Tampilkan postingan dengan label Hakekat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakekat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2020

Mencari hakekat alam-alam dengan kepastian

Adanya bumi, matahari, bulan, bintang, tumbuhan, hewan dan manusia menandai adanya kenyataan yang diketahui oleh manusia. Manusia mengetahui sesuatu melalui indrawi dan diafirmasi oleh memori. Bilamana memori tidak mengingatkan, maka manusia tidak bisa menyebut kenyataan tersebut atau tidak mengetahui. Demikian pula sebaliknya, kalau di memori ada, namun kenyataannya tidak ada. Dia pun bisa menyebut tetapi tidak mampu membuktikan. Oleh sebab itu kenyataan yang dapat kita indrai itu disebut dengan ilmu atau pengetahuan. Sedangkan kenyataan itu sendiri disebut dengan alam ciptaan (A1-A2-A3-A4-A5-A6-A7).

Dengan adanya kemampuan pikiran seperti mengingat (a5’’), mengerti (a6’’) dan akal (a7’’) untuk mencari cara, maka manusia mampu memasuki wilayah baru, yaitu alam imajinasi (A8-A9-A10). Melalui penyaksian adanya kejadian dan/atau peristiwa, maka manusia memperoleh pengetahuan. Kalau makhluk hidup lainnya bereaksi secara instingtif, manusia juga bisa namun manusia memiliki kelebihan menarik manfaat lebih dan mewujudkannya di alam ciptaan yang disebut dengan teknologi. Kemampuan menarik manfaat dari pengetahuan inilah yang disebut dengan pengertian. Pengertian masih menggantung di alam pikiran, lalu akal memberikan cara untuk mewujudkannya. Melalui pengertian dan akal ini, manusia menciptakan kenyataan atau peristiwa baru atau biasa disebut dengan istilah penemuan. Sehingga berkembanglah peradaban. Contoh sederhana adalah masalah penerangan. Zaman dahulu penerangan dihasilkan dengan memanfaatkan hasil alam seperti dengan membakar kayu kering, lalu berkembang menjadi obor lemak/minyak. Dengan teknologi muncul lampu listrik. Tanpa adanya pengertian akan listrik beserta rumus-rumusnya, maka tidak ada lampu listrik. Setelah pikiran mengerti, maka akal menunjukkan cara bagaimana mewujudkannya.

Dengan memahami kenyataan di atas, berarti ada alam di balik alam ciptaan Ilahi, yaitu alam pikiran atau alam imajinasi atau alam kesaksian. Dimana di alam tersebut kita temui adanya pengetahuan yang pasti (A8), pengetahuan yang belum pasti, masih diduga (A9) dan pengetahuan yang tidak bisa dipastikan (A10). Ketiganya adalah kepastian, sehingga tidak perlu dipertentangkan. Ketiganya bisa digunakan dan dimanfaatkan.

Kenyataannya, kebanyakan manusia terhenti di kedua alam tersebut. Semata-mata untuk mencari kesenangan diri. Sebagian ada yang menyadari bahwa kesenangan tersebut berasal dari Yang Kuasa, sehingga muncullah budaya kepercayaan kepada Yang Kuasa, Yang Gaib. Keberadaan Yang Gaib ini tidak bisa diketahui, karena memori tidak bisa menggambarkan. Pengertian pun tidak bisa menjelaskan, karena pengertian adalah pelaksana kuasa. Akal pun buntu, hanya bisa memberikan cara untuk mempercayai saja. Inilah yang disebut dengan alam Uluhiyyah atau alam ketuhanan.

Dari adanya kenyataan alam bahwa alam pun berproses, maka dari kacamata manusia diawali dari ide. Ide lalu disabdakan kepada diri untuk diwujudkan. Diri lalu terdorong untuk mewujudkan melalui daya cipta. Daya cipta ini akan menarik daya negatif menuju kepada kesimbangan atau netral dan kejadian atau peristiwa akan terwujud. Ini seperti atom, ada cita atom, ada netron yang merupakan sabda, ada proton yang merupakan daya cipta dan elektron daya negatif. Ini disebut alam perintah.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa alam adalah tempat pengetahuan. Dari penjelasan di atas kita mengenal empat alam, yaitu alam yang tidak kita ketahui, yaitu alam Ketuhanan. Di bawah-Nya terdapat alam perintah atau alam perintah yang didekati dengan teori. Lalu alam nyata atau alam semesta atau alam dunia. Atau bisa disebut juga dengan alam ciptaan. Selanjutnya terdapat alam kesaksian atau alam imajinasi atau alam pembuktian.

Dimanakah anda harus menempatkan diri?

 

Jakarta, 20 Agustus 2020; 1 Muharram 1442


Sabtu, 08 Agustus 2020

Jalan Kematian

Setiap orang memiliki jiwa, raga dan hidup. Proses kelahiran dimulai dari jiwa yang belum berupa apa-apa, lalu berwadah sperma yang terpilih. Sang sperma kemudian membuahi pasangannya, yaitu sel telur menjadi janin. Janin tumbuh menjadi bayi. Bayi kemudian diberi hidup yang ditandai dengan nafas. Tanpa nafas kehidupan, seseorang tidak bisa apa-apa. Dengan hidup dia bergerak.

Dia kemudian keluar menghirup dunia. Mulai dari mendengar, lalu melihat. Raganya tumbuh dan berkembang dan menjadi semakin kuat. Otak reptilia yang mengontrol kemampuan sensorik dan motorik semakin cerdas. Demikian pula otak mamalia yang mengontrol perasaan dan kemauan.

Pikirannya pun berkembang, dimulai dari kemampuan mengingat, lalu mengerti dan dilanjutkan mencari cara dengan akalnya. Ingatan yang merupakan kumpulan data yang diawali dari data yang dia tangkap dengan sensoriknya, lalu menyimpan data hasil pengertian yang telah dia kumpulkan, hingga menyimpan berbagai cara yang telah dia hasilkan. Dia pun siap menjalani hidup.

Itulah proses kehidupan.

Bagaimana dengan jalan kematian?

Kematian adalah hilangnya kehidupan[1]. Berarti keluarnya hidup dari raganya. Atau dengan kalimat yang lain raga ditinggalkan oleh hidup dan jiwa. Raga lalu diletakkan di dalam tanah, ada yang dibiarkan, ada yang dibakar hingga tersisa abunya. Raga kembali kepada anasir alam.

Alam yang berasal dari api dan dengannya dunia menjadi terang. Dengan kembalinya raga kepada alam, maka tanpa api, jiwa pun hidup dalam dunia gelap dan dingin. Proses terpisahnya raga dengan jiwa dan hidup adalah kepastian, oleh karena itu setiap orang harus menyiapkan diri untuk menjalani proses keterpisahan ini. Kalau tidak, maka bersiaplah untuk menjalani kesakitan akibat kehilangan. Barangkali inilah yang disebut dengan sakaratul maut.

Maka mulailah sang diri bersama hidup menjalani kehidupan di alam dingin nan gelap. Kalaulah sang diri terlalu cinta kepada raganya, maka rasailah saat raga dipreteli satu demi satu hingga hancur menjadi alam. Dan saat itu sang diri akan sibuk menikmati sakitnya kehilangan. Tak akan sempat dia memperhatikan yang lainnya akibat terlalu sakitnya dirinya. Barangkali inilah siksa kubur. Maka beruntunglah mereka yang mengerti dan sadar saat hidup di dunia, apalagi kalau mau mengikuti arahan akalnya. Niscaya mereka mempersiapkan dirinya. 

Berhubung sebenarnya sang diri masih hidup, maka sang diri yang sudah berpindah ke alam kematian masih bisa berkomunikasi dengan yang hidup di alam dunia. Tentunya harus dengan izin dari Allah (Yang Maha Kuasa).

Masih mungkinkah di alam kematian, sang diri menjadi sadar?

Mungkin saja, karena sang diri masih ditemani oleh sang hidup. Dimana dalam hidup dia masih mungkin untuk mengerti. Kecuali mereka yang disibukkan dengan penderitaan. Apa yang mendorong mereka menjadi sadar? Tentunya melalui doa untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Ilahi dari orang-orang yang masih hidup yang masih mengingat almarhum. Selain doa, maka ingatan, pengertian dan akal yang dibawa sang hidup akan membantunya. Ingatan akan amal kebaikannya berpotensi membawa dia kepada pengertian dan kesadaran yang semakin tinggi. Maka akalnya akan semakin fokus kepada tujuannya, yaitu selalu hadir menghadap Allah.

Oleh karena itu persiapkan sang diri dari sekarang untuk menempuh jalan kematian. Ibarat sang diri berada di bawah sebilah pedang tajam yang tergantung pada seutas benang yang tipis. Hingga setiap saat bisa terjadi.

 

Jakarta, 08 Agustus 2020; 18 Dzulhijjah 1441



[1] Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan kematian, yaitu wafat, ajal dan raji’un. Wafat adalah terhentinya catatan amal. Ajal adalah waktu untuk sesuatu. Raji’un artinya kembali. Dengan demikian bisa dimengerti kenapa orang yang berperang di jalan Allah, ketika terbunuh tidak disebut mati. Karena dirinya tidak terikat kepada raganya dengan fakta mereka tidak takut mati dalam perang.


Senin, 13 Juli 2020

Hakekat Yang Maha Kuasa & Cara Mendekat Kepada-Nya


Kuasa adalah kemampuan melakukan apa saja. Kuasa pasti tunggal tiada duanya, karena kalau ada kuasa yang lain pasti beradu, yang berarti tidak kuasa. Kuasa pasti mutlak, kalau tidak akan digerogoti sehingga menjadi tidak kuasa. Kuasa wajib ada yang dikuasai. Siapa yang dikuasai? Tentunya DiriNya sendiri. Kesatuan antara Kuasa dan DiriNya sendiri disebut Yang Maha Kuasa atau biasa kita sebut dengan Allah. Sebagai Yang Maha Kuasa, Allah pasti menunjukkan kekuasaannya, yaitu mengadakan karya-Nya atau biasa kita sebut dengan ciptaan atau makhluk.

Manusia mengetahui keberadaan Allah Yang Maha Kuasa melalui ciptaan-Nya. Ibarat jejak kaki orang di pantai, kita bisa mengetahui adanya orang yang berjalan di pantai. Tetapi tidak bisa memastikan siapa dia. Demikian pula dengan adanya ciptaan berupa diri kita dan alam ini. Kita bisa memastikan ada-Nya Allah Yang Maha Kuasa dengan pengetahuan yang diperoleh melalui indra yang diafirmasi oleh memori, yang kemudian diproses oleh pengertian pikiran hingga memperoleh kesimpulan dan akal akan memberikan cara mensikapi dan menindak-lanjuti. Karena tidak bisa memastikan wujudNya, maka akal menasehatkan untuk meyakini akan ada-Nya. Kecuali Dia memperlihatkan DiriNya kepada kita. Bukankah Dia kuasa?

Ingat! Jangan membatasi pengertian kita akan keberadaan Allah Yang Maha Kuasa, karena ini berarti membatasi kuasaNya. Dia meliputi segala sesuatu. Melalui alam dunia yang bisa diindrai, kita selalu menyaksikan karya-Nya, yang dengan itu kita mempercayai bahkan bisa meyakini akan ada-Nya. Diharapkan kita bisa selalu dalam keadaan ingat akan Dia dan sadar bersama-Nya.

Semua yang tergelar di alam dunia tentunya berasal dari kehendak Allah. Kehendak tersebut akan turun menjadi cita atau fitrah alam untuk masing-masing perwujudan. Melalui sabda-Nya, maka cita alam akan terdorong mewujud menjadi benda atau makhluk (materi). Tentunya keduanya tidak bisa terlepas akan adanya yang bukan benda atau makhluk (non materi). Keduanya, materi dan non materi merupakan satu kesatuan, yang kalau terpisah, maka wujud materi akan hancur.

Di alam manusia, bilamana seseorang akan mewujudkan idenya, maka dia harus memulai dengan kepercayaan bahkan keyakinan akan terwujudnya. Artinya seseorang perlu memiliki otorisasi berupa kekuasaan untuk mewujukan dari Yang Maha Kuasa (izin) dan otorisasi bahwa dialah yang ditunjuk sebagai pelaksananya. Proses pengadaan atas ide pasti menggunakan ilmu, walau dimulai dari sekedar mencontek dari yang sudah ada. Proses pengadaannya pasti perlu modal dan perjuangan sungguh-sungguh. Sedangkan hasilnya akan ditentukan oleh tingkat kualitas yang diharapkan.

Membuat karya melalui perwujudan ide adalah salah satu yang bisa dilakukan oleh manusia, sehingga berkembanglah peradaban. Manusia mengawali dari peradaban primitif lalu berkembang terus-menerus menjadi berperadaban canggih. Dimana ujung dari peradaban adalah untuk kenikmatan manusia itu sendiri.

Manusia hidup mengejar nikmat, melalui eksplorasi wilayah alam dunia yang bisa diindrai dan alam imajinasi. Alam dunia sudah jelas tidak perlu dibahas. Sedangkan alam imajinasi adalah alam dimana ide-ide manusia berasal. Ide-ide dimana isinya adalah kenikmatan yang bertingkat-tingkat dan tak terbatas. Diri manusia bisa menikmati apa yang bisa diindrai dan dirasakan di alam tampak. Namun bisa juga menikmatinya di alam imajinasi, semisal kenikmatan akan ilmu. Di alam ini, kita seperti sedang menemukan surga, namun lupa akan Allah Yang Maha Kuasa. [Namun ingatlah akan peran kita berada di alam dunia!]
Dari pengamatan atas proses terwujudnya benda dan makhluk di alam, maka kalau ini dianggap sebagai proses menurun karena seolah menjauh dari singgasana Allah Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, maka untuk kembali kepada Allah sejatinya hanya dengan menjalani proses kembali menaik (mi’raj) melalui jalur yang sama. Bilamana disederhanakan, prosesnya adalah melalui pengadaan, pendekatan dan penghadiran akan adanya Allah Yang Maha Kuasa. Ketiga tahapan ini kebetulan juga disampaikan dalam Hadits Qudsy yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (ra): Dari Anas bin Malik (ra), dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda, “Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu berdoa dan mengharap hanya kepada-Ku, Aku memberi ampunan kepadamu terhadap apa yang ada padamu dan Aku tidak mempedulikannya. Wahai anak Adam, seandainya dosamu sampai ke langit, kemudian kamu minta ampun kepada-Ku, maka Aku memberi ampunan kepadamu dan Aku tidak mempedulikannya. Wahai anak Adam sesungguhnya apabila kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.”””

Semoga menjadi jelas bahwa menghadap Allah harus melalui pengetahuan, yaitu dengan mengingat untuk mengakui keberadan-Nya. Karena dengan mengingat, maka kita sedang menghadap kepada-Nya (pengadaan). Selanjutnya kita berusaha mendekat, yaitu dengan pengertian (pendekatan), bukan dengan perasaan. Penggunaan perasaan berarti kita masih meraba-raba dalam kegelapan. Lalu kita berserah diri kepada-Nya, bukankah berserah diri itu menandai bahwa kita percaya seutuhnya (yaqin) kepada-Nya (penghadiran)?

Perihal diterima atau tidak itu hak prerogatif dari Allah Yang Maha Kuasa. Kewajiban kita adalah percaya hingga yaqin.

Jakarta, 12 Juli 2020


Minggu, 12 Juli 2020

Hakekat Jiwa/Diri/Aku-Raga-Kuasa-Ruh

Ketika masih anak-anak, dengan teman-teman sepermainan kami biasa berteka-teki dengan tantangan: “Siapa bisa memegang aku?” Dan teman-teman berebutan memegang tubuhku. Saat itu aku hanya bisa bilang bahwa ndak ada yang bisa memegang aku. Karena yang terpegang hanyalah bagian-bagian dari tubuhku. Dan kami pun bubar, karena sadar[1] bahwa kami tidak ada yang bisa memegang “aku”.

Sekarang marilah berupaya menggali siapa “aku”?

Kita tidak ingat, sejak kapan kesadaran diri ada. Bahkan ketika kita tidur ataupun mabuk ataupun pingsan, kita tidak sadar akan diri sendiri. Namun aneh, ada yang menyaksikan bahwa kita tidak sadar diri. Bahkan kita kemudian bisa bercerita tentang mimpi setelah terbangun. Siapakah yang menyaksikan itu? Akukah ataukah kita sebut dengan “yang (kuasa) menyaksikan”?

Saya jejaki masa-masa kecil diantaranya melalui informasi ilmiah, yaitu proses kelahiran bayi. Bayi yang dihasilkan dari pembuahan sperma bapak kepada sel telur ibu dalam rahimnya. Dari janin yang bisa diketahui dari detak jantungnya hingga mulai bernafas dan bergerak. Saat lahir si bayi mulai bisa mendengar melalui telinganya dan melihat dengan matanya. Dia mulai berjalan kian kemari sembari berteriak dan menangis. Saat daya ingat mulai muncul, dia mulai mengucapkan beberapa patah kata. Lalu dia akan mulai berimajinasi dan terakhir mulai berkarya.

Kapankah akunya aktif? Yaitu saat dia sadar.

Kalau diteliti, maka pada diri seseorang terdapat tiga hal, yaitu aku atau dirinya, raganya, kuasa dan ruhnya. Aku diketahui[2] dari adanya kesadaran diri. Raganya jelas bisa diketahui dengan indra. Adanya kuasa diketahui dari kemampuannya beraktifitas. Ruh diketahui karena ketika ruh tidak ada, maka orang tersebut telah wafat.

Bagaimana dengan hidup? Apakah tumbuhan dan hewan, demikian pula dengan mesin dan robot-robot seperti manusia, bisa disebut hidup?

Kita membangun pengetahuan melalui pengamatan atas diri, manusia dan alam dengan menggunakan sarana yang kita miliki. Keberadaan diri atau aku atau yang sadar adalah muncul ketika pikiran atau pengertian (a6’’’) seseorang sempurna, seperti dewasa, tidur, mabuk atau pingsan. Aku menjadi aktif atau bisa non aktif berhubungan dengan kondisi raganya. Setiap diri yang berwadahkan materi (nafsin), menurut Al Qur’an akan mengalami maut. Karena maut adalah lawan kata dari hidup, maka semua diri yang bisa beraktifitas dengan ragawi disebut hidup. Hidup diketahui dari adanya nafas. Kalau sudah hilang nafasnya, raganya disebut tidak hidup atau mati. Dengan demikian kematian adalah proses dimana ujungnya adalah terpisahnya hidup dari raga dengan ditandai hilangnya nafas.

Pada saat kematian, bagaimana dengan akunya? Sulit menjawab pertanyaan ini karena kita belum pernah mati. Sehingga hanya bisa berteori bahwa setelah terpisahnya raga dari hidup dan pada kenyataannya raga pun terurai menjadi anasir alam, maka aku almarhum pergi bersama hidupnya. Aku bisa apa tanpa raga? Aku bisa apa tanpa hidup? Tanpa hidup, aku dan raga pun juga tidak bisa apa-apa. Dengan demikian maka hidup adalah wakil dari Kuasa karena dengan hidup maka seseorang atau sesuatu bisa beraktifitas. Beraktifitas berarti menggunakan kuasa yang diotorisasikan kepadanya.

Bisa apa aku tanpa raga dan hidup? Tidak bisa apa-apa. Dengan demikian salah satu fakta yang bisa kita peroleh adalah aku tidak bisa apa-apa. Aku juga dipergunakan untuk mengidentifikasi keberadaan diri. Aku juga merupakan sebutan diri atas sesuatu.

Kalau ditarik kesimpulan, keberadaan atas sesuatu atau kelompok sesuatu selalu ditandai dengan adanya diri yang menyebut dirinya dengan aku, ada wujud entah gaib atau pun nyata (bisa diindrai), ada kuasa berupa hidup ataupun daya dan adanya sebutan atau nama. Namun karena yang bisa menyebut dirinya adalah yang memiliki kesadaran diri, maka di dunia nyata hanya manusia yang bisa menyebut dirinya dengan aku. Binatang, misalnya anjing barangkali hanya bisa menyebut dengan kami yang mewakili kelompok anjing. Karena tidak ada identifikasi semisal sebutan nama. Meski seekor anjing bisa dipanggil dengan namanya, namun yang memberi nama adalah orang yang memiliki anjing tersebut bukan anjing yang lain.

Bagaimana dengan penelitian atau pengamatan orang-orang terdahulu perihal ini?

Kitab Durratun Nasihin karya Syekh Utsman bin Hasan Asy-Syakir[3] menyebutkan:

Ketika Allah menciptakan akal, Dia bertanya kepada akal, “Siapa Aku dan siapa kamu?”

Akal menjawab, “Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu.”

Puas dengan jawaban tersebut, Allah berfirman bahwa Dia tidak akan menciptakan makhluk yang lebih mulia dari akal.

Berbeda ketika Dia menciptakan jiwa. Ketika jiwa ditanya Allah, “Siapa Aku dan siapa engkau?”

Jiwa  menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”

Jiwa pun disiksa dalam neraka panas selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun tetap menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”

Jiwa pun disiksa dalam neraka dingin selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun tetap menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”

Jiwa pun disiksa dalam neraka lapar selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun akhirnya menyerah dan menjawab, “Aku hamba-Mu dan Engkau Tuhan-ku.”

Dalam referensi lain, yaitu Injil Barnabas[4] disampaikan sebagai berikut:

Berkata Yesus, “Adakah seorang manusia dijumpai yang masih ada kehidupan pada dirinya, akan tetapi perasaan[5] tiada bekerja padanya?”

“Tidak”, kata pengikut-pengikut itu.

“Kamu menipu dirimu sekalian”, kata Yesus. “Karena orang tuna netra, tuna rungu, tuna wicara dan cacat puntung, dimana perasaannya? Dan kapan seorang manusia berada dalam pingsan?”

Kemudian para pengikut itu telah bingung, ketika Yesus berkata, “Ada tiga hal yang menjadikan manusia, yaitu ruh, perasaan dan daging. Tiap satu diantaranya terpisah. Allah kita menciptakan ruh dan jasad, sebagai yang telah kamu dengar, tetapi kamu belum mendengar bagaimana Dia menciptakan perasaan. Oleh sebab itu besok kalau Allah memperkenankan, aku akan menceritakan kepada kamu semua.”

“Demi Allah [yang] pada hadirat-Nya ruhku berdiri, banyak yang sudah tertipu mengenai kehidupan kita, karena demikian rapatnya hubungan antara ruh dan perasaan. Sehingga sebagian besar manusia mengiyakan ruh dan perasaan adalah hal yang satu dan sama, namun terbagi dalam penugasan bukan dalam wujud. Mereka menyebutnya sensitif (rasa perasaan), vegetatif (rasa tumbuh) dan jiwa yang cerdas (intellectual soul). Tetapi sungguh aku katakan kepadamu, ruh itu adalah satu, yang berakal dan hidup. Orang-orang dungu manakah akan mereka dapatkan ruh berakal tanpa kehidupan? Tentulah tidak pernah. Tetapi kehidupan tanpa perasaan dan kehendak sudah dijumpai, sebagaimana keadaan ketidak-sadaran, dimana perasaan meninggalkannya.”

Thaddeus menjawab, “O Guru, apabila perasaan meninggalkan kehidupan, seorang manusia tidak mempunyai kehidupan.”

Yesus menjawab, “Ini tidak benar, sebab manusia kehilangan kehidupan apabila ruh meninggalkannya, karena ruh itu tidak kembali lagi ke dalam tubuh, terkecuali oleh mukjizat. Akan tetapi perasaan akan hilang lantaran ketakutan yang dialaminya atau kesedihan yang sangat diderita oleh perasaannya. Justru perasaan itu telah diciptakan Allah untuk kesenangan dan dengan kesenangan itu sendiri, dia hidup. Bahkan sebagaimana tubuh itu hidup oleh makanan, ruh itu hidup dengan ilmu dan kasih sayang.

Rasa perasaan memberontak menentang ruh melalui perasaan marah. Hal ini berarti dia telah kehilangan kesenangan surga karena dosa. Oleh sebab itu adalah kewajiban yang paling utama untuk memeliharanya dengan kesenangan ruhani bagi orang yang tidak ingin hidupnya dalam kesenangan jasmani. Mengertikah kamu?

Sungguh aku berkata kepadamu bahwa Allah telah menciptakannya, telah menghukumnya ke neraka dan ke dalam salju dan es yang tak tertahankan karena ia berkata bahwa ia adalah Allah. Tetapi ketika Dia menghilangkan pemeliharaan terhadapnya dengan membawa pergi makanannya dari padanya, barulah ia mengetahui bahwa ia adalah seorang hamba Allah dan pekerja bagi tangan-tangan-Nya.

Dan sekarang ceriterakanlah kepadaku, bagaimana perasaan bekerja pada orang kafir? Pasti itu adalah sebagai Tuhan (Ilah) didalam diri mereka, mengingat bahwa mereka mengikuti perasaan itu, memungkiri akal dan hukum Allah. Oleh sebab itu mereka menjadi tak menyenangkan dan tak beramal shalih.”

Dari kisah-kisah di atas kita mengetahui kenapa manusia diciptakan di alam dunia, yaitu dihukum karena akunya tidak mau menerima Allah sebagai Ilah-nya. Bagaimana dengan kenyataannya?

Alam dunia menurut teori Big Bang berasal dari panas. Berarti alam dunia ini barangkali yang dimaksud dalam kitab-kitab di atas sebagai neraka panas.

Kembali kepada tempat kehidupan pertama, yaitu neraka panas; awal keberadaan aku seseorang di dunia disampaikan dalam QS Al A’raaf 7 ayat 172: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.”

Kata sulbi di sini menjelaskan bahwa pertanyaan ini disampaikan Allah ketika manusia masih berupa air yang akan dipancarkan. Hal ini tertulis dalam QS Ath Thariq 86 ayat 6-7: Ia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Berdasarkan ayat-ayat tersebut, individu orang tercipta melalui jiwa diturunkan ke raganya. Namun karena belum sempurnanya pengertiannya, maka kesadaran diri belum aktif. Baru pada kira-kira umur 5 tahunan muncul kesadaran diri. Hal ini berbarengan dengan sempurnanya pertumbuhan otak yang mengaktifkan pikiran berupa pengertian.

Dalam QS As Sajdah 32 ayat 7-9: Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (al af-idah)[6]; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

QS Shaad 38 ayat 71-72: (Ingatlah) ketika Rabb-mu berfirman kepada Malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruhKu; Maka hendaklah kamu menyungkur dengan bersujud kepadanya.”

QS An Nahl 16 ayat 78: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (al af’idah), agar kamu bersyukur.

QS Az Zumar 39 ayat 6: Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

QS Al Mu’minuun 23 ayat 12-16: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang  belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat.

Yang menarik dari ayat-ayat di atas adalah asal usul manusia yang dinyatakan berasal dari surga, yaitu Adam (as). Karena melanggar aturan Allah, sehingga beliau dikeluarkan dari Surga dan hidup di muka bumi. Demikian pula dengan keturunannya, yaitu kita. QS Al A’raf 7 ayat 24: Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang ditentukan.” Menurut penelitian para ahli Arkeologi hingga sekarang belum diketemukan adanya bukti bahwa Homo Sapiens adalah hasil evolusi dari Homo Erectus. Bila dilihat dari sisi kemampuan otak, Homo Sapiens memiliki volume Neocortex jauh lebih besar daripada Homo Erectus. Dengan besarnya volume Neocortex ternyata manusia jauh lebih mampu mengembangkan peradaban daripada Homo Erectus.

Berarti memang benar bahwa manusia dihukum di neraka api yang disebut dengan dunia.

Pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim: Abu Abdurrahman bin Mas’ud ra berkata bahwa Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Sesungguhnya, setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah selama itu juga, kemudian meniupkan ruh kepadanya ….’’

Keberadaan ruh ditandai dengan adanya nafas. Hampir sama dengan hidup. Namun Isa Almasih dalam Injil Barnabas dengan tegas menyatakan bahwa ruh hidup dengan ilmu dan kasih sayang dan tidak ada pada tumbuhan dan hewan yang sama-sama disebut hidup. Berarti ruh inilah yang menyampaikan ilmu dan kasih sayang kepada diri manusia. Namun manusia kecenderungannya adalah mengikuti hawa nafsunya sendiri bahkan menjadikan dirinya sebagai Ilahnya.

Mulai saat itulah perjalanan kehidupan sang aku di neraka panas atau alam dunia dimulai. Keberhasilan hidup di dunia adalah sang diri bisa menyadari bahwa dia adalah hamba dari Allah Yang Maha Kuasa. Kalau belum berhasil, maka dia akan disiksa di neraka dingin atau alam kubur. Bukankah manusia yang mati terpisah antara dirinya dengan raganya? Berarti lepas dan tersekatlah dia dari alam api, berarti masuk alam tanpa api yang dingin dan gelap. Dan hanya dengan cahaya ilmu dan amalnyalah mereka mendapatkan penerangan.

Alam kubur adalah alam jiwa setelah alam dunia. Menurut Nabi Muhammad s.a.w.: “Sesungguhnya liang kubur itu menyeru dengan lima kalimat. Ia berkata, “Aku adalah rumah kesendirian, maka bawalah teman kepadaku. Aku adalah rumah ular, maka bawalah penawar kepadaku. Aku adalah rumah kegelapan, maka bawalah lampu kepadaku. Aku adalah rumah tanah, maka bawalah permadani kepadaku. Aku adalah rumah kemiskinan, maka bawalah bekal kepadaku.”” Di alam kubur, manusia tidak mempunyai raga, hanya membawa diri dan hidupnya.

Bagaimana seandainya ada alam ketiga, dimana aku manusia dilengkapi dengan raga, namun tanpa ruh?

Niscaya di alam ketiga itu manusia mencapai puncak kesadaran akan adanya Allah Yang Maha Kuasa, namun hidup dalam keadaan lapar dan haus dan tiadanya ruh dan tiadanya makanan membuat mereka sadar akan ketidak-mampuannya. QS Ibrahim 14 ayat 46-51: Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada Rasul-Rasul-Nya; sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api Neraka, agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah maha cepat hisab-Nya.

Jadi jelaslah bahwa ketidak-taatan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa bahkan menuhankan dirinya sendiri akan membuat kita nanti merana tanpa akhir. Ikutilah arahan ruhmu melalui pengetahuan, pengertian dan akalmu. Jangan biarkan ragamu menguasaimu. Jangan biarkan dirimu menjadi tuhan. Manfaatkanlah waktumu sekarang untuk hidupmu yang akan datang.


 

Jakarta, 11 Juli 2020

 

 



[1] Sadar artinya kita mengerti. Mengerti adalah bisa menarik manfaat atas pengetahuan yang diterima oleh kita. Misalnya orang mengetahui tentang listrik dari adanya lampu listrik, namun orang yang mengerti listrik dia bisa memanfaatkan pengertiannya untuk menguasai listrik dan memanfaatkannya. Mengerti adalah pemrosesan data untuk mendapatkan kesimpulan, umumnya berupa rumusan.

[2] Mengetahui adalah proses afirmasi fakta yang ditangkap indra oleh memori. Meski seseorang melihat sesuatu, namun di memorinya tidak ada sebutan untuk itu, maka dia tidak akan mampu mengekspresikan pengetahuannya. Mengetahui bisa disamakan dengan mengingat. Mengetahui adalah input data.

[3] Idrus H. Alkaf, Terjemah Durratun Nasihin, CV Karya Utama, Surabaya, hal. 28

[4] Rahnip M BA, Terjemah Injil Barnabas, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1984, hal. 140-142

[5] Perasaan yang dimaksud dalam Terjemah Injil Barnabas barangkali adalah jiwa seperti yang dimaksud dalam Terjemah Durratun Nasihin atau diri yang disebut dengan “aku”, bukan perasaan hati atau indra kulit.

[6] Hati atau al af-idah adalah kemampuan menarik manfaat.

Minggu, 07 Juni 2020

Manunggaling Kawulo Gusti

Manunggaling kawulo Gusti adalah idiom yang banyak disampaikan dalam masyarakat Jawa. Setiap orang tentunya memiliki pemahaman sendiri-sendiri tentang hal tersebut. Saya tidak mempermasalahkan pemahaman setiap orang, karena yang paling utama adalah bagaimana pemahaman saya sendiri yang bisa diterima secara nalar.

Siapakah Gusti? Siapakah Kawulo? Apa yang dimaksud dengan manunggaling?
Gusti adalah tuan. Sedangkan kawulo artinya hamba. Manunggaling adalah bersatunya. Disebut Gusti, harus memiliki kawulo. Disebut Gusti harus memiliki kekuasaan. Kawulo adalah yang dikuasai. Berarti Gusti dan kawulo sejatinya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Berarti Gusti dan kawulo selalu dalam keadaan bersatu atau manunggal.

Lalu semenjak kapan mereka berpisah?

Perpisahan Gusti dengan Kawulo terjadi semenjak Kawulo dikeluarkan menjadi individu. Saat menjadi individu, muncul keakuan dirinya. Apalagi dengan kemampuan yang dimilikinya. Sang diri yang dikeluarkan menjadi individu menjadi egois, semaunya sendiri.

Perjalanan hidup yang diterimanya, semestinya membawa kepada kesadaran diri bahwa akunya adalah Kawulo dan raganya adalah sarana dirinya dididik oleh Gusti. Dimana sarana ragawi tersebut dilengkapi pula dengan hidup atau disebut ruh. Dengan itu, maka ragawi yang dilengkapi dengan ruh lalu diberi nama misalnya Faiz.

Faiz dikeluarkan dari perut ibunya, dimana kemudian dia memiliki kemampuan indrawi dan juga kemampuan mengingat, mengerti dan mencari cara atau solusi bersamaan dengan tumbuh kembang otaknya. Sebelumnya Faiz dalam perut ibunya bisa merasakan dengan adanya jantung.

Setelah Faiz mencapai akil balik yang ditandai dengan aktifnya pengertiannya, maka kesadaran dirinya atau akunya mulai aktif. Saat itulah Faiz memulai langkah kehidupannya, yaitu mengikuti dorongan kemauannya.

Dengan mengikuti dorongan kemauannya, maka keakuan diri Faiz semakin menguat dan lupa akan Gusti. Kawulo dan Gusti pun mulai terpisah. Dengan menggunakan Faiz, maka kawulo tadi digembleng oleh Gusti supaya teringat akan sejatinya, lalu dibuat mengerti bahkan dibuat sadar diri dan akalnya akan memberikan solusi bagaimana cara menjalani kehidupan sesuai tuntunan Gusti.
Dalam menjalani kehidupan, Faiz akan dibuat senang dengan manfaat yang dia terima dan dibuat menderita dengan resiko yang terwujud. Saat senang, diri Faiz lah yang menikmati kesenangan dan di saat menderita, maka diri Faiz pula yang menderita.

Melalui kesenangan (+) dan penderitaan (-), diri Faiz dididik untuk mengerti dan sadar diri bahwa dibalik (+) dan (-) terdapat kehendak Gusti yang dinyatakan dalam cita alam.

Oleh karena itu supaya kita tetap dalam kesadaran diri yang benar, maka janganlah mengejar (+) saja dan membenci (-). Carilah dibalik (+) dan (-) ada kehendak Gusti. Tangkaplah itu dengan pengertianmu! Sadarlah bahwa dirimu adalah Kawulo. Jadi selama diberi kesempatan hidup, berjuanglah untuk mewujudkan cita alam yang merupakan sabda Gusti. Disinilah kita sebagai Kawulo manunggal kembali dengan Gusti.

Tuban, 7 Jun 2020

Sabtu, 07 September 2019

Suwung


Ketika menulis di grup perihal suwung, beberapa orang berkomentar bahwa suwung adalah ilusi. Yang lain menyebut suwung sebagai keadaan ketidak-sadaran. Inilah repotnya menghadapi orang-orang yang sudah terkontaminasi pikirannya dengan pendapat orang lain, yaitu terjebak kepada persepsi sang pemberi informasi. Masih mendingan kalau kita mendengar langsung penjelasan dari nara sumber dibanding dengan sekedar membaca tulisannya.
Saya jadi teringat kisah teman dari USA bernama Bruno Pizzato seorang sales teknologi petrokimia yang dengan menjual teknologi telah berhasil membangun industry petrokimia di Jepang dan Korea, namun kurang berhasil di Indonesia. Dia cerita saat pertama kali kuliah di Universitas Chicago, professornya membawa cairan berwarna kekuning-kuningan yang dia klaim sebagai air kencingnya. Beliau menyiapkan air kencing tersebut untuk menyambut mahasiswa barunya. Dia meminta seluruh mahasiswa untuk mengikuti apa yang dia lakukan, yaitu dia menyelupkan jarinya dan kemudian menjilat jarinya. Lalu dia datangi setiap mahasiswanya dengan gelas tersebut. Setelah semuanya didatangi, beliau bercerita betapa kecewanya kepada para mahasiswa barunya, yaitu mereka tidak mampu melakukan pengamatan secara teliti. Beliau mengatakan bahwa dia menyelupkan jari telunjuk dan menjilat jari tengahnya. Kemudian beliau memberikan nasehat bahwa untuk mencapai kesuksesan, kuncinya adalah teliti dan akurat dalam pengamatan.
Demikian pula dengan Nabi Muhammad (s.a.w.) nabi akhir zaman, saat pertama kali menerima Wahyu, beliau diminta “iqra’” yang artinya membaca. Apanya yang dibaca, bukunya saja tidak ada. Berarti yang dibaca adalah alam semesta, Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Berarti membaca yang dimaksud adalah melakukan pengamatan alam dengan teliti dan akurat.
Dengan menjalankan nasehat untuk melakukan pengamatan dengan teliti, kita tidak perlu berprasangka aneh-aneh, gunakan pengamatan yang jujur. Data disebut valid kalau apa adanya dan tidak ditambahi atau dikurangi, dengan kata lain jangan berbohong.
Demikian pula dalam memahami makna suwung, bukankah suwung artinya kosong? Namun untuk apa ada istilah Jawa suwung atau kata lain seperti longan? Bukankah itu semua untuk menandai adanya yang gaib melalui keberadaan yang kasat mata? Suwung adalah simbol atas keberadaan sesuatu yang tidak kasat indra yang ditandai dengan adanya rumah yang bisa diindrai. Longan adalah keberadaan sesuatu yang ditandai dengan tempat tidur. Simple saja, just like that.
Namun kalau didalami, kita bisa menyebut suwung kalau ada rumahnya. Kalau tak ada rumahnya, kita tidak bisa menyebut suwung. Berarti keberadaan rumah itu menandai adanya yang suwung atau tidak kelihatan. Demikian pula dengan keberadaan alam, yaitu untuk menandai keberadaan Yang Gaib.
Yang manakah Yang Gaib itu? Ya ini. Yang sempurna tidak berubah, tunggal tiada duanya. Sudahkah kita mampu mengidentifikasi dengan pengertian bahwa adanya Yang Gaib, walau kita tidak bisa mengetahui-Nya?
Semakin dalam kita meneliti, barangkali akan timbul pertanyaan bagaimanakah proses perwujudan?
Memang pada kenyataannya ada tahapan proses kejadian hingga wujud materi terhampar di hadapan kita. Yaitu sebelum adanya meja, yang ada adalah ide tentang meja. Ide tersebut kemudian dituangkan dalam ilmu tentang meja sampai muncul gambar tentang meja. Selanjutnya meja dibuat.
Bukankah ide dan ilmu bagian dari suwung tersebut? Siapakah yang memberi ide yang kemudian kita tangkap dengan pikiran kita? Bolehkah saya menyebutnya dengan Yang Kuasa, karena kuasa memberi ide?
Demikian pula dengan diri kita. Adanya raga kita bukankah menandai adanya yang suwung dalam diri kita dan kita menyebutnya sebagai jiwa atau nafs? Apa yang bisa dilakukan dengan jiwa kita? Tidak ada. Namun dengan adanya kuasa yang diturunkan kepada kita, maka kita menjadi berkuasa. Paling tidak kepada diri kita sendiri.
Selain pengamatan, pada saat kita menarik kesimpulan upayakan mencapai kepastian, bukan sekedar dugaan. Kecuali kalau kita belum mampu mencapainya, namun janganlah terhenti di situ. Dugaan tetap harus diupayakan untuk dipastikan, melalui pengujian dengan fakta-fakta yang lain.
Semoga penjelasan ini membawa kepada pengertian bahkan kesadaran bahwa kita tidak bisa apa-apa. Semua adalah karena turunnya kewenangan yang dianugerahkan kepada kita. Jadi janganlah memerintah Yang Kuasa untuk memenuhi apa yang kita maui. Tetapi kerjakan dengan sungguh-sungguh sabda-Nya yang kita terima melalui pikiran kita agar terwujud di dunia ini sebagai tanda akan keberadaan-Nya. Dan selanjutnya bisa kita nikmati keberadaan tersebut menggunakan perasaan kita.
Bilamana ini bisa dimengerti dan disadari lalu menjadi sikap kita, maka suwung juga bisa ditempatkan dalam hati kita, yaitu kita tidak memiliki kecintaan kepada apapun, kecuali kepada Yang Kuasa tersebut bahkan terhadap dirinya sendiri. Dengan demikian, hatinya suwung akan barang-barang dunia. Bilamana ada orang yang bisa mencapai keadaan suwung ini, niscaya dia tidak ada rasa memiliki atas segala sesuatu. Yang ada semestinya adalah kesatuan antara dia dengan Yang Gaib. Kesatuan ini akan membuat suwung dalam dirinya, terasa dalam hatinya kosong, hampa, namun terasa penuh dengan kebahagiaan. Kepenuhan yang bukan karena memiliki isi alam.
Bagaimana mencapai maqam ini?
Telitilah wahyu Jagad Pitu yang sudah dijelaskan. Karena itu adalah sarana kita untuk mengerti dan sadar diri bahwa kita adalah manusia. Bahkan mengerti dan sadar bahwa kita adalah manusia yang berketuhanan. Dan kalau beruntung dianugerahi pemahaman, niscaya jalannya akan dimudahkan.
Bukankah melakukan sesuatu tanpa pengertian adalah orang ngawur atau jangan-jangan orang gila?
Jakarta, 31 Agustus 2019; 1 Muharram 1441

Minggu, 10 Februari 2019

Moksa Dalam Islam


“Aku telah mendapatkan kemenangan dari Allah!”
Setelah perang Uhud, Rasulullah (saw) menikahi Zaynab (ra) putri Khuzaymah dari suku ‘Amir, janda dari ‘Ubaydah (ra) yang dikenal sebagai ibu kaum papa. Perkawinan ini mendekatkan Abu Bara’ dari suku ‘Amir kepada Rasulullah (saw). Ketika Islam diperkenalkan kepadanya, ia tidak menolaknya. Saat itu ia belum memeluk Islam, namun meminta agar beberapa orang muslim diutus untuk mendakwahkan Islam kepada seluruh warga sukunya. Rasulullah (saw) mengatakan bahwa beliau khawatir bahwa utusan beliau akan diserang oleh suku Ghatafan. Abu Bara’ sebagai kepala suku ‘Amir berjanji akan melindungi para utusan, maka Rasulullah (saw) mengutus empat puluh sahabat yang benar-benar mengenal Islam dan menunjuk Mundzir ibnu ‘Amr (ra) sebagai pemimpin. Di antara para utusan terdapat ‘Amir ibnu Fuhayrah (ra), bekas budak Abu Bakar (ra) yang dipilih menemaninya dan Nabi ketika hijrah dengan cara mengembalakan kambing di belakang perjalanan Rasulullah (saw) dan Abu Bakar (ra) untuk menghapus jejak.
Keponakan Abu Bara’ yang berambisi menggantikan kedudukannya sebagai kepala suku membunuh salah seorang sahabat yang diutus Rasulullah (saw) untuk mengantarkan surat kepada Abu Bara’. Abu Bara’ meminta warga sukunya agar menghentikan pembunuhan terhadap sahabat Rasulullah (saw) yang lain. Ketika warga suku ‘Amir ternyata lebih mematuhi Abu Bara’, sang keponakan yang frustasi menghasut dua kabilah dari suku Sulaym yang baru-baru ini terlibat permusuhan dengan Madinah. Mereka segera mengirim satu pasukan berkuda dan membantai habis semua utusan Rasulullah (saw) di dekat sumur Ma’unah, kecuali dua sahabat yang sedang memberi makan unta di padang rumput, yaitu Harits ibnu Simmah (ra) dan ‘Amr dari Dhamrah (ra), salah satu warga kabilah Kinanah.
Saat mereka berdua kembali dari padang rumput, mereka terkejut melihat banyak sekali burung bangkai terbang rendah di atas perkemahan mereka, seakan berada di suatu medan perang dimana pertempuran baru saja berakhir. Mereka melihat sahabat-sahabatnya terkapar wafat di atas genangan darah, sementara para penunggang kuda dari Bani Sulaym berdiri di dekat mereka asyik berbincang dan tidak menyadari kehadiran mereka berdua. Melihat pemandangan tersebut, ‘Amr hendak melarikan diri, namun Harits berkata, “Aku tak akan pernah mundur dari medan perang, dimana Mundzir telah wafat di atasnya.” Maka Harits segera maju menghadapi para penunggang kuda itu, menyerang dengan tangkas dan menewaskan dua orang sebelum akhirnya ia terkalahkan dan tertawan.
Anehnya para penunggang kuda tersebut nampaknya enggan membunuh atau membalas dendam, meskipun dua teman mereka telah tewas. Lalu mereka menanyakan apa yang diinginkan Harits dan ‘Amr dari mereka? Harits menjawab bahwa ia ingin tahu dimana mayat Mundzir dan meminta dilepaskan untuk bertarung dengan mereka. Mereka mengabulkan permintaannya dan ia berhasil membunuh dua musuhnya sebelum dia sendiri akhirnya terbunuh. ‘Amr dibebaskan dan mereka menyuruhnya memperkenalkan nama-nama sahabatnya yang telah wafat satu per satu. ‘Amr mengamati sahabat-sahabatnya satu per satu dan memperkenalkan mereka. Kemudian mereka menanyakan adakah sahabat ‘Amr yang tidak ditemukan di situ? “Aku tidak menemukan jasad ‘Amir ibnu Fuhayrah (ra) bekas budak Abu Bakar (ra),” jawabnya. “Apa kedudukannya di antara kalian?” tanya mereka. “Dia adalah orang yang terbaik di antara kami, salah seorang sahabat utama Rasulullah (saw)” jawab ‘Amr. “Maukah engkau mendengar cerita kami tentang dia?” Tanya mereka. Maka dipanggillah seorang pria bernama Jabbar yang mengaku telah membunuh ‘Amir. Jabbar bercerita bahwa dia telah menusuk ‘Amir dengan tombak dari belakang hingga tembus ke dadanya. Dan pada tarikan nafas terakhir, ia mengucapkan “Aku telah mendapatkan kemenangan dari Allah!” “Bagaimana mungkin ia mengatakan itu?” Pikir Jabbar yang merasa dirinya lebih berhak merasa menang. Dengan takjub dia mencabut tombaknya dan lebih takjub lagi, ketika dia menyaksikan tubuh ‘Amir terangkat ke atas oleh tangan-tangan gaib, terus naik ke atas langit, hingga tak terlihat lagi. Ketika dijelaskan oleh ‘Amir bahwa yang dimaksudkan ‘kemenangan dari Allah’ adalah surga, Jabbar langsung masuk Islam.
Setelah Rasulullah (saw) mendengar peristiwa itu, beliau mengatakan bahwa para malaikat telah mengangkat ‘Amir ke atas ‘Illiyun, yaitu surga tertinggi.[1]
Orang-orang Sulaym kembali ke suku mereka, dimana cerita tentang mukjizat itu terus diulang dan itu menjadi awal mereka untuk memeluk Islam.
Ini merupakan bukti sejarah bahwa moksa[2] pun ada dalam sejarah Islam. Oleh karena adalah wajar bilamana ada orang yang memiliki cita-cita dan berjuang dalam hidup untuk moksa. Kisah tentang ‘Amir ibnu Fuhayra (ra), perlu dijadikan referensi dalam menjalani kehidupan ini, meski tidak banyak dikisahkan tentang apa yang beliau amalkan.
‘Amir ibnu Fuhayra (ra) adalah salah seorang sahabat yang pertama kali masuk Islam. Sebelumnya beliau adalah budak Abu Bakar (ra). Pada saat Rasulullah (saw) melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Yastrib (Madinah) secara sembunyi-sembunyi, ‘Amir ibnu Fuhayra (ra) menggembalakan ternak Abu Bakar (ra) di belakang jejak Rasulullah (saw). Kemudian beliau menyediakan susu kambing segar untuk Rasulullah (saw) dan Abu Bakar (ra) setiap malam. Selanjutnya beliau bersegera kembali ke Mekkah sebelum matahari terbit. Ini beliau lakukan selama tiga hari berturut-turut dengan penuh kesungguhan. Selanjutnya Rasulullah (saw) dan Abu Bakar (ra) menyusuri pantai ke arah Yastrib dipandu oleh seseorang dari Bani Al Dayl ibnu Adiyy ditemani ‘Amir ibnu Fuhayrah.
Meski kita sekarang tahu bahwa moksa adalah suatu kenyataan hidup, namun apakah moksa merupakan puncak ibadah? Sedangkan pada kenyataannya, beberapa Nabi yang dijadikan teladan tidak moksa berdasarkan ayat-ayat berikut:
QS Al Ahzab 33 ayat 21: Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
QS An Nahl 16 ayat 120: Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan,
QS Al Mumtahanah 60 ayat 6: Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Kenapa jasad beliau-beliau ini tetap ada di bumi dan tidak dimoksakan oleh Allah?
Apakah karena beliau berdua, yaitu Nabi Muhammad (saw) dan Nabi Ibrahim (ra) adalah teladan umat manusia? Yang artinya apa yang dilakukan beliau bisa dicontoh oleh siapa saja. Ataukah ada (yoni) yang bermanfaat buat umat manusia untuk selalu mengingat Allah sebagai Tuhannya.
Sedangkan kemoksaan Nabi Isa (as) bisa jadi adalah permintaan Nabi Isa (as) sendiri untuk diberi kesempatan membersihkan namanya dari fitnah bahwa beliau adalah anak Allah. Dan juga untuk meredam fitnah Dajjal Al Masih yang akan membawa manusia menjauhi Allah melalui tawaran kemakmuran.
QS An Nisaa 4 ayat 156-158: Dan karena kekafiran mereka dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar, dank arena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Bilamana begitu, maka moksa kembalinya hamba kepada Tuhannya. Dalam Bahasa yang lebih awam, moksa adalah penyatuan kembali antara saya yang dikuasai dengan Kuasa itu sendiri. Padahal saya yang dikuasai dengan Kuasa sejatinya tidak pernah berpisah atau terpisahkan. Yang membedakan hanyalah persepsi pengertian, kesadaran, sikap dan laku saya yang dikuasai yang cenderung bahkan selalu semaunya sendiri dan makar kepada Kuasa atau menuhankan dirinya sendiri atau hawa nafsunya.
Bagi awam, Allah sudah mendidik kemoksaan melalui tahapan semedi, sholat atau sembahyang. Artinya dalam sholat ada upaya untuk mengembalikan diri atau saya atau yang dikuasai kepada Kuasa yang dikenal dengan Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan demikian siapa saja bisa moksa selama mau berjuang dan tentunya dengan rahmat Allah. Secara pengalaman, kerelaan Allah hanya turun kepada siapa-siapa yang betul-betul berniat lurus untuk kembali kepada Allah. Bukan mengharapkan surga yang penuh kenikmatan, apalagi membawa barang-barang dunia.
Biarlah aku hidup sendiri, selain dengan Allah Yang Maha Kuasa.
Kupejamkan mataku, kututup telingaku, yang ada hanya aku yang sedang bernafas. Pikiran dan rasa hidupku kusatukan dengan kepercayaanku yang aku sebut dengan nama Allah Yang Maha Kuasa.
Aku dihadirkan dalam kehidupan alam semesta, sesungguhnya untuk merasakan nikmat yang begitu luar biasa serta dapat aku baca betapa besar kekuasaan-Mu dan tak terukurkan bagi umat manusia seperti aku ini.
Kubaca kelahiran dan kematian di atas segala bentuk kehidupan ini. Sesungguhnya aku diberi kesempatan betapa nikmat dan bahagianya membaca bahwa Maha Kuasa Allah sangat mencintai kepada umat-Nya, khususnya bagi mereka yang memperoleh kecerahan (Mas Supranoto, Wijaya Chandra Loka, Manggisan Banyuwangi).


[1] Waqidi, rujukannya adalah edisi Marsden Jones dari Kitab Al Maghazi, seputar dakwah-dakwah Nabi, oleh Muhammad ibnu ‘Umar al-Waqidi [Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din, Muhammad – Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, PT Serambi Ilmu Semesta, 2010, hal 377 – 380.
[2] Pengertian Moksa menurut Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Dalam agama Hindu kita percaya adanya Panca Srada yaitu lima keyakinan yang terdiri dari, Brahman, Atman, Karma Pala, Reinkarnasi, dan Moksa. Moksa berasal dari bahasa sansekreta dari akar kata "MUC" yang artinya bebas atau membebaskan. Moksa dapat juga disebut dengan Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagian rohani yang langgeng. Jagaditha dapat juga disebut dengan Bukti artinya membina kebahagiaan, kemakmuran kehidupan masyarakat dan negara.
Jadi Moksa adalah suatu kepercayaan adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan brahman. Kalau orang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi) dan akan mengalami Sat, Cit, Ananda (kebenaran, kesadaran, kebahagian).
Dalam kehidupan kita saat ini juga dapat untuk mencapai moksa yang disebut dengan Jiwan Mukti (Moksa semasih hidup), bukan berarti moksa hanya dapat dicapai dan dirasakan setelah meninggal dunia, dalam kehidupan sekarangpun kita dapat merasakan moksa yaitu kebebasan asal persyaratan-persyaratan moksa dilakukan, jadi kita mencapai moksa tidak menunggu waktu sampai meninggal.

Dzauq & Siksa Kubur

QS Shaad 38 ayat 7 - 8: Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama (al-millati) yang terakhir, ini tidak lain hanyalah yang diada-adaka...