Selasa, 07 Maret 2017

Bebas Dari Musibah



Cerita Mas Hari:
Suatu hari pak Muhammad
, teman yang keturunan Arab yang sudah agak sepuh dan nampaknya abangan Islamnya, memberi nasehat saat ngopi bareng. Nasehatnya adalah: Janganlah kamu menunda bersedekah, ketika ada dorongan untuk bersedekah, niscaya kamu bebas dari musibah.

Beberapa waktu kemudian saat pergi bersama sopir di siang hari yang panas, sekitar jam satuan, di lampu merah ada penjual koran yang kakinya cacat. Jalan di atas aspal panas tanpa alas kaki. Saya ingin memberinya uang, namun keburu kena lampu hijau. Saat balik, saya melihatnya di perempatan yg sama dengan jualan korannya. Lalu saya minta sopir berhenti agak jauh dari lampu traffic. Saya turun dengan tujuan menuntaskan niat yang tadi. Saya beli korannya, saya bayar 50 ribu. Saat balik mobil, melihat saya meletakkan Koran, istri saya menggerutu, jalan panas-panas hanya untuk beli koran.

Suatu ketika saya harus pergi ke Semarang dengan membawa mobil sendiri. Sekitar jam satu siang, sesampai di daerah Tegal, saya mengantuk dan tertidur. Pada saat itu jalan sepi, saya ngebut dengan kecepatan 120 km/j. Istri saya kaget ketika melihat mobil melaju ke pinggir dan spontan menjerit. Sontak saya terbangun dan berupaya mengembalikan posisi mobil. Akibatnya mobil malah selip, meluncur miring, lalu melompati gundukan tanah dan terbanting dengan keras. Orang-orang mengira bahwa pengemudi dan penumpang meninggal, mengingat mobil hancur. Alhamdulillah, saya dan istri bisa keluar dengan selamat dan sujud syukur. Bayangkan, chasis bengkok, setir melintir, body hancur, namun kami selamat. Karena parahnya kerusakan, pihak Asuransi perlu waktu selama 4 bulan untuk melakukan perbaikan, karena perlu penggantian chasis.

Dalam perjalanan di mobil Derek menuju bengkel terdekat, saya ceritakan ke istri saya perihal panas-panas turun dari mobil hanya untuk membeli Koran.

Ketika ketemu ngopi lagi dengan pak Muhammad, saya ucapkan terima kasih kepadanya dan saya ceritakan pengalaman saya. Lho dia malah bilang, ndak pernah nasehati saya seperti itu. Bahkan dia yakin ndak punya pikiran seperti itu.

Lalu siapa yg menasehati?

Jadi janganlah suka meremehkan orang dan juga nasehatnya, siapa pun dia. Ikutilah firasat hati nuranimu.

Bandung, 5 Maret 2017

Kamis, 03 November 2016

Penjelasan Adanya Dzat



Jakarta, 3 Nov 2016

Ketika menerima informasi dan merenungkannya, maka akan terjebak dalam tiga pilihan, yaitu:

  1. Kepastian
  2. Meragukan
  3. Tidak pasti

Bagaimana dengan informasi tentang adanya Dzat Yang menggelar alam semesta ini. Apakah Dzat itu suatu kepastian, suatu yang meragukan atau kah sesuatu yang tidak pasti?

Ketika melihat mobil di jalan, maka bisa dinyatakan dengan pasti bahwa mobil tersebut ada yang membuat. Dengan demikian melalui pengamatan terhadap apa yang tergelar ini, maka dengan pasti dinyatakan adanya DZAT Yang telah menciptakan alam semesta ini.

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Nabi saw membisikkan kepada Ali bin Abi Thalib kw keterangan Adanya Dzat sebagai berikut: Bahwasanya AKU adalah Dzat Yang Berkuasa Menciptakan segala sesuatu, yang tercipta dalam sekejap mata. Sempurna oleh Qudrat-KU. Di situ sudah jelas tanda-tanda-KU, Af’al-KU sebagai pembuka Iradat-KU. Pertama-tama AKU menciptakan jaksa yang bernama Sajaratul Yaqin yang tumbuh di alam ‘Adam Ma’dum, yang azali abadi. Setelah itu AKU ciptakan cahaya yang sangat bening yang disebut dengan nama Nur Muhammad. Lalu AKU menciptakan kaca yang bernama Mi’ratul Haya’i. Lalu AKU ciptakan nyawa bernama Ruh Idhafi. Setelah itu AKU ciptakan damar bernama Qandil. Lalu permata yang bernama Dzarrah. Kemudian dinding bernama Hijab. Semua ini menjadi layar kalarat-KU.

Adanya ciptaan menunjukkan adanya KUASA YANG MENCIPTAKAN. Informasi ini juga menjadi dasar bagi yang mempunyai niat untuk mi’raj menemui KUASA YANG MENCIPTAKAN, melalui tahapan-tahapan:

1.     pengadaan melalui percaya bahwa KUASA tersebut ada,
2.     pendekatan melalui pengertian akan adanya KUASA tersebut
3.     penghadiran melalui upaya mewujudkan cita yang berasal dari kehendak KUASA.

Informasi tentang adanya KUASA di atas, anggaplah sebagai mitos, karena belum mengetahui bukti-buktinya. Namun kalau menggunakan rasionalitas melalui pengamatan atas diri ini, maka akan semakin dimengerti. Sebagai contoh adalah adanya tubuh ini. Tubuh yang berwujud materi ini kalau dibelah terus akan sampai kepada suatu wujud yang disebut dengan zarrah atau atom. Yaitu suatu wujud imajiner yang artinya tidak bisa dibelah lebih lanjut. Apakah atom ini yang dimaksud dengan dzarrah dalam pengertian Nabi saw di atas? Berhubung tidak melakukan penelitian perihal atom tersebut, namun bisa ditarik suatu kesimpulan umum bahwa wujud terkecil tersebut pasti memiliki sesuatu kuasa lebih yang membuatnya terbentuk seperti itu. Barangkali inilah yang dalam model atom disebut neutron yang bersifat netral. Neutron yang berada dalam inti atom berikatan erat dengan proton yang bermuatan positif. Sedangkan elektron yang bermuatan negatif mengitari keduanya. Kalau hanya ada neutron, proton dan elektron, tentunya tidaklah lengkap. Karena harus ada yang mendorong terbentuknya atom tertentu. Inilah yang dimaksud dengan cita. Adanya cita inilah yang membuat neutron sebagai penguasa lebih mengatur proton dan elektron untuk membentuk atom yang sesuai dengan citanya. Cita pembentuk wujud tersebut bisa disebut sebagai yoni, fitrah. 

Atom yang bersifat imajiner, menurut para ilmuwan memiliki sifat dualisme, yaitu sebagai materi dan juga sebagai cahaya. Benda alam yang memiliki dualisme seperti tersebut yang masih bisa diamati dengan indrawi adalah api. Api pada zaman dahulu dipergunakan sebagai alat penerangan, sebagai damar. Apakah ini yang dimaksud dengan Kandil?

Melalui unsur awal berupa api inilah, makhluk yang berupa benda hingga manusia tercipta. Tercipta dari api, lalu atmosfer atau udara, kemudian tanah dan selanjutnya air. Dan dari benda-benda tersebut kemudian tercipta tumbuhan, hewan dan manusia.

Setelah individu manusia tercipta dan diberi nama, baru disusupkan ruhani yang menyatakan dirinya dengan sebutan “saya”. Pada awalnya ruhani ini sering terseret oleh tubuhnya atau kemauan bahkan pikirannya, maka bisa jadi disebut dengan ruh yang lemah atau ruh idhafi.

Saya akan selalu menuju kepada apa yang dicintainya. Sedangkan cita yang membentuk wujud seseorang yang barangkali disebut dengan istilah nyawa (tanda hidup), saat meninggal oleh para ahli spiritual kadang disebut dengan istilah menitis atau reinkarnasi. Padahal semestinya nyawa ini kembali kepada sumbernya, yaitu Nur Muhammad atau Cahaya Terpuji. Disebut cahaya karena semua wujud ini memberikan penerangan berupa pengetahuan. Disebut terpuji, karena apapun yang memberikan sesuatu pengetahuan pasti memiliki sifat terpuji.

Bagaimana saya bisa menyaksikan dirinya? Bukankah harus membutuhkan cermin? 

Mungkin karena makhluk memerlukan tempat hidup, maka terciptalah terlebih dahulu tempat tersebut, yang disebut alam. Bukankah alam ini dibuat dengan pertumbuhan? Oleh karena itu barangkali ini yang disebut dengan syajaratul yaqin (pohon kepastian). 

Jadi tubuh adalah wadah dari saya yang merupakan cipta dari KUASA. Sedangkan saya atau ruhani adalah sabda dari KUASA yang diturunkan ke dalam tubuh si saya. Melalui tubuh inilah, saya digembleng oleh KUASA agar tahu diri dan menjalankan fitrahnya.
Ruh itu termasuk urusan (amr) Sang Rabb dan tidaklah manusia diberi pengetahuan melainkan sedikit. QS Al Isra' 17 ayat 85: Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit."

Kenapa saya diturunkan? Karena saya sebenarnya berasal dari AKU-NYA KUASA. Disebut KUASA harus ada yang dikuasai, yaitu AKU-NYA. Namun AKU ini begitu tahu bahwa memiliki KUASA sedemikian luar biasa, maka memberontak. Berhubung KUASA tidak mungkin dikuasai, maka AKU yang memberontak atau ingin menguasai KUASA diturunkan menjadi saya dan dimasukkan ke dalam tubuh individu manusia untuk digembleng agar tahu diri.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Pengetahuan Adanya Dzat



Jakarta, 5 Oct 2016

Nasehat Nabi (saw) yang disampaikan kepada umat melalui para Wali sampai hari ini masih relevan, namun sangat sulit dalam memahaminya. Kesulitan pemahaman dimulai dari penyampaian tergantung dari tingkat pemahaman para penyampai, pemilihan kata yang saat ini dimaknai berbeda dan juga kebanyakan manusia zaman sekarang hanya melakukan analisa perenungan dan jarang memperhatikan dirinya dan mempraktekkannya.

Sedangkan pada kenyataannya, ketika kita menerima informasi dan merenungkannya, maka kita akan terjebak dalam tiga pilihan, yaitu:

  • Faham, jangan hanya menjadi ilmu saja, praktekkan!
  • Ragu-ragu, berteori dan praktekkan!
  • Tidak faham, percaya dan praktekkan!
Semuanya dengan sikap percaya kepada Gusti Sang Penggelar Jagad dan beristiqamah lah! 

Dengan cara seperti ini, insya Allah kita akan berproses dari no 3 ke no 1, yaitu menjalankan (isbatul yaqin) dengan pemahaman (ilmul yaqin) sampai terbukti (ainul yaqin) bahkan sampai tercapai kepastian kebenarannya (haqqul yaqin).

Nasehat yang disampaikan dari Nabi (saw) hingga ke para Wali, selalu berdasarkan kepada kenyataan atau hakekatnya dan harus diteliti sampai kenal (ma’rifat). Karenanya nasehat beliau-beliau disebut ilmu Hakekat-Makrifat.

Hakekat-Makrifat adalah suatu proses perjalanan diri hingga akhir hayat. Tentunya terdiri dari beberapa langkah penyempurnaan.

Ingat bahwa yang mengajarkan kita apa-apa yang tidak kita ketahui adalah Rabb Al Karim, sebagaimana Nabi (saw) menerima ayat Qur’an pertama kali, yaitu QS Al ‘Alaq 96 ayat 1-5: Bacalah dengan Nama Tuhan-mu Yang Menciptakan, DIA telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhan-mu lah Yang Maha Mulia (Rabb Al Karim), Yang Mengajar dengan perantaraan qalam, DIA mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Jadi Mursyidnya adalah Rabb Al Karim, bukan mursyid yang berupa makhluk. Sedangkan manusia tugasnya hanyalah memberi info dan mengingatkan.

Dengan demikian kita perlu menetapkan diri bahwa pendidik kita adalah Allah, sebagaimana disebutkan dalam QS Fushshilaat 41 ayat 30: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabbunallah!” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan ALLAH kepadamu.”

Sikap Diri

Agama atau Ad-Diyn itu adalah sikap diri. Beragama sempurna berarti bersikap sempurna, yaitu memiliki tujuan yang jelas, yaitu Sang Penggelar alam semesta ini; memiliki cara yang tepat, yaitu berserah diri kepada Sang Penggelar alam semesta ini; memiliki ukuran keberhasilan yang tegas, yaitu sebagaimana maunya Sang Penggelar alam semesta ini dan; melaksanakannya pada waktunya, yaitu hanya DIA Sang Penggelar alam semesta ini yang mengetahui waktu tepatnya.

Yang bersikap tentunya ya diri kita ini. Namun pada kenyataannya, kita sering kehilangan siapa diri kita ini. Kita secara tidak sadar telah terseret oleh alat-alat diri, sehingga kehilangan jati dirinya. Oleh karena itu sadarkan bahwa kita berada di saat ini di sini. Tujuannya agar kita bisa menempatkan diri kita tanpa terseret oleh kebiasaan (memori) dan angan-angan atau harapan (mimpi akan masa depan) atau dorongan dari wujud-wujud di sekitar kita.

Pada sikap ini, akan didapat ketenangan dan akan nampak, siapa saya, pikiran saya, perasaan saya dan ada yang memperhatikan. Sehingga akan bisa membuktikan suatu teori: Barang siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Juga melaksanakan perintah QS Adz Dzariyat 51 ayat 21: Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Pengetahuan I: Adanya Dzat

Serat Wirid Hidayat Jati membeberkan bisikan Nabi (saw) kepada Ali (kw): Sebenarnya semua yang ada ini bermula dari tidak ada. Semenjak dahulu masih dalam keadaan kosong, segala sesuatu ini belum ada. Pertama-tama yang ada tak lain hanya AKU. Tidak ada Pangeran, yang ada AKU sendiri. Sesungguhnya AKU adalah Dzat Yang Maha Mulia, Meliputi Sifat-KU, Menyertai Asma-KU, Menandai Af’al-KU.

Siapakah AKU yang dimaksud? Bukankah yang dimaksud adalah KUASA itu sendiri? Disebut KUASA berarti harus ada yang dikuasai, yaitu AKU-NYA. KUASA pasti tunggal tidak ada duanya, sempurna dan tidak mungkin dikuasai. Berarti dari dulu, sekarang mau pun nanti, ini semua tetap kekal abadi seperti ini. 

Tahun 2007 saat melakukan ibadah haji ke Mekah, tepatnya suatu malam sebelum melakukan Thawaf Wada’ atau Thawaf Perpisahan karena akan pulang, ada ilham berupa doa, yaitu Ya ALLAH, temuilah hamba-MU di Rumah ENGKAU. Dan besoknya ketika Thawaf, istri mengajak untuk memegang Ka’bah. Selepas istri mengucap demikian, mendadak mereka yang sedang Thawaf menyingkir, sehingga mudah untuk mendekat dan memegang Ka’bah, hingga berdoa di Multazam dan masuk Hijr Ismail.

Dalam Hijr Ismail yang penuh, banyak yang sholat sembari berdiri dan memohon bahwa para hamba berada di Rumah-NYA dan mohon untuk ditemui. Tidak ada apa-apa, semuanya biasa saja, namun ada suatu jawaban berupa pemahaman: AKU di sini saat ini. Saat itu juga menjadi saksi akan keberadaan Sang Sejati, Yang Tetap Abadi dalam Kesucian dan Kemuliaan, Yang Meliputi segala sesuatu. Mengakui bahwa DIA ada. DIA Zhahir, DIA Bathin.

Ini semua adalah fadhlillah dan rahmat-NYA. Apalah artinya manusia yang bergelimang salah dan khilaf, yang lemah dalam ibadah bisa mendapatkan anugerah seperti ini. Artinya kita semua bisa mendapatkan ini semua. Berharaplah dengan sepenuh keyakinan kepada-NYA!

Pengalaman tersebut sepertinya membenarkan informasi adanya firman Allah, yaitu: Kuntu Kanzan makhfiyyan ahbabtu an ‘urifa fa khalaqtul khalqa fabi ‘arafu-ni[1] (AKU adalah Perbendaharaan Tersembunyi, AKU cinta dikenal, AKU ciptakan makhluk-KU, agar mengenal AKU).”  Dalam riwayat yang lain disebutkan “dengan ALLAH lah mereka mengenal AKU”. Dari informasi ini difahami bahwa Sang Pencipta alam semesta ini bernama ALLAH. PerbuatanNYA (Af’al) adalah menciptakan makhluk karena cinta. SifatNYA adalah ingin dikenal tetapi tersembunyi. DzatNYA adalah Perbendaharaan Tersembunyi yang menyebut DiriNYA dengan AKU.

Jadi sudah merupakan fitrah dari Sang Dzat untuk dikenal oleh makhluk-NYA. Dan sudah menjadi fitrah pula bagi makhluk untuk mengenal-NYA. Oleh karena itu paling tidak marilah selalu berusaha mengingat-NYA. Ingatlah kepada Sang Dzat Yang Suci, Mulia, Kekal Abadi tadi dalam dirimu, sebagaimana dinyatakan dalam QS Al A’raaf 7 ayat 205: Dan ingatlah Tuhanmu dalam dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

NAMUN INGAT, DIA KUASA DAN TIDAK MUNGKIN DIKUASAI!!!


[1] Whatever the case, the contents of this text are interesting enough to grant it a second look. That is mainly because the hadīth commented upon has a long tradition in Sufi literature and can in fact be considered as one of the best known and most widely celebrated apocryphal traditions of mysticism. Its earliest known occurrence seems to be in ‘Abdallāh Anshārī’s (d. 1089) Tabaqāt al-Sūfiyya. However, from the eleventh century onwards references to it multiply and there seem to be very few mystical works that do not quote it. Jalāl al-Dīn Rūmī (d. 1273), for example, alludes to it in his Mathnawī, even to an extent that Nicholson considered ‘certain motifs, such as that of the “hidden treasure”’ to be ‘overworked.’ In his commentary on the Mathnawī Furūzānfar quotes the following from the Lu’lu’ al-marshū. Ibn Taymiyya said, this [hadīth] was not uttered by the prophet (pbuh), and no isnād for it, either solid or weak, is known. He was followed [in this] by al-Zarkashī and Ibn Hajar. But its content is correct (wa-lākin ma’nāhu sahīh) and clear and it circulates among the Sūfīs (Armin Eschraghi).

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...