Senin, 04 April 2016

Makna Ilah (Islam Itu Universal)



Kami perhatikan benar nasehat Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim bahwa “ilah” ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai (didominir) olehnya (sesuatu itu).
QS Al Jaatsiyah 45 ayat 23: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya (ilahahu) dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
QS Al Furqan 25 ayat 43: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya (ilahahu). Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?
QS Al Qashash 28 ayat 38: Dan berkata Fir'aun, “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan (ilahin) bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan (Ilahi) Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.”
Berdasarkan realitas yang ada dan dalil-dalil Al Qur’an di bawah, yang dijadikan Ilah oleh manusia selain Allah adalah dirinya sendiri. Dengan demikian berarti kebanyakan manusia adalah menyembah dirinya sendiri dan mereka tidak menyadari. Bahkan kita menjadikan Allah sebagai pengabul hawa nafsu kita. Oleh karena itu pantaslah kalau Allah mengecap orang-orang yang memecah belah umat menjadi beberapa golongan sebagai orang musyrik, karena mengilahkan dirinya atau kelompoknya.
QS Ar Ruum 30 ayat 30-32: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Selain dirinya sendiri, manusia juga mementingkan berhala-berhala agar mereka mendapatkan pertolongan. Inilah manusia-manusia lemah, malas dan inferior.
QS Yaasiin 36 ayat 74: Mereka mengambil sembahan-sembahan (alihatan) selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.
QS Nuh 71 ayat 23: Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu (alihatakum) dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr.”
Semestinya yang pantas dipentingkan ya hanya Allah, bukan dirinya atau berhalanya. Oleh karena itu Qur’an benar, Nabi (saw) benar, pak Haji Slamet Utomo benar bahwa kita harus memfanakan diri dan Allah lah yang dipentingkan, diibadahi.
QS Al Baqarah 2 ayat 163: Dan Tuhanmu (Ilahukum) adalah Tuhan (Ilahun) Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (Ilaha) melainkan Dia. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Bilamana sudah memahami makna Sang Rabb, Al Malik dan Al Ilah di atas, sudah semestinya kita memfanakan diri agar bisa menjadi hamba yang diridhai-Nya.
QS Al Baqarah 2 ayat 21: Hai manusia, sembahlah (‘budu) Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
QS Al Mu’min 40 ayat 60: Dan Rabb-mu berfirman: "Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya or­ang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (‘ibadatiy) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".
QS Yaasiin 36 ayat 60: Bukanlah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah (la ta’budu) syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu.
QS Al Kaafiruun 109 ayat 1-6: Katakanlah: "Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku".
QS Yusuf 12 ayat 40: Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Bukan malahan sebaliknya, karena selain akan dihinakan juga siksa Allah jauh lebih pedih dari kesakitan di dunia ini. Padahal para Nabi dan Rasul sudah mengingatkan.
QS An Nahl 16 ayat 36: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Taghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Namun banyak juga yang tetap nekad melakukan kemusyrikan walau sudah diberi tahu bahwa kemusyrikan adalah dosa yang tak terampuni.
Hadits. Dari Ibnu Mas'ud , dia berkata,"Saya bertanya,"Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah ? Nabi bersabda," kamu menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanMu". (HR. Bukhari dan Muslim). Mu'adz mengatakan, "Tahukah kamu apa yang menjadi hak Allah sebagai kewajiban atas hamba-Nya ? yaitu, hendaklah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun".
Meski mereka tahu bahwa berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa, namun mereka menekadkan dirinya dan tekun menyembah berhala-berhala tersebut.
QS Al Anbiya 21 ayat 58-59: Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim?”
QS Asy Syu’araa’ 26 ayat 71: Mereka menjawab, “Kami menyembah (na’budu) berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.”

Rabu, 30 Maret 2016

Allah Adalah Sang Raja (Islam Itu Universal)




Al Malik berarti Sang Penguasa. Dia disebut sebagai Sang Penguasa, karena memang Dia betul-betul menguasai segala aspek, berarti kalau Dia menetapkan segala sesuatu pasti terjadi.
Untuk memahami makna penguasaan ini kita ambil contoh kita punya tangan, tangan kita hanya bergerak bilamana ada kekuatan. Kekuatan ini meliputi tangan, bukan sekedar di atas tangan. Dan sebaliknya, tangan tidak mampu menggerakkan kekuatan. Berarti kekuatan itu di atas tangan. Demikian pula kehendak, kehendak berada di atas kekuatan. Bisakah kehendak langsung memerintahkan kepada tangan? Tentu tidak bisa, contoh orang lumpuh. Hal ini berlaku untuk makhluk.
Sedangkan Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Jadi Allah meliputi segala sesuatu bermakna Dia bisa memerintahkan kepada segala sesuatu, termasuk langsung memerintahkan tangan manusia untuk bergerak. Dengan demikian Dialah Penguasa sejati, Dialah Sang Penentu. Inilah yang mestinya dipergunakan untuk memahami makna “istiwa”.
QS An Naas 114 ayat 2: Raja manusia.
QS Al Mu’minuun 23 ayat 116: Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Ilah selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.
Meski KekuasaanNya mutlak, namun Dia tidak sewenang-wenang.
QS Al Hasyr 59 ayat 22-24: Dialah Allah Yang tiada Ilah selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dialah Allah Yang tiada Ilah selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dia menguasai segala waktu dan tempat.
QS Al Fatihah 1 ayat 4: Yang menguasai di Hari Pembalasan.
QS Al Jumuah 62 ayat 1: Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Rabu, 16 Maret 2016

Rabb Adalah Sang Guru Sejati (Islam Itu Universal)



Pada kenyataannya, kita hidup ini tumbuh dan berkembang, baik jasmani, kemampuan bahkan keinginan kita. Semuanya menuju kepada kenikmatan. Artinya kita dididik untuk menggali kenikmatan lebih. Siapakah yang mendidik kita ini?
Dalam muqadimah Al Fatihah dijelaskan: “Beriman kepada Rabb Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan Sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah: nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan (memelihara), sebab kata Rab dalam kalimat Rabbul-'aalamiin tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti Tarbiyah, yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Sang Rabb-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, Penjagaan dan Penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada Keagungan dan Kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. ….”
Dengan demikian Allah lah Pendidik kita, Allah lah Guru kita. Kalau begitu, jangan sekali-sekali mengaku sebagai guru manusia atau guru bangsa. Karena Nabi Muhammad (saw) saja tidak lain hanyalah seorang pembawa berita (Al Basyir) dan pemberi peringatan (An Nadzir).
QS Al Ahqaf 46 ayat 9: Katakanlah: “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-Rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.”
QS Al A’raaf 7 ayat 54: Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lali Dia bersemayam di atas arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing­masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.
QS Al A’raaf 7 ayat 188. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”
Sehingga QS Fushshilat 41 ayat 30 bisa dimaknai: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Pendidik kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”” Dengan bersikap seperti ini, maka kita akan menatap hidup ini sebagai proses pendidikan. Sehingga semua masalah akan dipandang positif, yaitu bagian dari program kenaikan kelas. Karena kita meyakini bahwa tujuan dari pendidikan adalah agar yang dididik mampu menggapai cita-citanya atau tugasnya, yaitu kenikmatan tertinggi, yaitu Allah sendiri. Tujuan hanya bisa dicapai dengan kekuatan dan kecerdasan, bekal itulah yang akan diberikan dalam proses pendidikan.

Jumat, 12 Februari 2016

Konsep Untuk Mengenal Allah

KUNTU KANZAN MAKHFIYYAN
AHBABTU AN ‘URIFA
FA KHALAQTU KHALQA
LI ‘URIFA
AKU ADALAH PERBENDAHARAAN TERSEMBUNYI
AKU CINTA DIKENAL
MAKA AKU CIPTAKAN MAKHLUK-KU
AGAR MEREKA MENGENAL AKU
(Sumber: tidak diketahui)
Dia adalah Perbendaharaan tersembunyi (disebut dengan Allah), berarti sesuatu eksistensi sangat berharga yang perlu diperjuangkan untuk diketemukan. Dia cinta dikenal, berarti Dia juga memiliki fitrah untuk menampilkan eksistensi-Nya. Dua fitrah keberadaan yang saling berbenturan. Yang satu selalu berupaya menyembunyikan jati diri-Nya, yang satu lagi selalu berupaya untuk dikenal. Dari dua benturan fitrah inilah Dia menciptakan makhluk-Nya. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana makhluk mengenal-Nya? Jawaban atas pertanyaan ini adalah dengan mengenal-Nya di Persembunyian-Nya.
Apakah pernyataan tersebut benar? Hal ini harus dibuktikan!
Dengan menggunakan siklus kebenaran, marilah dibuktikan pernyataan tersebut.
Karena akan membuktikan dan berhubung belum mengerti dan belum ada wujud nyata yang bisa dilihat, maka wajib untuk mempercayai bahwa pernyataan tersebut benar adanya. Kalau tidak, buat apa membuktikan! Melalui percaya, maka kita melakukan pengadaan akan eksistensi Allah.
Secara teori, berarti melakukan pendekatan atau menggunakan ilmu karang atau A9, yaitu dengan mengandalkan fakta-fakta yang terbeber di alam ini. Alam adalah bacaan, alam adalah kitab. Adanya alam membawa kepastian adanya Yang menciptakan alam. Umumnya kita menyebut sebagai Sang Pencipta. Kali ini kita akan melampaui batasan umum, kita berupaya menggali kepastian. Kata menciptakan berarti menandakan adanya Kuasa, yaitu Kuasa menciptakan. Apakah sebutan Kuasa masih bisa diperdalam lagi? Nampaknya tidak. Sehingga perlu dibuat kesimpulan yang mutlak bahwa Kuasa adalah kemampuan melakukan apa saja. Berarti Kuasa harus tunggal tidak ada duanya, sempurna.
Siapakah Kuasa? Yang jelas Kuasa tersebut tersembunyi, karena kalau tidak tersembunyi, kita sudah bisa mengetahui.
Apakah setiap makhluk perlu Kuasa? Pasti! Tanpa Kuasa yang diwenangkan kepada makhluk, makhluk tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan memiliki Kuasa, makhluk terutama manusia bisa memperoleh kenikmatan. Berarti Kuasa ingin dimiliki oleh setiap makhluk, terutama manusia. Dengan demikian Kuasa adalah Perbendaharaan tersembunyi.
Kuasa cinta dikenal. Pasti. Adanya penciptaan, terutama manusia adalah bukti nyata bahwa Kuasa cinta dikenal. Bisa pula difahami bahwa semua bentuk perwujudan adalah bentuk-bentuk kekuasaan.
Dengan demikian pernyataan pertama dan kedua secara ilmu sudah terbukti, berarti tercapailah ilmu yakin.
Sekarang kita buktikan dengan fakta. Bukankah pada setiap kejadian bencana alam selalu diawali dengan tanda-tanda kehadiran Allah? Dan pada umumnya musibah bencana alam terjadi akibat orang-orang di daerah tersebut menjauh dari Allah? Ini memberikan pemahaman bahwa pada wilayah-wilayah yang mengaku bertuhan namun dalam prakteknya jauh dari akhlak manusia bertuhan akan diperingatkan dengan musibah. Jadi musibah adalah akibat kesalahan manusianya.
Bukti dari Kitab suci juga ada, yaitu pada QS Al A’raaf ayat 143: Dan tatkala Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa, “Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat Engkau?” Tuhan berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya, niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
Hal ini juga diperkuat dengan sebuah hadits qudsi:
Dari Anas bin Malik ra, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman,
“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu berdoa dan mengharap hanya kepadaKu, Aku memberi ampunan kepadamu terhadap apa yang ada padamu dan Aku tidak mempedulikannya. (Doa berarti permohonan. Memohon pasti kepada  Yang Kuasa mengabulkan. Berarti doa adalah melakukan pengakuan akan keberadaan/pengadaan Tuhan. Ini adalah pendekatan secara Klenik atau A10 menurut Jagad Pitu).
Wahai anak Adam, seandainya dosamu sampai ke langit, kemudian kamu minta ampun kepadaKu, maka Aku memberi ampunan kepadamu dan Aku tidak mempedulikannya. (Taubat berarti menghadap, yaitu melakukan pendekatan. Berhubung Dia Gaib, maka pendekatan dengan pengertian atau ilmu Karang atau A9 menurut Jagad Pitu).
Wahai anak Adam sesungguhnya apabila kamu datang kepadaKu dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.”” (Hadir berarti berjuang untuk bertemu, seperti Nabi Musa (as) agar bisa melihat-Nya atau Katon atau A8 menurut Jagad Pitu).
Untuk menandai keberadaan Kuasa yang tidak bisa diketahui, walau bisa dimengerti, maka orang-orang cerdas zaman dahulu menandai dengan bentuk berbagai macam. Ada tugu, totem, rumah yang intinya adalah menandai adanya Kuasa. Nabi-nabi adalah kumpulan orang-orang cerdas, mereka menandai adanya Kuasa dengan bangunan tempat ibadah atau Baitullah, semisal masjid. Bangunan tempat ibadah paling kecil risikonya dari potensi salah persepsi, terutama kemusyrikan.
Berbeda dengan patung, patung dibuat untuk menghormati tokoh yang bermanfaat buat masyarakat. Untuk mengenang jasanya, mereka membangun patungnya dan pada awalnya dijadikan sarana perantara untuk meminta pertolongan Yang Kuasa. Namun lama kelamaan bergeser menjadi wujud yang disembah.
Bangunan tempat ibadah, seperti masjid yang merupakan tempat pertemuan hamba dengan Tuhannya, yaitu di rumah-Nya selalu dilengkapi dengan gapura sebagai jalan masuk menuju masjid. Kata gapura berasal dari asma Allah, Al Ghaffur yang dimaknai sebagai Sang Pembuka. Dengan memasuki gapura dan meniti jalan jalan (Shirath Al Mustaqiym) menuju ke Baitullah. Oleh karena itu bisa dimaknai bahwa gapura dibangun sebagai pengingat manusia akan Yang Kuasa. Dengan memasuki gapura, manusia bertaubat untuk kembali bersujud kepada Yang Kuasa.
Agar pengajaran ini berlangsung selama-lamanya, Gapura ini harus dibangun dengan penampakan dan keindahan, agar menarik mereka yang belum tahu untuk mendatangi, bertanya dan kemudian memasukinya. Gapura ini harus pula dibangun dengan kekuataan, kekokohan agar bisa bertahan di sepanjang gempuran masa, cuaca, suasana, situasi, kondisi dan peradaban. Karena kehancuran Gapura adalah simbol akan semakin dilupakannya Sang Perbendaharaan Tersembunyi. Sebagai akibatnya makhluk-Nya kembali kepada kebingungan atau lupa atau bahkan lalai kepada Perbendaharaan tersembunyi. Kondisi ini akan mendorong Yang cinta dikenal menampakkan Jati Dirinya. Dan alam semesta pun tidak mampu menanggung Kehadiran-Nya.
Untuk bisa mencapai Gapura ini, orang memerlukan penunjuk jalan, yaitu Dia sendiri yang disebut dengan panggilan Al Hadi. Peran Al Hadi ini dijalankan kepada orang-orang yang dipilih Allah, yaitu para ulama, dimana tujuannya adalah mengingatkan manusia kepada Allah. Ulama, bukanlah ahli kitab. Ulama adalah orang yang berilmu, yang sudah mencapai Ilmul Yaqin, hingga Haqqul Yaqin. Karena seseorang dikatakan mencapai Haqqul Yaqin, bilamana dia memahami ilmunya dan telah mengamalkan dalam praktek-praktek sehari-hari.
Kemudian dengan bantuan Al Fata (Al Fatihah) kita membuka gapura dan siap menemui Yang Tersembunyi, kita akan meniti jalan / shirat / sabil menuju kepada Perbendaharaan Tersembunyi. Kembali lagi kepada fitrah Sang Tersembunyi, Dia pun juga menyembunyikan Dirinya melalui penampakan berbagai jalan, baik yang lurus maupun yang berliku-liku. Baik jalan yang mendatar, menanjak ataupun menurun, yang masing-masing dengan tingkat kemiringan yang bermacam-macam. Bahkan jalan tersebut pun masih pula diberi cabang-cabang yang membingungkan dan menyesatkan. Dan hanya melalui sikap berserah diri inilah kita akan selamat hadir ke hadirat Perbendaharaan tersembunyi.
Quran surat Yaasiin ayat 1 - 4:
Yaa siin; Demi Al Quran yang penuh hikmah; Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus.
Penyatuan kembali jiwa manusia yang dikuasai kepada Kuasa adalah kenikmatan tertinggi. Pada posisi kesadaran itulah, seseorang mencapai maqam Mursalin sesuai ayat di atas.

Tuban, 5 April 2012

Berprestasi Tanpa Menyakiti; Hamba Yang Rendah Hati

Dan hamba-hamba Ar Rahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapk...