Dan hamba-hamba Ar Rahman adalah
orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang
jahil menyapa, mereka mengucapkan kata keselamatan [QS Al Furqon 25 ayat 63].
Kenapa
hamba-hamba ALLAH SWT bersikap rendah hati karena ALLAH, di saat orang-orang pada
umumnya berlomba mengejar kesuksesan dengan mengukur keberhasilan melalui
ukuran duniawi, seperti harta, jabatan, prestasi dan lain-lain? Kenapa kita
tidak boleh berbangga diri bahkan mengaku-ngaku sebagai yang terhebat?
Setelah
direnungkan / ditafakuri, jawabannya adalah kalau semua orang berlomba-lomba menggapai
keberhasilan dengan ukuran duniawi, maka resikonya adalah satu sama lain akan
saling sikut, saling mendengki dan akan membuat perpecahan. Bukankah ketika
kita berjuang untuk menjadi yang terbaik atau nomer satu, secara tidak sadar,
jiwa tidak mau kalah akan menguat. Kekalahan atau kegagalan adalah aib dan
membuat kecewa. Lalu timbul iri lalu mendengki. Maka mulailah bibit permusuhan
bersemi dan berkembang dengan subur pada media perlombaan atau pertandingan.
Nilai
perihal menjadi yang paling berprestasi pernah sukses dijalani oleh Azazil. Dia
menjadi jin yang terbaik pada waktu itu. Dia adalah sosok ahli ibadah hingga
sampai menjadi bendahara langit. Namun karena kebanggaan diri dan kesombongan
serta keakuan, dia menjelma menjadi Iblis yang terlaknat. Kondisi ini terbangun
dari dorongan hawa diri ingin menjadi yang terbaik bahkan yang terbaik di hadirat
ALLAH SWT melalui nilai-nilai atas dasar persepsi dirinya dan bukan atas
nilai-nilai Ilahi yang haq.
Dalam
catatan sejarah menurut Al Qur`an dan Hadits, ALLAH SWT sangat memuliakan
hamba-hamba-Nya yang rendah hati karena Dia. ALLAH SWT mewahyukan kepada
gunung-gunung seluruhnya, Sesungguhnya Aku hendak berbicara dengan salah
seorang hamba-Ku di atasmu.” Maka gunung-gunung menjadi sombong, kecuali gunung
Thursina. Hanya dia yang merendahkan diri kepada ALLAH SWT, katanya, “Siapalah
aku ini, sehingga ALLAH berkenan berbicara dengan salah seorang hamba-Nya di
atasku?” karena sikap rendah hati karena ALLAH itulah, maka pembicaraan ALLAH
dengan nabi Musa (a.s.) berlangsung di atas gunung Thursina.
Namun
ini bukan berarti sebagai hamba Ar Rahman kita tidak boleh berprestasi bahkan
kita harus selalu memberikan yang terbaik. Sebagai hamba Ar Rahman selalu sibuk
membuat dirinya selalu berguna dimana saja dan kapan saja. QS Al Mukminuun 23
ayat 3: dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada berguna. Perlombaan
pun ditujukan dalam rangka berbuat kebaikan. QS Al Baqarah 2 ayat 148: Dan
tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya, maka
berlomba-lombalah dalam kebaikan. ….
Bila
demikian, manusia selalu dalam dualitas positif dan negatifsebagai bagian dari
proses penyucian diri (Tazkiyatun-nafs). Dengan berjuang bersungguh-sungguh
karena ALLAH dan dengan menekan sifat-sifat Iblis yang nantinya menghambat
perjalanan ke ALLAH, tentunya dengan pertolongan Ilahi, kita bisa mencapai tujuan
yang sejati, yaitu akhlak yang mulia dan dicintai ALLAH.
Oleh
karena itu, sudah saatnya merubah nilai-nilai kompetitif dalam hal kebaikan
bukan dalam hal kebanggaan, kesombongan dan keakuan. Model Pendidikan sudah
waktunya diubah sesuai tuntunan Ilahi yang tertuang dalam QS Al Furqon 25 ayat
63 di atas.
Papahan,
30 Agustus 2026 / 17 Rabiulawal 1448
Referensi:
1. IQuran
2. Idrus H. Alkaf, Terjemah Durratun Nasihin, Karya Utama, Surabaya,