Rabu, 14 November 2018

Sejarah Peradaban


Entah dari mana asalnya manusia ini, masih menjadi perdebatan para ahli dan agamawan. Konon manusia pertama bernama Adam dan diturunkan dari surga bersama istrinya yang bernama Hawa di lokasi yang terpisah. Mereka akhirnya bertemu dan membentuk keluarga pertama.
Teori yang lain manusia ini adalah manusia merupakan hasil evolusi dari manusia purba. Hanya sampai saat ini uji DNA belum mendukung teori kedua ini. Karena tidak ada satupun DNA manusia purba ada pada manusia sekarang ini. Artinya manusia betul-betul makhluk baru, seolah-olah makhluk asing (alien) yang dijatuhkan entah darimana dan bukan dari hasil evolusi alam.
Manusia ini super cerdas. Secara bertahap mereka mengembangkan peradaban dan mendesak makhluk hidup lainnya. Manusia ini sebagian ada yang terus mengembangkan peradaban dan sebagian lainnya tetap nyaman pada zonanya. Dengan demikian hingga saat ini terdapat beragam peradaban, baik dari yang langsung menerima dari alam apa adanya hingga yang merekayasa alam untuk memenuhi kebutuhannya.
Apakah dengan kecerdasan supernya, manusia ini diciptakan untuk mempercepat perubahan, seolah Yang Kuasa menciptakan tidak sabar dengan lambatnya perubahan? Ataukah manusia baru ini diciptakan untuk menjaga kelangsungan kehidupan di alam semesta? Mengingat perubahan di alam ini adalah kepastian, baik dengan ada atau tidaknya manusia. Sedangkan Yang Kuasa memiliki kekuasaan mutlak?
Bagaimana pula dengan sejarah manusia sendiri?
Tidak mudah menyusun sejarah peradaban manusia, karena pada kenyataannya umur individu manusia atau orang tidak sepanjang umur peradaban apalagi umur alam semesta. Jadi setiap orang hanya memiliki peran sebentar dalam proses tumbuh kembangnya peradaban. Estafet peradaban ada yang mulus diserah-terimakan, namun kebanyakan tidak mulus bahkan kehilangan jejak peradaban.
Untuk apa pula orang dibuat berumur pendek seperti ini?
Sejarah peradaban manusia diawali sebagai kelompok masyarakat dengan peradaban berburu dan mengumpulkan makanan. Gambaran akan kehidupan para pemburu dan pengumpul adalah sebagaimana kehidupan suku-suku yang tinggal di pedalaman. Yang laki-laki produktif sibuk dalam perburuan dan mengumpulkan makanan, sedangkan yang perempuan merawat tempat tinggal dan lingkungannya serta mengasuh anak-anak dan merawat orang-orang yang tua. Tempat tinggal mereka bersifat temporer dan mudah untuk dipindahkan mengikuti hewan perburuan mereka.
Penduduk berkembang dan sumber penghidupan semakin terbatas, sebagian manusia kemudian memutuskan menetap di lahan-lahan yang subur, dekat dengan sumber air. Mereka membangun tempat tinggal permanen dan mengembangkan pertanian untuk mencukupi kebutuhan dasarnya. Beberapa hewan kemudian ditangkap dan diternakkan. Tumbuhan dan hewan yang hidup di alam liar berubah menjadi hidup yang semakin teratur. Waktu luang semakin tersedia dan mereka membangun kehidupan sosial dengan hiburan berupa musik dan tari-tarian.
Dengan adanya konversi lahan dari hutan menjadi pertanian, tentunya akan mengubah pula keadaan alam. Ada spesies baru yang muncul atau berubah dan ada spesies lainnya yang terdesak dan mengalami kepunahan. Binatang seperti anjing, kucing, kuda, sapi, kambing dan unggas menjadi teman hidup manusia dan berkembang populasinya.
Untuk mendukung produktifitas, berbagai perkakas mulai diciptakan untuk memudahkan manusia dalam menjalani peran kehidupannya. Sebagian orang ada yang mengkhususkan diri membuat perkakas dan sebagian besar lainnya mengurusi pertanian.
Interaksi antar kelompok masyarakat bisa berlangsung negatif seperti perang atau positif, yaitu terjadi transaksi didorong atas kebutuhan. Maka pasar pada hari tertentu yang disepakati mulai dibuka, yaitu dengan melakukan transaksi pertukaran barang atau barter.
Jumlah penduduk meningkat, kebutuhan meningkat dan wilayah pun semakin luas. Nilai transaksi semakin membesar. Pertukaran barang menjadi semakin sulit, karena perbedaan dalam memberikan nilai atas barang untuk ditukarkan. Uang pun diciptakan sebagai solusi. Profesi orang pun semakin beragam.
Konflik makin banyak terjadi. Kepemimpinan dan kelompok pengamanan diperlukan untuk menjaga ketentraman dan melindungi keselamatan masyarakat.
Kemauan manusia semakin meningkat dan menimbulkan derita. Upaya manusia untuk saling menguasai satu sama lain semakin besar. Individu dan kelompok masyarakat mulai beradu kuat dan korban banyak berjatuhan. Peraturan yang disepakati oleh para pemimpin dibuat untuk mencegah terjadinya konflik termasuk jatuhnya korban.
Manusia semakin rakus, saling berupaya untuk menguasai satu sama lain. Peralatan perang pun dikembangkan. Manusia semakin eksploitatif. Termasuk kebutuhan akan kesenangan seperti hiburan berkembang. Maka uang pun semakin dicari, sehingga pemilik modal menjadi andalan, menjadi juru selamat.
Masalah yang timbul dalam masyarakat semakin komplek, perlu solusi. Ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan alam dikembangkan sebagai solusi. Manusia belajar melalui permasalahan dan pengamatan alam untuk mendapatkan solusi yang tepat. Misalnya Archimedes yang mendapatkan tugas untuk membuktikan keaslian emas, hingga berhasil menyimpulkan adanya hukum yang diberi nama sesuai namanya.
Ilmu kalau hanya buat diketahui, paling hanya bisa digunakan untuk menjawab permasalahan atas konflik. Ilmu harus diterapkan, teknologi yang aplikatif perlu dikembangkan. Penemuan yang sifatnya aplikatif semakin banyak dan teknologi semakin memudahkan umat manusia bahkan memberikan kenikmatan tersendiri baik bagi penemunya maupun penggunanya. Contohnya adalah Edison sang penemu lampu pijar, dimana perusahaannya akhirnya menjadi perusahaan besar, yaitu General Electric.
Konflik semakin menjadi-jadi. Permainan pikiran diperlukan. Pengadilan dan ahli hukum semakin diperlukan. Bukan lagi teknologi, namun kecerdasan buatan yang menjadi primadona. Kecerdasan buatan yang memudahkan manusia melakukan pengamatan, perhitungan dan lain sebagainya semakin jauh berkembang. Seolah otak dikeluarkan dan bisa diletakkan dalam genggaman seperti handphone.
Zaman berubah seiring dengan waktu, demikian pula kecerdasan manusia. Kesemuanya akan menghasilkan dampak positif dan negatif dan selalu ada keseimbangan baru. Mungkin hanya sampai dimana alam tidak mampu lagi mendukung kemauan manusia.
Dengan adanya kenyataan ini berarti manusia telah membangun suatu alam sendiri dan ini membuat perubahan pada alam. Apakah perubahan ini bersifat negatif? Semisal adanya CO2 yang menjadi effect rumah kaca yang membuat bumi semakin panas. Ataukah perubahan ini bersifat positif, mengingat adanya CO2 dan air H2O yang menguap akibat pemanasan global menjadi bahan makanan bagi tumbuhan. Dengan demikian semakin banyak tumbuhan hidup.
Artinya alam semesta ini memiliki daya tahan hidup sendiri dan tidak mudah dirusakkan melalui karya manusia. Bahkan alam sendiri yang mencukupi kebutuhan manusia dan makhluk lainnya. Berarti alam sendiri memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan dirinya.
Lalu apa yang disebut dengan kesalahan atau kebenaran? Bukankah keduanya hanya untuk meramaikan dunia? Dan itu fitrah dalam kehidupan. Namun kalau keduanya dibiarkan beradu kuat, maka akan sama-sama kuat. Ibarat atom, proton dan elektron akan selalu saling tarik menarik. Kalau seimbang akan tenang dan kalau tidak seimbang akan mencari keseimbangan baru dalam bentuk baru, semisal bersatu dengan atom lain yang bermuatan berlawanan. Berarti harus ada pengelola atas kesalahan dan kebenaran ini, yang memiliki kuasa di atas keduanya. Siapa itu?
Pada level manusia, juga terjadi fenomena yang sama. laki-laki dan perempuan akan saling tarik menarik, saling mengisi kekosongan dan menghasilkan keturunan. Namun ada yang tidak mengikuti fitrah ini, yaitu laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan. Otomatis tidak akan terjadi fenomena menghasilkan keturunan. Dorongan apa yang membuat anomali ini terjadi? Karena fenomena ini tidak terjadi di level atom. Berarti ada dorongan dari dirinya atau akunya.
Siapakah aku ini?


Senin, 05 November 2018

Sejarah Alam Semesta


Pada 13,7 milyar tahun yang lalu, alam semesta baru berwujud awal, yaitu keadaan tunggal. Belum ada zat dan energi, belum ada ruang dan waktu. Pengetahuan akan awal ini bisa dibaca dengan ilmu yang dikembangkan oleh manusia melalui pengamatan terhadap alam semesta itu sendiri, hingga tercapai kepastian. Dengan tercapainya kepastian, maka kesimpulan hasil pengamatan alam akan menjadi hukum alam yang pasti.
Salah satu hukum alam yang membantu kita untuk bisa memastikan kebenaran adalah wujud segala sesuatu di alam bilamana meluas akan mengalami penurunan temperatur bahkan berubah fase dari gas ke cair (kondensasi) dan dari cair ke padat. Dan sebaliknya kalau menyusut akan semakin panas, semakin berenergi. Ada pula hukum alam lain yang menunjukkan bahwa semakin jauhnya suatu benda dari titik pengamatan, maka akan semakin mengecil/menyusut, termasuk tampilan warnanya pun semakin jauh semakin memerah, mengikuti urutan spektrum cahaya tampak, yaitu ungu–nila-biru–hijau-kuning-jingga-merah.
Keberadaan tunggal dengan energi yang sangat besar ini meluas (Big Bang[1]). Fenomena ini tertangkap melalui pengamatan yang dilakukan oleh Edwin Hubble, yaitu galaksi mengalami penyusutan atau semakin mengecil. Fakta ini menjelaskan bahwa galaksi lain semakin menjauh dari bumi yang merupakan titik pengamatan.
Energi alam diwakili oleh empat gaya dasar, yaitu Gravitasi, Nuklir Kuat, Nuklir Lemah dan Elektromagnetik. Pada awalnya masih bersatu. Kemudian gaya Gravitasi yang memeiliki kecenderungan untuk mengembalikan semuanya kepada keadaan tunggal dilawan oleh gaya-gaya lain yang bersatu. Selanjutnya Gaya Nuklir Kuat dipisahkan dari gaya yang bersatu. Dan terakhir Gaya Nuklir Lemah dan Gaya Elektromagnetik berpisah.
Ibarat pelepasan beban energi, maka terbentuklah ruang yang disebut dengan alam semesta. Keberadaan zat yang diawali oleh partikel dasar (Kuark) memenuhi alam semesta. Kuark kemudian terkondensasi membentuk inti atom yang terdiri atas Netron dan Proton serta elektron. Dengan semakin turunnya temperatur alam semesta, inti atom menangkap elektron dan membentuk atom. Energi, Zat, Ruang dan Waktu terbentuk. Dengan adanya ruang dan waktu, keberadaan sesuatu ditentukan dengan titik koordinat ruang.
Akibat perluasan alam semesta, maka temperatur alam semesta akan terus menurun, sehingga pada 380 ribu tahun setelah Big Bang, atom Hidrogen dan Helium terbentuk. Ini merupakan awal mula terbentuknya zat yang diawali dengan atom di alam semesta. Atom-atom tersebut kemudian membentuk materi yang lebih besar yang disebut molekul. Karena keadaan alam semesta masih panas, maka bentuk materi berada dalam fase gas.
Zat yang awalnya berupa gas, akibat proses kondensasi pada 600 juta tahun setelah Big Bang membentuk awan nebula yang menjadi awal terbentuknya galaksi. Karena unsur-unsur pembentuk bintang masih berupa fluida (zat alir), maka unsur-unsur yang memiliki berat jenis besar akan menuju kepada inti planet, akibat tarikan gaya gravitasi inti materi. Keberadaan unsur-unsur ini yang menjadi dasar pengukuran umur planet dan batuan. Salah satu galaksi dinamai galaksi Bima Sakti, yang padanya terdapat Tata Surya tempat manusia hidup terbentuk pada tahun 9 milyar. Bumi sebagai tempat manusia tinggal berumur 4,56 milyar tahun.
Proses kondensasi terus berlangsung, sehingga permukaan bumi membentuk daratan. Sedangkan di dalamnya masih tetap berupa cairan panas yang disebut dengan istilah lahar. Dengan demikian, daratan di permukaan bumi terletak pada cairan yang panas. Dengan adanya rotasi dan revolusi bumi, maka terjadilah patahan-patahan daratan yang membentuk wilayah-wilayah patahan.
Air ketika itu masih berupa gas di antariksa secara bertahap mengembun akibat proses kondensasi sebagai dampak lanjutan dari perluasan alam semesta. Embun kemudian jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan dan membentuk wilayah perairan di bumi. Kejadian ini berawal pada 4,4 hingga 4,2 milyar tahun yang lalu. Dari langit bukan hanya air yang jatuh ke bumi, namun juga mineral yang berasal dari meteor seperti besi yang jatuh ke permukaan bumi.
Dengan adanya air, maka kehidupan makhluk hidup dimulai, yaitu dengan munculnya tumbuhan. Menurut para ahli, tanda geokimia kehidupan tertua diperkirakan 3,8 milyar tahun yang lalu. Tumbuhan berkembang dari satu sel hingga menjadi hutan rimba memenuhi permukaan bumi bahkan dalam perairan.
Setelah adanya tumbuhan barulah muncul makhluk hidup lain, yaitu hewan yang hidup dan bisa bergerak bebas. Fosil hewan pertama diperkirakan berumur 580 juta tahun yang lalu. Hewan hidup dengan memakan tumbuhan dan ada yang memangsa hewan lainnya. Ada hewan-hewan yang dilengkapi dengan otak yang memiliki kemampuan sensorik dan motorik, seperti reptilia. Ada pula hewan-hewan yang selain memiliki otak reptilia, juga memiliki otak mamalia. Hewan-hewan ini lebih cerdas dan memiliki naluri bersosial. Bahkan ada hewan-hewan yang sudah mirip dengan manusia, yaitu mereka juga memiliki neocortex[2] dalam jumlah yang lebih sedikit, aitu primata.
Pada 5 juta tahun yang lalu muncullah manusia purba, yaitu makhluk hidup yang ditandai dengan volume otak yang terbesar dan berada di bagian atas tubuhnya. Kelompok manusia ini memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari hewan yang memiliki neocortex yang lebih besar dari hewan mamalia, namun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu sandang, pangan dan papan, hanya belum mampu mengembangkan peradaban yang lebih tinggi. Manusia purba ini disebut dengan berbagai istilah seperti  Pithecanthropus Erectus[3], Homo Erectus[4] dan lain-lain.  Apakah ini adalah prototype manusia sekarang?
Dari jejak-jejak sejarah tidak nampak dampak yang cukup besar akan peran manusia purba, meski mereka memiliki kemampuan mempersepsikan yang lebih maju dari pada hewan yang disebut dengan pikiran. Dengan adanya pikiran, mereka bisa melakukan penyesuaian karena memiliki kemampuan mempersepsikan obyek yang diamati.
Dari peristiwa terbentuknya alam semesta hingga adanya manusia purba, sudah terbukti bahwa alam mengalami perubahan. Dan sudah menjadi kepastian bahwa setiap penciptaan akan menuju kepada kemusnahan. Sehingga mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya akan mengalami kepunahan. Oleh karena itu pada diri setiap makhluk selalu ada dorongan untuk melawan kepunahan, yaitu dorongan bertahan hidup. Proses bertahan hidup ini menghasilkan seleksi alam, yaitu munculnya spesies baru dan kepunahan spesies lainnya yang tidak mampu menghadapi perubahan yang terjadi di alam, dalam hal ini bumi.
Baru pada sekitar 150 ribu tahun yang lalu, muncul Homo Sapiens[5] atau manusia bijak pertama. Spesies manusia inilah yang sekarang ini telah berkembang dan menguasai bumi dengan kebijakannya. Orang atau individu dari manusia bijak ini terbukti telah melakukan perubahan dalam kehidupan di bumi, yang disebut dengan istilah peradaban. Namun istilah bijak ini masih perlu dipertanyakan, karena kebanyakan dari mereka ini bisa jadi tidak bijak, sehingga kita sebut sebagai manusia saja.


[1] James Trefil, Ensiklopedia Antariksa, Erlangga, 2012, hal. 276.
Istilah Big Bang ini diberikan oleh Fred Hoyle pada tahun 1949.
[2] Neocortex adalah bagian otak yang dianggap paling mempengaruhi kecerdasan sosial manusia karena berperan dalam perkembangan fungsi persepsi, nalar dan Bahasa.
[3] G Curtiss, C Swisher & R Lewin, Java Man, page 26
[4] Ibid, page 111
[5] Ibid, page 222

Rabu, 04 Juli 2018

Penggunaan Akal


Bangun pagi bingung, apa yang harus dikerjakan? Pulang kerja juga bingung, mau apa? Di saat kerja juga bingung, apa yang harus dikerjakan? Apakah setiap orang mengalami kejadian seperti ini? Mengalami disorientasi hidup.

Padahal secara fitrah, setiap orang selalu mengejar kenikmatan. Berarti kehidupannya selalu terarah kepada upaya menggapai kenikmatan. Namun bentuk riil apa yang membuat seseorang bisa fokus kepada apa yang dia mau gapai?

Inilah perlunya setiap orang memiliki qiblat dan bait.

Qiblat adalah tujuan yang ingin digapai. Misalnya seseorang menginginkan uang untuk kesejahteraan dirinya, maka dia harus berupaya agar bisa mendapatkan uang. Dia harus menggunakan sarana dirinya baik fisik maupun kecerdasan untuk menggapai kemauannya.

Sedangkan bait adalah wujud nyata dari upaya untuk mendapatkan uang. Contohnya adalah bentuk usaha. Bentuk usaha setiap orang bermacaam-macam, semisal petani, tentunya sawah adalah baitnya, pemilik perusahaan, perusahaan adalah baitnya, pegawai, kantornya adalah baitnya.

Bilamana begitu, bagaimana dengan orang yang menjadikan Allah sebagai qiblatnya? Apakah baitnya?

Orang awam memandang Ka’bah sebagai pemersatu arah umat Islam dan menjadikannya sebagai rumah Allah atau Baitullah. Berarti umat Islam yang menuhankan Allah, menjadikan Allah sebagai qiblatnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah: apakah baitnya? Apakah Ka’bah tersebut sebagai baitnya?

Kalau menggunakan pengertian di atas, maka harus ada bentuk usaha yang riil yang menunjukkan bahwa upaya orang untuk menemui Tuhannya. Tentunya hal tersebut diwujudkan dalam bentuk penyembahan. Bagi umat Islam, sholat adalah penyembahan dan sholat butuh tempat, yaitu masjid yang merupakan suatu “tanda” sebagai rumah Tuhan. Dengan symbol berupa rumah, maka di situlah tempat pertemuan antara tamu dengan sang tuan rumah.

Ini adalah bentuk penggunaan akal (a’7), bagaimana orang mewujudkan bentuk usaha penyembahan melalui masjid, pura, gereja, candi dan lain-lain. Ini adalah karya orang yang cerdas yang bisa memaksimalkan penggunaan akal.

Ada juga perwujudan bentuk usaha yang kurang cerdas, yaitu melalui patung, tonggak, tugu dan lain-lain. Kenapa disebut kurang cerdas? Karena bentuk-bentuk tersebut bisa mendorong penyembahnya untuk mempersonifikasikan wujud Tuhan. Oleh orang kemudian yang tidak menggunakan pengertiannya, akhirnya mereka kehilangan orientasi perihal Tuhan dan menjadikan wujud-wujud tersebut sebagai Tuhannya.

Selasa, 20 Februari 2018

Yaqin


Ditinjau dari segi bahasa kata yakin berasal dari bahasa Arab yaqin yang bermakna jelas dan pasti. Lalu apa bedanya antara yakin dengan iman atau percaya?
Percaya berarti sikap sesorang yang belum mengetahui sehingga menggantungkan kepada yang lain. Berarti percaya itu sama dengan yaqin hanya tingkatannya masih nol, karena masih belum jelas.
Dengan pintu penerimaan data dari apa-apa yang ada pada diri manusia dan alam sekitar, maka data tersebut harus diolah menjadi sesuatu yang menjadi keyakinan manusia.
Ini adalah proses kehidupan yang kita jalani setiap saat. Kita ambil contoh kepemilikan rumah. Pada awalnya orang belum memiliki rumah, lalu muncul cita-cita ingin memiliki rumah. Cita-cita tersebut masih berupa data yang diterima, bagi orang Jawa disebut Klenik. Bilamana tidak kita masuki elemen sikap percaya bahwa cita-cita tersebut bisa diwujudkan, maka rumah tersebut tidak akan pernah ada. Namun kalau elemen percaya ditanamkan pada diri orang tersebut, maka orang tersebut akan tergerak untuk mewujudkan. Pada tahap pertama muncul dalam pikirannya, rumah yang bagaimana yang diinginkan? Bagaimana cara memiliki rumah tersebut? Kalau semua pertanyaan tersebut sudah terjawab dalam pikirannya, maka akan tumbuh keyakinan bahwa rumah tersebut akan bisa diwujudkan. Dalam bahasa agama ini disebut ‘ílmul yaqin, bagi orang Jawa disebut Ilmu Karang. Rumah tersebut kemudian kita wujudkan, entah dengan cara menerima dari orang lain, membeli atau bahkan membangunnya. Ketika rumah tersebut sudah terwujud, maka dalam bahasa agama disebut ‘ainul-yaqin,  dalam filsafat Jawa disebut Katon. Tentunya setelah terwujud maka rumah tersebut akan dinikmati. Proses menikmati sebenarnya adalah proses pengujian apakah yang terwujud tersebut sudah sesuai dengan cita-citanya. Dalam kaidah ilmu agama disebut isbatul-yaqin. Kalau sudah terbukti atau puas, maka proses keyakinan kita menjadi sempurna atau disebut haqqul-yaqin. Tentunya kita perlu menyempurnakan proses keyakinan ini dengan bersyukur kepada Yang Kuasa memberikannya untuk kita, hingga siklus ini menjadi sempurna.

Rabu, 05 Juli 2017

Sejarah Agama

Pak Yai, saat ini konflik antar manusia semakin keras bahkan sudah pada taraf saling berupaya menghancurkan. Padahal saat ini tingkat pendidikan dan kesejahteraan manusia semakin tinggi. Apanya yang salah dengan umat manusia ini pak Yai?

Yaitu ya, agama sudah difahami sebagai kelompok, yang kemudian mereka akan menandai kelompoknya dengan baju. Padahal agama semestinya difahami sebagai sikap hidup atau cara hidup manusia agar tidak kacau balau. Dalam bahasa yang lain adalah cara untuk mencapai keselamatan hidup, karena semua orang ingin selamat dalam hidupnya. Inilah fitrah manusia. Orang yang ingin selamat berarti ingin menjadi orang Islam.

Untuk bisa mencapai keselamatan, maka kita harus mengetahui, harus memiliki kemampuan dan memiliki kehendak untuk selamat. Dan yang paling utama adalah dengan meminta pertolongan atau berlindung atau menyerahkan diri kepada yang pasti mampu memberikan keselamatan, yaitu Yang Kuasa memberikan keselamatan. Sehingga bisa difahami, kenapa Yang Kuasa atau yang disebut dengan Allah hanya mau menerima orang yang beragama Islam dan bukan orang yang bersikap selain itu (QS Ali Imran 3 ayat 85).

Berarti agama bukan kelompok sebagaimana yang selama ini saya fahami, ya pak Yai?

<script data-ad-client="pub-2728174942382016" async src="https://pagead2.googlesyndication
.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Lha kan sudah jelas. Coba kita renungkan perjalanan agama di dunia. Anggaplah agama Hindu sebagai agama yang pertama. Kalau ditilik dari asal mula terbentuknya agama Hindu, bukannya pada waktu itu manusia berkelompok sesuai dengan klannya masing-masing. Dan masing-masing klan berupaya menaklukkan klan yang lain. Dengan adanya ancaman seperti itu dan adanya fitrah ingin selamat, maka manusia membentuk negara. Dengan adanya Negara yang dibangun berdasarkan rasa senasib sepenanggungan, manusia bersatu untuk mencapai keselamatan.

Kemudian pada zaman Budha, ketika Negara sudah aman dan tenteram, ternyata masih ada juga kesengsaraan, akibat ketidak-mampuan manusia memenuhi hasrat kemauannya. Berarti pada zaman itu, manusia belum selamat karena adanya ancaman kesengsaraan. Akhirnya oleh Budha dibuatlah aturan main agar manusia bisa selamat dari kesengsaraan. Aturan main dalam kehidupan bernegara adalah undang-undang.

Pada zaman Kristen, Yesus atau nabi Isa (as) disebut sebagai Juru Selamat umat manusia. Pada zaman itu kekuasaan Negara dan kekuasaan agama begitu menindas rakyat, sehingga tampillah Yesus sebagai sosok Juru Selamat. Kenapa Negara dan penguasa agama menindas rakyat? Karena rakyat menggantungkan nasibnya kepada Negara dan penguasa agama sehingga cenderung malas dalam perjuangan. Yesus sebagai Juru Selamat mendorong masyarakat agar berjuang dengan ketulusan dan kasih sayang untuk mendapatkan apa yang diharapkan.

Pada zaman Islam, nabi Muhammad (saw) berhasil mengembalikan sikap masyarakat kepada fitrah keselamatan. Bahwa untuk mencapai keselamatan, manusia harus mengerti. Dengan pengertian inilah, manusia hidup. Sehingga peradaban berkembang secara pesat.
Manusia harus mampu agar bisa selamat, maka manusia membangun kemampuan dirinya dalam mengelola kehidupan. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, maka manusia mengembangkan teknologi untuk menopang perkembangan peradaban.

Agar selamat, manusia harus memiliki tekad untuk sukses. Ini akan mendorong manusia semakin konsisten dalam perjuangan mewujudkan cita-citanya. Mengingat peradaban menghasilkan kenikmatan dan kenikmatan akan mendorong balik kepada kemalasan.
Dan tentunya keselamatan akan diberikan dari Yang Maha Kuasa kepada yang melaksanakan ketiga-tiganya. Keselamatan dari Yang Maha Kuasa ini bersifat mutlak, sedangkan ketiga hal yang pertama bersifat relatif.

Nah sekarang terserah kamu ini menyebut dirimu dari kelompok mana, apakah Mukmin, Yahudi, Nasrani atau Shabiin siapa saja yang beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran dan tidak pula bersedih hati (QS Al Baqarah 2 ayat 62), berarti kan selamat.

Jadi di hadirat Allah, kita tidak akan dicek kelompokmu, KTPmu atau bajumu. Yang akan dicek adalah ke dirimu, yaitu bagaimana kamu bersikap kepada Allah, Tuhanmu? Bisa saja seorang bule yang beragama Nasrani dinilai Allah sebagai Muslim atau seorang Cina yang bertawasul melalui arwah leluhur dinilai Allah sebagai Muslim, sedangkan seorang Arab yang beragama Islam bisa saja dianggap sebagai kafir atau sebaliknya.

O begitu ya pak Yai, berarti orang Islam itu akan memiliki akhlak yang selalu membawa kepada keselamatan. Sedangkan bagi mereka yang beriman maka akan selalu membawa kepada keamanan. Lalu bagaimana dampak orang-orang yang memaknai agama secara tidak tepat?

Tentunya hal ini berbeda bagi mereka yang memaknai agama secara salah. Otomatis yang ada dalam diri mereka adalah kerasnya perbedaan yang ditampilkan. Bahkan siapa saja yang berbeda dengan mereka akan dianggap salah. Dan lama kelamaan siapa yang berbeda akan dianggap musuh yang layak untuk dihancurkan. Amalan mereka tidak ditujukan kepada Yang Maha Kuasa, karena mereka tidak mengenal-Nya. Mereka lebih banyak mendustakan Tuhan, karena dirinya dana kelompoknya lah Tuhannya. Mereka adalah pendusta di hadirat Allah. Sudut pandang mereka akan dipandang berbalikan dengan pandangan Allah. Yang menampilkan dirinya sebagai ulama, bisa menjadi pendusta di hadirat Allah. Disebut pendusta karena mereka melakukan amal ibadah bukan karena Allah, tetapi karena ingin disebut sebagai ulama atau ingin disebut sebagai orang Islam.

Tahukah kamu yang mendustakan agama? Itulah yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang lalai dalam sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan menolong dengan barang yang berguna (QS Al Maun 107). Yang dimaksud dalam surat ini adalah orang yang sholat, namun dalam sholatnya tidak ingat Tuhan sama sekali. Ibarat sholat karena kebiasaan, sudah menjadi reflek.

HR Ahmad: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun tipu daya, dimana pendusta dibenarkan, sedangkan orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, sedangkan orang amanat dianggap pengkhianat, di masa itu Ruwaibidhah berbicara.”
Beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidhah itu?”
Beliau menjawab, “Orang bodoh yang berbicara tentang persoalan orang banyak.”

QS Ash Shaff 61 ayat 2-3: Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Inilah zaman kita. Perhatikanlah! Bertakwalah kepada Allah dengan benar dan berserah dirilah. Karena hanya itu yang bisa menyelamatkan kita.

Senin, 05 Juni 2017

Islamologi

Menurut kami Islam itu keselamatan. Sehingga sudah menjadi fitrah semua manusia untuk mendapatkan keselamatan. Jadi semua manusia ingin menjadi Islam, ingin selamat. Namun diingat, selama kita masih hidup di dunia ini berarti kita ini masih belum selamat, masih berjuang dalam rangka memperoleh keselamatan.
Islam itu diajarkan oleh Allah Sang ‘Alim, Sang Rabb Al Karim melalui perantaraan alam sebagai bacaan dan malaikat sebagi utusan. Diajarkan kepada seluruh umat manusia melalui Sang Utusan atau Rasul Allah. Dengan demikian Islam itu harus logis, harus memakai ilmu. Sehingga kami menyebutnya dengan istilah Islamologi, yaitu pengetahuan tentang Islam. Jadi Islam harus rasional.

Kembali kepada makna Sang Utusan, kalau kita mempersonifikasikan Sang Utusan kepada sosok tubuh nabi Muhammad saw kita menjadi kehilangan logika. Bagaimana bisa sosok yang hidup pada abad 6-7 Masehi bisa menjadi rahmat bagi alam semesta, bagi seluruh umat manusia. Namun kalau seandainya kita menggunakan akal pikiran kita, maka semua materi, semua peristiwa dalam alam ini memberi kita pengertian, memberi kita pengetahuan. Dari panas, udara, air, tanah, tumbuhan, hewan, manusia dan lain-lain semuanya memberikan pengetahuan kepada kita. Karena pengetahuan itu adalah pencerahan, maka saya menandainya dengan istilah cahaya atau nur. Kenapa kita menggunakan istilah nur yang merupakan pantulan cahaya? Karena semuanya berasal dari Sang Rabb Al Karim. Dan karena yang menyampaikan pengetahuan pasti menjadi yang saya puji, maka semuanya ini adalah nur yang terpuji atau Nur Muhammad.

Kembali kepada pembahasan masalah keselamatan, agar orang bisa selamat, maka syarat pertama adalah harus mengetahui. Mengetahui diri sendiri, mengetahui obyek yang akan dijadikan maksud/arah/qiblat atau tujuan/sasaran/bait bahkan mengetahui siapa yang kuasa bisa memberi kita keselamatan. Syarat yang kedua, tentunya kita harus mampu atau memiliki kuasa untuk menyelamatkan diri. Yang ketiga, tentunya kita berkehendak untuk menyelamatkan diri. Dan yang terakhir, Yang Kuasa tadi juga bersedia menyelamatkan kita.

Sebagai contoh kita ditawari minuman oleh seseorang. Kalau kita tidak tahu bahwa itu racun, bisa jadi kita tidak selamat. meski kita sudah tahu bahwa itu adalah racun, namun kita tetap nekad meminumnya, maka kita bisa tidak selamat. Demikian juga kita sudah tahu dan memiliki kuasa untuk tidak meminumnya, namun kita tetap ingin meminumnya, ya bisa jadi kita tidak selamat. Meski semuanya memungkinkan kita tidak selamat, namun kalau Yang Kuasa tetap memberi kita selamat, maka mutlak kita akan selamat.

<script data-ad-client="pub-2728174942382016" async src="https://pagead2.googlesyndication
.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa alam keselamatan adalah alam terang, alam dalam naungan cahaya. Bukankah dengan cahaya, semuanya menjadi nampak kecuali yang gaib. Itulah makna dari orang berilmu yang artinya telah mendapatkan pencerahan dari Sang Alim.

Sebagai penganjur keselamatan, tidak sepantasnya kita membawa umat kepada alam kegelapan, alam keraguan. Alam kegelapan akan menghasilkan dunia gelap, untuk bergerak pun kita harus meraba-raba atau bahkan tidak bisa sama sekali. Anggaplah alam gelap sebagai alam A10, alam keraguan kita sebut sebagai alam A9 dan alam pengetahuan kita sebut sebagai alam A8, maka setiap manusia harus memposisikan dirinya dalam alam A8 >> A9 >> A10.

Sayangnya kita sekarang dalam posisi terbalik, pengajaran Islam membawa kita kepada alam A10 >> A9 >> A8. Dan kalau kita melihat sejarah, kenapa selama berabad-abad masyarakat yang memposisikan diri seperti ini selalu terjajah oleh mereka yang memposisikan diri pada alam A8 >> A9 >> A10? Contoh sekarang dunia barat menguasai dunia timur. Zaman dulu setelah Nabi Muhammad saw menyampaikan risalahnya, dunia Islam menguasai dunia.

Wahai umat manusia, kembalilah kepada fitrah dirimu, yaitu menggunakan sarana yang dimiliki untuk mewujudkan cita-cita secara terhormat. Bukankah dalam Al Fatihah, kita ingin jalan yang diberi nikmat, bukan jalan yang sesat lagi dimurkai? Dan itu adalah bukan alam kegelapan.

Rabu, 29 Maret 2017

Belajar Dari Alam



Cerita Mas Hari:
 
Kisah ini terjadi saat saya mendapatkan tugas sebagai kepala proyek pemetaan hutan.
Dalam perjalanan menyusuri hutan, kami berada di pinggir sungai yang cocok sebagai base camp sementara karena hari sudah hamper malam. Saat itu saya terdorong untuk sholat dan berdoa mohon keselamatan. Selesai sholat, saya mendapat firasat akan adanya banjir. Lalu saya share firasat saya ke teman-teman bahwa dengan menyatukan diri dengan alam kita akan mendapatkan pemberitahuan dari alam apa yang akan terjadi. Salah satu teman yang bernama pak Ahmad Sholeh yang Islamnya paling baik membantah sharing saya. Dia bilang bahwa itu adalah takhayul, dekat dengan kemusyrikan.

Saat kami sedang duduk sambil memasak air, entah bagaimana datanglah rombongan lebah menyerang rombongan. Semua teman saya berlarian menuju ke sungai untuk menyelam menghindari serangan lebah, kecuali saya dan salah satu teman. Teman saya itu mau ikut lari, namun saya cegah. Diam di sini. Matikan api. Setelah api dipadamkan, rombongan lebah tersebut pergi.

Saya sebenarnya tidak tahu tentang kenapa rombongan lebah tersebut marah dan menyerbu kami. Namun setelah kami mematikan api, baru saya sadar bahwa asap api kami telah mengganggu sarang mereka. Makanya setelah api dimatikan, lebahnya pun ikut pergi.
Dari menyeburnya teman-teman ke sungai, kami juga tahu bahwa akan terjadi banjir. Sehingga kami sempat mengangkat barang-barang dan memindahkan tenda-tenda kami ke tempat yang lebih tinggi. Dan ternyata betul, terjadilah banjir.

Saat istirahat malam, saya terdorong untuk mengajak diskusi dengan semua anggota rombongan. Dan pak Ahmad Sholeh tetap bertahan bahwa itu takhayul. Perihal kenyataan ada banjir hanyalah kebetulan belaka. Lalu saya bilang, oke, kita akan buktikan dalam perjalanan kita ini.

Saat teman-teman akan menandai pohon-pohon dengan cat, pak Akhmad Sholeh mendadak saya lihat ikut membuka kaleng cat dan mengaduk-aduk, padahal bukan tugasnya. Lalu saya tegur bahwa dia bukan ditugaskan untuk itu dan caranya pun tidak tepat. Saya katakan bahwa kita ini ada di hutan, dimana persediaan cat sangat terbatas. Kalau kaleng cat dibuka penuh, lalu tumpah, maka kita tidak akan bisa menyelesaikan tugas menandai. Dengan wajah masam, pak Akhmad tetap mengaduk. Dalam hati saya kesal juga dan terbersit harapan agar dia mendapat pelajaran.

Akhirnya terjadilah apa yang harus terjadi. Tanpa mengindahkan teguran saya, dia bermaksud menandai salah satu pohon dengan cat. Ketika akan mendekati pohon yang dimaksud, kakinya terperosok ke dalam lubang tawon tanah. Cat tumpah dan mengguyur bajunya. Segera tawon tanah keluar dan menyerang pak Akhmad Sholeh. Entah darimana saya spontan berteriak, “Lepas bajumu … lepaskan bajumu!” Pak Akhmad pun kali ini mengindahkan perintah saya. Dia segera melepas bajunya dan melemparkannya. Tawon pun kemudian menyerang baju yang berlepotan cat. Biasanya orang hanya mampu tahan terhadap tiga sengatan lebah tanah, namun pak Akhmad mendapat tujuh sengatan. Bukannya bersyukur malah jumawa mengatakan bahwa dia termasuk manusia yang hebat mampu menahan tujuh sengatan lebah tanah yang tekenal paling ganas. Saya pun semakin kesal dengan kelakuannya. Segera saya perintahkan anggota untuk membawa dia ke kota terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Dan ketika sampai di kota terdekat, tubuhnya pun telah bengkak sampai-sampai matanya tidak kelihatan. Akhirnya dia dirujuk ke rumah sakit Balikpapan.

Bersatulah dengan alam, niscaya alam akan menginformasikan kepada kita apa yang akan terjadi. Penyatuan dengan alam dilakukan dengan rasa. Karena alam materi diketahui keberadaannya dengan sensor panca indra dan rasa diri. Inilah barangkali yang dimaksud dengan berlapang dada dalam Al Quran, yaitu menerima Islam dari Allah dan mendapat cahaya (QS Az Zumar 39 ayat 22). Dan tentunya dengan menjadi Islam, kita selamat.

Bandung, 5 Maret 2017

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...