Sabtu, 27 Oktober 2012

Kisah Penciptaan Jiwa Menurut Kitab


Dalam kisah perihal penciptaan akal yang dicatat pula dalam hadits qudsy yang ditulis pada kitab Durratun Nasihin karya Syekh Utsman bin Hasan Asy-Syakir: Ketika Allah menciptakan akal (a7’’), Dia bertanya kepada akal (a7’’), “Siapa Aku dan siapa kamu?”
Akal (a7’’) menjawab, “Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu.”
Puas dengan jawaban tersebut, Allah berfirman bahwa Dia tidak akan menciptakan makhluk yang lebih mulia dari akal (a7’’).
Berbeda ketika Dia menciptakan jiwa. ketika jiwa ditanya Allah, “Siapa Aku dan siapa engkau?”
Jiwa  menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”
Jiwa pun disiksa dalam neraka panas selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun tetap menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”
Jiwa pun disiksa dalam neraka dingin selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun tetap menjawab, “Aku ya aku, Engkau ya Engkau.”
Jiwa pun disiksa dalam neraka lapar selama 1000 tahun. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jiwa pun akhirnya menyerah dan menjawab, “Aku hamba-Mu dan Engkau Tuhan-ku.”
Dari kisah tersebut sudah jelas bahwa yang dihukum adalah jiwa yang menyebut dirinya dengan “aku” atau “saya”.
Dalam penjelasan Yesus (as) dalam Injil Barnabas sebagai berikut: Berkata Yesus, “Adakah seorang manusia dijumpai yang masih ada kehidupan pada dirinya, akan tetapi kemampuan “aku” tiada bekerja padanya?”
“Tidak”, kata pengikut-pengikut itu.
“Kamu menipu dirimu sekalian”, kata Yesus. “Karena orang tuna netra, tuna rungu, tuna wicara dan cacat puntung, dimana “aku”nya? Dan kapan seorang manusia berada dalam pingsan?”
Kemudian para pengikut itu telah bingung, ketika Yesus berkata, “Ada tiga hal yang menjadikan manusia, yaitu ruh, “aku” dan daging (a1 s/d a4). Tiap satu diantaranya terpisah. Allah kita menciptakan ruh dan jasad (a1 s/d a4), sebagai yang telah kamu dengar, tetapi kamu belum mendengar bagaimana Dia menciptakan “aku”. Oleh sebab itu besok kalau Allah memperkenankan, aku akan menceritakan kepada kamu semua.”
“Demi Allah [yang] pada hadirat-Nya ruhku berdiri, banyak yang sudah tertipu mengenai kehidupan kita, karena demikian rapatnya hubungan antara ruh dan “aku”. Sehingga sebagian besar manusia mengiyakan ruh dan “aku” adalah hal yang satu dan sama, namun terbagi dalam penugasan bukan dalam wujud. Mereka menyebutnya sensitif (rasa perasaan), vegetatif (rasa tumbuh) dan jiwa yang cerdas (intellectual soul). Tetapi sungguh aku katakan kepadamu, ruh itu adalah satu, yang berakal dan hidup. Orang-orang dungu manakah akan mereka dapatkan ruh berakal (a7’’) tanpa kehidupan? Tentulah tidak pernah. Tetapi kehidupan tanpa “aku” dan kehendak (a6’) sudah dijumpai, sebagaimana keadaan ketidak-sadaran, dimana “aku” meninggalkannya.
Thaddeus menjawab, “O Guru, apabila “aku” meninggalkan kehidupan, seorang manusia tidak mempunyai kehidupan.”
Yesus menjawab, “Ini tidak benar, sebab manusia kehilangan kehidupan apabila ruh meninggalkannya, karena ruh itu tidak kembali lagi ke dalam tubuh (a1 s/d a4), terkecuali oleh mukjizat. Akan tetapi “aku” akan hilang lantaran ketakutan yang dialaminya atau kesedihan yang sangat diderita oleh “aku”nya. Justru “aku” itu telah diciptakan Allah untuk kesenangan dan dengan kesenangan itu sendiri, dia hidup. Bahkan sebagaimana tubuh (a1 s/d a4) itu hidup oleh makanan, ruh itu hidup dengan ilmu dan kasih sayang.
 “Aku” memberontak menentang ruh melalui perasaan marah. Hal ini berarti dia telah kehilangan kesenangan surga karena dosa. Oleh sebab itu adalah kewajiban yang paling utama untuk memeliharanya dengan kesenangan ruhani bagi orang yang tidak ingin hidupnya dalam kesenangan jasmani. Mengertikah kamu?
Sungguh aku berkata kepadamu bahwa Allah telah menciptakannya, telah menghukumnya ke neraka dan ke dalam salju dan es yang tak tertahankan karena ia berkata bahwa ia adalah Allah. Tetapi ketika Dia menghilangkan pemeliharaan terhadapnya dengan membawa pergi makanannya dari padanya, barulah ia mengetahui bahwa ia adalah seorang hamba Allah dan pekerja bagi tangan-tangan-Nya.
Dan sekarang ceriterakanlah kepadaku, bagaimana “aku” bekerja pada orang kafir? Pasti itu adalah sebagai Tuhan (Ilah) di dalam diri mereka, mengingat bahwa mereka mengikuti “aku” itu, memungkiri akal (a7’’) dan hukum Allah. Oleh sebab itu mereka menjadi tak menyenangkan dan tak beramal shalih.”
Dari kisah-kisah di atas bisa dimengerti kenapa orang diciptakan di atas bumi? Yaitu agar menjadi sarana untuk menghukum “aku” yang makar. Pertama aku akan digembleng di neraka panas, yaitu kehidupan dunia ini yang berasal dari panas.
Menurut Islam, selanjutnya aku digembleng di neraka dingin, yaitu alam kubur. Hal ini terjadi kalau dalam gemblengan di dunia, akunya masih belum menyadari jati dirinya dan tujuannya. Rasulullah (saw) bersabda, “Sesungguhnya liang kubur itu menyeru dengan lima kalimat. Ia berkata, “Aku adalah rumah kesendirian, maka bawalah teman kepadaku. Aku adalah rumah ular, maka bawalah penawar kepadaku. Aku adalah rumah kegelapan, maka bawalah lampu kepadaku. Aku adalah rumah tanah, maka bawalah permadani kepadaku. Aku adalah rumah kemiskinan, maka bawalah bekal kepadaku.””
Perihal neraka dingin karena terbukti bahwa raga seseorang sudah mati dingin. Lalu kemana dengan sayanya, dayanya, hatinya dan pikirannya? Kalau memperhatikan diri sendiri, nampak ada kecenderungan bahwa saya selalu menuju kepada yang dicintai. Bayangkan kalau saya di alam kubur tanpa raga (a1 s/d a4)? Barangkali keadaan frustasi itulah yang akan dialami. Seperti orang hidup, namun sadar bahwa dirinya lumpuh.
Bagaimana pula dengan sarana-sarana bathin seperti daya (a5), rasa (a5’), kemauan (a6’), memori (a5’’), pengertian (a6’’) dan akal (a7’’) yang dianugerahkan ketika hidup di dunia? Apakah bisa saya fungsikan? Sedangkan kenyataannya saya adalah entitas yang dikuasai, yang berarti saya tidak bisa apa-apa. Apalagi ketika saya ditanya tentang tanggung jawab yang harus saya emban saat hidup di dunia.
Di Jawa saya menyaksikan ada beberapa kejadian bahwa yang sudah wafat masih bisa diajak berkomunikasi, bisa dimanfaatkan untuk menjadi perantara. Walau tidak semua. Ada pula kejadian, dimana mereka yang sudah mendahului dan belum sempat mengenal Yang Kuasa, namun memiliki akhlak yang baik mendapat ampunan dengan mengenal Yang Kuasa melalui orang-orang tertentu. Bahkan banyak kisah tentang orang yang meninggal menyampaikan pesan melalui mimpi.
Namun ya begitu, karena alam qubur itu gelap tidak ada panas, tidak ada cahaya sehingga informasi yang bisa kita ambil masih tetap samar. Saya hanya bisa menduga memakai teori (A9), dimana dugaan saya itu hanya bisa terjadi atas izin dari Yang Kuasa. Tanpa izin-Nya tak akan mungkin hal tersebut terjadi.
Dari kitab lama kalau pun saya masih pula tidak sadar diri, maka akan digembleng di neraka lapar, yaitu di padang Mahsyar. QS Az Zumar 39 ayat 68-70: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu. Dan terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya Tuhannya; dan diberikanlah buku dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa apa yang dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” Untuk wilayah ini hanya bisa didekati dengan kepercayaan (A10).

Kamis, 25 Oktober 2012

Arti Manusia Menurut Rumus A


Bila dianalisa menggunakan Rumus A dan diambil sosok orang yang menyebut dirinya dengan nama Abdul. Abdul adalah sebutan untuk menandai jasmaninya (a1, a2, a3, a4). Abdul diberi kelengkapan berupa daya yang terdiri atas indra & motorik (a5), hati (a6) dan pikiran (a7). Abdul menyebut dirinya dengan “saya”.
Hati (a6) bilamana didetilkan terdiri atas jantung (a1’, a2’, a3’, a4’), perasaan (a5’) dan kemauan (a6’). Pikiran (a7) terdiri atas otak (a1’’, a2’’, a3’’, a4’’), memori (a5’’), pengertian (a6’’) dan akal (a7’’). Dengan pengertian ini, maka Abdul yang semula adalah untuk menandai jasmaninya, akhirnya digunakan untuk menandai totalitas dirinya.
Darimana Abdul berasal?
Abdul terwujud melalui sperma bapaknya dan sel telur ibunya. Yang pertama kali mewujud adalah otak (a’’) pada hari ke 16, lalu jantungnya (a’), baru raganya (a). Lalu  pada usia 4 bulan dalam kandungan, nafasnya berfungsi sebagai pertanda akan awal kehidupannya. Pada usia 9 bulan 10 hari, Abdul lahir ke dunia dengan fungsi indra dan motoriknya mulai berkembang. Ini ada hubungannya dengan pertumbuhan otak reptilianya. Pada usia sekitar 3 tahun, Abdul mulai memiliki ingatan (a5’’). Pada usia sekitar 5 tahun, Abdul mulai menyadari keberadaan dirinya (a6’’). Pada saat bersamaan pula perasaan hati (a5’) dan kemauannya (a6’) mulai menguat. Dan pada usia 7 tahunan Abdul mulai cerdas menggunakan akalnya untuk menarik manfaat (a7’’). Ini ada hubungannya dengan otak neocortexnya.
Dalam QS As Sajdah 32 ayat 7-9: Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (al af-idah); (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. Juga dalam QS Shaad 38 ayat 71-72: (Ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada Malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Ku-tiupkan kepadanya ruhKu; Maka hendaklah kamu menyungkur dengan bersujud kepadanya.” Pada saat Abdul berusia 4 bulan, ruh kehidupannya dihembuskan. Yang diturunkan disebut dengan ruh. Ruh menandai kehidupan sesuatu. Keberadaan ruh ditandai dengan nafas. Dimana janin mulai mengfungsikan paru-parunya untuk bernafas. Ruh ada hubungannya dengan kehidupan makhluk hidup. Kalau ruh dicabut, maka makhluk hidup tersebut akan mati.
Kesadaran diri Abdul ditandai dengan menyebut dirinya dengan “saya” baru muncul saat usia di atas 5 tahun. Saya kemudian ditempatkan dalam hati (a6). QS At Tiin 95 ayat 4-5 menyebutkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Dari pemahaman atas kenyataan “saya” Abdul dan QS At Tiin tersebut, maka “saya” ini diturunkan lebih lanjut ke posisi paling rendah yaitu hati (a6). Dengan memiliki hati tersebut, “saya” Abdul otomatis selalu berupaya meyenangkan diri memanfaatkan raganya (a1 s/d a4). QS Yusuf 12 ayat 53: Dan aku tidak membebaskan diriku, karena nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (an nafs al amarah bis suu’).
Ketika “saya” Abdul sadar bahwa memiliki daya (a5), maka Abdul merasa dirinya mampu, sehingga punya watak suka mencela. QS Al Qiyamah 75 ayat 2: Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (an nafs al luwamah). QS Al A’raaf 7 ayat 179: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati (qalbu), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
“Saya” Abdul ketika menggunakan perasaannya (a5’), maka Abdul berupaya mewujudkan kesenangan dirinya. Biasanya dalam upaya mewujudkan kesenangan, dia selalu diberi dua pilihan. QS Asy Syam 91 ayat 7-8: Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaan (an nafs al mulhamah atau sufiyyah). Umumnya orang akan memilih yang paling menyenangkannya.
“Saya” Abdul selanjutnya akan menggunakan kemauannya (a6’). Bukankah orang kalau bisa memenuhi kemauannya memperoleh ketenangan. QS Al Fajr 89 ayat 27: Hai jiwa yang tenang (an nafs al muthmainah).
“Saya” Abdul akan diingatkan kepada Tuhannya (saya <<< a5’’), kalau tumbuh kerelaannya, maka dia menjadi hamba yang ridha. “Saya” mulai ingat akan Yang Kuasa dan mulai ingat akan fitrahnya, yaitu menuruti tuntunan memorinya (saya <<< a5’’). QS Al Fajr 89 ayat 28: Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha … (Ar Radhiyah).
Pengertian (a6’’) akan membuatnya sadar, maka hingga bersedia menyatukan dirinya kepada Ilahi dengan kepercayaannya, maka Abdul akan menjadi hamba yang diridhai. Ini terjadi bilamana “saya” mulai mau mengikuti arahan pengertiannya (a6’’). Dia menjadi hamba yang mengerti dan diridhai Tuhannya. QS Al Fajr 89 ayat 28: … dan diridhai-Nya (Al Mardhiyah).
Sebagai manusia, Abdul memiliki kecintaan kepada dirinya sendiri. secara tidak sadar menjadikan dirinya sebagai Tuhannya. Ini artinya Abdul terseret kepada kecintaannya (saya >>> a7). Namun kalau “saya” Abdul mulai mengikuti tuntunan akalnya (a7’’), maka dia hanyalah hamba dari Yang Kuasa (saya <<< a7’’). QS Al Fajr 89 ayat 29: Maka masuklah ke dalam jamaáh hamba-hamba-Ku.
Oleh karena itu bilamana “saya” selalu dalam panduan pikiran (saya <<< a7), maka dia akan dimuliakan Allah. Dan tentunya tidak akan melakukan perusakan terhadap alam semesta seperti yang disinyalir oleh Malaikat dalam QS Al Baqarah 2 ayat 30: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan Khalifah di bumi.”
Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?”
Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Malaikat melihat kelakuan manusia dalam hal ini Homo Erektus, yaitu manusia pendahulu sebelum Nabi Adam (as) dan ibu Hawa (ra) diturunkan ke bumi. Homo Erektus ini barangkali prototipe manusia.
Ketika seseorang dikeluarkan dari perut ibunya, pada kenyataannya dia berhadapan dengan alam (A1 s/d A7). Dari pengamatannya terhadap alam, sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, orang pasti berada dalam keadaan tahu pasti (A8) atau ragu-ragu lalu berteori (A9) atau tidak tahu kemudian percaya (A10).
Namun pada kenyataannya pula orang menerima ide yang belum ada wujudnya, berarti dia belum tahu (A10), lalu dia terdorong untuk mewujudkannya. Kemudian dia berupaya mereka-reka cara untuk mewujudkan dengan menggunakan pikirannya (a7), sehingga berkembanglah ilmu pengetahuan baik teori maupun teknik (A9). Dengan gambaran yang dihasilkan dari penerapan ilmu tadi, dia kemudian mewujudkannya sehingga menjadi tampak (A8).
Demikian pula proses hilangnya wujud. Dari mula-mula ada (A8), lalu hilang dan berubah menjadi kisah sejarah (A9), kemudian dilupakan orang (A10). Bahkan mungkin telah berubah menjadi dongeng sebelum dilupakan.
PR terbesar manusia adalah bagaimana bisa menempatkan akal (a7’’), pengertian (a6’’) dan memori (a5’’) sebagai pemandu dalam menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu sebagai manusia harus selalu menempatkan diri sebagai pelaksana kewajiban, yaitu kewajiban kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara dan Tuhan. Kelima kewajiban ini sebenarnya tidak akan konflik kalau orang mau mengikuti perintah Kuasa. Karena Kuasa ada pada alam, yaitu melalui alam Kuasa memelihara manusia. Kuasa juga ada pada negara, karena melalui negara, Kuasa melindungi orang yang disebut dengan warga negara. Kuasa pada diri orang yang memerintahkan orang tersebut beraktifitas melalui dirinya.
Dengan rumus A, maka kegiatan hidup orang bisa digambarkan sebagai berikut:

Rabu, 24 Oktober 2012

Arti Manusia


Manusia (A7) ditempatkan pada puncak piramida penciptaan. Dan “saya” disabda turun ke tubuh manusia ini. Ini hanyalah sebagian dari tanda-tanda kecintaan Kuasa kepada “saya”. Bukti yang lain adalah kehidupan di alam semesta senantiasa berubah (seleksi alam) dan setelah semuanya tertata dengan rapi, “saya” diturunkan ke manusia. Individu manusia atau orang ini diizinkan untuk melakukan eksploitasi alam demi memperoleh kenikmatan yang diinginkan. Jadi alam semesta ini memang diadakan demi “saya”, namun sebagai sarana pendidikan kepada “saya” agar bersedia menerima kenyataan fitrahnya.
Dalam pelaksanaannya, orang membaca alam dan menarik kepastian. Kesalahan dalam membaca alam atau kesalahan dalam menarik kepastian akan membuat orang tersebut celaka bahkan mencelakai.
Kenapa ini bisa terjadi?
Ini terjadi karena orang tidak mengenal dirinya sendiri. Pada zaman sekarang banyak orang lalai karena mengandalkan orang lain tanpa penelaahan. Apalagi ketika ditakut-takuti.
Kenyataannya setiap orang dari kecil sudah diberi amanah oleh orang tuanya untuk melaksanakan nilai-nilai yang disampaikan oleh orang tuanya atau orang-orang yang dituakannya. Termasuk para guru di sekolah juga menambahkan amanat agar setiap orang menjadi seperti yang mereka harapkan.
Sampai akhirnya orang menjadi tidak kuat dengan beban amanat tersebut karena seringkali bertentangan dengan kenyataan yang ada. Sehingga orang cenderung menyalahkan zaman, menyalahkan keadaan dan lain-lain. Jarang ada orang yang mau membaca kenyataan ini dan menyimpulkan secara bijak.
Untuk menjelaskan arti manusia ini, marilah membaca alam dengan akurat dan menarik kesimpulan dengan cerdas. Kegagalan akan upaya ini akan membuat orang-orang tidak memperoleh nikmat, malahan kuwalat.

Senin, 22 Oktober 2012

Peran Manusia Dalam Ungkapan Bahasa Jawa


UNGKAPAN:

A.   UNGKAPAN PRIBADI
1.   Ingsun sejatining utusan
2.   Winengku dening Sang Hyang Jagad
3.   Kinasih Maring Hang Kuoso
4.   Urip amangun gesang
5.   Ngudi urip laras, tentrem, ayem adoh ing sambikolo
Ora ninggalake paugeran dadi juru selamet lan golek selamet tansah nganggo dasar pengertian urip nguripi urip diuripi
B.   UNGKAPAN KEBERSAMAAN
Ingsun tansah pinayungan dening agomo Purwanusantara; Agomo kang angyakini anane Gusti Kang Moho Kuoso lan angyakini yen Pembukaan UUD’45 minongko lembaran suci. Peparinge Gusti Kang Moho Kuoso marang rakyat Indonesia ugo dadi dasar Negara Republik Indonesia; Pengayom rakyat Indonesia serto amangun gesange rakyat Indonesia lan ora ninggalake faham Pancasila.

Awal Perwujudan


Ide awal adanya lembaga tentunya berasal dari Yang Kuasa yang dilambangkan dengan « dan melalui pintu percaya l proses berlangsung. Cita dari lembaga tersebut berada di awal yang terdiri atas cita itu sendiri dan kuasa lebih. Dan agar bisa terwujud harus selalu ada kuasa positif dan kuasa negatif yang senantiasa dalam keseimbangan. Selama kuasa plus dan minus belum seimbang, maka akan terjadi proses pergerakan menuju kepada keseimbangan.
Bilamana awal ini digambarkan adalah sebagai berikut:
Skema Awal menurut teori atom
Apa perlunya mengetahui hal ini?
Bagaimana pula dengan sang diri yang menyebut dirinya dengan aku? Dari manakah aku ini berasal?
Kuasa sebagai wujud sempurna, tidak mungkin diketahui, apalagi dikuasai. Ibarat orang berjalan di pantai, lalu melihat jejak kaki orang. Maka dia bisa berkesimpulan dari pengertiannya bahwa tadi ada orang jalan di pantai tersebut. Namun siapa yang berjalan, tidak diketahui. Demikian juga dengan adanya alam semesta ini. Kita tahu bahwa ini adalah jejak adanya Kuasa. Namun tidak seorang pun yang tahu siapa Dia. Hanya bisa mengerti ada-Nya dan percaya kepada-Nya.
Kuasa dinyatakan ada kalau ada yang dikuasai. Siapakah yang dikuasai-Nya? Tentunya adalah Aku-Nya. Aku sebagai sebagai yang dikuasai akan menjadi pelaksana Kuasa. Aku memiliki dorongan keakuan, berupa dorongan memiliki. Aku sadar bahwa memiliki Kuasa adalah menyenangkan, sehingga aku ingin memiliki Kuasa. Berarti aku telah melakukan makar kepada Yang Kuasa. Sebagai akibatnya aku disabda turun ke alam dunia yang tercipta dari api, melalui badan manusia. Aku ini dididik oleh Kuasa dalam api agar tahu diri dan bersedia menjadi pelaksana dari Kuasa. Kesatuan Aku dan Kuasa disebut sebagai Yang Kuasa.
Dengan memahami konsep wahyu Jagad Pitu diharapkan orang bisa mensikapinya dan bersedia menjalani fitrah kehidupannya, yaitu senantiasa mengikuti arahan pikirannya (a7) yang mampu mengerti cita Ilahi dan mewujudkannya untuk kenikmatan diri dan alam sekitarnya. Janganlah mengaku sebagai individu manusia atau orang namun kesibukannya hanyalah memanfaatkan ragawi (aku >>> a), maka dia akan hidup seperti tumbuhan. Atau hidupnya hanya memanfaatkan hatinya (aku >>> a’) seperti hewan. Mereka seperti orang kerasukan jin, bahkan sampai kesetanan dalam mewujudkan kemauannya. Apalagi kalau aku sampai naik ke pikiran (a7). Akal (a7’’) akan rusak sehingga yang terjadi hanyalah berangan-angan. Pengertian (a6’’) rusak yang muncul pengertian sesat. Memori rusak yang ada adalah nilai-nilai sesat. Hasilnya adalah orang berwatak Iblis.
Berbeda dengan orang yang memahami akan fitrah jati dirinya. Dia akan selalu berusaha menempatkan memori (aku <<< a5’’) sebagai pengingatnya bahwa semua peristiwa adalah kehendak dari Kuasa, yang dengan itu dia selalu ingat akan fitrah dirinya dan Kuasa. Atau bahkan dipandu dengan pengertiannya (a6’’) sehingga dia selalu sadar (aku <<< a6’’) akan Yang Kuasa dan mengerti akan perannya. Tentunya yang terbaik adalah selalu mengikuti arahan akal (a7’’) yang dengan itu dia menjadi cerdas (aku <<< a7’’), hingga bisa memaksimalkan hidupnya dengan menarik manfaat untuk mencapai tujuan yang tertinggi, yaitu sebagai utusan dari Kuasa.
Konsep hati (a1’-a4’) beserta perasaan (a5’) menjelaskan peran jin dan kemauan (a6’) menjelaskan watak setan. Dalam Quran disebutkan bahwa setan akan membisikkan was-was ke dalam dada manusia.
Otak (a1’’-a4’’) beserta memori (a5’’), pengertian (a6’’) dan akal (a7’’) menjelaskan peran malaikat yang dikisahkan makhluk suci yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hubungannya dengan Yang Kuasa. Sebagai contoh otak kalau rusak, maka orang akan mengalami kehilangan kesadaran diri, terputus hubungannya dengan raga (a), bisa dikatakan sudah tidak hidup. Meski bisa saja hidup sebagai wujud ragawi seperti tumbuhan. Jadi otak ada hubungannya dengan malaikat Izrail. Kalau memori (a5’’) mengingatkan orang kepada Kuasa, hubungannya dengan malaikat Isrofil sebagai peniup terompet atau pengingat. Orang yang mengerti (a6’’) akan mendapat kesenangan atau rezeki, berarti ada hubungannya dengan malaikat Mikail. Sedangkan Jibril sebagai pembawa wahyu ada hubungannya dengan akal (a7’’), yaitu memberikan cara berupa rencana dan strategi.
Rumus A atau wahyu Jagad Pitu inilah yang harus ditawarkan kepada masyarakat sebagai alternatif agar orang tahu diri. Sehingga bersedia dengan ikhlas untuk menjalankan peran yang disandangnya dalam kehidupan.

Memahami manusia & perannya dengan rumus A - Jagad Pitu

Bilamana « dan 🌑 diberi istilah Kuasa, maka A s/d A7 disebut dengan istilah alam yang merupakan cipta / pengejawantahan dari cita atas Kuasa-Nya. Sedangkan Aku-Nya atau yang dikuasai disabda menyatu dalam alam tersebut. Oleh karena itu totalitas « hingga A7 disebut sebagai Yang Kuasa. Yang dalam istilah Islam disebut dengan Allah.
Dengan logika yang sama, ketika seorang individu manusia diciptakan atau dikeluarkan dari alam manusia, maka a s/d a7 orang tersebut adalah juga cipta dari Kuasa. Sedangkan yang dikuasai disabda turun menjadi “saya” dari orang tersebut. Saya ini juga disebut dengan diri atau jiwa atau nafsu dari orang tersebut. Berarti totalitas  « hingga a7 pada individu manusia disebut sebagai hamba atau khalifah atau utusan Yang Kuasa atau Allah.
Namun pada diri manusia terdapat « hingga a6’, yaitu hati (a6) yang terdapat dalam dada. Orang yang terseret perasaan hatinya akan bertingkah kerasukan dan bilamana kemauannya dihalangi menjadi kesetanan. Seolah menginformasikan kepada kita bahwa perasaan hati (a5’) adalah dalam wilayah jin. Bukankah dalam Quran jin juga menimbulkan was-was dalam hati orang? QS An Naas 114 ayat 4-6: “Dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” Sedangkan kemauan hati (a6’) adalah wilayah setan. Saya ketika disabda diturunkan ke dalam hati, sehingga dengan wataknya yang selalu ingin memiliki membawa kepada keakuan diri.
Pada diri orang juga terdapat « hingga a7’’, yaitu otak atau pikiran (a7) yang akan memberikan petunjuk atau penerangan kepada orang tersebut melalui ide-ide yang diterima oleh pikiran seseorang. Penerangan atau penjelasan berarti memberikan pencerahan kepada diri seseorang, sehingga bisa disebut sebagai wilayah malaikat yang tercipta dari cahaya. Bukankah Jibril memiliki akal yang sangat cerdas? QS An Najm 53 ayat 2-11: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. Yang dijelaskan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Fuadnya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”
Ringkasan Wahyu Jagad Pitu
Masing-masing elemen pada orang akan berada dalam wilayah masing-masing yang dalam rumus A ditandai dengan garis (___). Hanya akunya yang akan berinteraksi dengan masing-masing sarana hidup manusia tersebut.
Dengan pikiran (a7), manusia seharusnya mengembangkan peradaban. Yaitu menempatkan Yang Kuasa di muka bumi atau Baitullah. Baitullah tersebut akan menjadi peran nyata keberadaan Yang Kuasa di bumi. Baitullah bisa berupa bangunan, perusahaan bahkan negara.
Bagaimana dengan Homo Erectus dan juga orang-orang yang tidak mau mengikuti arahan pikirannya (a7) bahkan dirusak oleh kemauannya?
Homo Erectus dan orang-orang yang tidak mau mengikuti pikirannya (a7) berarti hanya mempergunakan ragawi (a) dan hatinya (a’). Kelompok manusia ini hanya mengikuti kesenangan hatinya, sehingga hanya mampu membuat peradaban sederhana dan konon senang menumpahkan darah. Mereka hanya hidup untuk memuaskan dirinya dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Karena tidak akan mampu menterjemahkan cita-cita Tuhan, yaitu mewujudkan kenikmatan yang tidak terbatas kepada makhluk-Nya.
Bagaimana pula dengan orang-orang yang mau menggunakan pikirannya (a7), namun tidak mau mengakui ada-Nya?
Mereka akan membuat peradaban, namun peradaban yang akan membawa kepada kehancuran bumi.
Bilamana digambarkan, Homo Erectus dengan raga (a) dan hatinya (a’) melakukan pengamatan terhadap alam semata-mata untuk memuaskan dirinya. Pikiran (a7) belum mampu membuat mereka sadar dan hanya dipakai untuk memenuhi tujuannya. Mereka mendapat pengetahuan dari alam melalui indra (a5), lalu dipersepsikan oleh hatinya (a’) yang berhubungan dengan otak mamalianya untuk mendapatkan kesenangan. Dari hasil persepsi tersebut, akan muncul keinginan (a6’). Keinginan (a6’) kemudian akan memberikan perintah ke otak reptilianya untuk menggerakkan tubuhnya (a1-a4) melalui daya (a5) untuk menuntaskan keinginannya.
Berbeda dengan orang yang mengikuti arahan pikirannya (a7). Ketika orang menerima pengetahuan melalui pengamatan terhadap yang bisa diindrai (a5) dan yang bisa dirasakan (a5’), maka data tadi akan dicek oleh memorinya (a5’’). Dengan itu dia mengetahui. Kemudian data tersebut diolah oleh pengertian (a6’’). Pengertian (a6’’) ini akan membawa kepada tiga kemungkinan, yaitu pasti mengerti, ragu-ragu dan tidak mengerti. Kalau mengerti, maka dia akan menyusun rencana dan strategi menggunakan akal (a7’’) untuk dilaksanakan. Kalau pengertian belum mengerti atau masih ragu-ragu, maka akal (a7’’) bisa mengusulkan dugaan atau teori. Orang tersebut kemudian bisa jadi tidak mengambil tindakan apa-apa atau mungkin tetap nekad. Sedangkan kalau tidak mengerti pun akal (a7’’) akan memberikan solusi agar percaya saja, yang dengan itu dia bisa saja tidak mengambil tindakan apa-apa. Atau mengikuti apa yang dia percayai.
Melalui pikiran (a7) orang akan mampu mengembangkan peradaban, yang dengan peradaban itu, maka nikmat Tuhan akan terwujud. Sebagai contoh adanya kemacetan, maka dengan pengetahuannya ada yang marah (-), ada yang sabar menanti (+). Namun ada yang merenung dan muncul harapan agar lancar. Harapan tersebut bisa jadi adalah cita Ilahi akan kebutuhan sarana transportasi yang fitrahnya adalah untuk kelancaran. Dari harapan tersebut muncul ide dari yang berkuasa untuk melebarkan jalan, membangun flyover atau underpass atau bahkan sarana transportasi massal.
Dengan demikian bisa diringkas bahwa peradaban berasal dari sesuatu yang diketahui dengan pasti, disebut A8. Dalam istilah Jawa disebut dengan ilmu Katon. Menurut Al Quran disebut dengan áinul yaqin[1]. Peradaban dari sesuatu yang masih dikira-kira, seperti teori atau filsafat, disebut A9 atau dalam istilah orang Jawa disebut dengan istilah ilmu Karang (dikarang-karang). Menurut Al Qurán disebut dengan ílmu hingga ílmul yaqin[2]. Dan peradaban yang berasal dari apa yang dipercayai, disebut A10 atau ilmu Klenik dalam istilah orang Jawa. Menurut Qurán disebut dengan percaya (iman) karena gaib.
Melalui pengamatan alam tersebut orang akan selalu menghadapi ketiga keadaan tersebut sebagai jalan masuk menuju kepada nikmat yang berasal dari cita Ilahi. Cita Ilahi yang kemudian diwujudkan dalam bentuk lembaga merupakan tugas setiap orang untuk mewujudkan baik sendiri atau pun secara berkelompok.
Proses ini digambarkan dalam Quran surat Al Baqarah 2 ayat 1 – 4, yaitu: “Alif Lam Mim. Kitab yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka beriman kepada Kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya akhirat.”
Makna mendirikan sholat di sini adalah upaya cerdas menggunakan akal (a7’’) untuk mewujudkan tujuan. Sedangkan untuk mewujudkan tujuan perlu modal, yaitu melalui menafkahkan rezeki yang dimiliki. Dalam upaya mewujudkan, menggunakan ilmu-ilmu yang telah dikembangkan oleh orang-orang terdahulu dan ide-ide yang difahami. Bukankah ilmu tersebut berupa bacaan, dan bukan sekedar tulisan? Waktu dari mengawali perwujudan hingga jadi adalah waktu tirakat atau puasa. Saat perwujudan terjadi, itulah hadiah kemuliaan dari Yang Kuasa atau disebut haji bagi orang Islam.
Ini penjelasan dari sisi lahir. Dari sisi bathin, sebagaimana sudah menjadi budaya umat Islam.



[1] QS Ats Tsakatsur 102 ayat 6
[2] QS Ats Tsakatsur 102 ayat 5

Minggu, 21 Oktober 2012

Wangsit Jagad Pitu Dalam Rumus A

Kalau setiap orang berupaya menguasai ilmu pengetahuan tersebut, dengan umurnya niscaya tidak akan mencukupi untuk bisa memahami seluruh proses terciptanya alam semesta. Apalagi masalah tersebut bukan bidang keahlian orang pada umumnya.

Melalui pengamatan alam, diantaranya dilakukan oleh seorang anak muda yang masih berumur 13 tahunan yang sedang berdiang di dekat tungku tanah dengan kayu bakar untuk memasak, dia menangkap pengajaran bahwa proses kejadian alam dunia berasal dari api, lalu udara, kemudian planet dan selanjutnya air. Setelah itu berlangsunglah fase keberadaan makhluk hidup yang dimulai dari tumbuhan lalu hewan dan puncaknya adalah manusia.

Bersamaan dengan proses kedewasaannya, pengajaran tersebut disempurnakan dengan memperhatikan alam, yaitu adanya matahari, atmosfer, bumi dan air hujan. Baru muncul tumbuhan, hewan dan manusia. Melalui pengamatan alam tersebut, beliau yang menekuni bidang Ketuhanan menyadari bahwa Ketuhanan bisa dijelaskan melalui penciptaan alam. Namun hal tersebut perlu dirumuskan untuk memudahkan pengajaran bagi yang lain dan mudah diterapkan bagi seluruh umat manusia. Pengajaran yang difahami perihal Ketuhanan diharapkan membawa umat manusia kepada keselamatan, karena yang pasti bisa menyelamatkan umat manusia hanyalah Yang Maha Kuasa yang menciptakan alam dunia.

Pengajaran yang beliau terima dituangkan dalam suatu rumusan Ketuhanan dan disebut dengan istilah wahyu “Jagad Pitu”. Beliau adalah bapak Mas Supranoto dari padepokan Wijaya Candra Loka Manggisan Banyuwangi. Beliau lahir di Banyuwangi pada 18 September 1934.

Wahyu menurut KBBI berasal dari bahasa Arab “waha” yang berarti memberi wangsit/pesan, mengungkapkan atau memberi inspirasi. Dengan demikian bagi wahyu sebenarnya adalah hal jamak bagi semua orang, yaitu kesimpulan yang diterima oleh pikiran yang berasal dari pengamatan terhadap alam. Berarti wahyu adalah pesan yang bisa diterima dengan pikiran. Yang membedakan adalah akurasi dalam membaca tanpa dipengaruhi memori dan juga saat penyampaian pikiran. Para Nabi adalah yang paling akurat dalam hal ini.

Dari pengamatan beliau, bisa ditarik kesimpulan bahwa keberadaan setiap wujud atau peristiwa adalah bentuk-bentuk kekuasaan. Berarti dibalik sesuatu ada Kuasa yang mewujudkan. Jadi sebelum penciptaan, tentunya yang ada hanyalah Kuasa sendirian. Kuasa tersebut oleh bapak ditandai dengan simbol . Kuasa wajib menguasai, tanpa adanya yang dikuasai tidak ada kuasa. Yang dikuasai ini tentunya adalah DiriNya sendiri atau AkuNya. Kesatuan antara Kuasa dan Yang dikuasai disebut dengan Yang Maha Kuasa. Disebut Yang Maha Kuasa bila tidak melakukan apa-apa, ya tidak bisa disebut sebagai Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu harus ada karya dari Yang Maha Kuasa, yaitu penciptaan alam dunia ini.

Sebagai manusia, kita mengetahui akan sebutan Allah atau sebutan lainnya untuk Yang Maha Kuasa karena disampaikan oleh orang tua atau para guru, namun kita tidak pernah mampu mengidentifikasi SosokNya, karena tidak ada dalam memori kita. Namun kejelasan akan KeberadaanNya akan semakin nyata bersama dengan proses kedewasaan umat manusia. Yang Maha Kuasa tidak bisa diketahui dan tidak bisa dimengerti karena Dia kuasa mutlak. Bukankah dengan pengetahuan dan pengertian akan sesuatu, manusia bisa menguasainya? Oleh karena itu pendekatan yang bisa dilakukan hanyalah melalui pintu kepercayaan yang ditandai dengan l.

Yang Maha Kuasa memiliki kehendak yang dalam bahasa manusia disebut dengan cita alam l. Dengan kuasa-Nya cita tersebut kemudian disabda , maka melalui cipta proses penciptaan atau perwujudan berlangsung. Selama proses keberlangsungan terjadi tarik-menarik antara kuasa plus (+) dan kuasa (-). Karena keduanya sama-sama kuat, maka perwujudan tidak pernah terjadi. Wujud dari ciptaan akan terjadi saat sudah ada kesimbangan antara kuasa (+) dan kuasa (-). Hal ini karena adanya Kuasa lebih yang akan mengelola kuasa (+) dan kuasa (-) menuju perwujudan cita alam. Secara singkat semua kegiatan sebelum ada alam dunia disebut awal atau disingkat A.

Konsep bapak yang berdasarkan pengamatan awami yang bukan ahli fisika ini mirip dengan konsep atom, dimana pada inti atom tentunya terdapat cita atom, yang memiliki netron (netral), proton (+) dan elektron (-). Hanya konsep cita alam, sabda, cipta dan kehendak sebagai pembentuk atom tidak dijelaskan secara jelas oleh para ilmuwan, semisal kenapa terbentuk atom Hidrogen? Kenapa atom Hidrogen hanya memiliki dua buah elektron.

Dari pengamatan awam seperti bapak, bentuk wujud pertama adalah api, yaitu matahari. Matahari selain memberikan panas, juga penerangan. Tanpa adanya matahari tidak ada kehidupan di bumi. Matahari disimbolkan dengan A1.

Yang kedua adalah atmosfer atau udara. Atmosfer disimbolkan dengan A2.

Yang ketiga adalah planet bumi. Bumi disimbolkan dengan A3.

Yang keempat adalah air. Air yang jatuh ke muka bumi sebagai hujan. Air ini disimbolkan dengan A4.

Dengan adanya keempat elemen tersebut, maka tumbuhan pun hidup di bumi sebagai wujud kelima. Tumbuhan disimbolkan dengan A5.

Setelah adanya tumbuhan dan tempat hidup beserta sarananya, maka terciptalah wujud keenam, yaitu hewan. Hewan disimbolkan dengan A6.

Terakhir atau yang ketujuh adalah manusia. Manusia disimbolkan dengan A7.

Kalau digambarkan dalam skema sebagai berikut:

---

---

Awal A

----------------------------

Pada matahari A1 terdapat elemen A1

Pada atmosfer A2 terdapat elemen A1, A2

Pada bumi A3 terdapat elemen A1, A2, A3

Pada air A4 terdapat elemen A1, A2, A3, A4

---------------------------------------

Pada tumbuhan A5 terdapat elemen A1, A2, A3, A4, A5

Pada hewan A6 terdapat elemen A1, A2, A3, A4, A5, A6

Pada manusia A7 terdapat elemen A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7

Manusia A7 adalah makhluk yang paling sempurna karena memiliki elemen yang paling lengkap.

Yang Maha Kuasa selalu ada dimana-mana atau dikatakan meliputi segala sesuatu. Sehingga pada setiap wujud selalu terdapat kuasa yang menjaga supaya wujud tersebut tidak hancur, yaitu yang disebut dengan daya. Bagi makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia, selain memiliki daya, juga dianugerahi kemampuan. Masing-masing wujud memiliki fitrah atau bawaan masing-masing sesuai cita alamnya. Misalnya wujud api A1 memiliki daya membakar sekaligus menerangi. Udara A2 selalu memenuhi tempat dan mengalir mengikuti penggeraknya. Tanah A3 memberi bentuk dan cenderung diam tak bergerak. Air A4 selalu memenuhi wadahnya.

Bila diambil individu manusia A7 yang disebut sebagai orang dan didetilkan, maka dijumpai elemen-elemen sebagai berikut:

---

---

Awal a

---------------------------

Api a1 terdapat elemen a1

Udara a2 terdapat elemen a1, a2

Tanah a3 terdapat elemen a1, a2, a3

Air a4 terdapat elemen a1, a2, a3, a4

-----------------------------------------------

Raga a5 terdapat elemen a1, a2, a3, a4, a5

Jantung a6 terdapat elemen a1, a2, a3, a4, a5, a6

Otak a7 terdapat elemen a1, a2, a3, a4, a5, a6, a7

Otak a7 yang paling sempurna. Aktifitas otak a7 mampu mengontrol aktifitas jantung a6 dan raga a5. Totalitas diri akan menggunakan istilah jasmani a7.

Dari sisi kuasa, raga a5 bilamana didetilkan akan dijumpai elemen kuasa sebagai berikut:

---

---

Awal a’

---------------------------

Daya api a1’ terdapat elemen kuasa a1’

Daya udara a2’ terdapat elemen kuasa a1’, a2’

Daya tanah a3’ terdapat elemen kuasa a1’, a2’, a3’

Daya air a4’ terdapat elemen kuasa a1’, a2’, a3’, a4’

-----------------------------------------------

Sensorik & motorik a5’ terdapat elemen kuasa a1’, a2’, a3’, a4’, a5’

Sensorik & motorik a5’ adalah kemampuan indra & gerak yang juga terdapat pada tumbuhan A5, namun tidak memiliki elemen hewan A6 dan manusia A7. Dengan demikian raga a5 ini akan memiliki dorongan atau naluri seperti tumbuhan A5.

Dari sisi kuasa, jantung a6 kalau didetilkan memiliki elemen kuasa sebagai berikut:

---

---

Awal a”

---------------------------

Daya api a1” terdapat elemen kuasa a1”

Daya udara a2” terdapat elemen kuasa a1”, a2”

Daya tanah a3” terdapat elemen kuasa a1”, a2”, a3”

Daya air a4” terdapat elemen kuasa a1”, a2”, a3”, a4”

-----------------------------------------------

Perasaan a5” terdapat elemen kuasa a1”, a2”, a3”, a4”, a5”

Kemauan a6” terdapat elemen kuasa a1”, a2”, a3”, a4”, a5”, a6”

Elemen kuasa pada jantung a6 dilengkapi dengan kemampuan perasaan a5” yang ada hubungannya dengan a5’, yaitu kemampuan motorik & sensorik dan kemauan a6’’. Dengan demikian pada wujud jantung ini akan memiliki dorongan naluri seperti tumbuhan A5 dan hewan A6.

Pada otak atau jasmani a7 memiliki elemen-elemen kuasa sebagai berikut:

-

-

Awal a’’’

-------------------------------

Daya api a1’’’ terdapat elemen kuasa a1’’’

Daya udara a2’’’ terdapat elemen kuasa a1’’’, a2’’’

Daya tanah a3’’’ terdapat elemen kuasa a1’’’, a2’’’, a3’’’

Daya air a4’’’ terdapat elemen kuasa a1’’’, a2’’’, a3’’’, a4’’’

------------------------------------------------------

Memori a5’’’ terdapat elemen kuasa a1’’’, a2’’’, a3’’’, a4’’’, a5’’’’

Pengertian a6’’’ terdapat elemen kuasa a1’’’, a2’’’, a3’’’, a4’’’, a5’’’, a6’’’

Akal a7’’’ terdapat elemen a1’’’, a2’’’, a3’’’, a4’’’, a5’’’, a6’’’, a7’’’

Memori a5”’ adalah kemampuan untuk menyimpan data. Memori a5’’’ ini menerima data dari kemampuan motorik dan sensorik a5’ dan perasaan a5’’. Pengertian a6’’’ adalah kemampuan mengolah data sehingga diperoleh manfaat. Kemampuan mengerti a6’’’ ini ada hubungannya dengan kemauan a6’’. Akal a7’’’ adalah kemampuan sebagai perancang dan penyusun strategi, yaitu menyajikan “cara”. Ini yang tertinggi, yang hanya dimiliki manusia. Namun demikian, manusia juga memiliki dorongan naluri tumbuhan A5 dan hewan A6, selain nalurinya sendiri sebagai manusia A7.

Karena daya dan kemampuan sejatinya adalah bentuk-bentuk kuasa, maka semuanya daya dan kemampuan adalah milik Yang Maha Kuasa. Daya dan kemampuan seringkali disebut dengan istilah bathin, yang artinya menurut KBBI artinya gaib atau tersembunyi.



Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...