Apakah
yang dimaksud dengan kesadaran?
Kesadaran
selalu diantonimkan dengan ketidaksadaran seperti tidur, pingsan, mati suri,
kematian bahkan gila atau kesurupan.
Kalau
kesadaran diantonimkan dengan tidur, maka kesadaran adalah keadaan jiwa yang menyatu
dengan raganya dan ruhnya tidak dicabut. Hal ini didasarkan atas ayat QS Az
Zumar 39 ayat 42: ALLAH memegang jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum
mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa yang sudah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi
kaum yang berfikir. Dimana saat seseorang tidur, jiwanya sedang dipegang
ALLAH SWT. Menariknya dalam keadaan tidur, raganya masih bisa bergerak.
Kalau
kesadaran diantonimkan dengan pingsan, dimana jiwanya mungkin juga sedang
dipegang ALLAH SWT, namun raganya tidak bisa bergerak dan ruhnya tidak dicabut.
Demikian
pula kalau kesadaran diantonimkan dengan mati suri, seperti orang pingsan,
namun dari catatan Raymond A. Moody JR., M.D. dalam buku Life After Life
dikisahkan jiwanya sedang menuju ke sesuatu akibat kesakitan yang sangat perih,
namun karena belum waktunya, kemudian dikembalikan ke raganya.
Hampir
sama dengan mati suri, kalau kesadaran diantonimkan dengan kematian, konon
dikisahkan bahwa jiwanya menghadap ALLAH SWT setelah ruhnya dicabut. Kalau beruntung
bisa mendapatkan ampunan dan rahmat ALLAH SWT sebelum dikembalikan ke raganya,
kalau tidak langsung dikembalikan ke raganya sesuai tingkatan amal ibadahnya.
Lalu
bagaimana kalau diantonimkan dengan gila atau kesurupan? Dimana raganya
menguasai atau terkuasai oleh makhluk lain, sedangkan jiwanya hanya bisa
menyaksikan atau bahkan terisolasi.
Bagaimana
juga dengan orang baru bangun tidur, siuman, linglung, orang mabuk bahkan
janin, bayi, balita?
Dengan
demikian kesadaran bisa bertingkat-tingkat. Awalnya adalah bangun atau terjaga
atau siuman, yaitu penyatuan kembali antara jiwa dengan raga dan fungsi
sensorik, somatik dan motorik mulai aktif. Lalu aktifnya hati, mulai menilai
apa-apa yang disaksikan dan mulai muncul keinginan. Tahap terakhir adalah
aktifnya pikiran, dimana dia mulai mengetahui, memahami bahkan sudah siap untuk
beraktifitas.
Kalau
semua informasi dirangkum, maka kesadaran memiliki beberapa tingkatan, yaitu:
1.
Tidak/belum
sadar.
2.
Terbangun
atau terjaga atau siuman yang bisa dinyatakan sebagai keadaan jiwa dan raga
yang Kembali menyatu sebagai satu kesatuan dengan jiwa sebagai pemimpinnya.
3.
Indra,
somatik dan motoriknya (a5’) mulai difungsikan.
4.
Penilaian
hati (a5’’) mulai difungsikan, pada tingkatan ini seseorang akan dimintai
tanggung jawab atas ucapan dan perbuatannya karena sudah bisa menilai baik
buruknya suatu perbuatan.
5.
Keinginan
(a6’’) mulai aktif.
6.
Mulai
menyaksikan diri dan sekitarnya, karena diaktifkannya memori (a5’’’)
7.
Memahami
diri dan lingkungannya baru disebut dalam kesadaran penuh setelah pengertian
(a6’’’) aktif.
Dengan
tingkatan kesadaran ini, maka orang linglung adalah ketika memorinya belum
aktif. Orang mabuk bisa kehilangan kesadaran, dalam hal ini pikiran. Pada bayi,
walaupun sudah ada penyatuan jiwa dengan raga, namun kemampuan-kemampuan mulai
aktif secara bertahap.
Dalam
dunia medis menurut Halodoc, tingkat kesadaran manusia dibagi menjadi 7 tingkat
berdasarkan respons dan fungsi otak dan diukur menggunakan Glasgow Coma Scale
(GCS), yaitu:
1.
Sadar
Penuh (Compos Mentis): Kondisi kesadaran optimal, dimana seseorang sadar
sepenuhnya, dapat berfikir jernih dan merespons lingkungan dengan baik (Skor
GCS 14-15).
2.
Apatis:
Kondisi acuh tak acuh, tampak segan dan kurang peduli terhadap orang atau
lingkungan sekitar (Skor GCS 12-13).
3.
Delirium:
Kondisi kebingungan mental akut disertai gelisah, disorientasi waktu atau
tempat dan kadang berhalusinasi (Skor GCS 10-11).
4.
Somnolen:
Keadaan sangat mengantuk, tetapi mudah dibangunkan dengan rangsangan ringan
atau suara, lalu bisa tertidur kembali.
5.
Sopor
(Stupor): Penurunan kesadaran yang lebih dalam; seseorang hanya merespons jika
diberi rangsangan kuat seperti nyeri.
6.
Semi
Koma: Penurunan kesadaran yang sangat berat, hanya merespons sebagian kecil
terhadap rangsangan nyeri dan tidak ada respons verbal.
7.
Koma:
Kondisi tidak sadar total, tidak ada respons terhadap suara maupun rangsangan
nyeri (Skor GCS 3).
Nah,
bagaimana dengan sadar ALLAH?
Semestinya
seseorang yang mengaku sadar ALLAH artinya sudah semakin memahami ALLAH dengan
pengertian yang diterimanya. Yang perlu diingat adalah tidak seorang hamba pun
yang mampu mengenal-Nya. Tingkat pengenalan hanyalah pendekatan. Maka ketika
seseorang menggunakan akalnya (a7’’’), yang bisa dilakukan hanyalah meyakinkan
diri dengan berita yang disampaikan oleh Dia melalui utusan-utusan-Nya.
Papahan,
30 Agustus 2026 / 17 Rabiulawal 1448
Referensi:
1. IQuran
2. Raymond A. Moody JR., M.D., Life After
Life, Harper One, 2014
3. Situs: Halodoc
Tidak ada komentar:
Posting Komentar