Pada
setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir
saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya adalah perut perlu
makan. Kemudian pengertiannya menanyakan kenapa harus makan? lalu dia
menafsirkan bahwa makanan merupakan kebutuhan untuk kekuatan. Dengan semakin
banyaknya ilmu, dia pun mulai memilih-milih makanan yang disukai atau yang
dibutuhkan untuk kebugaran dan kesehatan. Sekarang makan pun menjadi suatu bentuk
kenikmatan baru, yaitu wisata kuliner. Baik dengan mengeksplorasi rasa,
suasana, budaya, Lokasi dan lain-lain. Dengan demikian tafsiran akan informasi
berupa lapar bisa bermacam-macam tergantung kepercayaan masing-masing.
Ketika
dia diberitahu perihal kewajiban puasa yang memaksanya untuk menahan lapar
hingga waktunya tiba, maka ilmunya pun semakin berkembang. Lapar bukan sekedar
informasi agar kita makan, namun adalah dorongan agar dia berupaya menguasai
diri. Lalu apa ide awal dari kejadian lapar tersebut? Upaya memahami ini,
namanya ta’wil. Melalui perintah puasa, dia mungkin memahami bahwa lapar adalah
dorongan raga untuk menguasai dirinya. Oleh karena itu dengan berpuasa menahan
lapar, dia disadarkan bahwa dirinyalah yang seharusnya memimpin, bukan dipimpin
oleh dorongan-dorongan ragawi atau hawa nafsu.
Pada
tahap ini, dia baru menyadari keberadaan dirinya. Dia adalah tuan atas dirinya
sendiri. Dengan pemahaman ini, dia menyaksikan adanya isyarat bahwa ada
kekuasaan yang membuatnya lapar. Kekuasaan adalah pasti milik dari Yang Maha
Kuasa. Berarti peristiwa lapar adalah isyarat dari Yang Maha Kuasa agar dia sebagai
yang dikuasai mengambil tindakan. Ini juga memberi isyarat bahwa dia adalah
hamba dari Yang Maha Kuasa. Dia diberi susah dan senang, padahal dia
menginginkan kesenangan.
Dengan
anugerah berupa kesusahan dan kesenangan menunjukkan bahwa dia digembleng
dengan kelembutan (lathifah). Ini berarti Yang Maha Kuasa juga Yang Maha
Lembut. Untuk apa kita digembleng? Kenapa tidak langsung diberi kenikmatan
saja?
Pertanyaan
yang menginginkan pemahaman ini membawa kepada hakekat. Apa sejatinya ini
semua?
Data
perut lapar hingga tindakan yang diambil semuanya merupakan input data yang
akan diproses oleh pengertian untuk menguak manfaat atau resikonya. Pengertian
akan selalu mendorong untuk membuka rahasia-rahasia (sirr) yang tersembunyi
berupa manfaat atau resiko, surga atau neraka. Dengan demikian kesimpulan
berupa ilmu yang disimpan di memori merupakan hasil kesibukan pengertian dan
ini akan bertingkat-tingkat tergantung seberapa dalam setiap individu menggali
rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya. Itu adalah rahasia (sirr) dari
Yang Maha Kuasa.
Dia
bisa saja menghubung-hubungkan antara informasi yang satu dengan informasi yang
lain bahkan mempercayainya. Namun bila dia senantiasa masih dalam keraguan, itu
berarti pengertian belum memahami. Pengertian selalu meminta kepastian (yaqin),
maka selalu mempertanyakan selama kepastian belum tercapai. Bila tidak sampai
kepada kepastian ilmu, maka akal menyudahi dengan usulan, sudahlah percaya
saja! Hingga dia mendapatkan data-data baru yang membawa kepada kepastian ilmu
atau bahkan kenyataan indrawi.
Ujungnya
adalah memastikan kebenaran akan keberadaan Yang Maha Benar (Al Haqq).
Dengan
demikian, maka tingkatan pemahaman ada 7, yaitu:
1.
Lahir
2.
Tafsir
3.
Ta’wil
4.
Isyarat
5.
Lathifah
6.
Hakekat
7.
Sirr
Ketujuh
tingkatan ini sudah disampikan oleh Iman Jafar Shodiq a.s..
Dengan
memahami tingkatan pemahaman, semoga antar umat bisa saling memahami dan tidak
terburu-buru menghakimi dan menciptakan permusuhan. Ini semestinya menjadi daya
dorong untuk berlomba-lomba dalam menggapai kepastian.
Papahan, 26 Jun 2026 / 13 Muharam 1448