Senin, 11 Juli 2022

Jenis-Jenis Tipu Daya Iblis & Setan Pengikutnya

Wahai manusia! Ketika Allah mengeluarkan Iblis dari surga-Nya dan dari rahmat-Nya serta menyatakan bahwa dia sesat, maka Iblis telah menyatakan akan menggelincirkan Bani Adam dari jalan-Nya.

1.         QS An Nisa 4: 119-120: Dan pasti akan kusesatkan / tidak mendapatkan petunjuk / tidak mencapai tujuan / la-udhillannahum mereka dan akan kubangkitkan angan-angan kosong / la-umanniyannahum pada mereka dan aku akan menyuruh mereka lalu mereka benar-benar memotong telinga-telinga binatang ternak dan aku akan menyuruh mereka lalu mereka benar-benar mengubah ciptaan Allah ….

La-udhillannahum bermakna Bani Adam akan dibuat tidak mendapatkan petunjuk. Tanpa petunjuk, manusia akan tersesat, yaitu tidak tercapainya tujuan. Dari manakah datangnya petunjuk Allah? Dalam Injil Barnabas disebutkan bahwa dia menggoda dengan dirinya, dengan pikiran-pikirannya.

La-umanniyannahum bermakna Bani Adam akan dibuat suka berangan-angan, yaitu membayangkan kesuksesan namun tidak mengerti bagaimana mencapainya dan lagi tidak tergerak untuk mewujudkannya. Yesus as mengatakan dalam Injil Barnabas bahwa dia menggoda dengan impian-impian palsu.

2.        QS Al A’raaf 7: 16-17: (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi / menduduki / menguasai / la-aq’udanna kepada mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan mereka dan dari belakang mereka dan dari kanan mereka dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”;

La-aq’udanna bermakna bahwa Iblis beserta pengikutnya dari golongan Jin dan Manusia akan menghalangi manusia dalam perjuangannya menjadi Hamba Allah. Ini dilakukan dengan ajakan bahkan paksaan. Dalam Injil Barnabas disebutkan bahwa dia menggoda dengan kata-kata dan perbuatan dengan alat-alat terdiri dari hamba-hambanya.

3.        QS Al Hijr 15: 39: Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku oleh karena Engkau telah memutuskan aku sesat, aku pasti jadikan indah / la-uzayyinanna bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan / memerangkap / la-ughwiyannahum mereka semuanya.”;

QS Shad 38: 82: (Iblis) menjawab, “Demi Kemuliaan-Mu pasti aku akan menyesatkan / memerangkap / la-ughwiyannahum mereka semuanya.”

La-uzayyinanna bermakna pandangan manusia dibuat sibuk mengejar dunia hingga lupa akan kehidupan akhirat, apalagi Allah.

La-ughwiyannahum bermakna manusia akan diperangkap oleh Iblis dan setan pengikutnya melalui nilai-nilai salah. Allah SWT berfirman dalam QS Shad 38: 84: “Maka yang benar dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan.” Dalam Injil Barnabas dikatakan bahwa dia menggoda dengan ajaran doktrin palsu, barangkali diantaranya adalah didorong untuk segera mencapai atau ditempatkan pada zona nyaman.

4.       QS Al Isra 17: 62: Ia (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku, sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan / sibukkan dengan pembicaraan / la-achtanikanna keturunannya kecuali sebagian kecil.”;

La-achtanikanna bermakna sibuk dengan pembicaraan, sehingga lalai akan peran dan tujuannya hidup di dunia.

Diri sebagai entitas yang dikuasai pasti memiliki dorongan emosi / ghadhab dan ambisi / syahwat. Dorongan Emosi diri akan membuat orang mudah kerasukan, sedangkan dorongan ambisi akan membuat orang kesetanan. Padahal diri diberi otorisasi untuk memanfaatkan raga a5, hati a6 dan pikiran a7. Dengan demikian tanpa penguasaan diri, maka dorongan emosi dan ambisi bisa lepas kendali. Pengendalinya adalah kekuasaan yang ada pada dirinya dengan aktifator sang Ruh yang dihembuskan-Nya.

Pernahkah kita mengalami kondisi raga a5 sakit lalu membuat kita malas dan beribadah?

Pernahkah kita mengalami hati a6 bad mood, sehingga kita selalu marah-marah?

Pernahkah dalam pikiran a7 kita muncul pikiran-pikiran jahat?

Itu semua adalah akibat dari diri dengan kedua dorongan, yaitu emosi dan ambisi yang tidak tersadarkan / tercerahkan yang terperangkap dalam kesesatan Iblis beserta setan pengikutnya. Bahkan hingga membakar pikiran a7 manusia.

Semoga tulisan ini bisa menjadi kajian bagi para pakar yang sah pada bidangnya, sehingga semakin membuka kesadaran masyarakat akan kehidupan yang Berketuhanan.

Papahan, 11 Jul 2022 

Jumat, 03 Juni 2022

Mengelola Konflik & Dorongan Memviralkan

Selama ini kita telah disuguhi dengan pertentangan antar golongan dengan dalih pengetahuan yang dimiliki masing-masing golongan. Memang pengetahuan yang direkam dalam pikiran kita akhirnya kita jadikan sebagai nilai referensi. Kalau tidak sama direnungkan, apakah ditolak atau diterima. Kalau bisa dimengerti, maka nilai lama akan direvisi. Padahal perbedaan pemahaman seperti ini adalah fitrah bahkan merupakan rahmat Ilahi. Bayangkan kalau semua orang berpikiran sama, maka hidup akan menjadi membosankan dan tidak berkembang. Kita menjadi robot yang hidup dalam dunia yang statis. Jadi betapa indahnya perbedaan!!!

Adalah kenyataan bahwa manusia memiliki tiga jenis pengetahuan, yaitu:

·       Pengetahuan yang ditangkap oleh indra dan disimpan dalam memori, misalnya pengetahuan perihal matahari

·       Pengetahuan yang masih bersifat hipotesa atau teori yang merupakan olahan dari pengetahuan pertama untuk digali oleh pengertian untuk mendapatkan manfaat lebihnya, misalnya bagaimana memanfaatkan/mengelola sinar matahari dan

·       Pengetahuan yang tidak/belum bisa diketahui, misalnya siapa yang menciptakan matahari.

Ketiga jenis pengetahuan ini semestinya dipakai, bukan hanya berdasarkan yang pertama dan kedua. Ketidak-bulatan dalam pengetahuan tersebut akan memicu pertentangan.

Manusia sendiri memiliki sarana dirinya, berupa emosi dan ambisi. Keduanya merupakan hawa nafsu manusia. Selain emosi dan ambisi yang merupakan fitrah dirinya, manusia juga dibekali dengan kemampuan yang disebut sensorik & motorik, perasaan, kemauan, memori, pengertian dan akal. Manusia yang tidak bisa menguasai emosi dan ambisinya akan menjadi penyebab pertentangan.

Dalam hal wilayah kehidupan manusia, terdapat dua wilayah, yaitu wilayah pribadi dan wilayah publik/umum. Kedua wilayah ini harusnya dipertahankan, namun yang terjadi sekarang wilayah pribadi ditampilkan ke publik. Wilayah pribadi dijadikan komoditas. Hal ini mendorong orang berlomba-lomba menampilkan wilayah pribadi ke publik, maka yang muncul adalah kekacauan.

Dalam kehidupan berketuhanan, karena Tuhan adalah wujud gaib, maka orang-orang saling berlomba menjelaskan perihal Tuhan dengan persepsinya masing-masing. Hal ini adalah sah dan wajar, sehingga tidak boleh dihalangi. Kecuali bilamana dalam prakteknya melanggar hak-hak yang lain.

Marilah kita menikmati perbedaan dan tidak mempermasalahkannya. Marilah kita saling menghormati dan saling mengingatkan tanpa memaksakan nilai kita kepada yang lainnya. Kita semua mengerti, memang ada perasaan was-was yang muncul, yaitu kekhawatiran bahwa keluarga dan keturunan kita menjadi manusia gagal. Ketakutan inilah yang mendorong kita berupaya mencekoki keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita untuk mengikuti kita. Upaya menarik pengikut inilah yang bisa kita sebut sebagai ilmu sihir, yaitu ilmu yang dimanfaatkan untuk menarik masa agar menjadi pengikut.

Marilah pula kita kembalikan wilayah pribadi tetap dalam ranah pribadi jangan dibawa ke publik. Meski mungkin tidak menyebabkan pertentangan, namun kehormatan kita akan tergerus. Marilah kita hidup terhormat dengan menjaga wilayah pribadi, namun tanpa menanamkan semakin kuat bayangan hitam pada diri kita. Bukankah semakin tinggi pohon, semakin dalam akar menghujam ke kegelapan? Bukankah semakin tinggi bangunan juga memerlukan hujaman fondasi ke dalam kegelapan tanah?

Bagaimanakah hidup semakin terhormat/mulia tanpa menanamkan bayangan hitam semakin dalam? Jadilah cahaya bagi dirimu, keluargamu, umatmu.

Sabtu, 14 Mei 2022

Persiapan Menjemput Muksa

Ketika usia sudah mendekati 60 tahun, suwidak kata orang Jawa; itu bermakna wes cedak, yang artinya sudah dekat. Sudah menjadi kehendak Allah Yang Maha Kuasa bahwa kami-kami yang sudah suwidak ini diingatkan untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa karena ajal sudah semakin mendekat.

Mendekati usia suwidak, rambut sudah dwiwarna, gigi-gigi sudah mulai goyah, lengan dan kaki sudah tidak cekatan. Dalam kondisi seperti ini, maka jangan sampai berhati mendua; yaitu masih berambisi mengejar dunia namun juga berkemauan untuk menyiapkan diri. Kalau masih mendua, maka potensinya adalah kegagalan untuk menyiapkan diri.

Kemenduaan secara filosofis adalah sikap kemusyrikan. Satu dari tiga dosa besar dan tidak terampunkan. Bagi mereka yang sudah mendekati bahkan sudah memasuki ataupun melewati usia suwidak sebaiknya berfokus menjadi pandita, yaitu menjemput kemuksaan.

Muksa adalah terpisahnya raga dengan diri. Raga tetap berada di bumi, diri dengan ditemani ruh-Nya menuju kepada yang dicintainya. Tentunya kesempurnaan muksa adalah mencintai Allah Yang Maha Kuasa, bukan yang lain. Sehingga diri kita manunggal, kembali kepada Diri sejati yang dikuasai dengan keyakinan sempurna.

Meski sudah fokus kepada pengembalian diri, namun sikap berjuang/berjihad untuk selalu melaksanakan perintah Kuasa harus tidak boleh dikendorkan bahkan harus terus ditingkatkan. Karena bagi yang sudah mengerti, hidup di dunia adalah melaksanakan perintah Allah Yang Maha Berkehendak, sebagai konsekuensi atas fitrah kita sebagai hamba atau utusan-Nya.

 

Mutiara Papahan, 13 Mei 2022; 12 Syawal 1443 

Rabu, 20 April 2022

Ruh

Pelajaran apa yang diberikan bapak kemarin, dik?

Gak ada yang baru, om. Hanya pendalaman perihal sangkan paran.

Bagaimana penjelasan sangkan paran itu?

Raga berasal dari alam, kembali ke alam.

Kalau begitu, kemana jiwa, ruh dan daya & kemampuannya pergi setelah seseorang mati?

Menurut bapak, ya itu tergantung pada wataknya. Jika wataknya adalah binatang, ia masuk ke alam binatang, tetapi jika wataknya adalah manusia, ia menjadi manusia lagi. Karena pada makhluk hidup ada ruh, pada hewan ada ruh binatang, pada tumbuhan ada ruh tumbuhan dan pada manusia ada ruh manusia. Perpindahan ruh saat kematian tergantung pada wataknya disebut reinkarnasi.

Waduh, saya tidak bisa menerima pendapat itu, karena referensi yang saya baca berbeda. Misalnya, dalam Injil Barnabas, Yesus putra Maryam (a.s.) menyangkal keberadaan ruh tumbuhan, ruh binatang dan ruh manusia. Ruh itu hanya satu, berkaitan dengan akal dan ilmu. Yang dengan dihembuskannya ruh pada seseorang, maka Iblis pun diminta bersujud.

Pendapat perihal adanya ruh tumbuhan, ruh hewan dan ruh manusia banyak dianut orang bahkan ulama Islam, seolah ruh itu daya hidup. Bukankah tanpa ruh, makhluk hidup tidak bisa hidup? Maka muncul teori reinkarnasi yang didasarkan atas watak sesosok makhluk ketika hidup. Memangnya ada tumbuhan yang berwatak hewan atau hewan yang berwatak manusia? Ketika ada pendapat perihal reinkarnasi, maka muncul pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab atas tindakan siapa, tumbuhan, hewan atau manusia? Mana bukti reinkarnasi, kenapa hanya orang-orang tertentu yang mengaku-ngaku?

Perihal orang mengaku bahwa dulu dia pernah menjadi si anu, itu bisa jadi faktor DNA raganya yang mungkin masih leluhurnya. Karena DNA membawa memori.

Saya juga tidak faham. Menurut om, bagaimana?

Menurut pendapat saya, itu tergantung pada beberapa pemahaman tentang manusia. Manusia dipahami dengan pengamatan diri. Observasi diri menurut saya, manusia terdiri dari 4 hal, yaitu jiwa yang menyebut dengan saya atau aku, raga manifestasi yang terlihat, daya & kemampuan anugerah Yang Maha Kuasa dan ruh. Jiwa yang awalnya berupa cita, lalu disabda turun dan tercipta dengan wadah raga di alam dunia. Perihal daya dan kemampuan yang dimiliki raga, dianugerahkan sesuai dengan pertumbuhannya. Perihal ruh, menurut hemat saya, dengan mengacu pada Injil Barnabas, Al-Qur'an dan Hadits serta realitas, ruh dihembuskan ke dalam raga saat masih dalam kandungan ibu pada usia 120 hari, yang ditandai dengan pernapasan aktif. Pada saat itu hati atau jantung sudah aktif. Buktinya kurang dari usia 120 hari, aktifitasnya sudah bisa dideteksi dengan USG. Jika ruh ada dalam jantung atau paru-paru, maka kedua organ manusia tersebut tidak bisa ditransplantasikan. Kenyataannya kan bisa, walau tidak berumur lama. Bayi manusia mulai memiliki daya dan kemampuan seiring dengan pertumbuhan raganya. Saat hati / jantung sudah sempurna sang bayi sudah memiliki penilaian hati a5'’ dan keinginan hati a6'’, dengan bukti fenomena ibu-ibu ngidam atau kemauannya akibat dorongan / gawan dari sang bayi. Setelah ruh dihembuskan, sang bayi mulai bernafas dan aktif bergerak a5’ meski dalam kandungan. Begitu lahir, ia mulai mendengar dan melihat a5’. Hal ini membuktikan bahwa fungsi sensorik dan motorik a5’ menjadi sempurna. Di usia 3 tahun mulai bisa mengingat, berarti memori a5''' aktif, di usia 5 tahun mulai sadar diri, menyebut dirinya dengan saya atau aku, yaitu pengertian a6''’ aktif. Usia 7, akal a7''’ aktif. Dalam hal ini, seolah peran ruh berhubungan dengan raga a5 dan otak a7, serta bukan dengan hati a6.

Dengan pendapat itu, bagaimana jalan orang mati itu?

Orang mati adalah ketika jiwa meninggalkan raganya dan dilanjutkan dengan kembalinya ruh kepada Ilahi bersama dengan daya dan kemampuannya? Jiwanya akan ditunjukkan raport kehidupannya sebelum dikembalikan ke raganya di kuburan. Meski dikembalikan, namun tersekat (barzakh). Itu berarti jiwa orang mati hidup di dunia yang gelap dan dingin dan mungkin menyaksikan raganya dihancurkan menjadi tanah. Alam kematian bisa jadi alam memori, karena kita mengenang eksistensi almarhum dalam memori a5’’’ kita.

Jika ruh dikaitkan dengan kehidupan, berarti ruh adalah kekuatan hidup. Kalau begitu ruh ada pada tumbuhan, hewan dan manusia, kan om? Padahal tidak seperti itu, bagaimana penjelasannya supaya makin bisa difahami?

Bukankah para malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam (a.s.). Semua bersedia bersujud, tetapi Iblis menolak. Nah kalau ruh adalah daya hidup, berarti ada pada semua makhluk hidup, mestinya Iblis juga bersujud kepada tumbuhan, hewan dan manusia semisal Homo Erectus. Bukan hanya kepada Nabi Adam (a.s.) saja. Jadi siapa pun yang tidak ingin mau menggunakan akalnya akan dicap bukan manusia atau tersesat, bahkan dimurkai Allah. Bukankah dengan kemampuan ilmu dan akal, manusia bisa mengembangkan peradaban yang tidak bisa dilakukan makhluk lain, meski itu dari golongan jin maupun malaikat? Peradaban itu terwujud karena tingkat kepercayaan seseorang dalam upaya mewujudkan cita-citanya. Maka orang yang percaya hingga yaqin itu karena ada penguatan dari ruhnya, hingga dia bisa mewujudkan yang kata awam impossible (QS Al Mujadilah 58 ayat 22). Sampai akhirnya ada manusia yang mengaku sebagai tuhan.

=============================================================

Mutiara Papahan, 20 Apr 2022; 17 Ramadhan 1443


Senin, 14 Maret 2022

Pengadaan - Pendekatan - Penghadiran Ke Hadirat Ilahi

Seharusnya setiap orang bisa memastikan bahwa Ilahi itu ada, melalui kenyataan yang terbeber di alam semesta ini. Kemudian kita berusaha mereka-reka akan wujud-Nya, namun kita tidak bisa menemukan-Nya, sehingga Dia disebut sebagai Yang Ghaib. Keberadaan setiap wujud yang ada di alam yang bisa kita indrai, juga ada dalam memori kita. Keberadaan wujud ini disebut pengetahuan pasti atau A8 atau ‘ainul yaqin, kita tidak bisa menyaksikan wujud-Nya. Yang bisa dilakukan hanyalah menandai dengan sebutan Ilahi. Karena Dia yang menggelar alam semesta ini, pasti Kuasa [Kemampuan melakukan apa saja]. Karena Dia Ghaib, maka hanya melalui pintu kepercayaan/keyakinan lah kita mengakui keberadaan-Nya. Sikap menyadari dan mengakui keberadaan Ilahi, kita sebut sebagai pengadaan.

Selanjutnya kita pun mempertanyakan tentang siapa diri kita dan apa hubungannya dengan Allah Yang Maha Kuasa?

Bukankah Kuasa tidak mungkin dikuasai? Sehingga pasti Dia menguasai DiriNya. Kesatuan Kuasa dengan DiriNya yang tak terpisahkan kita sebut sebagai Yang Maha Kuasa. QS Thaha 20 ayat 14: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah kecuali Aku, maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah Sholat untuk mengingat Aku.” Tegas Dia menyebut DiriNya dengan Allah. Bagi yang tidak mengenal Qur’an, hanya bisa memberikan sebutan Yang Maha Kuasa. Tentunya diri kita merupakan “percikan” dari DiriNya, yaitu sama-sama terkuasai. Setelah mengerti bahwa diri sejatinya adalah yang terkuasai, diharapkan tumbuh kesadaran diri bahwa kita hanyalah hamba Allah. itulah kenapa kita harus berani menerima kenyataan ini dan bersedia mengabdi kepada Allah. Ini harus dilatih untuk disikapi!

Sebagai hamba yang dikuasai Allah, sudah sewajarnya kita berupaya untuk mendekat kepada-Nya. Untuk bisa mendekat, tentunya dari sudut pandang kita sebagai hamba yang dikuasai adalah dengan berupaya mengenal-Nya. Sayangnya manusia memiliki “cacat”, yaitu apapun yang dikenalnya, akan dikuasainya. Contohnya adalah apa yang terbeber di alam ini berupaya untuk dikenal manusia dan ujungnya adalah penguasaan alam oleh manusia. Tentunya hal ini bertentangan dengan dorongan untuk mengenal agar bisa mendekat sebagai seorang hamba, bukan pelaku makar (ingin menguasai).

Pengenalan yang salah perihal Tuhan, dalam sejarah telah membuat manusia semakin jauh dari Tuhan. Sejarah telah mencatat adanya pembuatan patung-patung atau benda-benda yang dianggap sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Keadaan ini kemudian diikuti oleh orang-orang kemudian yang tidak mau mengerti yang akhirnya menjadikan patung dan wujud-wujud lain sebagai Tuhannya. Ketika patung-patung mulai disingkirkan dari penyembahan manusia, hasilnya adalah keberanian orang-orang untuk mengatas-namakan Tuhan dalam tindakannya. Bahkan sekarang muncul teori hingga menjadi kepercayaan bahwa suatu ketika, individu manusia akan bisa menjadi Tuhan. Ini menjauhi fitrah bahwa diri adalah yang dikuasai, bukan yang menguasai. Ingat Kuasa tidak mungkin dikuasai. Inilah puncak fitnah.

Strategi dan cara yang tepat akan membawa kepada keberhasilan, demikian sebaliknya. Supaya kita tidak salah sehingga tersesat atau bahkan bisa dimurkai, maka harus selalu berbasis kepada kenyataan dan kepastian keilmuan serta dibuktikan dalam kenyataan lagi. Pandangan yang berdasarkan atas fakta dan keilmuan ini yang dimaksud dengan Bashirah dalam QS Yusuf [12]: 108: Katakanlah, “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan Bashirah (pandangan). Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”.

Kalau pengetahuan ini bisa diolah menjadi pengertian dan bisa diturunkan ke dalam diri, sehingga menjadi sikap, insya Allah dada kita akan terbuka. QS Az Zumar [39]: 22: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah dadanya untuk menerima Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhan-nya? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu dadanya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Kita sudah memastikan bahwa Allah itu Kuasa, tunggal tiada dua-Nya, mutlak, sempurna. Tentunya Dia tidak bisa dimengerti apalagi dikuasai. Berarti Dia berada di wilayah yang tidak diketahui atau mistik atau klenik atau A10. Karena tidak diketahui, tentunya di alam dunia tidak bisa diraba-raba menggunakan sensorik dan motorik a5’, tidak bisa dirasa-rasa dengan perasaan a5’’ dan tidak bisa diimajinasikan dengan memori a5’’’. Namun kita bisa membangkitkan ambisi dengan kemauan a6’’ untuk bertemu dengan Dia, namun pengertian a6’’’ mengingatkan bahwa pertemuan bisa terjadi hanya bilamana Dia bersedia. Akal a7’’’ pun buntu untuk memberikan strategi dan cara, kecuali hanya bisa menyarankan untuk berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, yang tidak bisa kita identifikasikan sambil berharap keberuntungan. QS al-Maidah [5]: 35: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah (menjaga diri dari yang membahayakan) kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (bersungguh-sungguh) pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.''  Salah satu perintah Allah pada ayat di atas adalah untuk mencari jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, yang diistilahkan dengan Taqarrub-Ilallah. Perintah Taqarrub-Ilallah juga terdapat pada QS al-Alaq [96] : 19: "…. dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)."

Posisi sujud adalah melatih diri untuk berserah hingga emosi diri menyatu dengan perasaan dan ambisi diri menyatu dengan kehendak Ilahi dengan menumbuhkan cinta yang dalam (syaghafaha hubban), hingga dikuatkan. QS Al Mujadilah [58]: 22: …. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan hingga ke dalam qalbu mereka dan menguatkan mereka dengan ruh dari-Nya. …. Cara pendekatan dengan bersujud sembari menumbuhkan cinta yang dalam kepada Allah hingga diperkuat dengan RuhNya tidak perlu dipermasalahkan atau dipersulit. Kerjakan saja! Bukankah Allah berfirman pada hadis Qudsi, ''Apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Meski tidak perlu dipermasalahkan atau dipersulit, namun berhubung Allah adalah Ghaib, tentunya menimbulkan pertanyaan bagaimana cara bersujud kepada-Nya?

Bukankah Kuasa itu sempurna? Dari dulu, sekarang bahkan nanti tetap tidak berubah. Tidak laki-laki, tidak perempuan. Bisakah kita mengerti dan menyadari adanya keberadaan yang seperti itu? Itulah Allah. Inilah Allah.

Jangan sampai lupa menyebut AsmaNya dalam bersujud dan dalam setiap keadaan. Ingat akan bahaya ketersesatan bahkan dimurkai! QS Az Zukhruf [43]: 36: Barangsiapa berpaling dari ingat (dzikri) Yang Maha Pemurah (Ar Rahman), Kami adakan baginya syaitan, maka syaitan itulah teman yang selalu menyertainya.

Dalam kehidupan sehari-hari, cara mendekatkan diri adalah dengan menafkahkan apa yang kita miliki. Infaq maknanya adalah mengeluarkan sesuatu untuk suatu kepentingan. Sehingga bisa dimaknai apa saja, bisa harta, ilmu, tenaga, dan lain-lain. QS At Taubah [9]: 99: Di antara orang-orang Arab itu ada orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya itu sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bagaimana penjelasannya?

Setiap individu pasti pernah menangkap ide/cita-cita. Bukankah ide berasal dari Yang Gaib, yang tidak kita ketahui? Ketika kita terima, bukankah kita disuruh melaksanakan? Berarti kita adalah utusan dan ide itu adalah Kitab. Sedangkan yang menyampaikan ide dari Yang Gaib tersebut kepada kita bisa disebut sebagai malaikat. Untuk mewujudkannya, kita sebagai utusan wajib percaya bahwa itu adalah ketentuan Yang Gaib dan upaya kita sebagai pelaksana akan menentukan berhasil atau tidak, termasuk kualitas keberhasilannya. Bukankah ini Rukun Iman?

Sebagai yang diutus mewujudkan ide, tentunya kita harus bersaksi atas ada-Nya Yang Kuasa memberi ide dan kita mengakui sebagai pelaksananya. Dalam hal agama Islam, Nabi Muhammad saw adalah yang menangkap ide dan sebagai pelaksananya. Dalam proses mewujudkan ide, harus menggunakan strategi dan cara. Itu adalah orang yang cerdas, sehingga potensi kegagalan boleh dibilang ‘nol’. Orang cerdas adalah orang yang mengetahui dirinya dan sarana hidupnya dan bisa memanfaatkannya. Untuk mewujudkan ide, kita perlu modal, yaitu pengorbanan diri, harta, waktu dan lain-lain. Dalam proses perwujudan, akan kita hadapi halangan, tantangan, rintangan, cobaan dan lain-lain. Tanpa kekhusyuan dan ketahanan dalam perjuangan sulit ide tersebut kita wujudkan. Bisa-bisa di tengah jalan berubah pikiran, sehingga tidak terwujud. Namun saat ide tersebut terwujud, bisakah kita menyadari bahwa itulah tempat pertemuan kita dengan Yang Maha Kuasa, Yang Gaib? Haji adalah arafah. Arafah itu bermakna mengetahui, mengenal, menyadari. Latihlah untuk menyadari bahwa dimana pun kita berada, kita sedang bersama-Nya. Mirip dengan Rukun Islam kah?

Tentunya amal ibadah kita targetnya adalah menyaksikan Allah (Ihsan). Pun kalau belum bisa menyaksikan, percayalah bahwa Dia melihat kita.

QS al-Kahfi [18]: 110: "Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa.” Maka, barang siapa mengharap pertemuan dengan Ilah-nya maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih (terhindar dari keburukan/kerusakan) dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Ilah-nya."

Rasulullah SAW mengajarkan doa, "Wahai Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah pada akhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal penutupnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku bertemu dengan-Mu." (HR Thabrani).

 

Papahan, 10 Februari 2022; 9 Rajab 1443 H

Sabtu, 18 Desember 2021

Hidup Sesudah Mati

Kebanyakan manusia tidak menyadari bahkan tidak percaya bahwa hidup di alam dunia sejatinya adalah hidup dalam neraka api.

Adalah fakta ilmiah bahwa alam dunia berasal dari keadaan tunggal yang sangat panas. Adalah fakta juga bahwa batuan atau tulang atau kayu bilamana saling digosokkan akan menghasilkan panas bahkan api. Dengan demikian, maka alam dunia sejatinya adalah berasal dari api yang memiliki sifat panas dan terang. Panas bisa dipandang sebagai sarana menghukum atau mematangkan. Sedangkan terang untuk menjelaskan.

Namun kenapa disebut dengan neraka?

Bukankah kenyataannya manusia itu sedang dimasak/digembleng menuju kepada kedewasaan atau kesempurnaan hidup? Jadi neraka disini yang dimaksud adalah tempat untuk mematangkan manusia agar tercerahkan.

Manusia dididik dari tidak mampu, menjadi mampu. Dididik dari tidak tahu menjadi tahu. Dididik dari tidak mau menjadi mau. Sejatinya dididik untuk menyadari akan adanya Yang Kuasa dan menyadari siapa dan apa perannya serta menjalaninya.

Di alam dunia, manusia masih diberi kesempatan untuk melakukan koreksi dan perbaikan atas apa yang telah dijalaninya.

Wahai manusia, ketahuilah dan sadarlah, mumpung masih hidup di alam dunia!

Setelah menjalani kehidupan di alam dunia, diri manusia akan memasuki alam kubur. Dirinya akan dipisahkan dengan raganya yang berasal dari alam api. Maka manusia selanjutnya akan memasuki alam yang tidak ada apinya, alias alam dingin dan gelap. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Kita yang masih hidup di alam dunia hanya bisa menduga-duga atau menebak-nebak.

Namun yang pasti, bagi manusia, hidup di alam yang dingin dan gelap adalah tidak mengenakkan. Selama masih mengalami ketidak-enakan hidup, maka manusia berada dalam neraka untuk dididik menjadi lebih baik lagi.

Kira-kira dengan cara bagaimana diri manusia dididik di alam dingin dan gelap? Bukankah tubuh, hati dan otaknya sudah hancur? Artinya sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Mungkin hanya tinggal kesadaran dirinya yang terpenjara dalam gelap dan dingin atau tercerahkan. Raganya sudah tidak berfungsi, sehingga barangkali dirinya menderita atau bahagia dalam alam gelap dan dingin.

Sebagian orang berpendapat bahkan mempercayai bahwa mereka akan mengalami reinkarnasi. Namun karena kami tidak pernah mendapatkan bukti yang sifatnya umum atau universal, maka pendapat tersebut sulit untuk bisa diterima. Bahasa kerennya tidak ada kehidupan recycle atau reciprocal, yang ada adalah kehidupan serial.

Pendapat bahwa kehidupan berlangsung secara serial dikuatkan dengan kenyataan bahwa dalam pengetahuan manusia terdapat tiga (3) kepastian, yaitu pengetahuan pasti atau ilmu katon, pengetahuan kira-kira atau ilmu karang dan pengetahuan yang tidak diketahui atau ilmu klenik. Kehidupan alam dunia adalah pengetahuan pasti. Sedangkan kehidupan di alam kubur adalah pengetahuan kira-kira. Berarti akan ada kehidupan di alam yang tidak bisa diketahui dan dikira-kira. Konon disebut dengan alam padang Mahsyar.

Apa yang terjadi pada kehidupan di padang Mahsyar? Kita tidak tahu.

Perihal adanya ketiga alam yang akan dijalani manusia sebagai proses pendidikan ternyata telah dijelaskan dalam kitab Injil Barnabas dan Durratun Nasihin karya Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Al Khaubawi.

Wahai manusia, sadarilah dan renungkanlah apa yang sudah kita persiapkan sebelum menjumpai keadaan final yang abadi yang tidak mungkin lagi ada koreksi!?

 

Mojosongo, 11 Desember 2021 / 7 Jumadil Awal 1443

Rabu, 01 Desember 2021

Perkenalan Dengan Tuhan

Kita mengawali hidup dengan cara yang tidak sama dan juga berasal dari tempat yang berbeda-beda. Tentunya dengan basis yang tidak sama, maka awal kita mengenal Tuhan pun juga dengan cara berbeda-beda. Perbedaan adalah fitrah, tidak perlu dipersoalkan. Yang tidak fitrah adalah ketika kita berupaya melakukan penyeragaman. Inilah watak komunal. Entah apa tujuannya? Namun dugaan saya hanyalah kebutuhan akan pengakuan atas eksistensinya. Demikian pula dengan pengenalan kita akan Tuhan.

Saya sendiri mengawali pengenalan akan Tuhan dari orang tua, dimana bapak saya menyebutnya dengan Allah ingkang Moho Luhur. Dan kepada-Nya saya diajarkan menghadap mengharap perlindungan-Nya. Sehingga dalam setiap keadaan, saya terbiasa untuk meminta pertolongan-Nya. Alhamdulillah, saya tidak pernah tidak mampu menghadapi kesulitan dalam hidup. Sebagai dampaknya adalah adanya ketakutan bahwa Dia akan menjauh kalau saya berbuat salah. Dengan berjalannya waktu, keinginan saya pun semakin banyak dan Alhamdulillah semuanya terwujud berkat pertolongan-Nya. Meskipun saya juga semakin banyak berbuat salah dan dosa.

Jadi pada awalnya saya menganggap Tuhan adalah pengabul segala keinginan saya dan pengampun kalau saya salah dan berdosa.

Lalu saya mempelajari Islam, terutama melalui biografi para tokoh, terutama Nabi Muhammad (saw), para sahabat dan para tokoh dari aliran sufi. Ibadah syariah saya semakin membaik, kedekatan saya kepada Tuhan juga semakin membaik, yaitu hanya sibuk menjalankan sholat, puasa dan mengaji Kitab secara otodidak. Namun saya senang menghadiri pengajian, terutama pengajian yang membuat saya semakin tercerahkan.

Suatu ketika perusahaan tempat saya bekerja mengalami masalah dan kami lebih banyak memiliki waktu luang. Saya pun tenggelam dalam buku-buku agama bahkan pernah menangis tersujud saat membaca Kitab Hadits. Saat itu saya kebingungan dan bertanya kenapa saya menangis?

Selanjutnya saya menjalani patrap bersama dengan para sahabat. Saya bisa menikmati perjalanan tersebut, namun saya selalu digelitik dengan pertanyaan apakah seperti itu? Seolah apa yang sudah saya jalani belum mendapatkan kepastian, sehingga selalu muncul pertanyaan tanpa mengerti akan jawabannya.

Banyak dari para sahabat saya yang tidak mengerti dalam menjalankan laku Patrap berujung kepada pencarian kesaktian bahkan sampai ada yang kesurupan. Para pemikir susah menjalankan Patrap, namun para pengguna perasaan sangat mudah tersentuh. Kondisi ini membawa kepada kesimpulan bahwa berketuhanan haruslah dengan hati dan pikiran tidak akan mampu menjangkau Tuhan. Ternyata dikhotomi hati dan pikiran ini telah berlangsung semenjak manusia ada di muka bumi.

Saat semua ilmu Patrap telah disampaikan kepada kami dan kami sudah dinyatakan sebagai satu-satunya kelompok yang telah lulus, kami juga menekuni pelajaran ketuhanan secara rasional, yaitu dengan rumus, yaitu Rumus A. Rumus A ini merupakan temuan dari bapak Mas Supranoto yang merupakan kakak dari Haji Slamet Utomo yang mengajarkan Patrap, namun berbeda ibu.

Setelah belajar Rumus A, kebetulan saya yang dinyatakan sebagai orang pertama yang dianggap telah mengerti dan lulus bab Pendahuluan perihal Ketuhanan.

Patrap lebih mengedepankan hati, namun hati itu apa? Bisakah Tuhan dirasakan dengan hati kita?

Rumus A lebih mengedepankan pikiran, namun pikiran itu apa? Bisakah pikiran menjangkau Tuhan?

Menjawab pertanyaan tersebut, susah-susah gampang. Karena tergantung kepada siapa yang bertanya. Ada yang bertanya karena ingin mengetahui, ada yang bertanya karena ingin mengerti, ada yang bertanya karena ingin mengkonfirmasi, dan lain-lain. Namun saya akan menjawab berdasarkan apa yang saya ketahui dan mengerti, syukur-syukur sudah saya buktikan.

Hati adalah singgasana diri dan konon juga singgasana Tuhan. Hati dilengkapi dengan perasaan dan kemauan. Karena hati adalah singgasana diri dan diri adalah yang dikuasai, maka fitrahnya adalah memiliki emosi/ghodhob dan ambisi/syahwat. Di sini terjadi percampuran antara emosi dengan perasaan dan ambisi dengan kemauan, sehingga sulit untuk membedakan. Tuhan adalah Kuasa, perasaan dan kemauan adalah bentuk-bentuk kekuasaan. Sedangkan ambisi dan emosi adalah fitrah atau bawaan dari yang dikuasai. Hati yang dimaksud adalah jantung, maka perhatikanlah orang-orang yang melakukan transplantasi jantung.

Sebelum membahas pikiran, kita perlu membahas raga. Karena sedemikian banyak orang salah kaprah akibat tidak bisa membedakan/mengidentifikasikan. Raga adalah bentuk materi dari diri yang terdiri atas tulang, daging, darah, syaraf dan lain-lain. Pada raga terdapat Kuasa, yaitu selain daya adalah kemampuan sensorik dan motorik, diantaranya adalah mendengar, melihat, membau, mengecap dan merasakan serta kemampuan gerak. Perasaan raga berbeda dengan perasaan hati, jangan salah! Perasaan raga misalnya lapar, sakit, haus. Sedangkan perasaan hati hanyalah enak dan tidak enak, senang dan susah. Jadi sebetulnya sangat berbeda, namun kebanyakan tidak mengerti.

Setelah mengetahui beda antara perasaan raga dengan hati, maka renungkanlah bagi mereka-mereka yang melakukan laku spiritual.

Pikiran berada di otak. Pada pikiran terdapat kemampuan menyimpan informasi atau data, sehingga diperoleh memori atau ingatan. Informasi atau data diolah oleh pikiran, dalam hal ini kemampuan mengerti menjadi pengertian. Target dari pengertian adalah dorongan untuk mengetahui lebih dalam dan memanfaatkannya. Setelah mengerti, biasanya ditunjukkan dengan teori atau bahkan hukum, yang kemudian dirumuskan. Melalui rumuslah, peradaban berkembang. Selanjutnya dari hasil kesimpulan, akal yang ada dalam pikiran akan memberikan strategi dan cara bagaimana mewujudkan manfaat yang akan dipetik.

Ketiganya saling berhubungan. Hal ini bisa dijelaskan dengan rumus A. Misalnya a5 raga ada hubungan dengan a5’ sensorik dan motorik, ada hubungan dengan a5’’ perasaan hati dan memori a5’’’. Demikian pula hati a6 ada hubungan dengan a6’’ kemauan dan a6’’’ pengertian. Sedangkan otak a7 berhubungan dengan akal a7’’’, ini berarti manusia adalah makhluk yang berakal dan menggunakan akalnya.

Setelah mengetahui komponen diri kita, tentunya dengan bantuan akal kita akan mewujudkan apa yang kita maui. Namun karena kita sadar bahwa diri kita adalah yang dikuasai, maka sadarkah bahwa Tuhan saya sejatinya adalah Kuasa?

Namun karena saya memiliki fitrah emosi dan ambisi, maka secara sadar atau tidak kita telah menuhankan diri kita sendiri, Ilahahu hawahu.

Karena hati merupakan singgasana diri, maka orang-orang mengajarkan pendekatan kepada Tuhan dengan hati. Barangkali itulah sebabnya, saya memulai dari perkenalan Tuhan dengan ragawi, dilanjutkan perkenalan Tuhan dengan hati dan sekarang saya mengenal Tuhan dengan pikiran. Ibarat Nabi Muhammad saw melakukan isra’ dan mi’raj, dimana dimulai dari Masjidil Haram (hati), menuju Masjidil Aqsha (raga), lalu mi’raj ke Baitul Makmur (pikiran) dan ke Sidratul Muntaha.

Dimanakah Sidratul Muntaha? Barangkali adalah wilayah yang melampaui pikiran manusia. Lalu akal kita memberi nasehat kepada diri kita untuk percaya saja. Percaya kepada Dia yang tidak terjangkau oleh hati, raga dan pikiran, Yang Ghaib.

Dengan pendekatan yang sama, pada awalnya kita mengenal Tuhan dari para pendahulu. Misalnya kita diberitahu bahwa Tuhan Pencipta alam semesta adalah Allah, maka kita menerima tanpa memikirkan.

Lalu kita berhadapan dengan alam termasuk diri kita, maka kita menyaksikan bahwa ada Kuasa yang menggerakkan ini semua. Lalu kita menunjuk bahwa Kuasa yang menggerakkan ini sebagai Allah, Rabbul ‘alamin atau Rabbinnaas.

Saat kita bermasalah, kita memohon pertolongan. Ketika pertolongan tersebut datang, yaitu melalui terkabulnya doa, kita mengenal Tuhan sebagai Sang Pengasih & Penyayang, Ar Rahman Ar Rahiim.

Namun ketika ada informasi perihal surga & neraka, perihal alam akhirat, kita tidak mengetahui, tidak mengerti. Akal kita hanya memberikan strategi dan cara, yaitu agar percaya, sambil terus berjuang untuk membuktikan adanya hal-hal gaib tersebut.

Tidakkah kita sadar bahwa kita semakin mengenal Allah?

 

Mojosongo, 1 Desember 2021 / 26 Rabi’ul Akhir 1443


Berprestasi Tanpa Menyakiti; Hamba Yang Rendah Hati

Dan hamba-hamba Ar Rahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapk...