Sabtu, 06 Juni 2026

Dzauq & Siksa Kubur

QS Shaad 38 ayat 7 - 8: Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama (al-millati) yang terakhir, ini tidak lain hanyalah yang diada-adakan, mengapa Al Qur`an itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Qur`an Ku dan sebenarnya mereka belum merasakan (yadzuwquw) azab Ku.

Istilah dzauq seringkali dihubungkan dengan rasa jiwa atau bathin. Namun dari ayat di atas dzauq bisa merasakan azab Ilahi. Ini berarti bahwa dzauq adalah rasa yang dirasakan oleh dirinya, yaitu oleh raga dan jiwanya. Saat raga mengalami sakit, jiwa ikut menderita. Meskipun jiwa yang diberi amanat sebagai pemimpin atas dirinya, mungkin bisa mengelola dengan pengabaian. Demikian pula sebaliknya, saat jiwa sakit, seperti contoh orang depresi, raga akan ikut terkena dampaknya.

Perihal dzauq atau rasa diri ini juga sudah dikuatkan dengan hadits berikut:

Ibnu Abbas mengatakan bahwa jiwa akan berselisih dengan raga dan jiwa akan berkata bahwa tanggung jawab semua perbuatan ada pada raga.

Lalu raga mengatakan bahwa ia mengikuti perintah-perintah jiwa dan bertindak hal yang sama sebagaimana yang digambarkan kepadanya.

Allah memerintahkan malaikat agar menyelesaikan perselisihan mereka.

Malaikat mengatakan bahwa kasus mereka sama dengan kasus seorang yang pincang dan seorang yang buta. Orang yang pincang memberitahu yang buta bahwa ia telah melihat buah tetapi berada di luar jangkauannya. Kemudian orang buta menyuruhnya naik di punggungnya. Orang yang pincang itu naik dan memetik buah itu. Setelah mengutip contoh ini, malaikat menyuruh kepada jiwa dan raga mengatakan yang mana dari keduanya yang melakukan pelanggaran?

Kedua jiwa dan raga mengatakan bahwa kedua orang itu sama-sama bertanggung jawab.

Anas merujuk ke sebuah hadits yang mengatakan bahwa pada hari kiamat, jiwa dan raga berselisih. Raga berkata, “Aku terbaring seperti pohon palem, jika jiwa tidak ada. aku tidak mungkin melakukan apa pun dengan cara menggerakkan tangan dan kakiku.”

Jiwa berkata, “Aku seringan udara, bila raga tidak ada, aku kehilangan daya untuk melakukan apa pun.”

Setelah itu, kasus jiwa dan raga akan dirujuk dengan kisah orang pincang dan orang buta seperti dikisahkan di depan. Kemudian mereka akan sama-sama dimintai pertanggungjawaban.

Penjelasan ini menegaskan bahwa baik jiwa dan raga keduanya merasakan susah maupun senang bersama-sama.

Namun bagaimana dengan kisah orang-orang yang saat wafatnya konon tidak diterima oleh bumi? Berikut adalah kisahnya:

Suatu saat seorang teman yang suka mencari nomor buntut, menyepi ke tempat angker. Pada malam harinya, muncul sesosok makhluk yang dikenal dengan sebutan jenglot. Lalu jenglot tersebut ditanya, kamu siapa? Jenglot menjawab bahwa dia dulunya adalah manusia, namun karena suka bertapa mencari kesaktian, akhirnya tanah tidak mau menerima jasadnya, sehingga raganya menjadi jenglot.

Dalam kisah lain, ada juga orang yang diselamatkan dari ancaman siluman harimau oleh seorang wanita yang tinggal sebagai pembantu di alam siluman tersebut. Ketika ditanya, dia siapa? Wanita itu menjawab bahwa dia adalah manusia yang dulunya mempelajari ilmu siluman harimau dan ketika dia mati, maka dia menjadi pembantu di masyarakat siluman harimau tersebut.

Kedua kisah ini, tidak bisa kita ukur kebenarannya. Pertama, datanya adalah subyektif dari sang pencerita. Kedua, meski dari sumber primer, namun tidak bisa tervalidasi kejujurannya. Ketiga, dari sisi nalar sulit untuk dianalisa kebenarannya. Oleh karena itu dengan memperhitungkan risiko keselamatan dirinya, sebaiknya kisah-kisah seperti ini cukup hanya dijadikan pelajaran untuk tidak mencari ilmu-ilmu kesaktian dengan memanfaatkan makhluk-makhluk tidak kasat mata.

Memang tidak dipungkiri bahwa adanya kisah-kisah seperti ini, bisa menimbulkan keraguan perihal dzauq sebagai rasa diri bukan sekedar raga. Informasi semacam ini juga bisa menimbulkan terkikisnya iman akan ada tidaknya siksa kubur. Bukankah saat kematian jiwa dan raga sudah terpisah? Dan bukankah raga yang sudah mati tidak mampu merasakan? Demikian pula jiwa sudah berada dalam alamnya, konon orang-orang menyatakan berada di surga tanpa bukti.

QS Thaha 20 ayat 55: Dari bumi itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. Makna kepadanya Kami mengembalikan kamu, bisa difahami bahwa setelah menerima laporan akan apa yang telah dilakukan selama hidup di dunia sang jiwa dikumpulkan dengan raganya di bumi. Meski keduanya tersekat (barzakh) namun masih terhubung. Hal ini dinyatakan dalam hadits dari Muadz bin Jabal [Lihat Artikel Addiyn – Hisab Manusia Setelah Mati]. Hadits ini diperkuat dengan pengalaman beberapa orang yang mati suri yang menjalani review kehidupan, yaitu dalam buku karya Raymond A. Moody JR. MD. berjudul Life After Life.

Jadi dzauq adalah rasa diri yang merupakan suatu kesatuan jiwa dan raga. Meski saat mati, jiwa dan raga terpisahkan, sang diri tetap bisa merasakan azab Ilahi. Contoh sederhana adalah saat mimpi buruk dalam tidur. Dengan demikian siksa kubur itu ada. Ingat, ALLAH bisa berbuat sekehendaknya bahkan melampaui ilmu-Nya!

Marilah meneladani Nabi Muhammad s.a.w. melalui doa beliau, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka, fitnah hidup, fitnah mati dan dari fitnah Dajjal (HR Bukhari #2:459-S.A.).”

Papahan, 5 Jun 2026 

Dzauq & Siksa Kubur

QS Shaad 38 ayat 7 - 8: Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama (al-millati) yang terakhir, ini tidak lain hanyalah yang diada-adaka...