Senin, 05 Oktober 2026

Berprestasi Tanpa Menyakiti; Hamba Yang Rendah Hati

Dan hamba-hamba Ar Rahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata keselamatan [QS Al Furqon 25 ayat 63].

Kenapa hamba-hamba ALLAH SWT bersikap rendah hati karena ALLAH, di saat orang-orang pada umumnya berlomba mengejar kesuksesan dengan mengukur keberhasilan melalui ukuran duniawi, seperti harta, jabatan, prestasi dan lain-lain? Kenapa kita tidak boleh berbangga diri bahkan mengaku-ngaku sebagai yang terhebat?

Setelah direnungkan / ditafakuri, jawabannya adalah kalau semua orang berlomba-lomba menggapai keberhasilan dengan ukuran duniawi, maka resikonya adalah satu sama lain akan saling sikut, saling mendengki dan akan membuat perpecahan. Bukankah ketika kita berjuang untuk menjadi yang terbaik atau nomer satu, secara tidak sadar, jiwa tidak mau kalah akan menguat. Kekalahan atau kegagalan adalah aib dan membuat kecewa. Lalu timbul iri lalu mendengki. Maka mulailah bibit permusuhan bersemi dan berkembang dengan subur pada media perlombaan atau pertandingan.

Nilai perihal menjadi yang paling berprestasi pernah sukses dijalani oleh Azazil. Dia menjadi jin yang terbaik pada waktu itu. Dia adalah sosok ahli ibadah hingga sampai menjadi bendahara langit. Namun karena kebanggaan diri dan kesombongan serta keakuan, dia menjelma menjadi Iblis yang terlaknat. Kondisi ini terbangun dari dorongan hawa diri ingin menjadi yang terbaik bahkan yang terbaik di hadirat ALLAH SWT melalui nilai-nilai atas dasar persepsi dirinya dan bukan atas nilai-nilai Ilahi yang haq.

Dalam catatan sejarah menurut Al Qur`an dan Hadits, ALLAH SWT sangat memuliakan hamba-hamba-Nya yang rendah hati karena Dia. ALLAH SWT mewahyukan kepada gunung-gunung seluruhnya, Sesungguhnya Aku hendak berbicara dengan salah seorang hamba-Ku di atasmu.” Maka gunung-gunung menjadi sombong, kecuali gunung Thursina. Hanya dia yang merendahkan diri kepada ALLAH SWT, katanya, “Siapalah aku ini, sehingga ALLAH berkenan berbicara dengan salah seorang hamba-Nya di atasku?” karena sikap rendah hati karena ALLAH itulah, maka pembicaraan ALLAH dengan nabi Musa (a.s.) berlangsung di atas gunung Thursina.

Namun ini bukan berarti sebagai hamba Ar Rahman kita tidak boleh berprestasi bahkan kita harus selalu memberikan yang terbaik. Sebagai hamba Ar Rahman selalu sibuk membuat dirinya selalu berguna dimana saja dan kapan saja. QS Al Mukminuun 23 ayat 3: dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada berguna. Perlombaan pun ditujukan dalam rangka berbuat kebaikan. QS Al Baqarah 2 ayat 148: Dan tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. ….

Bila demikian, manusia selalu dalam dualitas positif dan negatifsebagai bagian dari proses penyucian diri (Tazkiyatun-nafs). Dengan berjuang bersungguh-sungguh karena ALLAH dan dengan menekan sifat-sifat Iblis yang nantinya menghambat perjalanan ke ALLAH, tentunya dengan pertolongan Ilahi, kita bisa mencapai tujuan yang sejati, yaitu akhlak yang mulia dan dicintai ALLAH.

Oleh karena itu, sudah saatnya merubah nilai-nilai kompetitif dalam hal kebaikan bukan dalam hal kebanggaan, kesombongan dan keakuan. Model Pendidikan sudah waktunya diubah sesuai tuntunan Ilahi yang tertuang dalam QS Al Furqon 25 ayat 63 di atas.


Papahan, 30 Agustus 2026 / 17 Rabiulawal 1448

 

Referensi:

1.      IQuran

2.     Idrus H. Alkaf, Terjemah Durratun Nasihin, Karya Utama, Surabaya, 

Berprestasi Tanpa Menyakiti; Hamba Yang Rendah Hati

Dan hamba-hamba Ar Rahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapk...