Rabu, 20 April 2022

Ruh

Pelajaran apa yang diberikan bapak kemarin, dik?

Gak ada yang baru, om. Hanya pendalaman perihal sangkan paran.

Bagaimana penjelasan sangkan paran itu?

Raga berasal dari alam, kembali ke alam.

Kalau begitu, kemana jiwa, ruh dan daya & kemampuannya pergi setelah seseorang mati?

Menurut bapak, ya itu tergantung pada wataknya. Jika wataknya adalah binatang, ia masuk ke alam binatang, tetapi jika wataknya adalah manusia, ia menjadi manusia lagi. Karena pada makhluk hidup ada ruh, pada hewan ada ruh binatang, pada tumbuhan ada ruh tumbuhan dan pada manusia ada ruh manusia. Perpindahan ruh saat kematian tergantung pada wataknya disebut reinkarnasi.

Waduh, saya tidak bisa menerima pendapat itu, karena referensi yang saya baca berbeda. Misalnya, dalam Injil Barnabas, Yesus putra Maryam (a.s.) menyangkal keberadaan ruh tumbuhan, ruh binatang dan ruh manusia. Ruh itu hanya satu, berkaitan dengan akal dan ilmu. Yang dengan dihembuskannya ruh pada seseorang, maka Iblis pun diminta bersujud.

Pendapat perihal adanya ruh tumbuhan, ruh hewan dan ruh manusia banyak dianut orang bahkan ulama Islam, seolah ruh itu daya hidup. Bukankah tanpa ruh, makhluk hidup tidak bisa hidup? Maka muncul teori reinkarnasi yang didasarkan atas watak sesosok makhluk ketika hidup. Memangnya ada tumbuhan yang berwatak hewan atau hewan yang berwatak manusia? Ketika ada pendapat perihal reinkarnasi, maka muncul pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab atas tindakan siapa, tumbuhan, hewan atau manusia? Mana bukti reinkarnasi, kenapa hanya orang-orang tertentu yang mengaku-ngaku?

Perihal orang mengaku bahwa dulu dia pernah menjadi si anu, itu bisa jadi faktor DNA raganya yang mungkin masih leluhurnya. Karena DNA membawa memori.

Saya juga tidak faham. Menurut om, bagaimana?

Menurut pendapat saya, itu tergantung pada beberapa pemahaman tentang manusia. Manusia dipahami dengan pengamatan diri. Observasi diri menurut saya, manusia terdiri dari 4 hal, yaitu jiwa yang menyebut dengan saya atau aku, raga manifestasi yang terlihat, daya & kemampuan anugerah Yang Maha Kuasa dan ruh. Jiwa yang awalnya berupa cita, lalu disabda turun dan tercipta dengan wadah raga di alam dunia. Perihal daya dan kemampuan yang dimiliki raga, dianugerahkan sesuai dengan pertumbuhannya. Perihal ruh, menurut hemat saya, dengan mengacu pada Injil Barnabas, Al-Qur'an dan Hadits serta realitas, ruh dihembuskan ke dalam raga saat masih dalam kandungan ibu pada usia 120 hari, yang ditandai dengan pernapasan aktif. Pada saat itu hati atau jantung sudah aktif. Buktinya kurang dari usia 120 hari, aktifitasnya sudah bisa dideteksi dengan USG. Jika ruh ada dalam jantung atau paru-paru, maka kedua organ manusia tersebut tidak bisa ditransplantasikan. Kenyataannya kan bisa, walau tidak berumur lama. Bayi manusia mulai memiliki daya dan kemampuan seiring dengan pertumbuhan raganya. Saat hati / jantung sudah sempurna sang bayi sudah memiliki penilaian hati a5'’ dan keinginan hati a6'’, dengan bukti fenomena ibu-ibu ngidam atau kemauannya akibat dorongan / gawan dari sang bayi. Setelah ruh dihembuskan, sang bayi mulai bernafas dan aktif bergerak a5’ meski dalam kandungan. Begitu lahir, ia mulai mendengar dan melihat a5’. Hal ini membuktikan bahwa fungsi sensorik dan motorik a5’ menjadi sempurna. Di usia 3 tahun mulai bisa mengingat, berarti memori a5''' aktif, di usia 5 tahun mulai sadar diri, menyebut dirinya dengan saya atau aku, yaitu pengertian a6''’ aktif. Usia 7, akal a7''’ aktif. Dalam hal ini, seolah peran ruh berhubungan dengan raga a5 dan otak a7, serta bukan dengan hati a6.

Dengan pendapat itu, bagaimana jalan orang mati itu?

Orang mati adalah ketika jiwa meninggalkan raganya dan dilanjutkan dengan kembalinya ruh kepada Ilahi bersama dengan daya dan kemampuannya? Jiwanya akan ditunjukkan raport kehidupannya sebelum dikembalikan ke raganya di kuburan. Meski dikembalikan, namun tersekat (barzakh). Itu berarti jiwa orang mati hidup di dunia yang gelap dan dingin dan mungkin menyaksikan raganya dihancurkan menjadi tanah. Alam kematian bisa jadi alam memori, karena kita mengenang eksistensi almarhum dalam memori a5’’’ kita.

Jika ruh dikaitkan dengan kehidupan, berarti ruh adalah kekuatan hidup. Kalau begitu ruh ada pada tumbuhan, hewan dan manusia, kan om? Padahal tidak seperti itu, bagaimana penjelasannya supaya makin bisa difahami?

Bukankah para malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam (a.s.). Semua bersedia bersujud, tetapi Iblis menolak. Nah kalau ruh adalah daya hidup, berarti ada pada semua makhluk hidup, mestinya Iblis juga bersujud kepada tumbuhan, hewan dan manusia semisal Homo Erectus. Bukan hanya kepada Nabi Adam (a.s.) saja. Jadi siapa pun yang tidak ingin mau menggunakan akalnya akan dicap bukan manusia atau tersesat, bahkan dimurkai Allah. Bukankah dengan kemampuan ilmu dan akal, manusia bisa mengembangkan peradaban yang tidak bisa dilakukan makhluk lain, meski itu dari golongan jin maupun malaikat? Peradaban itu terwujud karena tingkat kepercayaan seseorang dalam upaya mewujudkan cita-citanya. Maka orang yang percaya hingga yaqin itu karena ada penguatan dari ruhnya, hingga dia bisa mewujudkan yang kata awam impossible (QS Al Mujadilah 58 ayat 22). Sampai akhirnya ada manusia yang mengaku sebagai tuhan.

=============================================================

Mutiara Papahan, 20 Apr 2022; 17 Ramadhan 1443


Senin, 14 Maret 2022

Pengadaan - Pendekatan - Penghadiran Ke Hadirat Ilahi

Seharusnya setiap orang bisa memastikan bahwa Ilahi itu ada, melalui kenyataan yang terbeber di alam semesta ini. Kemudian kita berusaha mereka-reka akan wujud-Nya, namun kita tidak bisa menemukan-Nya, sehingga Dia disebut sebagai Yang Ghaib. Keberadaan setiap wujud yang ada di alam yang bisa kita indrai, juga ada dalam memori kita. Keberadaan wujud ini disebut pengetahuan pasti atau A8 atau ‘ainul yaqin, kita tidak bisa menyaksikan wujud-Nya. Yang bisa dilakukan hanyalah menandai dengan sebutan Ilahi. Karena Dia yang menggelar alam semesta ini, pasti Kuasa [Kemampuan melakukan apa saja]. Karena Dia Ghaib, maka hanya melalui pintu kepercayaan/keyakinan lah kita mengakui keberadaan-Nya. Sikap menyadari dan mengakui keberadaan Ilahi, kita sebut sebagai pengadaan.

Selanjutnya kita pun mempertanyakan tentang siapa diri kita dan apa hubungannya dengan Allah Yang Maha Kuasa?

Bukankah Kuasa tidak mungkin dikuasai? Sehingga pasti Dia menguasai DiriNya. Kesatuan Kuasa dengan DiriNya yang tak terpisahkan kita sebut sebagai Yang Maha Kuasa. QS Thaha 20 ayat 14: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah kecuali Aku, maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah Sholat untuk mengingat Aku.” Tegas Dia menyebut DiriNya dengan Allah. Bagi yang tidak mengenal Qur’an, hanya bisa memberikan sebutan Yang Maha Kuasa. Tentunya diri kita merupakan “percikan” dari DiriNya, yaitu sama-sama terkuasai. Setelah mengerti bahwa diri sejatinya adalah yang terkuasai, diharapkan tumbuh kesadaran diri bahwa kita hanyalah hamba Allah. itulah kenapa kita harus berani menerima kenyataan ini dan bersedia mengabdi kepada Allah. Ini harus dilatih untuk disikapi!

Sebagai hamba yang dikuasai Allah, sudah sewajarnya kita berupaya untuk mendekat kepada-Nya. Untuk bisa mendekat, tentunya dari sudut pandang kita sebagai hamba yang dikuasai adalah dengan berupaya mengenal-Nya. Sayangnya manusia memiliki “cacat”, yaitu apapun yang dikenalnya, akan dikuasainya. Contohnya adalah apa yang terbeber di alam ini berupaya untuk dikenal manusia dan ujungnya adalah penguasaan alam oleh manusia. Tentunya hal ini bertentangan dengan dorongan untuk mengenal agar bisa mendekat sebagai seorang hamba, bukan pelaku makar (ingin menguasai).

Pengenalan yang salah perihal Tuhan, dalam sejarah telah membuat manusia semakin jauh dari Tuhan. Sejarah telah mencatat adanya pembuatan patung-patung atau benda-benda yang dianggap sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Keadaan ini kemudian diikuti oleh orang-orang kemudian yang tidak mau mengerti yang akhirnya menjadikan patung dan wujud-wujud lain sebagai Tuhannya. Ketika patung-patung mulai disingkirkan dari penyembahan manusia, hasilnya adalah keberanian orang-orang untuk mengatas-namakan Tuhan dalam tindakannya. Bahkan sekarang muncul teori hingga menjadi kepercayaan bahwa suatu ketika, individu manusia akan bisa menjadi Tuhan. Ini menjauhi fitrah bahwa diri adalah yang dikuasai, bukan yang menguasai. Ingat Kuasa tidak mungkin dikuasai. Inilah puncak fitnah.

Strategi dan cara yang tepat akan membawa kepada keberhasilan, demikian sebaliknya. Supaya kita tidak salah sehingga tersesat atau bahkan bisa dimurkai, maka harus selalu berbasis kepada kenyataan dan kepastian keilmuan serta dibuktikan dalam kenyataan lagi. Pandangan yang berdasarkan atas fakta dan keilmuan ini yang dimaksud dengan Bashirah dalam QS Yusuf [12]: 108: Katakanlah, “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan Bashirah (pandangan). Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”.

Kalau pengetahuan ini bisa diolah menjadi pengertian dan bisa diturunkan ke dalam diri, sehingga menjadi sikap, insya Allah dada kita akan terbuka. QS Az Zumar [39]: 22: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah dadanya untuk menerima Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhan-nya? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu dadanya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Kita sudah memastikan bahwa Allah itu Kuasa, tunggal tiada dua-Nya, mutlak, sempurna. Tentunya Dia tidak bisa dimengerti apalagi dikuasai. Berarti Dia berada di wilayah yang tidak diketahui atau mistik atau klenik atau A10. Karena tidak diketahui, tentunya di alam dunia tidak bisa diraba-raba menggunakan sensorik dan motorik a5’, tidak bisa dirasa-rasa dengan perasaan a5’’ dan tidak bisa diimajinasikan dengan memori a5’’’. Namun kita bisa membangkitkan ambisi dengan kemauan a6’’ untuk bertemu dengan Dia, namun pengertian a6’’’ mengingatkan bahwa pertemuan bisa terjadi hanya bilamana Dia bersedia. Akal a7’’’ pun buntu untuk memberikan strategi dan cara, kecuali hanya bisa menyarankan untuk berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, yang tidak bisa kita identifikasikan sambil berharap keberuntungan. QS al-Maidah [5]: 35: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah (menjaga diri dari yang membahayakan) kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (bersungguh-sungguh) pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.''  Salah satu perintah Allah pada ayat di atas adalah untuk mencari jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, yang diistilahkan dengan Taqarrub-Ilallah. Perintah Taqarrub-Ilallah juga terdapat pada QS al-Alaq [96] : 19: "…. dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)."

Posisi sujud adalah melatih diri untuk berserah hingga emosi diri menyatu dengan perasaan dan ambisi diri menyatu dengan kehendak Ilahi dengan menumbuhkan cinta yang dalam (syaghafaha hubban), hingga dikuatkan. QS Al Mujadilah [58]: 22: …. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan hingga ke dalam qalbu mereka dan menguatkan mereka dengan ruh dari-Nya. …. Cara pendekatan dengan bersujud sembari menumbuhkan cinta yang dalam kepada Allah hingga diperkuat dengan RuhNya tidak perlu dipermasalahkan atau dipersulit. Kerjakan saja! Bukankah Allah berfirman pada hadis Qudsi, ''Apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Meski tidak perlu dipermasalahkan atau dipersulit, namun berhubung Allah adalah Ghaib, tentunya menimbulkan pertanyaan bagaimana cara bersujud kepada-Nya?

Bukankah Kuasa itu sempurna? Dari dulu, sekarang bahkan nanti tetap tidak berubah. Tidak laki-laki, tidak perempuan. Bisakah kita mengerti dan menyadari adanya keberadaan yang seperti itu? Itulah Allah. Inilah Allah.

Jangan sampai lupa menyebut AsmaNya dalam bersujud dan dalam setiap keadaan. Ingat akan bahaya ketersesatan bahkan dimurkai! QS Az Zukhruf [43]: 36: Barangsiapa berpaling dari ingat (dzikri) Yang Maha Pemurah (Ar Rahman), Kami adakan baginya syaitan, maka syaitan itulah teman yang selalu menyertainya.

Dalam kehidupan sehari-hari, cara mendekatkan diri adalah dengan menafkahkan apa yang kita miliki. Infaq maknanya adalah mengeluarkan sesuatu untuk suatu kepentingan. Sehingga bisa dimaknai apa saja, bisa harta, ilmu, tenaga, dan lain-lain. QS At Taubah [9]: 99: Di antara orang-orang Arab itu ada orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya itu sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bagaimana penjelasannya?

Setiap individu pasti pernah menangkap ide/cita-cita. Bukankah ide berasal dari Yang Gaib, yang tidak kita ketahui? Ketika kita terima, bukankah kita disuruh melaksanakan? Berarti kita adalah utusan dan ide itu adalah Kitab. Sedangkan yang menyampaikan ide dari Yang Gaib tersebut kepada kita bisa disebut sebagai malaikat. Untuk mewujudkannya, kita sebagai utusan wajib percaya bahwa itu adalah ketentuan Yang Gaib dan upaya kita sebagai pelaksana akan menentukan berhasil atau tidak, termasuk kualitas keberhasilannya. Bukankah ini Rukun Iman?

Sebagai yang diutus mewujudkan ide, tentunya kita harus bersaksi atas ada-Nya Yang Kuasa memberi ide dan kita mengakui sebagai pelaksananya. Dalam hal agama Islam, Nabi Muhammad saw adalah yang menangkap ide dan sebagai pelaksananya. Dalam proses mewujudkan ide, harus menggunakan strategi dan cara. Itu adalah orang yang cerdas, sehingga potensi kegagalan boleh dibilang ‘nol’. Orang cerdas adalah orang yang mengetahui dirinya dan sarana hidupnya dan bisa memanfaatkannya. Untuk mewujudkan ide, kita perlu modal, yaitu pengorbanan diri, harta, waktu dan lain-lain. Dalam proses perwujudan, akan kita hadapi halangan, tantangan, rintangan, cobaan dan lain-lain. Tanpa kekhusyuan dan ketahanan dalam perjuangan sulit ide tersebut kita wujudkan. Bisa-bisa di tengah jalan berubah pikiran, sehingga tidak terwujud. Namun saat ide tersebut terwujud, bisakah kita menyadari bahwa itulah tempat pertemuan kita dengan Yang Maha Kuasa, Yang Gaib? Haji adalah arafah. Arafah itu bermakna mengetahui, mengenal, menyadari. Latihlah untuk menyadari bahwa dimana pun kita berada, kita sedang bersama-Nya. Mirip dengan Rukun Islam kah?

Tentunya amal ibadah kita targetnya adalah menyaksikan Allah (Ihsan). Pun kalau belum bisa menyaksikan, percayalah bahwa Dia melihat kita.

QS al-Kahfi [18]: 110: "Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa.” Maka, barang siapa mengharap pertemuan dengan Ilah-nya maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih (terhindar dari keburukan/kerusakan) dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Ilah-nya."

Rasulullah SAW mengajarkan doa, "Wahai Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah pada akhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal penutupnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku bertemu dengan-Mu." (HR Thabrani).

 

Papahan, 10 Februari 2022; 9 Rajab 1443 H

Sabtu, 18 Desember 2021

Hidup Sesudah Mati

Kebanyakan manusia tidak menyadari bahkan tidak percaya bahwa hidup di alam dunia sejatinya adalah hidup dalam neraka api.

Adalah fakta ilmiah bahwa alam dunia berasal dari keadaan tunggal yang sangat panas. Adalah fakta juga bahwa batuan atau tulang atau kayu bilamana saling digosokkan akan menghasilkan panas bahkan api. Dengan demikian, maka alam dunia sejatinya adalah berasal dari api yang memiliki sifat panas dan terang. Panas bisa dipandang sebagai sarana menghukum atau mematangkan. Sedangkan terang untuk menjelaskan.

Namun kenapa disebut dengan neraka?

Bukankah kenyataannya manusia itu sedang dimasak/digembleng menuju kepada kedewasaan atau kesempurnaan hidup? Jadi neraka disini yang dimaksud adalah tempat untuk mematangkan manusia agar tercerahkan.

Manusia dididik dari tidak mampu, menjadi mampu. Dididik dari tidak tahu menjadi tahu. Dididik dari tidak mau menjadi mau. Sejatinya dididik untuk menyadari akan adanya Yang Kuasa dan menyadari siapa dan apa perannya serta menjalaninya.

Di alam dunia, manusia masih diberi kesempatan untuk melakukan koreksi dan perbaikan atas apa yang telah dijalaninya.

Wahai manusia, ketahuilah dan sadarlah, mumpung masih hidup di alam dunia!

Setelah menjalani kehidupan di alam dunia, diri manusia akan memasuki alam kubur. Dirinya akan dipisahkan dengan raganya yang berasal dari alam api. Maka manusia selanjutnya akan memasuki alam yang tidak ada apinya, alias alam dingin dan gelap. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Kita yang masih hidup di alam dunia hanya bisa menduga-duga atau menebak-nebak.

Namun yang pasti, bagi manusia, hidup di alam yang dingin dan gelap adalah tidak mengenakkan. Selama masih mengalami ketidak-enakan hidup, maka manusia berada dalam neraka untuk dididik menjadi lebih baik lagi.

Kira-kira dengan cara bagaimana diri manusia dididik di alam dingin dan gelap? Bukankah tubuh, hati dan otaknya sudah hancur? Artinya sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Mungkin hanya tinggal kesadaran dirinya yang terpenjara dalam gelap dan dingin atau tercerahkan. Raganya sudah tidak berfungsi, sehingga barangkali dirinya menderita atau bahagia dalam alam gelap dan dingin.

Sebagian orang berpendapat bahkan mempercayai bahwa mereka akan mengalami reinkarnasi. Namun karena kami tidak pernah mendapatkan bukti yang sifatnya umum atau universal, maka pendapat tersebut sulit untuk bisa diterima. Bahasa kerennya tidak ada kehidupan recycle atau reciprocal, yang ada adalah kehidupan serial.

Pendapat bahwa kehidupan berlangsung secara serial dikuatkan dengan kenyataan bahwa dalam pengetahuan manusia terdapat tiga (3) kepastian, yaitu pengetahuan pasti atau ilmu katon, pengetahuan kira-kira atau ilmu karang dan pengetahuan yang tidak diketahui atau ilmu klenik. Kehidupan alam dunia adalah pengetahuan pasti. Sedangkan kehidupan di alam kubur adalah pengetahuan kira-kira. Berarti akan ada kehidupan di alam yang tidak bisa diketahui dan dikira-kira. Konon disebut dengan alam padang Mahsyar.

Apa yang terjadi pada kehidupan di padang Mahsyar? Kita tidak tahu.

Perihal adanya ketiga alam yang akan dijalani manusia sebagai proses pendidikan ternyata telah dijelaskan dalam kitab Injil Barnabas dan Durratun Nasihin karya Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Al Khaubawi.

Wahai manusia, sadarilah dan renungkanlah apa yang sudah kita persiapkan sebelum menjumpai keadaan final yang abadi yang tidak mungkin lagi ada koreksi!?

 

Mojosongo, 11 Desember 2021 / 7 Jumadil Awal 1443

Rabu, 01 Desember 2021

Perkenalan Dengan Tuhan

Kita mengawali hidup dengan cara yang tidak sama dan juga berasal dari tempat yang berbeda-beda. Tentunya dengan basis yang tidak sama, maka awal kita mengenal Tuhan pun juga dengan cara berbeda-beda. Perbedaan adalah fitrah, tidak perlu dipersoalkan. Yang tidak fitrah adalah ketika kita berupaya melakukan penyeragaman. Inilah watak komunal. Entah apa tujuannya? Namun dugaan saya hanyalah kebutuhan akan pengakuan atas eksistensinya. Demikian pula dengan pengenalan kita akan Tuhan.

Saya sendiri mengawali pengenalan akan Tuhan dari orang tua, dimana bapak saya menyebutnya dengan Allah ingkang Moho Luhur. Dan kepada-Nya saya diajarkan menghadap mengharap perlindungan-Nya. Sehingga dalam setiap keadaan, saya terbiasa untuk meminta pertolongan-Nya. Alhamdulillah, saya tidak pernah tidak mampu menghadapi kesulitan dalam hidup. Sebagai dampaknya adalah adanya ketakutan bahwa Dia akan menjauh kalau saya berbuat salah. Dengan berjalannya waktu, keinginan saya pun semakin banyak dan Alhamdulillah semuanya terwujud berkat pertolongan-Nya. Meskipun saya juga semakin banyak berbuat salah dan dosa.

Jadi pada awalnya saya menganggap Tuhan adalah pengabul segala keinginan saya dan pengampun kalau saya salah dan berdosa.

Lalu saya mempelajari Islam, terutama melalui biografi para tokoh, terutama Nabi Muhammad (saw), para sahabat dan para tokoh dari aliran sufi. Ibadah syariah saya semakin membaik, kedekatan saya kepada Tuhan juga semakin membaik, yaitu hanya sibuk menjalankan sholat, puasa dan mengaji Kitab secara otodidak. Namun saya senang menghadiri pengajian, terutama pengajian yang membuat saya semakin tercerahkan.

Suatu ketika perusahaan tempat saya bekerja mengalami masalah dan kami lebih banyak memiliki waktu luang. Saya pun tenggelam dalam buku-buku agama bahkan pernah menangis tersujud saat membaca Kitab Hadits. Saat itu saya kebingungan dan bertanya kenapa saya menangis?

Selanjutnya saya menjalani patrap bersama dengan para sahabat. Saya bisa menikmati perjalanan tersebut, namun saya selalu digelitik dengan pertanyaan apakah seperti itu? Seolah apa yang sudah saya jalani belum mendapatkan kepastian, sehingga selalu muncul pertanyaan tanpa mengerti akan jawabannya.

Banyak dari para sahabat saya yang tidak mengerti dalam menjalankan laku Patrap berujung kepada pencarian kesaktian bahkan sampai ada yang kesurupan. Para pemikir susah menjalankan Patrap, namun para pengguna perasaan sangat mudah tersentuh. Kondisi ini membawa kepada kesimpulan bahwa berketuhanan haruslah dengan hati dan pikiran tidak akan mampu menjangkau Tuhan. Ternyata dikhotomi hati dan pikiran ini telah berlangsung semenjak manusia ada di muka bumi.

Saat semua ilmu Patrap telah disampaikan kepada kami dan kami sudah dinyatakan sebagai satu-satunya kelompok yang telah lulus, kami juga menekuni pelajaran ketuhanan secara rasional, yaitu dengan rumus, yaitu Rumus A. Rumus A ini merupakan temuan dari bapak Mas Supranoto yang merupakan kakak dari Haji Slamet Utomo yang mengajarkan Patrap, namun berbeda ibu.

Setelah belajar Rumus A, kebetulan saya yang dinyatakan sebagai orang pertama yang dianggap telah mengerti dan lulus bab Pendahuluan perihal Ketuhanan.

Patrap lebih mengedepankan hati, namun hati itu apa? Bisakah Tuhan dirasakan dengan hati kita?

Rumus A lebih mengedepankan pikiran, namun pikiran itu apa? Bisakah pikiran menjangkau Tuhan?

Menjawab pertanyaan tersebut, susah-susah gampang. Karena tergantung kepada siapa yang bertanya. Ada yang bertanya karena ingin mengetahui, ada yang bertanya karena ingin mengerti, ada yang bertanya karena ingin mengkonfirmasi, dan lain-lain. Namun saya akan menjawab berdasarkan apa yang saya ketahui dan mengerti, syukur-syukur sudah saya buktikan.

Hati adalah singgasana diri dan konon juga singgasana Tuhan. Hati dilengkapi dengan perasaan dan kemauan. Karena hati adalah singgasana diri dan diri adalah yang dikuasai, maka fitrahnya adalah memiliki emosi/ghodhob dan ambisi/syahwat. Di sini terjadi percampuran antara emosi dengan perasaan dan ambisi dengan kemauan, sehingga sulit untuk membedakan. Tuhan adalah Kuasa, perasaan dan kemauan adalah bentuk-bentuk kekuasaan. Sedangkan ambisi dan emosi adalah fitrah atau bawaan dari yang dikuasai. Hati yang dimaksud adalah jantung, maka perhatikanlah orang-orang yang melakukan transplantasi jantung.

Sebelum membahas pikiran, kita perlu membahas raga. Karena sedemikian banyak orang salah kaprah akibat tidak bisa membedakan/mengidentifikasikan. Raga adalah bentuk materi dari diri yang terdiri atas tulang, daging, darah, syaraf dan lain-lain. Pada raga terdapat Kuasa, yaitu selain daya adalah kemampuan sensorik dan motorik, diantaranya adalah mendengar, melihat, membau, mengecap dan merasakan serta kemampuan gerak. Perasaan raga berbeda dengan perasaan hati, jangan salah! Perasaan raga misalnya lapar, sakit, haus. Sedangkan perasaan hati hanyalah enak dan tidak enak, senang dan susah. Jadi sebetulnya sangat berbeda, namun kebanyakan tidak mengerti.

Setelah mengetahui beda antara perasaan raga dengan hati, maka renungkanlah bagi mereka-mereka yang melakukan laku spiritual.

Pikiran berada di otak. Pada pikiran terdapat kemampuan menyimpan informasi atau data, sehingga diperoleh memori atau ingatan. Informasi atau data diolah oleh pikiran, dalam hal ini kemampuan mengerti menjadi pengertian. Target dari pengertian adalah dorongan untuk mengetahui lebih dalam dan memanfaatkannya. Setelah mengerti, biasanya ditunjukkan dengan teori atau bahkan hukum, yang kemudian dirumuskan. Melalui rumuslah, peradaban berkembang. Selanjutnya dari hasil kesimpulan, akal yang ada dalam pikiran akan memberikan strategi dan cara bagaimana mewujudkan manfaat yang akan dipetik.

Ketiganya saling berhubungan. Hal ini bisa dijelaskan dengan rumus A. Misalnya a5 raga ada hubungan dengan a5’ sensorik dan motorik, ada hubungan dengan a5’’ perasaan hati dan memori a5’’’. Demikian pula hati a6 ada hubungan dengan a6’’ kemauan dan a6’’’ pengertian. Sedangkan otak a7 berhubungan dengan akal a7’’’, ini berarti manusia adalah makhluk yang berakal dan menggunakan akalnya.

Setelah mengetahui komponen diri kita, tentunya dengan bantuan akal kita akan mewujudkan apa yang kita maui. Namun karena kita sadar bahwa diri kita adalah yang dikuasai, maka sadarkah bahwa Tuhan saya sejatinya adalah Kuasa?

Namun karena saya memiliki fitrah emosi dan ambisi, maka secara sadar atau tidak kita telah menuhankan diri kita sendiri, Ilahahu hawahu.

Karena hati merupakan singgasana diri, maka orang-orang mengajarkan pendekatan kepada Tuhan dengan hati. Barangkali itulah sebabnya, saya memulai dari perkenalan Tuhan dengan ragawi, dilanjutkan perkenalan Tuhan dengan hati dan sekarang saya mengenal Tuhan dengan pikiran. Ibarat Nabi Muhammad saw melakukan isra’ dan mi’raj, dimana dimulai dari Masjidil Haram (hati), menuju Masjidil Aqsha (raga), lalu mi’raj ke Baitul Makmur (pikiran) dan ke Sidratul Muntaha.

Dimanakah Sidratul Muntaha? Barangkali adalah wilayah yang melampaui pikiran manusia. Lalu akal kita memberi nasehat kepada diri kita untuk percaya saja. Percaya kepada Dia yang tidak terjangkau oleh hati, raga dan pikiran, Yang Ghaib.

Dengan pendekatan yang sama, pada awalnya kita mengenal Tuhan dari para pendahulu. Misalnya kita diberitahu bahwa Tuhan Pencipta alam semesta adalah Allah, maka kita menerima tanpa memikirkan.

Lalu kita berhadapan dengan alam termasuk diri kita, maka kita menyaksikan bahwa ada Kuasa yang menggerakkan ini semua. Lalu kita menunjuk bahwa Kuasa yang menggerakkan ini sebagai Allah, Rabbul ‘alamin atau Rabbinnaas.

Saat kita bermasalah, kita memohon pertolongan. Ketika pertolongan tersebut datang, yaitu melalui terkabulnya doa, kita mengenal Tuhan sebagai Sang Pengasih & Penyayang, Ar Rahman Ar Rahiim.

Namun ketika ada informasi perihal surga & neraka, perihal alam akhirat, kita tidak mengetahui, tidak mengerti. Akal kita hanya memberikan strategi dan cara, yaitu agar percaya, sambil terus berjuang untuk membuktikan adanya hal-hal gaib tersebut.

Tidakkah kita sadar bahwa kita semakin mengenal Allah?

 

Mojosongo, 1 Desember 2021 / 26 Rabi’ul Akhir 1443


Jumat, 23 Juli 2021

Malaikat Harut & Marut Tidak Mengajarkan Sihir

Sihir berasal dari kata bahasa Arab “saharo/sihrun” yang berarti tipu daya. Jadi sihir dimaksudkan untuk menguasai orang lain dengan melakukan tipu daya. Sihir biasanya dihubungkan dengan suatu hal/perkara atau kejadian yang luar biasa dalam pandangan orang yang menyaksikannya. Namun tidak semua kejadian luar biasa berasal dari sihir, contohnya mukjizat para Nabi.

Apa yang membedakan sihir dengan mukjizat?

Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, tujuan dari sihir adalah untuk menguasai orang lain. Tentunya penguasaan ini adalah untuk kepentingan sang penyihir atau orang yang memanfaatkan jasanya. Mukjizat adalah untuk membuktikan bahwa apa yang disampaikan oleh para Nabi adalah untuk mengajak manusia kepada jalan yang benar sesuai fitrah penciptaannya, yaitu menjadi hamba Allah. Bukan dikuasai untuk memuaskan kemauan para Nabi. Dengan menjadi hamba Allah, sejatinya mereka telah menyadari hakekat dirinya dan perannya.

Ingat! Merdeka artinya bisa berbuat apa saja. Namun perlu diingat, untuk bisa berbuat apa saja, orang membutuhkan kuasa. Padahal kuasa tidak mungkin bisa dikuasai. Diri manusia berasal dari yang dikuasai. Kesadaran diri bahwa dia adalah yang dikuasai inilah yang disebut kemerdekaan sejati.

Semenjak kapan sihir diterapkan dan siapakah yang mengajarkan sihir?

Al Qur’an dalam surat Al Baqarah 2 ayat 102 menjelaskan: Dan mereka mengikuti apa yang oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, hanyalah syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan (yu’alimuna) sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya ujian (fitnah), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang dengan istrinya. Dan mereka itu tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Upaya memahami ayat ini memang tidak mudah, apalagi bagi saya yang bukan ahli bahasa Arab. Namun kalau secara pelan-pelan dibedah dan dengan permohonan pemahaman dari Allah, maka dari kalimat: “Mereka mengajarkan (yu’alimuna) sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya ujian (fitnah), sebab itu janganlah kamu kafir.””, secara tegas dinyatakan bahwa mereka yang dimaksud adalah para syaitan dan diikuti oleh orang-orang fasik. Jadi sihir bukan diajarkan oleh malaikat Harut dan Marut. Namun ilmu dari Harut dan Marut telah diselewengkan untuk melakukan tipu daya agar orang lain bisa dikuasai.

Kalimat: “… tiadalah baginya keuntungan di akhirat.”, artinya mereka hanya mendapatkan keuntungan di dunia saja dan di akhirat tidak kebagian. Berarti mereka para pelaku sihir adalah manusia yang dimurkai, sohibnya Iblis.

Bilamana pengertian sihir diperluas, maka segala tipu daya untuk membuat orang mempercayai dia hingga taklid mengikutinya termasuk kategori pengamalan ilmu sihir. Dengan demikian ilmu sihir ternyata sudah semakin meluas bahkan telah dipraktekan orang banyak dengan sadar maupun tidak.

Betapa banyak orang-orang yang telah menggurukan dirinya agar diakui oleh orang lain. Betapa banyak orang-orang dengan keahliannya menarik perhatian orang lain agar bersedia menjadi pengikutnya. Bukankah hal-hal seperti ini bisa membuat para pengikut tersesat? Bukankah sesat artinya tidak mencapai tujuan dan bukankah ini target Iblis, yaitu membuat manusia tersesat bahkan dimurkai? 

Jadi adakah di zaman ini orang yang menjelaskan kepada orang lain hakekat dirinya, hakekat keberadaannya dan pengakuan akan adanya Allah Yang Maha Kuasa? Adakah orang yang menjelaskan kepada orang lain untuk menjadi merdeka, yaitu sadar diri dan bersedia menerima Allah Yang Maha Kuasa sebagai Ilahnya?

Bukan pengakuan, bukan harta yang dituju, tetapi berjuang agar semakin sadar diri, bersikap dan berbuat sesuai perannya serta berjuang supaya semakin banyak orang yang sadar akan dirinya kemudian menjalankan perannya.

Griya Mutiara Papahan, 14 Juli 2021


Senin, 12 Juli 2021

Sikap & Upaya Menghadapi Pandemi Covid-19

Kata fitnah menurut KBBI berarti perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Karena kata fitnah adalah berasal dari Bahasa Arab, sehingga perlu dimengerti makna sebenarnya dari Bahasa aslinya, Menurut Ibn Hajar al-Asqalany dalam karya Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari menyatakan bahwa makna fitnah berasal dari kata al ikhtibar yang artinya penyingkapan hakikat sesuatu dan kata al-imtihan yaitu pengujian[1]. Dari kedua arti tersebut, kami memilih pemahaman bahwa fitnah adalah proses pengujian atas keimanan seseorang melalui peristiwa atau kejadian.

Pandemi Covid-19 adalah peristiwa atau kejadian. Sebagian orang menyatakan bahwa ini adalah kenyataan dan sebagian lagi mempercayai bahwa ini adalah kebohongan yang direkayasa. Semua orang bebas beropini, namun janganlah emosional, sehingga membuat gelap pikiran, lalu menimbulkan gelap hati dan berujung di kegelapan fisik, seperti menghuni penjara.

Kita melihat kenyataan bahwa banyak orang dirawat di Rumah Sakit atau terisolasi di rumah bahkan banyak orang meninggal yang dikuburkan dengan protokoler yang ketat. Kenyataan yang ditangkap oleh indra kita ini kemudian diolah oleh pengetahuan kita dan dengan pengaruh emosi dan/atau ambisi, maka kita beropini atau memberikan penilaian. Penilaian itu bisa positif, bisa pula negatif. Kita tidak membahas mana yang benar atau mana yang salah, karena penilaian positif dan negatif keduanya adalah kenyataan. Namun kalau kita tarik lebih jauh lagi, bahwa dibalik penilaian itu tentu ada yang membuat peristiwa tersebut terjadi, yaitu berupa cipta alam. Cipta alam yang berasal dari sabda alam dan bersumber dari cita alam, kesemuanya itu memerlukan izin dari Yang Maha Kuasa.

Dengan adanya izin dari Yang Maha Kuasa, lalu bagaimana kita seharusnya menarik pengertian dan bersikap atas peristiwa pandemi Covid-19?

Peristiwa ini adalah kenyataan dan bukan musibah atas kesalahan umat manusia. Peristiwa ini harus terjadi sebagai bagian dari kesempurnaan kehidupan manusia, yaitu sempurna dalam perannya sebagai hamba Allah Yang Maha Kuasa. Kenapa bukan disebut musibah? Karena tidak ada tanda-tanda akan kesalahan umat manusia yang berhubungan dengan pandemi ini dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Ilahi, semisal bentuk-bentuk tulisan AsmaNya di alam semesta. Sehingga kami menarik kesimpulan bahwa peristiwa ini adalah fitnah atau pengujian. Pengujian siapa-siapa yang sesungguhnya bersedia mengakui dan memerankan diri sebagai hamba Allah Yang Maha Kuasa.

Kalau kita mau menerima bahwa peristiwa ini adalah fitnah atau ujian keimanan, lalu bagaimana kita harus bersikap dan bertindak?

Tanamkanlah pengertian bahwa kita adalah saksi dan hamba Allah hingga ke dalam diri, ke dalam raga dan hati. Tanamkanlah bahwa diri kita beriman kepada Allah.

Tumbuhkanlah sikap beriman kepada Allah lalu berbuatlah sesuai dengan pengertian yang telah kita peroleh dengan tuntunan akal yang memberikan kita strategi dan cara untuk mewujudkan sikap tersebut.

Sebagai saksi dan hamba Allah Yang Maha Kuasa, kita meyakini bahwa ada pengetahuan pasti (A8), ada pengetahuan dugaan (A9) dan ada pengetahuan yang belum/tidak diketahui. Sebagai orang awam, kita tidak memiliki pengetahuan cara menanggulangi pandemi covid-19. Sehingga akal kita memberikan cara agar melakukan pendekatan A10 atau pendekatan klenik kata nenek moyang kita atau pendekatan iman kata ahli agama.

Dalam munajat kepada Allah Yang Maha Kuasa teringat bahwa bentuk virus covid-19 seperti bunga pohon Lamtoro. Pohon Lamtoro adalah pohon yang sangat mudah berkembang, baik dengan biji maupun dengan cara stek. Kenyataan ini menimbulkan pemahaman bahwa penyebaran covid-19 akan menjadi sangat cepat dan meluas. Akal kami kemudian memberikan cara agar mengambil ranting pohon Lamtoro untuk distek, namun dengan cara dibakar ujungnya dan ditanam terbalik. Kami mendapat pemahaman bahwa cara tersebut tentunya tidak akan menumbuhkan pohon Lamtoro apalagi berbunga dan diharapkan Allah Yang Maha Kuasa berkehendak untuk menghentikan pandemi Covid-19 ini. Penanaman stek pohon Lamtoro adalah penempatan harapan kepada Allah Yang Maha Kuasa atau doa berupa upaya bukan bahasa.

Ya Allah, kami beriman kepada Engkau dan menerima ujian fitnah ini demi kesempurnaan kehidupan umat manusia. Namun pendemi Covid-19 ini memang betul-betul memberatkan bagi sebagian besar umat kami dan hanya Engkau yang mampu menghentikannya. Hanya kepada Engkau kami berharap dan kami beriman kepada ketentuan Engkau bahwa pandemi Covid-19 berakhir.

Karena ini adalah ujian berupa fitnah, maka sebagai saksi dan hamba-Nya, wajib bagi kita untuk istiqamah bersabar dalam perjuangan, jangan kendor iman dan amal serta dirikanlah sholat.

 

Griya Mutiara Papahan, 12 Jul 2021



[1] Referensimakalah.com 8 September 2019

Sabtu, 05 Juni 2021

Mencegah Sabdopalon Menghancurkan Wong Jowo

Eyang Semar, sesosok yang penuh dengan kelembutan berciri khas tangan kiri diletakkan di balik punggungnya:

Beliau mengucapkan, “HA NA CA RA KA - DHA TA SA WA LA.” [Yang diabadikan dalam bentuk Aksara Jawa, yang bila diterjemahkan bermakna, “ADA UTUSAN - PADA BERTENGKAR.”]

Menyebut Sang Gusti ingkang Murbehing Dumadi, dengan tangan kanannya menunjuk ke dada, lalu menanyakan apa yang ada dalam dadamu?

Beliau menjawab sendiri, “Di dalam dada ada kosong. Siapa yang menggerakkan tangan menunjuk ke dada? Kosong. Siapa yang kosong? Yang kosong adalah yang berisi, yaitu Yang Murbehing Dumadi, Yang Meliputi Alam Semesta.”

Sambung,

Beliau menyatakan sudah sambung, menerima  silahturahmi ketauhidan.

Sambung tauhid, sambung iman ... dengan silahturahmi.

Mengingatkan, meluruskan, menyatukan dengan keyakinan.

Berat … menjalaninya ….

Jaga ... jagalah kalimu / sungaimu ... kalijogo.

Dijaga kali (sungai) tauhid melalui dakwah ….

Dijaga thuk [sampai ke] laut ... dijaga hingga kembali ke lautan.

Thuk ... dithuthuk (dipukul) gamelane ....

Thuk ... dithuthuk untuk kembali ....

Thuk ... dithuthuk, yang nggak mau kembali bakal dithuthuk ... (dapat balasan atas amal perbuatannya atau diberi bencana agar mau kembali kepada Ingkang Murbehing Dumadi / Yang Meliputi).

Gusti Allah,

Maha Besar, Maha Kuasa, Pemurah dan Maha Kerso (yang Memiliki Kehendak)

Yang menjadikan sesuatu dengan ijin-Nya (Ridho dan Kekuasaan-Nya).

Jika Allah berkehendak membuat sesuatu maka, hanya dengan, “Jadi!” Maka terjadilah apa yang dikehendaki-Nya.

Mawas diri,

Eling kepada diri, siapa diri kita dan asal usul kita ….

Hendaknya sebelum tidur kita kembalikan semuanya kepada Allah ….

Yang menidurkan dan Yang menghidupkan kembali ….

Saat bangun tidur, mata kita masih utuh, jantung berdetak, nafas berhembus ….

Semuanya masih utuh, bagaimana kalau bangun tidur mata kita cuma satu, hidung tertutup ….

Semuanya ada yang menggerakan, mengatur dan menghidupkan ….

Subhanallah ... sungguh manusia tidak punya kuasa sedikitpun ... sangat lemah

Semuanya milik Gusti ….

Apa yang dibanggakan, apa yang disombongkan ….

Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya ….

Tugas dakwah, berjalan di jalan Allah harus dengan keyakinan tanpa keraguan ….

Perjuangan Rasulullah saw dan para wali sudah sedemikian berat dan melalui perjalanan yang panjang penuh rintangan ….

Sekarang kita tinggal melanjutkan apa yang sudah diwariskan ….

Setiap tahun Allah menurunkan dan memilih para utusannya … untuk menyampaikan dakwah ketauhidan ….

Sambung atau silahturahmi dengan para Auliya, dengan tujuan untuk saling mengingatkan dan memperkuat, memotivasi agar tetap kokoh berpegangan pada Allah.

Begitulah wejangan Eyang Semar untuk kita bermawas diri, melihat diri kita, asal usul kita, sehingga kita mengenal siapa diri kita.

[Wejangan Eyang SEMAR, Sugihwaras – Jenu - Tuban, 3 Maret 2007]

Kami bersama teman-teman melakukan eksplorasi tokoh-tokoh sejarah maupun tokoh-tokoh klenik dalam rangka menggali kebenaran dan mendengarkan nasehat mereka sebagai pelajaran. Informasi yang dikumpulkan bukan dianggap sebagai kebenaran, namun sebagai opini beliau.

Metodologi yang kami gunakan bisa berupa dialog bathin yang sifatnya hanya pribadi, bisa juga dengan cara mediumisasi melalui teman-teman yang bersedia. Cara memanggilnya adalah dengan memanfaatkan keberadaan, yaitu keberadaan sesuatu ditandai dengan asma-af’al-sifat-dzat. Dalam kasus eyang Semar ini, kami menggunakan metode mediumisasi melalui asmanya. Kelemahan dari penggunaan asma ini adalah bisa ditipu oleh para pengaku. Idealnya adalah menggunakan af’alnya yang sudah terbukti. Permasalahannya adalah kita tidak mengetahui af’alnya.

Dari wejangan beliau, eyang Semar ini menampilkan seorang yang berbudaya berketuhanan, dengan Tuhannya yang beliau sebut dengan Allah. beliau mengajak untuk melanjutkan tugas dakwah ketauhidan, yaitu mengajak ke Allah.

Informasi ini jauh berbeda dengan penelusuran melalui relief candi Sukuh ataupun kitab-kitab lama, sebagaimana di bawah:



Dikisahkan dalam kitab Paramayoga, nenek moyang Semar atau Janggan Smarasanta adalah Sang Hyang Wenang yang konon berasal dari asrar benih Nabi Sis as dengan putri Idajil yang disabda menjadi makhluk astral yang memiliki kahyangan di Himalaya India. Pada zaman Nabi Isa as, ada sahabat yang mengingatkan Nabi Isa as untuk memerangi keturunan Idajil yang menjadi sesembahan bangsa India. Nabi Isa as kemudian membuat burung merpati yang kemudian dihidupkan dengan izin Allah, lalu terbang menyerang kahyangan di Himalaya. Perihal Nabi Isa membuat merpati dari lempung tertulis di QS Al Maidah 5 ayat 110. Para dewa kemudian lari mengungsi ke Jawa menunggu Nabi Isa as wafat/naik ke langit. Selama masa mengungsi di Jawa itulah tokoh eyang Semar muncul dan menjadi pengasuh para penguasa Jawa. Eyang Semar ini juga disebut dengan Sabdopalon yang paska Islam masuk ke Jawa berjanji akan kembali dalam 500 tahun untuk membawa orang Jawa kembali kepada agama budhi dan mempersiapkan kedatangan tuannya yang bermata satu yang kami anggap sebagai Dajjal.

Jejak-jejak sejarah eyang Semar ini bisa ditemui di puncak gunung Muria dimana banyak ditemui situs-situs para dewa yang lari dari India atau Hindustan, seperti petilasan Sang Hyang Wenang, Resi Abiyoso, Dang Hyang Semar . Petilasan eyang Semar juga bisa ditemui di tempat-tempat lain di Jawa dan tidak ada di India atau Hindustan. Bagi kami setiap berinteraksi dengan petilasan-petilasan keturunan Idajil selalu ada serangan yang membuat badan kami terasa sedang terbakar, seperti orang sakit demam atau panas dalam.

Bagaimana kita mensikapi dua informasi yang saling bertentangan?

Adalah wajar bahwa pada setiap peristiwa atau kejadian selalu terdapat dua nilai, yaitu positif dan negatif. Janganlah terjebak kepada salah satu dari dua penilaian tersebut, bisa-bisa kita dicap musyrik oleh Allah Yang Maha Kuasa. Ingatlah bahwa dibalik positif dan negatif terdapat cipta alam. Dibalik cipta alam ada sabda alam. Dan dibalik sabda alam ada cita alam. Dimana cita alam berasal dari kehendak atau izin Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu marilah kita petik pengertian atas peristiwa ini. Dan bilamana perlu kita tunggu informasi atau fakta-fakta selanjutnya dengan memperhatikan azas kehati-hatian. Ingat target kita adalah mencapai kepastian. Selama masih meragukan, maka jangan dipercayai. Cukup dijadikan dongeng dulu dan hindari hal-hal yang bisa merugikan hidup kita.

Yang perlu diperhatikan adalah ancaman Sabdopalon untuk menghancur-leburkan orang Jawa bilamana kita sebagai orang Jawa tidak mau mengikutinya. Lima ratus tahun sudah berlangsung semenjak 2017 dan kita akan menyaksikan orang Jawa akan dibawa kepada kelompok-kelompok ekstrem, baik ekstrem nasionalis, ekstrem keduniawian, ekstrem agama, ekstrem spiritualis. Mereka akan dibuat saling bertempur untuk saling menghancurkan. Tulisan ini adalah sebagai pengingat agar kita selalu menggunakan akal pikiran dan hati yang tulus untuk mencegah melawan ancaman tersebut. Meski kita kurang memiliki kuasa untuk mencegah, namun kita harus mengupayakan, dengan dimulai dari diri sendiri. Dan hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa harapan dilindungi kita letakkan. Melalui perlindungan Allah tersebut, maka upaya Sabdopalon akan gagal dan yang ditunggu Sabdopalon, yaitu Dajjal akan hadir dengan kemarahan.

Ya Allah, janganlah Engkau izinkan kami saling menghancurkan. Ikatlah kami dengan kasih sayang Engkau untuk menjadi hamba yang selalu ingat, sadar dan selalu berupaya tunduk patuh kepada Engkau serta menjadi pembukti akan kebesaran Engkau.

Jakarta, 5 Juni 2021

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...