Minggu, 12 Juli 2020

Hakekat Jiwa/Diri/Aku-Raga-Kuasa-Ruh

Ketika masih anak-anak, dengan teman-teman sepermainan kami biasa berteka-teki dengan tantangan: “Siapa bisa memegang aku?” Dan teman-teman berebutan memegang tubuhku. Saat itu aku hanya bisa bilang bahwa ndak ada yang bisa memegang aku. Karena yang terpegang hanyalah bagian-bagian dari tubuhku. Dan kami pun bubar, karena sadar[1] bahwa kami tidak ada yang bisa memegang “aku”.

Sekarang marilah berupaya menggali siapa “aku”?

Kita tidak ingat, sejak kapan kesadaran diri ada. Bahkan ketika kita tidur ataupun mabuk ataupun pingsan, kita tidak sadar akan diri sendiri. Namun aneh, ada yang menyaksikan bahwa kita tidak sadar diri. Bahkan kita kemudian bisa bercerita tentang mimpi setelah terbangun. Siapakah yang menyaksikan itu? Akukah ataukah kita sebut dengan “yang (kuasa) menyaksikan”?

Saya jejaki masa-masa kecil diantaranya melalui informasi ilmiah, yaitu proses kelahiran bayi. Bayi yang dihasilkan dari pembuahan sperma bapak kepada sel telur ibu dalam rahimnya. Dari janin yang bisa diketahui dari detak jantungnya hingga mulai bernafas dan bergerak. Saat lahir si bayi mulai bisa mendengar melalui telinganya dan melihat dengan matanya. Dia mulai berjalan kian kemari sembari berteriak dan menangis. Saat daya ingat mulai muncul, dia mulai mengucapkan beberapa patah kata. Lalu dia akan mulai berimajinasi dan terakhir mulai berkarya.

Kapankah akunya aktif? Yaitu saat dia sadar.

Kalau diteliti, maka pada diri seseorang terdapat tiga hal, yaitu aku atau dirinya, raganya, kuasa dan ruhnya. Aku diketahui[2] dari adanya kesadaran diri. Raganya jelas bisa diketahui dengan indra. Adanya kuasa diketahui dari kemampuannya beraktifitas. Ruh diketahui karena ketika ruh tidak ada, maka orang tersebut telah wafat.

Bagaimana dengan hidup? Apakah tumbuhan dan hewan, demikian pula dengan mesin dan robot-robot seperti manusia, bisa disebut hidup?

Kita membangun pengetahuan melalui pengamatan atas diri, manusia dan alam dengan menggunakan sarana yang kita miliki. Keberadaan diri atau aku atau yang sadar adalah muncul ketika pikiran atau pengertian (a6’’’) seseorang sempurna, seperti dewasa, tidur, mabuk atau pingsan. Aku menjadi aktif atau bisa non aktif berhubungan dengan kondisi raganya. Setiap diri yang berwadahkan materi (nafsin), menurut Al Qur’an akan mengalami maut. Karena maut adalah lawan kata dari hidup, maka semua diri yang bisa beraktifitas dengan ragawi disebut hidup. Hidup diketahui dari adanya nafas. Kalau sudah hilang nafasnya, raganya disebut tidak hidup atau mati. Dengan demikian kematian adalah proses dimana ujungnya adalah terpisahnya hidup dari raga dengan ditandai hilangnya nafas.

Pada saat kematian, bagaimana dengan akunya? Sulit menjawab pertanyaan ini karena kita belum pernah mati. Sehingga hanya bisa berteori bahwa setelah terpisahnya raga dari hidup dan pada kenyataannya raga pun terurai menjadi anasir alam, maka aku almarhum pergi bersama hidupnya. Aku bisa apa tanpa raga? Aku bisa apa tanpa hidup? Tanpa hidup, aku dan raga pun juga tidak bisa apa-apa. Dengan demikian maka hidup adalah wakil dari Kuasa karena dengan hidup maka seseorang atau sesuatu bisa beraktifitas. Beraktifitas berarti menggunakan kuasa yang diotorisasikan kepadanya.

Bisa apa aku tanpa raga dan hidup? Tidak bisa apa-apa. Dengan demikian salah satu fakta yang bisa kita peroleh adalah aku tidak bisa apa-apa. Aku juga dipergunakan untuk mengidentifikasi keberadaan diri. Aku juga merupakan sebutan diri atas sesuatu.

Kalau ditarik kesimpulan, keberadaan atas sesuatu atau kelompok sesuatu selalu ditandai dengan adanya diri yang menyebut dirinya dengan aku, ada wujud entah gaib atau pun nyata (bisa diindrai), ada kuasa berupa hidup ataupun daya dan adanya sebutan atau nama. Namun karena yang bisa menyebut dirinya adalah yang memiliki kesadaran diri, maka di dunia nyata hanya manusia yang bisa menyebut dirinya dengan aku. Binatang, misalnya anjing barangkali hanya bisa menyebut dengan kami yang mewakili kelompok anjing. Karena tidak ada identifikasi semisal sebutan nama. Meski seekor anjing bisa dipanggil dengan namanya, namun yang memberi nama adalah orang yang memiliki anjing tersebut bukan anjing yang lain.

Bagaimana dengan penelitian atau pengamatan orang-orang terdahulu perihal ini?

Kitab Durratun Nasihin karya Syekh Utsman bin Hasan Asy-Syakir[3] menyebutkan:

Ketika Allah menciptakan akal, Dia bertanya kepada akal, “Siapa Aku dan siapa kamu?”

Akal menjawab, “Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu.”

Puas dengan jawaban tersebut, Allah berfirman bahwa Dia tidak akan menciptakan makhluk yang lebih mulia dari akal.

Berbeda ketika Dia menciptakan jiwa. Ketika jiwa ditanya Allah, “Siapa Aku dan siapa engkau?”

Jiwa  menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”

Jiwa pun disiksa dalam neraka panas selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun tetap menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”

Jiwa pun disiksa dalam neraka dingin selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun tetap menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”

Jiwa pun disiksa dalam neraka lapar selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun akhirnya menyerah dan menjawab, “Aku hamba-Mu dan Engkau Tuhan-ku.”

Dalam referensi lain, yaitu Injil Barnabas[4] disampaikan sebagai berikut:

Berkata Yesus, “Adakah seorang manusia dijumpai yang masih ada kehidupan pada dirinya, akan tetapi perasaan[5] tiada bekerja padanya?”

“Tidak”, kata pengikut-pengikut itu.

“Kamu menipu dirimu sekalian”, kata Yesus. “Karena orang tuna netra, tuna rungu, tuna wicara dan cacat puntung, dimana perasaannya? Dan kapan seorang manusia berada dalam pingsan?”

Kemudian para pengikut itu telah bingung, ketika Yesus berkata, “Ada tiga hal yang menjadikan manusia, yaitu ruh, perasaan dan daging. Tiap satu diantaranya terpisah. Allah kita menciptakan ruh dan jasad, sebagai yang telah kamu dengar, tetapi kamu belum mendengar bagaimana Dia menciptakan perasaan. Oleh sebab itu besok kalau Allah memperkenankan, aku akan menceritakan kepada kamu semua.”

“Demi Allah [yang] pada hadirat-Nya ruhku berdiri, banyak yang sudah tertipu mengenai kehidupan kita, karena demikian rapatnya hubungan antara ruh dan perasaan. Sehingga sebagian besar manusia mengiyakan ruh dan perasaan adalah hal yang satu dan sama, namun terbagi dalam penugasan bukan dalam wujud. Mereka menyebutnya sensitif (rasa perasaan), vegetatif (rasa tumbuh) dan jiwa yang cerdas (intellectual soul). Tetapi sungguh aku katakan kepadamu, ruh itu adalah satu, yang berakal dan hidup. Orang-orang dungu manakah akan mereka dapatkan ruh berakal tanpa kehidupan? Tentulah tidak pernah. Tetapi kehidupan tanpa perasaan dan kehendak sudah dijumpai, sebagaimana keadaan ketidak-sadaran, dimana perasaan meninggalkannya.”

Thaddeus menjawab, “O Guru, apabila perasaan meninggalkan kehidupan, seorang manusia tidak mempunyai kehidupan.”

Yesus menjawab, “Ini tidak benar, sebab manusia kehilangan kehidupan apabila ruh meninggalkannya, karena ruh itu tidak kembali lagi ke dalam tubuh, terkecuali oleh mukjizat. Akan tetapi perasaan akan hilang lantaran ketakutan yang dialaminya atau kesedihan yang sangat diderita oleh perasaannya. Justru perasaan itu telah diciptakan Allah untuk kesenangan dan dengan kesenangan itu sendiri, dia hidup. Bahkan sebagaimana tubuh itu hidup oleh makanan, ruh itu hidup dengan ilmu dan kasih sayang.

Rasa perasaan memberontak menentang ruh melalui perasaan marah. Hal ini berarti dia telah kehilangan kesenangan surga karena dosa. Oleh sebab itu adalah kewajiban yang paling utama untuk memeliharanya dengan kesenangan ruhani bagi orang yang tidak ingin hidupnya dalam kesenangan jasmani. Mengertikah kamu?

Sungguh aku berkata kepadamu bahwa Allah telah menciptakannya, telah menghukumnya ke neraka dan ke dalam salju dan es yang tak tertahankan karena ia berkata bahwa ia adalah Allah. Tetapi ketika Dia menghilangkan pemeliharaan terhadapnya dengan membawa pergi makanannya dari padanya, barulah ia mengetahui bahwa ia adalah seorang hamba Allah dan pekerja bagi tangan-tangan-Nya.

Dan sekarang ceriterakanlah kepadaku, bagaimana perasaan bekerja pada orang kafir? Pasti itu adalah sebagai Tuhan (Ilah) didalam diri mereka, mengingat bahwa mereka mengikuti perasaan itu, memungkiri akal dan hukum Allah. Oleh sebab itu mereka menjadi tak menyenangkan dan tak beramal shalih.”

Dari kisah-kisah di atas kita mengetahui kenapa manusia diciptakan di alam dunia, yaitu dihukum karena akunya tidak mau menerima Allah sebagai Ilah-nya. Bagaimana dengan kenyataannya?

Alam dunia menurut teori Big Bang berasal dari panas. Berarti alam dunia ini barangkali yang dimaksud dalam kitab-kitab di atas sebagai neraka panas.

Kembali kepada tempat kehidupan pertama, yaitu neraka panas; awal keberadaan aku seseorang di dunia disampaikan dalam QS Al A’raaf 7 ayat 172: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.”

Kata sulbi di sini menjelaskan bahwa pertanyaan ini disampaikan Allah ketika manusia masih berupa air yang akan dipancarkan. Hal ini tertulis dalam QS Ath Thariq 86 ayat 6-7: Ia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Berdasarkan ayat-ayat tersebut, individu orang tercipta melalui jiwa diturunkan ke raganya. Namun karena belum sempurnanya pengertiannya, maka kesadaran diri belum aktif. Baru pada kira-kira umur 5 tahunan muncul kesadaran diri. Hal ini berbarengan dengan sempurnanya pertumbuhan otak yang mengaktifkan pikiran berupa pengertian.

Dalam QS As Sajdah 32 ayat 7-9: Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (al af-idah)[6]; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

QS Shaad 38 ayat 71-72: (Ingatlah) ketika Rabb-mu berfirman kepada Malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruhKu; Maka hendaklah kamu menyungkur dengan bersujud kepadanya.”

QS An Nahl 16 ayat 78: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (al af’idah), agar kamu bersyukur.

QS Az Zumar 39 ayat 6: Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

QS Al Mu’minuun 23 ayat 12-16: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang  belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat.

Yang menarik dari ayat-ayat di atas adalah asal usul manusia yang dinyatakan berasal dari surga, yaitu Adam (as). Karena melanggar aturan Allah, sehingga beliau dikeluarkan dari Surga dan hidup di muka bumi. Demikian pula dengan keturunannya, yaitu kita. QS Al A’raf 7 ayat 24: Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang ditentukan.” Menurut penelitian para ahli Arkeologi hingga sekarang belum diketemukan adanya bukti bahwa Homo Sapiens adalah hasil evolusi dari Homo Erectus. Bila dilihat dari sisi kemampuan otak, Homo Sapiens memiliki volume Neocortex jauh lebih besar daripada Homo Erectus. Dengan besarnya volume Neocortex ternyata manusia jauh lebih mampu mengembangkan peradaban daripada Homo Erectus.

Berarti memang benar bahwa manusia dihukum di neraka api yang disebut dengan dunia.

Pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim: Abu Abdurrahman bin Mas’ud ra berkata bahwa Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Sesungguhnya, setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah selama itu juga, kemudian meniupkan ruh kepadanya ….’’

Keberadaan ruh ditandai dengan adanya nafas. Hampir sama dengan hidup. Namun Isa Almasih dalam Injil Barnabas dengan tegas menyatakan bahwa ruh hidup dengan ilmu dan kasih sayang dan tidak ada pada tumbuhan dan hewan yang sama-sama disebut hidup. Berarti ruh inilah yang menyampaikan ilmu dan kasih sayang kepada diri manusia. Namun manusia kecenderungannya adalah mengikuti hawa nafsunya sendiri bahkan menjadikan dirinya sebagai Ilahnya.

Mulai saat itulah perjalanan kehidupan sang aku di neraka panas atau alam dunia dimulai. Keberhasilan hidup di dunia adalah sang diri bisa menyadari bahwa dia adalah hamba dari Allah Yang Maha Kuasa. Kalau belum berhasil, maka dia akan disiksa di neraka dingin atau alam kubur. Bukankah manusia yang mati terpisah antara dirinya dengan raganya? Berarti lepas dan tersekatlah dia dari alam api, berarti masuk alam tanpa api yang dingin dan gelap. Dan hanya dengan cahaya ilmu dan amalnyalah mereka mendapatkan penerangan.

Alam kubur adalah alam jiwa setelah alam dunia. Menurut Nabi Muhammad s.a.w.: “Sesungguhnya liang kubur itu menyeru dengan lima kalimat. Ia berkata, “Aku adalah rumah kesendirian, maka bawalah teman kepadaku. Aku adalah rumah ular, maka bawalah penawar kepadaku. Aku adalah rumah kegelapan, maka bawalah lampu kepadaku. Aku adalah rumah tanah, maka bawalah permadani kepadaku. Aku adalah rumah kemiskinan, maka bawalah bekal kepadaku.”” Di alam kubur, manusia tidak mempunyai raga, hanya membawa diri dan hidupnya.

Bagaimana seandainya ada alam ketiga, dimana aku manusia dilengkapi dengan raga, namun tanpa ruh?

Niscaya di alam ketiga itu manusia mencapai puncak kesadaran akan adanya Allah Yang Maha Kuasa, namun hidup dalam keadaan lapar dan haus dan tiadanya ruh dan tiadanya makanan membuat mereka sadar akan ketidak-mampuannya. QS Ibrahim 14 ayat 46-51: Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada Rasul-Rasul-Nya; sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api Neraka, agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah maha cepat hisab-Nya.

Jadi jelaslah bahwa ketidak-taatan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa bahkan menuhankan dirinya sendiri akan membuat kita nanti merana tanpa akhir. Ikutilah arahan ruhmu melalui pengetahuan, pengertian dan akalmu. Jangan biarkan ragamu menguasaimu. Jangan biarkan dirimu menjadi tuhan. Manfaatkanlah waktumu sekarang untuk hidupmu yang akan datang.


 

Jakarta, 11 Juli 2020

 

 



[1] Sadar artinya kita mengerti. Mengerti adalah bisa menarik manfaat atas pengetahuan yang diterima oleh kita. Misalnya orang mengetahui tentang listrik dari adanya lampu listrik, namun orang yang mengerti listrik dia bisa memanfaatkan pengertiannya untuk menguasai listrik dan memanfaatkannya. Mengerti adalah pemrosesan data untuk mendapatkan kesimpulan, umumnya berupa rumusan.

[2] Mengetahui adalah proses afirmasi fakta yang ditangkap indra oleh memori. Meski seseorang melihat sesuatu, namun di memorinya tidak ada sebutan untuk itu, maka dia tidak akan mampu mengekspresikan pengetahuannya. Mengetahui bisa disamakan dengan mengingat. Mengetahui adalah input data.

[3] Idrus H. Alkaf, Terjemah Durratun Nasihin, CV Karya Utama, Surabaya, hal. 28

[4] Rahnip M BA, Terjemah Injil Barnabas, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1984, hal. 140-142

[5] Perasaan yang dimaksud dalam Terjemah Injil Barnabas barangkali adalah jiwa seperti yang dimaksud dalam Terjemah Durratun Nasihin atau diri yang disebut dengan “aku”, bukan perasaan hati atau indra kulit.

[6] Hati atau al af-idah adalah kemampuan menarik manfaat.

Minggu, 07 Juni 2020

Manunggaling Kawulo Gusti

Manunggaling kawulo Gusti adalah idiom yang banyak disampaikan dalam masyarakat Jawa. Setiap orang tentunya memiliki pemahaman sendiri-sendiri tentang hal tersebut. Saya tidak mempermasalahkan pemahaman setiap orang, karena yang paling utama adalah bagaimana pemahaman saya sendiri yang bisa diterima secara nalar.

Siapakah Gusti? Siapakah Kawulo? Apa yang dimaksud dengan manunggaling?
Gusti adalah tuan. Sedangkan kawulo artinya hamba. Manunggaling adalah bersatunya. Disebut Gusti, harus memiliki kawulo. Disebut Gusti harus memiliki kekuasaan. Kawulo adalah yang dikuasai. Berarti Gusti dan kawulo sejatinya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Berarti Gusti dan kawulo selalu dalam keadaan bersatu atau manunggal.

Lalu semenjak kapan mereka berpisah?

Perpisahan Gusti dengan Kawulo terjadi semenjak Kawulo dikeluarkan menjadi individu. Saat menjadi individu, muncul keakuan dirinya. Apalagi dengan kemampuan yang dimilikinya. Sang diri yang dikeluarkan menjadi individu menjadi egois, semaunya sendiri.

Perjalanan hidup yang diterimanya, semestinya membawa kepada kesadaran diri bahwa akunya adalah Kawulo dan raganya adalah sarana dirinya dididik oleh Gusti. Dimana sarana ragawi tersebut dilengkapi pula dengan hidup atau disebut ruh. Dengan itu, maka ragawi yang dilengkapi dengan ruh lalu diberi nama misalnya Faiz.

Faiz dikeluarkan dari perut ibunya, dimana kemudian dia memiliki kemampuan indrawi dan juga kemampuan mengingat, mengerti dan mencari cara atau solusi bersamaan dengan tumbuh kembang otaknya. Sebelumnya Faiz dalam perut ibunya bisa merasakan dengan adanya jantung.

Setelah Faiz mencapai akil balik yang ditandai dengan aktifnya pengertiannya, maka kesadaran dirinya atau akunya mulai aktif. Saat itulah Faiz memulai langkah kehidupannya, yaitu mengikuti dorongan kemauannya.

Dengan mengikuti dorongan kemauannya, maka keakuan diri Faiz semakin menguat dan lupa akan Gusti. Kawulo dan Gusti pun mulai terpisah. Dengan menggunakan Faiz, maka kawulo tadi digembleng oleh Gusti supaya teringat akan sejatinya, lalu dibuat mengerti bahkan dibuat sadar diri dan akalnya akan memberikan solusi bagaimana cara menjalani kehidupan sesuai tuntunan Gusti.
Dalam menjalani kehidupan, Faiz akan dibuat senang dengan manfaat yang dia terima dan dibuat menderita dengan resiko yang terwujud. Saat senang, diri Faiz lah yang menikmati kesenangan dan di saat menderita, maka diri Faiz pula yang menderita.

Melalui kesenangan (+) dan penderitaan (-), diri Faiz dididik untuk mengerti dan sadar diri bahwa dibalik (+) dan (-) terdapat kehendak Gusti yang dinyatakan dalam cita alam.

Oleh karena itu supaya kita tetap dalam kesadaran diri yang benar, maka janganlah mengejar (+) saja dan membenci (-). Carilah dibalik (+) dan (-) ada kehendak Gusti. Tangkaplah itu dengan pengertianmu! Sadarlah bahwa dirimu adalah Kawulo. Jadi selama diberi kesempatan hidup, berjuanglah untuk mewujudkan cita alam yang merupakan sabda Gusti. Disinilah kita sebagai Kawulo manunggal kembali dengan Gusti.

Tuban, 7 Jun 2020

Sabtu, 07 September 2019

Suwung


Ketika menulis di grup perihal suwung, beberapa orang berkomentar bahwa suwung adalah ilusi. Yang lain menyebut suwung sebagai keadaan ketidak-sadaran. Inilah repotnya menghadapi orang-orang yang sudah terkontaminasi pikirannya dengan pendapat orang lain, yaitu terjebak kepada persepsi sang pemberi informasi. Masih mendingan kalau kita mendengar langsung penjelasan dari nara sumber dibanding dengan sekedar membaca tulisannya.
Saya jadi teringat kisah teman dari USA bernama Bruno Pizzato seorang sales teknologi petrokimia yang dengan menjual teknologi telah berhasil membangun industry petrokimia di Jepang dan Korea, namun kurang berhasil di Indonesia. Dia cerita saat pertama kali kuliah di Universitas Chicago, professornya membawa cairan berwarna kekuning-kuningan yang dia klaim sebagai air kencingnya. Beliau menyiapkan air kencing tersebut untuk menyambut mahasiswa barunya. Dia meminta seluruh mahasiswa untuk mengikuti apa yang dia lakukan, yaitu dia menyelupkan jarinya dan kemudian menjilat jarinya. Lalu dia datangi setiap mahasiswanya dengan gelas tersebut. Setelah semuanya didatangi, beliau bercerita betapa kecewanya kepada para mahasiswa barunya, yaitu mereka tidak mampu melakukan pengamatan secara teliti. Beliau mengatakan bahwa dia menyelupkan jari telunjuk dan menjilat jari tengahnya. Kemudian beliau memberikan nasehat bahwa untuk mencapai kesuksesan, kuncinya adalah teliti dan akurat dalam pengamatan.
Demikian pula dengan Nabi Muhammad (s.a.w.) nabi akhir zaman, saat pertama kali menerima Wahyu, beliau diminta “iqra’” yang artinya membaca. Apanya yang dibaca, bukunya saja tidak ada. Berarti yang dibaca adalah alam semesta, Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Berarti membaca yang dimaksud adalah melakukan pengamatan alam dengan teliti dan akurat.
Dengan menjalankan nasehat untuk melakukan pengamatan dengan teliti, kita tidak perlu berprasangka aneh-aneh, gunakan pengamatan yang jujur. Data disebut valid kalau apa adanya dan tidak ditambahi atau dikurangi, dengan kata lain jangan berbohong.
Demikian pula dalam memahami makna suwung, bukankah suwung artinya kosong? Namun untuk apa ada istilah Jawa suwung atau kata lain seperti longan? Bukankah itu semua untuk menandai adanya yang gaib melalui keberadaan yang kasat mata? Suwung adalah simbol atas keberadaan sesuatu yang tidak kasat indra yang ditandai dengan adanya rumah yang bisa diindrai. Longan adalah keberadaan sesuatu yang ditandai dengan tempat tidur. Simple saja, just like that.
Namun kalau didalami, kita bisa menyebut suwung kalau ada rumahnya. Kalau tak ada rumahnya, kita tidak bisa menyebut suwung. Berarti keberadaan rumah itu menandai adanya yang suwung atau tidak kelihatan. Demikian pula dengan keberadaan alam, yaitu untuk menandai keberadaan Yang Gaib.
Yang manakah Yang Gaib itu? Ya ini. Yang sempurna tidak berubah, tunggal tiada duanya. Sudahkah kita mampu mengidentifikasi dengan pengertian bahwa adanya Yang Gaib, walau kita tidak bisa mengetahui-Nya?
Semakin dalam kita meneliti, barangkali akan timbul pertanyaan bagaimanakah proses perwujudan?
Memang pada kenyataannya ada tahapan proses kejadian hingga wujud materi terhampar di hadapan kita. Yaitu sebelum adanya meja, yang ada adalah ide tentang meja. Ide tersebut kemudian dituangkan dalam ilmu tentang meja sampai muncul gambar tentang meja. Selanjutnya meja dibuat.
Bukankah ide dan ilmu bagian dari suwung tersebut? Siapakah yang memberi ide yang kemudian kita tangkap dengan pikiran kita? Bolehkah saya menyebutnya dengan Yang Kuasa, karena kuasa memberi ide?
Demikian pula dengan diri kita. Adanya raga kita bukankah menandai adanya yang suwung dalam diri kita dan kita menyebutnya sebagai jiwa atau nafs? Apa yang bisa dilakukan dengan jiwa kita? Tidak ada. Namun dengan adanya kuasa yang diturunkan kepada kita, maka kita menjadi berkuasa. Paling tidak kepada diri kita sendiri.
Selain pengamatan, pada saat kita menarik kesimpulan upayakan mencapai kepastian, bukan sekedar dugaan. Kecuali kalau kita belum mampu mencapainya, namun janganlah terhenti di situ. Dugaan tetap harus diupayakan untuk dipastikan, melalui pengujian dengan fakta-fakta yang lain.
Semoga penjelasan ini membawa kepada pengertian bahkan kesadaran bahwa kita tidak bisa apa-apa. Semua adalah karena turunnya kewenangan yang dianugerahkan kepada kita. Jadi janganlah memerintah Yang Kuasa untuk memenuhi apa yang kita maui. Tetapi kerjakan dengan sungguh-sungguh sabda-Nya yang kita terima melalui pikiran kita agar terwujud di dunia ini sebagai tanda akan keberadaan-Nya. Dan selanjutnya bisa kita nikmati keberadaan tersebut menggunakan perasaan kita.
Bilamana ini bisa dimengerti dan disadari lalu menjadi sikap kita, maka suwung juga bisa ditempatkan dalam hati kita, yaitu kita tidak memiliki kecintaan kepada apapun, kecuali kepada Yang Kuasa tersebut bahkan terhadap dirinya sendiri. Dengan demikian, hatinya suwung akan barang-barang dunia. Bilamana ada orang yang bisa mencapai keadaan suwung ini, niscaya dia tidak ada rasa memiliki atas segala sesuatu. Yang ada semestinya adalah kesatuan antara dia dengan Yang Gaib. Kesatuan ini akan membuat suwung dalam dirinya, terasa dalam hatinya kosong, hampa, namun terasa penuh dengan kebahagiaan. Kepenuhan yang bukan karena memiliki isi alam.
Bagaimana mencapai maqam ini?
Telitilah wahyu Jagad Pitu yang sudah dijelaskan. Karena itu adalah sarana kita untuk mengerti dan sadar diri bahwa kita adalah manusia. Bahkan mengerti dan sadar bahwa kita adalah manusia yang berketuhanan. Dan kalau beruntung dianugerahi pemahaman, niscaya jalannya akan dimudahkan.
Bukankah melakukan sesuatu tanpa pengertian adalah orang ngawur atau jangan-jangan orang gila?
Jakarta, 31 Agustus 2019; 1 Muharram 1441

Senin, 04 Maret 2019

Membebaskan diri dari musibah

Kuasa adalah kemampuan melakukan. Jadi Kuasa harus mutlak, karena mutlak Kuasa harus tunggal tak ada duanya. Kuasa harus ada yang dikuasai, yaitu AkuNya. Dengan AkuNya inilah Kuasa berkarya.

Siapa yang diberi izin menggunakan kekuasaan-Nya pasti bahagia.

Namun Dia tersembunyi dan juga cinta dikenal. Jadi ada dua fitrah yang saling bertentangan. Bagaimana memahami hal ini? Dengan logika sederhana, maksudnya adalah agar hamba selalu berjuang dengan sungguh-sungguh untuk hadir kepada-Nya.

Bagaimana bisa hadir kepada-Nya? Padahal Dia tidak bertempat bahkan semua tempat menempati Dia. Bukankah Dia meliputi segala sesuatu?

Dengan adanya fitrah yang bertentangan inilah alam diciptakan, termasuk di dalamnya manusia. Manusia yang merupakan wakil (khalifah) Allah di bumi mestinya dianugerahi kekuasaan. Dengan kekuasaan yang diwenangkan, manusia mengambangkan peradaban. Semakin berkembang peradaban, kemampuan manusia semakin meningkat dan secara bersamaan peran Ilahi dinisbikan.
Peradaban didorong oleh keinginan mendapatkan kenikmatan. Berarti kenikmatan dan kekuasaan berbanding lurus, maksudnya barang siapa ingin mendapatkan kenikmatan, maka dia perlu kekuasaan. Dengan kata lain bersama Ilahi lah manusia memperoleh kenikmatan.
Dengan semakin majunya peradaban, peran Ilahi dinisbikan. Otomatis Kuasa telah ditarik oleh manusia ke alam dunia. Kenyataan yang terjadi adalah akan semakin banyak bencana alam.
Oleh karena itu ada dua peran manusia, yaitu sebagai utusan Yang Kuasa yang wajib selalu hadir melaporkan diri dan menjalankan peran sebagai khalifah, yaitu membangun peradaban. Kedua peran tersebut tidak bisa dipisahkan, sehingga manusia diharapkan sibuk membangun peradaban dalam bentuk Baitullah-Baitullah, bisa rumah, kekayaan, perusahaan, negara dan lain-lain, yang akan membuat manusia lain teringat akan Ilahi. Namun juga memiliki budaya ritual seperti syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji yang merupakan bentuk-bentuk pelaporan atas amanat yang ditunaikan.
Kelalaian atas peran ini akan membawa musibah.
Hadits Qudsy yang diriwayatkan oleh Muslim: Dari Abu Hurairah: Dia berkata bahwa Rasullulah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah berfirman, “Hai anak Adam! Aku sakit, mengapa kamu tidak menjenguk-Ku?”

Jawab anak Adam, “Wahai Rabb-ku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Rabb semesta alam?”

Allah Ta'ala berfirman, “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu kunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?”

“Hai, anak Adam! Aku minta makan kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?”

Jawab anak Adam, “Wahai Rabb-ku, Bagaimana mungkin aku memberi engkau makan, padahal Engkau Rabb semesta alam?”

Allah Ta'ala berfirman, “Apakah kamu tidak tahu, bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu seandainya kamu memberinya makan niscaya engkau mendapatkannya di sisi-Ku?”

“Hai, anak Adam! Aku minta minum kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?”

Jawab anak Adam. “Wahai Rabb-ku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau minum, padahal Engkau Rabb semesta alam?”

Allah Ta'ala menjawab, “Hamba-Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku.””

Dengan demikian ketika seseorang terkena musibah, sejatinya adalah akibat yang bersangkutan lalai untuk hadir ke hadirat Allah.

Oleh karena itu sebelum terkena musibah, laksanakan kedua peran kita sebagai manusia. Dalam budaya Islam terdapat istilah Istighfar yang merupakan salah satu budaya pelaporan. Melalui budaya pelaporan inilah musibah bisa dicegah. Hadits Qudsy yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (ra):

Dari Anas bin Malik (ra), dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda, “Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu berdoa dan mengharap hanya kepada-Ku, Aku memberi ampunan kepadamu terhadap apa yang ada padamu dan Aku tidak mempedulikannya.

Wahai anak Adam, seandainya dosamu sampai ke langit, kemudian kamu minta ampun kepada-Ku, maka Aku memberi ampunan kepadamu dan Aku tidak mempedulikannya.
Wahai anak Adam sesungguhnya apabila kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.”””

Jakarta, 19 Jul 2019; 16 Dzulhijjah 1440


Minggu, 10 Februari 2019

Moksa Dalam Islam


“Aku telah mendapatkan kemenangan dari Allah!”
Setelah perang Uhud, Rasulullah (saw) menikahi Zaynab (ra) putri Khuzaymah dari suku ‘Amir, janda dari ‘Ubaydah (ra) yang dikenal sebagai ibu kaum papa. Perkawinan ini mendekatkan Abu Bara’ dari suku ‘Amir kepada Rasulullah (saw). Ketika Islam diperkenalkan kepadanya, ia tidak menolaknya. Saat itu ia belum memeluk Islam, namun meminta agar beberapa orang muslim diutus untuk mendakwahkan Islam kepada seluruh warga sukunya. Rasulullah (saw) mengatakan bahwa beliau khawatir bahwa utusan beliau akan diserang oleh suku Ghatafan. Abu Bara’ sebagai kepala suku ‘Amir berjanji akan melindungi para utusan, maka Rasulullah (saw) mengutus empat puluh sahabat yang benar-benar mengenal Islam dan menunjuk Mundzir ibnu ‘Amr (ra) sebagai pemimpin. Di antara para utusan terdapat ‘Amir ibnu Fuhayrah (ra), bekas budak Abu Bakar (ra) yang dipilih menemaninya dan Nabi ketika hijrah dengan cara mengembalakan kambing di belakang perjalanan Rasulullah (saw) dan Abu Bakar (ra) untuk menghapus jejak.
Keponakan Abu Bara’ yang berambisi menggantikan kedudukannya sebagai kepala suku membunuh salah seorang sahabat yang diutus Rasulullah (saw) untuk mengantarkan surat kepada Abu Bara’. Abu Bara’ meminta warga sukunya agar menghentikan pembunuhan terhadap sahabat Rasulullah (saw) yang lain. Ketika warga suku ‘Amir ternyata lebih mematuhi Abu Bara’, sang keponakan yang frustasi menghasut dua kabilah dari suku Sulaym yang baru-baru ini terlibat permusuhan dengan Madinah. Mereka segera mengirim satu pasukan berkuda dan membantai habis semua utusan Rasulullah (saw) di dekat sumur Ma’unah, kecuali dua sahabat yang sedang memberi makan unta di padang rumput, yaitu Harits ibnu Simmah (ra) dan ‘Amr dari Dhamrah (ra), salah satu warga kabilah Kinanah.
Saat mereka berdua kembali dari padang rumput, mereka terkejut melihat banyak sekali burung bangkai terbang rendah di atas perkemahan mereka, seakan berada di suatu medan perang dimana pertempuran baru saja berakhir. Mereka melihat sahabat-sahabatnya terkapar wafat di atas genangan darah, sementara para penunggang kuda dari Bani Sulaym berdiri di dekat mereka asyik berbincang dan tidak menyadari kehadiran mereka berdua. Melihat pemandangan tersebut, ‘Amr hendak melarikan diri, namun Harits berkata, “Aku tak akan pernah mundur dari medan perang, dimana Mundzir telah wafat di atasnya.” Maka Harits segera maju menghadapi para penunggang kuda itu, menyerang dengan tangkas dan menewaskan dua orang sebelum akhirnya ia terkalahkan dan tertawan.
Anehnya para penunggang kuda tersebut nampaknya enggan membunuh atau membalas dendam, meskipun dua teman mereka telah tewas. Lalu mereka menanyakan apa yang diinginkan Harits dan ‘Amr dari mereka? Harits menjawab bahwa ia ingin tahu dimana mayat Mundzir dan meminta dilepaskan untuk bertarung dengan mereka. Mereka mengabulkan permintaannya dan ia berhasil membunuh dua musuhnya sebelum dia sendiri akhirnya terbunuh. ‘Amr dibebaskan dan mereka menyuruhnya memperkenalkan nama-nama sahabatnya yang telah wafat satu per satu. ‘Amr mengamati sahabat-sahabatnya satu per satu dan memperkenalkan mereka. Kemudian mereka menanyakan adakah sahabat ‘Amr yang tidak ditemukan di situ? “Aku tidak menemukan jasad ‘Amir ibnu Fuhayrah (ra) bekas budak Abu Bakar (ra),” jawabnya. “Apa kedudukannya di antara kalian?” tanya mereka. “Dia adalah orang yang terbaik di antara kami, salah seorang sahabat utama Rasulullah (saw)” jawab ‘Amr. “Maukah engkau mendengar cerita kami tentang dia?” Tanya mereka. Maka dipanggillah seorang pria bernama Jabbar yang mengaku telah membunuh ‘Amir. Jabbar bercerita bahwa dia telah menusuk ‘Amir dengan tombak dari belakang hingga tembus ke dadanya. Dan pada tarikan nafas terakhir, ia mengucapkan “Aku telah mendapatkan kemenangan dari Allah!” “Bagaimana mungkin ia mengatakan itu?” Pikir Jabbar yang merasa dirinya lebih berhak merasa menang. Dengan takjub dia mencabut tombaknya dan lebih takjub lagi, ketika dia menyaksikan tubuh ‘Amir terangkat ke atas oleh tangan-tangan gaib, terus naik ke atas langit, hingga tak terlihat lagi. Ketika dijelaskan oleh ‘Amir bahwa yang dimaksudkan ‘kemenangan dari Allah’ adalah surga, Jabbar langsung masuk Islam.
Setelah Rasulullah (saw) mendengar peristiwa itu, beliau mengatakan bahwa para malaikat telah mengangkat ‘Amir ke atas ‘Illiyun, yaitu surga tertinggi.[1]
Orang-orang Sulaym kembali ke suku mereka, dimana cerita tentang mukjizat itu terus diulang dan itu menjadi awal mereka untuk memeluk Islam.
Ini merupakan bukti sejarah bahwa moksa[2] pun ada dalam sejarah Islam. Oleh karena adalah wajar bilamana ada orang yang memiliki cita-cita dan berjuang dalam hidup untuk moksa. Kisah tentang ‘Amir ibnu Fuhayra (ra), perlu dijadikan referensi dalam menjalani kehidupan ini, meski tidak banyak dikisahkan tentang apa yang beliau amalkan.
‘Amir ibnu Fuhayra (ra) adalah salah seorang sahabat yang pertama kali masuk Islam. Sebelumnya beliau adalah budak Abu Bakar (ra). Pada saat Rasulullah (saw) melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Yastrib (Madinah) secara sembunyi-sembunyi, ‘Amir ibnu Fuhayra (ra) menggembalakan ternak Abu Bakar (ra) di belakang jejak Rasulullah (saw). Kemudian beliau menyediakan susu kambing segar untuk Rasulullah (saw) dan Abu Bakar (ra) setiap malam. Selanjutnya beliau bersegera kembali ke Mekkah sebelum matahari terbit. Ini beliau lakukan selama tiga hari berturut-turut dengan penuh kesungguhan. Selanjutnya Rasulullah (saw) dan Abu Bakar (ra) menyusuri pantai ke arah Yastrib dipandu oleh seseorang dari Bani Al Dayl ibnu Adiyy ditemani ‘Amir ibnu Fuhayrah.
Meski kita sekarang tahu bahwa moksa adalah suatu kenyataan hidup, namun apakah moksa merupakan puncak ibadah? Sedangkan pada kenyataannya, beberapa Nabi yang dijadikan teladan tidak moksa berdasarkan ayat-ayat berikut:
QS Al Ahzab 33 ayat 21: Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
QS An Nahl 16 ayat 120: Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan,
QS Al Mumtahanah 60 ayat 6: Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Kenapa jasad beliau-beliau ini tetap ada di bumi dan tidak dimoksakan oleh Allah?
Apakah karena beliau berdua, yaitu Nabi Muhammad (saw) dan Nabi Ibrahim (ra) adalah teladan umat manusia? Yang artinya apa yang dilakukan beliau bisa dicontoh oleh siapa saja. Ataukah ada (yoni) yang bermanfaat buat umat manusia untuk selalu mengingat Allah sebagai Tuhannya.
Sedangkan kemoksaan Nabi Isa (as) bisa jadi adalah permintaan Nabi Isa (as) sendiri untuk diberi kesempatan membersihkan namanya dari fitnah bahwa beliau adalah anak Allah. Dan juga untuk meredam fitnah Dajjal Al Masih yang akan membawa manusia menjauhi Allah melalui tawaran kemakmuran.
QS An Nisaa 4 ayat 156-158: Dan karena kekafiran mereka dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar, dank arena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Bilamana begitu, maka moksa kembalinya hamba kepada Tuhannya. Dalam Bahasa yang lebih awam, moksa adalah penyatuan kembali antara saya yang dikuasai dengan Kuasa itu sendiri. Padahal saya yang dikuasai dengan Kuasa sejatinya tidak pernah berpisah atau terpisahkan. Yang membedakan hanyalah persepsi pengertian, kesadaran, sikap dan laku saya yang dikuasai yang cenderung bahkan selalu semaunya sendiri dan makar kepada Kuasa atau menuhankan dirinya sendiri atau hawa nafsunya.
Bagi awam, Allah sudah mendidik kemoksaan melalui tahapan semedi, sholat atau sembahyang. Artinya dalam sholat ada upaya untuk mengembalikan diri atau saya atau yang dikuasai kepada Kuasa yang dikenal dengan Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan demikian siapa saja bisa moksa selama mau berjuang dan tentunya dengan rahmat Allah. Secara pengalaman, kerelaan Allah hanya turun kepada siapa-siapa yang betul-betul berniat lurus untuk kembali kepada Allah. Bukan mengharapkan surga yang penuh kenikmatan, apalagi membawa barang-barang dunia.
Biarlah aku hidup sendiri, selain dengan Allah Yang Maha Kuasa.
Kupejamkan mataku, kututup telingaku, yang ada hanya aku yang sedang bernafas. Pikiran dan rasa hidupku kusatukan dengan kepercayaanku yang aku sebut dengan nama Allah Yang Maha Kuasa.
Aku dihadirkan dalam kehidupan alam semesta, sesungguhnya untuk merasakan nikmat yang begitu luar biasa serta dapat aku baca betapa besar kekuasaan-Mu dan tak terukurkan bagi umat manusia seperti aku ini.
Kubaca kelahiran dan kematian di atas segala bentuk kehidupan ini. Sesungguhnya aku diberi kesempatan betapa nikmat dan bahagianya membaca bahwa Maha Kuasa Allah sangat mencintai kepada umat-Nya, khususnya bagi mereka yang memperoleh kecerahan (Mas Supranoto, Wijaya Chandra Loka, Manggisan Banyuwangi).


[1] Waqidi, rujukannya adalah edisi Marsden Jones dari Kitab Al Maghazi, seputar dakwah-dakwah Nabi, oleh Muhammad ibnu ‘Umar al-Waqidi [Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din, Muhammad – Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, PT Serambi Ilmu Semesta, 2010, hal 377 – 380.
[2] Pengertian Moksa menurut Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Dalam agama Hindu kita percaya adanya Panca Srada yaitu lima keyakinan yang terdiri dari, Brahman, Atman, Karma Pala, Reinkarnasi, dan Moksa. Moksa berasal dari bahasa sansekreta dari akar kata "MUC" yang artinya bebas atau membebaskan. Moksa dapat juga disebut dengan Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagian rohani yang langgeng. Jagaditha dapat juga disebut dengan Bukti artinya membina kebahagiaan, kemakmuran kehidupan masyarakat dan negara.
Jadi Moksa adalah suatu kepercayaan adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan brahman. Kalau orang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi) dan akan mengalami Sat, Cit, Ananda (kebenaran, kesadaran, kebahagian).
Dalam kehidupan kita saat ini juga dapat untuk mencapai moksa yang disebut dengan Jiwan Mukti (Moksa semasih hidup), bukan berarti moksa hanya dapat dicapai dan dirasakan setelah meninggal dunia, dalam kehidupan sekarangpun kita dapat merasakan moksa yaitu kebebasan asal persyaratan-persyaratan moksa dilakukan, jadi kita mencapai moksa tidak menunggu waktu sampai meninggal.

Rabu, 30 Januari 2019

NKRI adalah rahmat Allah Yang Maha Kuasa


Ini hanyalah opini warga yang awam tentang Tata Negara.

Preambule UUD 1945 merupakan Master Piece para leluhur pendiri negara. Barangkali karena keterbatasan informasi, tidak ada Preambule Undang-Undang negara yang sedemikian singkat namun tepat sasaran, kecuali Preambule UUD 1945. Oleh karena itu pantas diduga bahwa Preambule adalah suatu wangsit Tuhan yang diterima oleh para pendiri negara.

Dari wejangan bapak Mas Supranoto dari padepokan Wijaya Candra Loka di Manggisan Banyuwangi, kami menangkap makna Preambule yang sedemikian luar biasa. Belum pernah kami menerima wejangan perihal Preambule dengan sedemikian dalam bahkan Preambule ternyata bisa dipergunakan untuk merubah keadaan suatu wilayah, karena sedemikian kuat yoni[1] yang ada padanya.

Yoni adalah wilayah mistik, maka pendekatannya adalah dengan kepercayaan. Dengan kepercayaan bahwa adanya rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa dan adanya niat luhur manusianya, maka Preambule UUD 1945 ditanam di kota Tuban pada tahun 2008. Semenjak itu, Alhamdulillah, Tuban telah berkembang menjadi kota minyak dan gas dan kota industry yang tentunya membawa kepada kesejahteraan masyarakat di sekitarnya dan juga mendorong kepada masyarakat yang berbudaya secara cerdas.

Berikut penelaahan Preambule paragraph demi paragraph.

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Pada paragraf satu adalah pernyataan bahwa kemerdekaan itu universal. Berarti kemerdekaan adalah kehendak Tuhan. Kemerdekaan adalah kebebasan menentukan nasib sendiri. Setiap manusia diciptakan Tuhan adalah untuk menentukan nasibnya sendiri, berarti setiap orang adalah merdeka, tidak boleh dikuasai orang lain. Hak menentukan nasib sendiri itu lah yang dimaksud dengan peri-kemanusiaan. 

Manusia diciptakan oleh Tuhan, meski berbeda-beda tempat kelahirannya, namun memiliki hak hidup yang sama. Inilah yang disebut dengan peri-keadilan. Manusia harus menempatkan diri pada tempatnya, inilah salah satu makna peri-keadilan. Manusia juga memiliki hak yang setara dalam kehidupan. Yang akan membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain hanyalah perjuangannya. Bilamana hal ini dimengerti, maka penjajahan harus dihapuskan. Bentuk-bentuk penjajahan berbagai macam, namun bisa dikelompokkan dalam beberapa tindakan, yaitu represi, hegemoni dan dominasi.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Pada paragraph kedua, para pendiri negara menggambarkan secara singkat bahwa perjuangan rakyat Indonesia telah sampai pada pintu gerbang kemerdekaan dengan selamat, sentausa. Wujud dari kemerdekaan suatu bangsa adalah adanya persatuan bangsa, memiliki kedaulatan penuh dan berhak untuk mewujudkan cita-citanya, yaitu adil dan makmur. Dengan selamat sentausa artinya berhasil terbebas dari kesukaran dan bencana. Bukankah setiap orang ingin selamat sentausa? Agar orang bisa selamat, maka harus mengerti, harus mampu dan harus mau/ingin. Tinggal menunggu kepastian dari Tuhan melalui rahmat-Nya, berupa kekuasaan. Pernyataan ini secara tersirat menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang takabur, tapi bangsa yang bertuhan.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Pada proses perwujudan, suatu cita-cita harus dinyatakan. Hal ini ditegaskan pada paragraf ketiga, yaitu atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Allah adalah sebutan termulia untuk Tuhan. Sedangkan Yang Maha Kuasa adalah untuk kemampuan mewujudkan segala sesuatu. Tanpa kuasa, segala sesuatu tidak akan terwujud. Demikian pula segala sesuatu terwujud melalui pintu keinginan yang dilandasi dengan kepercayaan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Apalagi dengan keinginan yang bersifat luhur, yang harusnya dimaknai bahwa keinginan bangsa Indonesia adalah untuk melaksanakan kehendak atau cita Tuhan.

Proses perwujudan cita Tuhan harus diawali dari percaya kepada Tuhan. Selanjutnya dengan kepercayaan tersebut dinyatakan, yaitu melalui Proklamasi 17 Agustus 1945, sehingga terbentuklah suatu negara yang merdeka dan berdaulat. Begitu pernyataan diumumkan, tentunya akan ada perlawanan. Namun dengan tekad akan percaya kepada Tuhan dan cita-cita luhur tersebut, maka kemerdekaan yang sudah dinyatakan harus dipertahankan dan cita-cita harus diwujudkan.

Kalau belajar dari sejarah, ketika Tuhan berkehendak membangun jalur transportasi di pantura Jawa, namun bangsa Indonesia yang saat itu dikuasai Belanda seolah tidak mau menjalankan kehendak Tuhan, sehingga melalui ide penjajah dibangunlah jalan Anyer hingga Panarukan yang menelan korban ratusan ribu orang Indonesia. Jadi keinginan luhur berarti berasal dari Tuhan bukan dari hawa nafsu dan kalau tidak dilaksanakan, maka ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh yang dianugerahi keinginan tersebut, baik individu maupun kelompok.

Kenyataannya memang bahwa dalam setiap proses perwujudan selalu diawali dengan pro (+) & kontra (-). Namun dengan proses kebulatan tekad untuk mengambil keputusan, maka cita-cita luhur tersebut bisa diwujudkan. Proses pengambilan keputusan dan adanya cita-cita ini menyadarkan kita bahwa dibalik (+) & (-) harus ada kuasa lebih, yaitu pengambil keputusan demi terwujudnya cita.

Cita kalau tidak melalui pintu kepercayaan, maka hanya akan menjadi angan-angan. Dengan demikian kepercayaan adalah awal dari segala perwujudan.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebagsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kenapa untuk mewujudkan kemerdekaan, harus membentuk Negara? Karena melalui negaralah, rakyat akan memperoleh kenikmatan/kebahagiaan. Negara untuk rakyat, bukan rakyat untuk Negara. Semua yang tercipta ini adalah untuk manusia. Namun manusia sebagai penghuni Negara tersebut juga wajib untuk merawat dan memakmurkan Negara dan bangsanya. Jadi ada timbal balik, mengingat Negara adalah rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan jangan dipandang hanya dari satu sisi, apa yang telah kamu berikan untuk negaramu? Negara adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Namun mengingat rakyat itu jumlahnya banyak, maka perlu lembaga yang merupakan kepanjangan tangan rakyat untuk memegang kekuasaan tertinggi, yaitu Majelis Permusyawaratan rakyat (MPR). Sehingga semestinya pemilihan anggota MPR adalah langsung oleh rakyat, bukan melalui partai politik.

MPR sebagai pemegang mandat kekuasaan tertinggi harus menetapkan Undang-Undang Dasar dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang akan menjadi panduan pelaksanaan pemerintahan. Sayangnya oleh orang-orang yang lemah pengertian, peran MPR dipinggirkan. Salah-seleh!

Dalam rangka pelaksanaan pemerintahan untuk mewujudkan cita-cita negara, MPR membagi kekuasaan pelaksana menjadi tiga, yaitu Legislatif oleh DPR, Eksekutif oleh Pemerintah dan Yudikatif oleh MA. Pembagian ini seperti konsep dewa Hindu dengan Trimurti, yaitu Brahma-Legislatif, Wisnu-Eksekutif & Syiwa-Yudikatif? Ataukah barangkali mengadopsi konsep Islam dengan Rabbinaas, Malikinnaas & Ilahinnaas? Ataukah meniru model atom, yaitu neutron-yudikatif, proton-legislatif dan electron-eksekutif? Pembagian kekuasaan kepada ketiga lembaga ini agar terjadi keseimbangan dan jangan sampai salah satu pemegang mandat menguasai yang lainnya.

Sekarang individu-individu melalui partai politik berupaya menguasai negara melalui demokrasi, sehingga kekuasaan rakyat yang dimandatkan bergeser ke ketua-ketua partai politik. Salah-seleh!

Sebagai pelaksana kekuasaan, DPR, Presiden dan MA secara bersama dalam kewenangan masing-masing wajib menjalankan cita-cita yang tertuang dalam Preambule. Dalam peran Negara sebagai pelindung, DPR membuat undang-undang tentang perlindungan negara dan warga negara yang diturunkan dari pasal-pasal UUD 1945 tentang Pertahanan & Keamanan, Pemerintah wajib melaksanakannya dan MA memastikan kalau terjadi konflik, sebagai lembaga penyelesai.

Dalam upaya mewujudkan kesejahteraan negara & warga negara, DPR dengan acuan pasal-pasal dalam UUD 1945 tentang Perekonomian Nasional & Kesejahteraan Sosial menyusun Undang-undang yang wajib dilaksanakan Pemerintah. MA dengan kekuasaan yang dimiliki mengelola konflik perekonomian nasional dan kesejahteraan social secara adil dan beradab.

Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, DPR menyusun Undang-undang tentang pendidikan nasional berdasarkan pasal-pasal dalam UUD 1945 tentang Pendidikan & Kebudayaan yang dilaksanakan oleh Pemerintah. Pendidikan akan menghasilkan rakyat yang cerdas dan kuat, sehingga bisa menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi dan memiliki ketahanan mental dalam setiap keadaan, termasuk keadaan darurat. Kunci keberhasilan suatu lembaga terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Ini harusnya menjadi prioritas utama.

Setelah ketiga cita-cita utama tercapai, baru NKRI terlibat dalam menjaga ketertiban dunia.

Pelaksanaan atas upaya mewujudkan cita-cita adalah dengan berdasarkan kepada Pancasila.

Ini semua wajib dilaksanakan oleh semua pemangku kepentingan. Terutama para aparatur negara sebagai pelaksana amanat, apakah sudah menjalankan tugasnya ataukah mereka mengikuti kemauannya hingga kesetanan? Salah-seleh!

Jakarta, 29 Januari 2018

[1] Yoni berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti tempat untuk melahirkan

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...