariku, padahal ia sama sekali bukan bagian dariku, karena wali-waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa. Kemudian manusia berdamai dengan mengangkat seorang laki-laki sebagai pemimpin mereka seperti pangkal paha yang menempel di atas tulang rusuk. Setelah itu akan terjadi fitnah Duhaima, yang tidak membiarkan seorang pun dari umat ini kecuali akan ditamparnya dengan tamparan yang keras. Ketika orang-orang mengatakan, “Fitnah telah selesai,” ternyata fitnah itu masih saja terjadi. Di waktu pagi seseorang dalam keadaan beriman, namun di waktu sore ia telah menjadi kafir. Akhirnya manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan beriman yang tidak ada kemunafikan sedikit pun di antara mereka dan golongan munafik yang tidak ada keimanan sedikit pun di antara mereka. Jika hal itu telah terjadi, maka tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau kesokkan harinya. ””
Kata fitnah menurut KBBI berarti perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Karena kata fitnah adalah berasal dari Bahasa Arab, sehingga perlu dimengerti makna sebenarnya dari Bahasa aslinya, Menurut Ibn Hajar al-Asqalany dalam karya Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari menyatakan bahwa makna fitnah berasal dari kata al ikhtibar yang artinya penyingkapan hakikat sesuatu dan kata al-imtihan yaitu pengujian[4]. Dari kedua arti tersebut, kami memahami bahwa fitnah adalah proses pengujian atas keimanan seseorang melalui adanya berita bohong. Mereka yang percaya kepada berita bohong tersebut akan dipisahkan dari mereka yang tidak percaya.  
Fitnah yang pertama atau fitnah Ahlas dimulai dari terbunuhnya Khalifah Umar bin Khaththab (r.a.). Sedangkan fitnah kedua atau fitnah Sara’ dimulai dari berdirinya kerajaan Arab yang membebaskan diri dari kesultanan Turki. Yang selanjutnya berdirilah kerajaan Saudi Arabia di bawah dinasti Al-Saud. Nampaknya fitnah ketiga atau Duhaima’sedang berlangsung, yaitu yang dimulai dengan berdirinya ISIS.
Bagaimana kita mensikapi keadaan seperti ini?
Satu-satunya jalan adalah bergantung kepada Allah Yang Maha Kuasa. Marilah kita berjuang untuk mengenal-Nya bukan dengan mempercayai apa kata buku atau kata orang. Sekaranglah zamannya kita melakukan penelaahan melalui pengamatan dan mengharapkan pengertian dari Rabb Al Karim. Dengan pengertian yang kita terima, kita tanamkan ke dalam diri kita hingga kita tersadar dan tumbuh sikap yang selalu bergantung kepada Allah. QS At Taubah 9 ayat 129: Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Rabb yang memiliki Ársy yang agung.
Jakarta, 8 Sep 2019


[1] Zaki Al-Din ‘Abd Al=Azhim Al-Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim. Mizan, 2009, hal 292-293
[2] Syaikh Musthafa Muhammad Abu al Mu’athi, Dahsyatnya Ramalan Rasulullah – Kumpulan Hadis Lengkap Rasulullah (s.a.w.) tentang Masa Depan Umat dan Dunia (terjemahan dari kitab Nubuat Al-Rasul), Salamadani, 2012
[3] Kita Berada di Akhir Zaman: Menyingkap Nubuat Rasulullah (s.a.w.) Tentang Akhir Zaman yang Telah Menjadi Kenyataan/Editor, Abu Fatiah Al-Adnani, Solo, Granada, 2014, hal 317-318
[4] Referensimakalah.com 8 September 2019

Jumat, 20 Maret 2015

ISIS



"THOSE OF YOU WHO WANT TO HEAVEN?" The voice answered in unison, "WE ARE ALL GOING TO HEAVEN!"
(Nahrawan War - July 658 M[1])
In the middle row of Kharajites troops, there was a man walking around, inspiring them to fight. His voice was like the hiss of a snake and the body emits a foul odor. Shortly after that, in the middle of that day, from the Kharajites stronghold loud scream is heard in a voice like the hiss of a snake is addressed to his troops, "THOSE OF YOU WHO WANT TO HEAVEN?" The voice answered in unison, "WE ALL WILL GO TO HEAVEN! “With a yell, they simultaneously plunge and launched a fierce attack and aggressively to the troops showered Ali kw with arrows and spears. But soon the troops Ali kw can control the situation and conquer the forces of the Kharajites. Their leader named Abdullah bin Wahab Al-Rasibi killed.
In the meantime, Imam Ali kw forever brooding, silent, sad and anxious. And his companions were astonished. Then, quietly, he asked the people around him looking for Zus Sudayyah among the victims of war. They were soon engaged and work hard for it. They do a search among the dead and the dying. Then they report to Ali kw that they did not find it. Ali kw increasingly apparent mourning and said, "I really do not lie and did not lie." I am sure he was among the victims.
After looking back, they found that Zus Sudayyah killed. Ali kw was prostrate gratitude to Allah SWT. It astonished his friends, and asked why Ali kw grateful for Zus Sudayyah death? Ali replied that Zus Sudayyah kw is the most perverted and the most dangerous person on earth.
What makes a person who claimed to believe in God, the pillars of Islam with intense running, and even told Zus Sudayyah avid reader of the Qur'an and that prostrate on the floor mosque [perhaps due to the long bow] can be called as the most perverted and the most dangerous?
Narrated about Zus Sudayyah is that after the Hunain war and the division of the spoils of war was held, he said harshly to the Prophet, "Muhammad, be fair! You are not fair! "Twice the word repeated, but the Prophet ignored. When it was repeated a third time, with a furious face, the Prophet replied, "Who else is going to be fair, if I was not fair?" Some people around him are going to slap him or kill him, but the Prophet prevented.
In another narration narrated[2]:
Anas said, “A man never mentioned before the Prophet. People have sincerity and passion in the war.”
The Messenger of Allah said, "I do not know the person."
Anas said, "The characteristic of the man is such and such.
Prophet (saw) still answered, "I do not know."
While we were discussing it, a man appeared. Anas then said, "Here is the man, O Messenger of Allah."
Prophet (saw) still answered, "I do not know. But in reality this century there will be a characteristic of a reddish-black demon."
When people approached, he saluted to the Prophet and the Prophet replied.
The Messenger of Allah said to him, "Swear to God, if when you come up to us, in the heart occurred that no one of these my people are more important than you?"
He replied, "Yes - in my mind occurred thus - O Messenger of Allah.” He entered the mosque and prays.
Jabir ra told, a man through the Prophet. People were talking and flatter her kindness. Abu Bakr ra said, "Verily the Messenger of Allah had passed when he was prostrate.
When the Prophet was rushed off to pray. After finishing the prayer, he returned to the person. Turns out the guy were still in a state of prostration. Prophet said, "Who can kill people?"
In another editorial stated:
Prophet said to Abu Bakr ra, "O Abu Bakr, stand up and kill that person."
So Abu Bakr entered the mosque and found the person is standing in prayer. Abu Bakr muttered to himself, "Verily the prayers of God there are rights that must be protected and fulfilled. I'd better consult the Prophet."
He (the Holy Prophet) asked, "Have you killed him?"
Abu Bakr (ra) replied, "No, because I saw him praying. I think there are actually in the prayer of God's rights must be protected and fulfilled. If I wanted to kill him, I would have killed him."
The Prophet said, "You are not the one who can do it. Go thou, O Umar (ra), and kill the person."
Umar went inside the mosque. Turns out the man were prostrate so Umar waited long enough. Umar then muttered, "Surely there is a right of Allah in prostration that must be maintained." Then 'Umar again. "Had I consulted the Messenger of Allah, indeed better people than me had been done." Then 'Umar came to the Messenger of Allah.
He (the Holy Prophet) asked, "Have you killed him?"
Umar replied, "No, O Messenger of Allah. Because I saw he was prostrate. And I think that should be the right bow guarded. If I was willing to kill him, I would have done it."
Messenger of Allah said, "You are not the one who can do it. Stand O Ali (kw) and kill ye if ye shall find that person."
Then Ali kw headed person. Apparently these people have come out of the mosque. However, Ali returned to the Prophet.
Then he (the Holy Prophet) said to Ali (kw), "Have you killed him?"
Ali kw replied, "Not yet." (This is the guy who was killed in the war against Ali Nahrawan kw).
Messenger of Allah said, "If that person were killed today, then two groups from among my people will not quarrel, until the Antichrist come out."
In another editorial stated:
Then (slander Dajjal) would be the first and last slander."
These are the people who are the lusts of mind, faith stopped in their throats (could not get into the chest / heart / heart from), they consider themselves the most righteous and despised those who did not have similar understanding with them. They are ready to decapitate anyone who disagreed with them. This is the embryo of terrorism contrary to the guidance of the Prophet, as blessings to the world (rahmatan lil alamin). That gives warning with softness counsel not once even many times. This is also the forerunner of Muslim disunity.
Terror is a real fear condition. Terrorism is a coordinated effort to spread fear. Prophet advises, "It do not believe someone who cannot provide security to its neighbors." So the believer's security, not trying to systematically create the conditions for a real fear. Examples of such terror are an act of violence (repression) an individual or group to impose its will. Actions (hegemony) leader (superior) to subordinate (inferior) that frightened him fired, so obediently do whatever he was told even have to break the rules even once. Unconsciously, your superiors like a new God for those who spirited inferior. Government officials who use its authority for personal gain is also a form of terror. Even the dominance of one skilled in the debate also included the disparager could be a terror for others.
But we as a people who believe in God and not be terrorized. As stated in the Qur'an, such as QS Al Baqarah 2 verse 62:
Indeed, the believers, the Jews, the Christians and the people Shabiin, anyone around them who really believe in Allah and the Last Day, and work righteousness, shall have their reward from their Lord, no worries to them, and not (also) they grieve.
In fact we always strive to create security. So fortunately the army, police, security officers are professionally into security forces. Take advantage of the benefits of this profession, to the more subject to God.
Why people are becoming such cruelty and having no mercy to other human being?
Because they do not understand themselves. They forget or maybe ignorance to the truth of themselves. As we all know that all human being living with their body. Their body can move because there is capability. The capability will move the body when there is will. Who has such will? The “I” is the answer. At this stage human being is similar to other creatures. The only different is the God’s spirit that God had put into the human being. By using such spirit, human being should know how to live according to their Creator. That is the difficult part, our homework to seek the answer. Unfortunately, there is no answer except seeking God Himself to answer such question.
Check to yourself. When you live in your body, then your body will control you to fulfill their will. Which is satisfy me by using food, sexual, etc.
But when you live in your minds or your feelings, you will be speaking right or wrong, true or false, good or bad. Unfortunately mostly we put ourselves in the right one or the true one or the good one and we will accused and judge anyone different to be wrong or false or bad. Then we will use the God’s authorithy to punish even to kill. This position is creating the ISIS.
When you live in your will, you will focus to fulfill your will. Just like a ruler, entrepreneur, etc.
Then when you live in your “I”, you will said, “because of me.” And you may forget God at all, since you will be your god.
So the true one which is following our nature or following the intention of the creation is to totally submission to the Creator. This can be done by submission our body, our capability, our will, our “I” to the Creator of this universe. Seek for the answer. And you will be educated by Him to understand and become the blessing of this universe.

Jakarta, 20 Mar 2015


[1] Ali Audah, Ali ibn Abi Talib, Litera Antarnusa, p 292-297
[2] Sheikh Mustafa Muhammad Abu al Mu'athi, Fierce forecast Messenger - Complete set of Hadith the Messenger of Allah on the Future of the People and the World (the translation of the Book of Prophecy Al-Rasul), Salamadani, 2012

Minggu, 24 Agustus 2014

Paranormal

Seseorang di kala mengalami permasalahan, sering menjadi kalut lalu datang kepada orang pinter. Oleh orang pinter diberi amalan, semisal membaca asma ul husna sebanyak sekian kali. Seolah asma ul husna ini merupakan kunci otorisasi untuk menggunakan Qudrat / Kekuasaan Allah demi mencapai keinginannya.
Namun ingatlah pesan Allah dalam Al Qur’an surat Shaad 38 ayat 82:
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, ...”
Penggunaan kekuasaan / Qudrat Allah sama saja dengan meniru Iblis, sedangkan Iblis adalah musuh yang nyata bagi kita. Oleh karena itulah Allah tidak akan suka dengan mereka-mereka yang melakukan pendekatan kekuasaan. Mereka ini menyimpang dari kebenaran dan secara berangsur-angsur akan diseret ke neraka tanpa menyadarinya.
Penggunaan kekuasaan inilah yang dimaksud dengan istidraj.
QS Al A’raaf 7 ayat 180-186:
Hanya milik Allah Asmaa-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi (mengikuti) petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (sanastadrijuhum), dengan cara yang tidak mereka ketahui.
Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.
Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.
Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?
Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
QS Al Qalam 68 ayat 44:
Maka serahkanlah kepada-Ku orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (sanastadrijuhum) dari arah yang tidak mereka ketahui.
Demikian pula mereka-mereka yang melatih penglihatan bathin mereka. Mereka menggunakannya untuk melihat hal-hal yang gaib, seperti membaca pikiran orang lain, membaca masa depan dan lain-lain. Menyenangkan! Memang tak dipungkiri.
Namun pernahkah terpikirkan bagaimana kita bisa meyakini bahwa yang kita baca tersebut benar? Sedangkan sang pembaca lupa memperhatikan siapa yang memberikan informasi tersebut.
Kita tidak tahu kalau tidak diberi tahu oleh indra. Kita juga tidak tahu bila tidak dijelaskan oleh pikiran. Kita pun juga tidak tahu bagaimana mengaktifkan adanya yang menyaksikan dalam diri kita. Apalagi pengetahuan kita tentang Sang Rabb, Pencipta alam semesta. Dengan ketidak-tahuan ini, maknanya adalah mereka-mereka yang suka membaca berada dalam jurang bahaya ketertipuan.
Mereka-mereka inilah yang kami khawatirkan sedang dilulu (istidraj) oleh Sang Rabb berdasarkan ayat-ayat di atas, karena menyimpang dari kebenaran dalam menggunakan nama-nama Allah.
Menurut hemat kami, yang benar dan bisa dipastikan kebenarannya adalah informasi dari Sang Rabb. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk berjuang menemui Sang Rabb, untuk mengenal-Nya. Dengan pengenalan tersebut, maka kita akan memahami bahwa informasi tersebut diberikan-Nya kepada kita setiap saat. Informasi-informasi yang ditebarkan-Nya adalah untuk kita semakin mengenal-Nya, semakin yakin akan tak terbatasnya tebaran nikmat-Nya, semakin mengenal kebesaran-Nya.
Adalah lebih baik menunggu mendapatkan informasi dari Allah daripada berjuang membaca. Karena informasi yang berasal dari Allah adalah hak dan tidak akan membuat kita menjadi merasa menjadi “seseorang”.
Jadi adalah lebih baik untuk berjuang menjadi hamba yang disukai Sang Ilah melalui kepatuhan dan kesetiaan untuk menjadi pelaksana atas semua perintah-Nya (khalifah) dan menjadi saksi  atas DiriNya.


Banyuwangi, 24 Agustus 2014

Berprestasi Tanpa Menyakiti; Hamba Yang Rendah Hati

Dan hamba-hamba Ar Rahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapk...