Minggu, 12 November 2023

Hadir Ke Hadirat ALLAH Dengan Bashirah

QS Al Araaf 7 ayat 172: Dan ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan ALLAH mengambil kesaksian terhadap diri (anfusihim) mereka, Bukankah Aku Rabb-mu? Mereka menjawab, Betul, kami menjadi saksi. Agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. Berdasarkan ayat ini bisa difahami bahwa ketika seseorang mempribadi, yaitu dikeluarkan dari satu kesatuan dan saat masih berwujud sperma sudah bisa menyaksikan. Berarti sang diri memiliki fitrah menyaksikan, yaitu menyaksikan akan diri pribadinya dan Rabb-nya. Karena sang diri adalah dikeluarkan dari kesatuannya, maka sang diri adalah yang dikuasai atau hamba, dan Rabb-nya adalah Yang Maha Kuasa.

Sebagai hamba, semestinya dia harus selalu siap mendengar dan melaksanakan perintah Rabb-nya, selalu hadir ke hadirat-Nya. Dengan demikian yang hadir adalah sang diri yang menyaksikan. QS Yusuf 12 ayat 108: Katakanlah, Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada ALLAH dengan Bashirah, Maha Suci ALLAH dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.

Sang diri kemudian disempurnakan, yaitu berwadahkan raga, jantung dan otak, maka dia menjadi lupa diri dan lupa akan Rabb-nya. Dia selalu dalam kesibukan mengejar kenikmatan bagi dirinya, yaitu pada tahap pertama berupa kenikmatan ragawi (Qur`an menyebut dengan istilah shadr). Pemenuhan kebutuhan ragawi ini akan dibantu dengan kemampuan indrawi, motorik dan somatik. Pada tahap kedua berupa kenikmatan penilaian / emosi hati (Qur`an menyebut dengan istilah qalbu), yaitu ketika emosinya yang terpuaskan. Pada tahap ketiga berupa kenikmatan ambisi hati (Qur`an menyebut dengan fu`ad), yaitu ketika ambisinya terpenuhi.

Bilamana hal ini diteruskan, maka kelak dia berakhir di tempat serendah-rendahnya. QS At Tin 95 ayat 4-6: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Sang diri sudah terseret oleh hawa nafsu jantungnya yang padanya bercampur antara emosi diri (ghodhob) dengan penilaian perasaan hati, juga ambisi diri (syahwat) dengan kemauan hati. Semestinya penilaian hati dan kemauan tidak ditunggangi, namun diikuti. Sedangkan raga yang dilengkapi dengan indra dan motorik memberikan masukan untuk diolah oleh akal pikiran dan pelaksana untuk memberikan manfaat yang sempurna. Namun karena ditenggelamkan oleh hawa nafsunya, maka informasi dari sensorik dan motorik diabaikan. Demikian pula dengan peringatan memori (dzikr), kajian pikiran (fiqr) dan nasehat akal (aql) pun ditolak, bahkan ditunggangi dan dimanfaatkan. Meski dirinya selalu menyaksikan akan kemunkaran tersebut, namun tidak mampu mengambil peran karena sudah terkuasai. QS Al Hajj 22 ayat 45-46: Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi, maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (quluwbun) yang dengan itu mereka menggunakan akal atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati (alquluwbu) yang di dalam dada.

Jadi sang diri yang menyaksikan harus dibebaskan dan ditempatkan sebagai tuan atas dirinya (syaghaf) serta bersedia menjadi hamba atas Rabb-nya.

Cara untuk membebaskan sang diri adalah dengan kunci iftitah berupa pernyataan diri untuk bersedia menerima Allah sebagai Ilahnya. QS Al Anaam 6 ayat 79: Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang memisahkan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya. QS Al Anaam 6 ayat 162-163: Katakanlah, Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk ALLAH, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri. Dari pernyataan diri tersebut, niscaya ALLAH akan membukakan dadanya untuk menerima Islam dari ALLAH, yaitu melalui Al Fatihah. Selanjutnya dengan menelaah Quran, maka ALLAH menganugerahinya cahaya (nurin). Ini semua dirangkum dalam QS Az Zumar 39 ayat 22: Maka apakah orang-orang yang dibukakan dadanya (shadr) untuk menerima Islam dari ALLAH, lalu ia mendapat cahaya (nuwrin) dari Rabb-nya? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya (quluwbuhum) untuk mengingat ALLAH. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Lalu siapakah yang dimaksud bashirah yang memandu ke ALLAH?

Ada empat kemungkinan yang perlu dikaji, yaitu sang jiwa, ruh, malaikat penyaksi dan ALLAH sendiri. Kalau sang diri atau jiwa bukankah selalu semaunya? Kalau ALLAH sendiri kenapa memandu sendiri? Kalau ruh, bukankah keluarnya ruh berarti kematian? Yang paling pas adalah malaikat penyaksi. Hal ini dijelaskan dalam QS Qaf 50 ayat 21: Dan datanglah tiap-tiap diri bersama dengan sesosok malaikat Penggiring dan seorang malaikat Penyaksi. Bukankah Nabi Muhammad (s.a.w.) saat miraj juga didampingi malaikat Jibril?

Jadi dalam upaya hadir ke hadirat-Nya, perhatikan ada yang menyaksikan apa yang kita lakukan. Bergabunglah dengannya, karena dia akan mengantar ke ALLAH. Selamat berjuang.


Papahan, 10 November 2023 / 26 Rabbiulakhir 1445 H


Tidak ada komentar:

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...