Senin, 10 Agustus 2026

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya adalah perut perlu makan. Kemudian pengertiannya menanyakan kenapa harus makan? lalu dia menafsirkan bahwa makanan merupakan kebutuhan untuk kekuatan. Dengan semakin banyaknya ilmu, dia pun mulai memilih-milih makanan yang disukai atau yang dibutuhkan untuk kebugaran dan kesehatan. Sekarang makan pun menjadi suatu bentuk kenikmatan baru, yaitu wisata kuliner. Baik dengan mengeksplorasi rasa, suasana, budaya, Lokasi dan lain-lain. Dengan demikian tafsiran akan informasi berupa lapar bisa bermacam-macam tergantung kepercayaan masing-masing.

Ketika dia diberitahu perihal kewajiban puasa yang memaksanya untuk menahan lapar hingga waktunya tiba, maka ilmunya pun semakin berkembang. Lapar bukan sekedar informasi agar kita makan, namun adalah dorongan agar dia berupaya menguasai diri. Lalu apa ide awal dari kejadian lapar tersebut? Upaya memahami ini, namanya ta’wil. Melalui perintah puasa, dia mungkin memahami bahwa lapar adalah dorongan raga untuk menguasai dirinya. Oleh karena itu dengan berpuasa menahan lapar, dia disadarkan bahwa dirinyalah yang seharusnya memimpin, bukan dipimpin oleh dorongan-dorongan ragawi atau hawa nafsu.

Pada tahap ini, dia baru menyadari keberadaan dirinya. Dia adalah tuan atas dirinya sendiri. Dengan pemahaman ini, dia menyaksikan adanya isyarat bahwa ada kekuasaan yang membuatnya lapar. Kekuasaan adalah pasti milik dari Yang Maha Kuasa. Berarti peristiwa lapar adalah isyarat dari Yang Maha Kuasa agar dia sebagai yang dikuasai mengambil tindakan. Ini juga memberi isyarat bahwa dia adalah hamba dari Yang Maha Kuasa. Dia diberi susah dan senang, padahal dia menginginkan kesenangan.

Dengan anugerah berupa kesusahan dan kesenangan menunjukkan bahwa dia digembleng dengan kelembutan (lathifah). Ini berarti Yang Maha Kuasa juga Yang Maha Lembut. Untuk apa kita digembleng? Kenapa tidak langsung diberi kenikmatan saja?

Pertanyaan yang menginginkan pemahaman ini membawa kepada hakekat. Apa sejatinya ini semua?

Data perut lapar hingga tindakan yang diambil semuanya merupakan input data yang akan diproses oleh pengertian untuk menguak manfaat atau resikonya. Pengertian akan selalu mendorong untuk membuka rahasia-rahasia (sirr) yang tersembunyi berupa manfaat atau resiko, surga atau neraka. Dengan demikian kesimpulan berupa ilmu yang disimpan di memori merupakan hasil kesibukan pengertian dan ini akan bertingkat-tingkat tergantung seberapa dalam setiap individu menggali rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya. Itu adalah rahasia (sirr) dari Yang Maha Kuasa.

Dia bisa saja menghubung-hubungkan antara informasi yang satu dengan informasi yang lain bahkan mempercayainya. Namun bila dia senantiasa masih dalam keraguan, itu berarti pengertian belum memahami. Pengertian selalu meminta kepastian (yaqin), maka selalu mempertanyakan selama kepastian belum tercapai. Bila tidak sampai kepada kepastian ilmu, maka akal menyudahi dengan usulan, sudahlah percaya saja! Hingga dia mendapatkan data-data baru yang membawa kepada kepastian ilmu atau bahkan kenyataan indrawi.

Ujungnya adalah memastikan kebenaran akan keberadaan Yang Maha Benar (Al Haqq).

Dengan demikian, maka tingkatan pemahaman ada 7, yaitu:

1.      Lahir

2.     Tafsir

3.    Ta’wil

4.    Isyarat

5.    Lathifah

6.    Hakekat

7.     Sirr

Ketujuh tingkatan ini sudah disampikan oleh Iman Jafar Shodiq a.s..

Dengan memahami tingkatan pemahaman, semoga antar umat bisa saling memahami dan tidak terburu-buru menghakimi dan menciptakan permusuhan. Ini semestinya menjadi daya dorong untuk berlomba-lomba dalam menggapai kepastian.


Papahan, 26 Jun 2026 / 13 Muharam 1448 

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...