Senin, 22 April 2024

Apa sejatinya makna fuw`ad yang merupakan tempat terbitnya ma'rifatullah?

Di Al Quran terdapat istilah fuw`ad yang diterjemahkan sebagai hati. Namun sejatinya apa yang dimaksud dengan fuw`ad?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya yang sahih dalam menjawab adalah Allah dan Rasulullah SAW yang menerima wahyu berupa Al Quran tersebut. Allah tentunya sudah menjelaskan melalui Al Qur`an dan Rasulullah SAW telah menjelaskan dalam Haditsnya, namun kita akan melakukan penelitian akan istilah tersebut dalam Al Quran itu sendiri.

Tafsir Al Quran per kata memaknanai fuw`ad dengan hati. Dengan terjemahan yang sama dengan qalbu, tentunya akan membingungkan umat. Marilah kita telaah ayat-ayat tentang fuw`ad ini untuk mendapatkan kepastian maknanya.

QS Al An’am 6 ayat 110: Dan Kami memutar-balikkan (wanuqallibu) hati mereka (af`idatahum) dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya, pada pertama kali dan Kami biarkan mereka dalam kedurhakaan kebingungan.; dan pada ayat 113: Dan supaya cenderung kepadanya hati (af`idatu) orang-orang yang tidak beriman kepada hari Akhirat dan supaya senang kepadanya (bisikan setan) dan supaya mereka kerjakan apa yang (setan) mengerjakan. Fuw`ad di sini dihubungkan dengan kecenderungan hati, namun masih samar maknanya.

QS Hud 11 ayat 120: Dan Kami ceritakan kepadamu dari sebagian berita para Rasul (adalah) apa Kami teguhkan dengannya hatimu (fuw`adaka) dan telah datang kepadamu di dalam ini kebenaran dan pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Fuw`ad di sini ada hubungannya dengan keteguhan. Biasanya manusia memang tidak teguh dalam perjuangan mewujudkan cita-cita, apalagi bila semakin tinggi tingkat halangannya.

QS Ibrahim 14 ayat 37: Ya Rabb kami sesungguhnya aku menempatkan dari keturunanku di lembah tidak mempunyai tanaman di dekat Rumah Engkau dihormati. Ya Rabb kami agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati (af`idatan) dari manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan agar mereka bersyukur. Fuw`ad dalam ayat ini ada hubungannya dengan rasa syukur, yaitu bilamana keinginan kita terwujud.

QS An Nahl 16 ayat 78: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui sesuatu dan Dia anugerahkan bagi kalian pendengaran dan penglihatan dan hati (wal`af`idata) agar kalian bersyukur. Sama dengan QS Ibrahim 14 ayat 37 di atas.

QS Al Isra’ 17 ayat 36: Dan jangan kamu mengikuti apa yang tidak ada bagimu tentangnya pengetahuan. Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati (walfuw`ada) tiap-tiap mereka itu tentang itu (akan) ditanya. Fuw`ad di sini ada hubungannya dengan pertanggungjawaban, yaitu berhubungan dengan niat / keinginan dan perbuatan.

QS Al Mu’minun 23 ayat 78: Dan Dia yang mengadakan bagi kalian pendengaran dan penglihatan dan hati (wal`af`idata). Amat sedikit kalian bersyukur. Sama dengan QS Ibrahim 14 ayat 37 dan QS An Nahl 16 ayat 78 di atas.

QS Al Furqan 25 ayat 32: Dan berkata orang-orang yang ingkar mengapa tidak diturunkan kepadanya Al Qur`an jumlah sekaligus? Demikianlah karena Kami hendak meneguhkan dengannya hatimu (fuw`adaka) dan Kami membacakannya bacaan yang tartil. Sama dengan QS Hud 11 ayat 120 di atas.

QS Al Qashash 28 ayat 10: Dan menjadi hati (fuw`adu) ibunda Musa kosong. Sungguh ia hampir menyatakan (rahasia) tentangnya, seandainya tidak Kami teguhkan atas hatinya (qalbiha) supaya ia adalah termasuk orang-orang yang beriman. Fuw`ad di sini ada hubungannya dengan kekecewaan atau kegagalan dalam mewujudkan keinginan.

QS As Sajdah 32 ayat 9: Kemudian Dia menyempurnakannya dan Dia meniupkan kedalamnya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kalian pendengaran dan penglihatan dan hati (wal`af`idata), sedikit sekali kalian bersyukur. Sama dengan QS Ibrahim 14 ayat 37, QS An Nahl 16 ayat 78 dan QS Al Mu’minun 23 ayat 78 di atas.

QS Al Ahqaf 46 ayat 26: Dan sesungguhnya Kami meneguhkan kedudukan mereka di dalam hal tidak Kami meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami jadikan bagi mereka pendengaran dan penglihatan dan hati (wa`af`idatu). Tetapi tidak berguna bagi mereka pendengaran mereka dan tidak penglihatan mereka dan tidak hati mereka (`af`idatahum) sedikit juapun, karena mereka selalu mengingkari terhadap ayat-ayat Allah dan meliputi pada mereka apa yang mereka dengannya selalu memperolok-olok. Sama dengan QS Hud 11 ayat 120 dan QS Al Furqan 25 ayat 32 di atas.

QS An Najm 53 ayat 11: Tidak mendustakan hatinya (alfu`aadu) akan apa yang dia lihat. Ayat ini mengisahkan adanya suatu maqam dari diri seseorang.

QS Al Mulk 67 ayat 23: Katakanlah Dia yang menumbuhkan dan menjadikan bagi kalian pendengaran dan penglihatan dan hati (wal`af`idata), amat sedikit kalian bersyukur. Sama dengan QS Ibrahim 14 ayat 37, QS An Nahl 16 ayat 78, QS Al Mu’minun 23 ayat 78 dan QS As Sajdah 32 ayat 9 di atas.

QS Al Humazah 104 ayat 7: yang naik sampai ke hati (al-`af`idati). Bukankah keinginan yang tidak terwujud merupakan siksaan? Ini mirip dengan QS Al Qashash 28 ayat 10 di atas.

Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik benang merahnya, yaitu makna fuw`ad adalah keinginan hati. Keinginan hati itu darimana munculnya? Tentunya berasal dari dalam hati, maqam dimana keinginan tersebut timbul. Kalau diamati lebih lanjut, ada perbedaan antara keinginan hati yang kemudian terseret oleh hawa nafsu tanpa petunjuk dengan keinginan hati yang murni atau hawa nafsu yang diberi hidayah atau rahmat Ilahi, yang sejatinya adalah kehendak Ilahi. Dengan demikian sang diri sudah mulai bisa memahami kehendak Ilahi, maka bisa dikatakan bahwa sang diri sudah semakin mengenal Rabb-nya. Dengan demikian benarlah pernyataan Sayyidina Ali KW bahwa fuw`ad adalah maqam terbitnya Ma’rifatullah. Barangkali dengan menyaksikan sang utusan yang disebut malaikat datang membawa perintah inilah yang dimaksud dengan QS An Najm 53 ayat 11 di atas. 

Namun bagaimanakah kita bisa membedakan antara hawa nafsu dengan keinginan yang merupakan kehendak Ilahi?

Hawa nafsu adalah fitrah manusia yang terdiri atas emosi dan ambisi, tidak akan bisa dipadamkan, tetapi bisa dikelola, yaitu dengan rahmat dan hidayah Ilahi. Untuk bisa mendapatkan rahmat dan hidayah Ilahi, tentunya diawali dengan sikap menghamba diri (shadr), mengimani (qalbu) dan selalu berupaya mi’raj ke hadirat-Nya (fuw`ad). Dengan bersikap memposisikan diri pada fuw`adnya, maka dia telah bersedia mendengar dan mentaati-Nya.

Pada maqam tersebut berjuanglah untuk menanamkan kepatuhan kepada Allah. Sikap ini selalu kita lakukan dalam sholat saat i’tidal. Ibaratnya mereka yang sudah menyaksikan, tahu, mampu dan mau menerima Allah sebagai Ilah-nya adalah sudah memasuki ruangan utama masjid. Bukankah Allah yang mengilhamkan kejahatan dan ketakwaan? QS Asy Syam 91 ayat 8 - 9: maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Mensucikan jiwanya berarti menempatkan sikapnya pada fitrahnya sebagai hamba Allah.

Hasil dari menanamkan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah akan membuat kita semakin mudah memahami kehendak Ilahi dan semakin ringan menunaikan kewajiban.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Papahan, 12 Syawal 1445 atau 21 Apr 2024

Sumber: Quran 

Sabtu, 13 April 2024

Apa sejatinya makna qalbu yang merupakan tempat terbitnya keimanan?

Di Al Quran terdapat istilah qalbu yang diterjemahkan sebagai hati. Namun sejatinya apa yang dimaksud dengan qalbu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya yang sahih dalam menjawab adalah Nabi SAW yang menerima wahyu berupa Al Quran tersebut atau melakukan penelitian akan istilah tersebut dalam Al Quran itu sendiri.

Tafsir Al Quran per kata mengelompokkan makna qalbu dengan berbalik / kembali (17 ayat), diantaranya dalam QS Ali Imran 3 ayat 127: Karena Dia hendak membinasakan golongan dari orang-orang yang kafir atau Dia menjadikan mereka hina, maka mereka kembali (fayanqalibuw) sia-sia.;

goncang (1 ayat), yaitu dalam QS An Nur 24 ayat 37: Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak oleh jual beli dari mengingati Allah dan mendirikan sholat dan membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hati (al-quluwbu) dan penglihatan menjadi goncang (tataqollabu).;

gerak gerik badan (5 ayat), diantaranya dalam QS Asy Syu’ara’ 26 ayat 219: Dan gerak-gerik badanmu (wataqallubaka) di antara orang-orang yang sujud.:

dikembalikan (1 ayat), yaitu dalam QS Al Ankabut 29 ayat 21: Dia mengazab siapa (yang) Dia kehendaki dan Dia memberi rahmat siapa (yang) Dia kehendaki dan kepada-Nya kamu dikembalikan (tuqlabuwna).;

memutar-balikkan (6 ayat) diantaranya dalam QS Al An’am 6 ayat 110: Dan Kami memutar-balikkan (wanuqallibu) hati mereka (af`idatahum) dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pertama kali dan Kami biarkan mereka dalam kedurhakaan mereka kebingungan.;

hati (132 ayat) diantaranya dalam QS Mujadilah 58 ayat 22: Tidak akan mendapati suatu kaum, (yang) mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, mereka berkasih sayang (dengan) orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau keluarga mereka. Mereka itu menetapkan dalam hati (quluwbihimu) mereka keimanan dan Dia menguatkan mereka dengan Ruh dari pada-Nya dan Dia memasukkan mereka (ke dalam) surga (yang) mengalir dari bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya mereka meridhai Allah dan Ridha daripada-Nya untuk mereka. Itu golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah (adalah) mereka orang-orang yang beruntung.; Dan juga dalam QS Al Anfal 8 ayat 24: Wahai orang-orang yang beriman penuhilah bagi Allah dan Rasul-Nya apabila memanggil kamu kepada sesuatu. Dia menghidupkan kalian dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang (al-mar`i) dan hatinya (waqalbihi). Dan sesungguhnya Dia kepada-Nya kamu dikumpulkan.

tempat berpindah (1 ayat), yaitu dalam QS Muhammad 47 ayat 19: Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Ilah selain Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi orang-orang yang mukmin dan perempuan-perempuan beriman dan Allah mengetahui tempat berpindahmu (mutaqallabakum) dan tempat tinggalmu.;

tempat kembali (2 ayat) diantaranya dalam QS Al Kahfi 18 ayat 36: Dan tidak kukira hari Kiamat akan tiba dan jika aku dikembalikan kepada Rabb-ku, pasti aku akan mendapat tempat kembali (munqallaban) lebih baik darinya.; dan

orang yang kembali (3 ayat) diantaranya dalam QS Al A’raf 7 ayat 125: Mereka berkata sesungguhnya kami kepada Rabb kami dikembalikan (munqalibuwna).

Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik benang merahnya, yaitu makna qalbu adalah menggambarkan keadaan hati yang seringkali berubah. Dengan demikian qalbu adalah maqam dimana penilaian hati kita yang sering berubah. Penilaian setiap orang tergantung dari pengetahuan yang dipercayainya sebagai kebenaran. Dengan demikian benarlah pernyataan Sayyidina Ali KW bahwa qalbu adalah tempat terbitnya keimanan, yaitu hanya Allah lah yang benar, yang haq dan bukan persepsi kita.

Penilaian menjadi berubah karena bingungnya sang diri. Suara hati ini tidak selalu harus diikuti, karena bisa jadi belum ditanamkan untuk beriman hingga diperkuat dengan RuhNya. Bahkan dengan tegas disampaikan dalam QS Al Anfal 8 ayat 24 bagaimana seseorang dibatasi dengan qalbunya. Bilamana kita bersikap memposisikan diri kita pada qalbu kita, maka kita menjadi terbiasa mengingat Allah melalui nafas. Pada maqam tersebut berjuanglah untuk menanamkan keimanan kepada Allah bahwa hanya Dia Yang benar (Haqq). Sikap ini selalu kita lakukan dalam sholat saat ruku’. Ibaratnya mereka yang sudah menyaksikan, tahu, mampu dan mau menerima Allah sebagai Ilah-nya adalah sudah memasuki serambi masjid.

Hasil dari menanamkan iman ke dalam qalbu adalah keimanan kita kepada Allah yang semakin kuat. Apalagi bilamana mendapatkan anugerah penguatan dengan Ruh-Nya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Papahan, 04 Syawal 1445 atau 13 Apr 2024

Sumber: Quran 

Minggu, 31 Maret 2024

Apa sejatinya makna shadr yang merupakan tempat terbitnya Islam?

 

Di Al Quran terdapat istilah shadr yang diterjemahkan sebagai dada. Namun sejatinya apa yang dimaksud dengan shadr?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya yang sahih dalam menjawab adalah Nabi SAW yang menerima wahyu berupa Al Quran tersebut atau melakukan penelitian akan istilah tersebut dalam Al Quran itu sendiri.

Shadr dimaknai sebagai bathin atau suara hati dalam dada terdapat dalam 44 ayat. QS Ali Imran 3 ayat 29: Katakanlah, “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam dadamu (shuduwri) atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 118-119: …. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh dada (shuduwri) mereka lebih besar lagi. …. …. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi dada (ash-shuduwri)., 154: …. Mereka menyembunyikan dalam dada (shuduwrikum) mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. …. Dan Allah untuk menguji apa yang ada dalam dadamu (shuduwrikum) dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu (qulubiwkum). Allah Maha Mengetahui isi dada (ash-shuduwri).

QS An Nisa 4 ayat 90: … atau orang-orang yang datang kepada kamu, sedang dada (shuduwruhum) mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. ….

QS Al Maidah 5 ayat 7: …. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui isi dada (ash-shuduwri).

QS Al An’aam 6 ayat 125: Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya (shadrahu) untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya (shadrahu) sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

QS Al A’raaf 7 ayat 2: Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu (shadrika) karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan Kitab itu dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. 43: Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dada (shuduwrihim) mereka. ….

QS Al Anfal 8 ayat 43: …. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi dada (ash-shuduwri).

QS At Taubah 9 ayat 14: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan dada (shuduwra) orang-orang beriman.

QS Yunus 10 ayat 57: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (ash-shuduwri) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

QS Hud 11 ayat 5: Ingatlah! Sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada (shuduwrahum) mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya. …., 12: Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu (shadruka), karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan atau datang bersama-sama dengan seorang malaikat?”

QS Al Hijr 15 ayat 47: Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam dada (shuduwrihim) mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan., 97: Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu (shadruka) menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan,

QS An Nahl 16 ayat 106: Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya (qalbuhu) tetap tenang dalam beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya (shadran) untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.

QS Al Isra 17 ayat 51: atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu (shuduwrikum). ….

QS Thaha 20 ayat 25: Berkata Musa (AS), “Ya Rabbi, lapangkanlah untukku dadaku (shadriy).”

QS Al Hajj 22 ayat 46: maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (quluwbun) yang dengan itu mereka memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, ialah hati (al-quluwbu) yang di dalam dada (ash-shuduwri).

QS Asy Syu’ara 26 ayat 13: Dan sempitlah dadaku (shadriy) dan tidak lancar lidahku, maka utuslah kepada Harun (AS).

QS An Naml 27 ayat 74: Dan sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan dada (shuduwruhum) mereka dan apa yang mereka nyatakan.

QS Al Qashash 28 ayat 69: Dan Rabb-mu mengetahui apa yang disembunyikan dada (shuduwruhum) mereka dan apa yang mereka nyatakan.

QS Al Ankabut 29 ayat 10: …. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada (shuduwri) semua manusia.; 49: Sebenarnya Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada (shuduwri) orang-orang yang diberi ilmu.

QS Luqman 31 ayat 23: …. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi dada (ash-shuduwri).

QS Fathir 35 ayat 38: …. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi dada (ash-shuduwri).

QS Az Zumar 39 ayat 7: …. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dadamu (ash-shuduwri).; 22: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah dadanya (shadrahu) untuk Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya? ….

QS Ghafir 40 ayat 19: Dia mengetahui mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada (ash-shuduwru).; 56: Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada (shuduwrihim) mereka melainkan hanyalah kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. ….; 80: Dan manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam dada (shuduwri) dengan mengendarainya. ….

QS Asy Syura 42 ayat 24: …. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mata hatimu (qalbika) dan Allah menghapuskan yang bathil dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimat-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi dada (ash-shuduwri).

QS Al Hadid 57 ayat 6: …. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi dada (ash-shuduwri).

QS Al Hasyr 59 ayat 9: …. Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam dada (shuduwrihim) mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). …., 13: Sesungguhnya kamu dalam dada (shuduwrihim) mereka lebih ditakuti daripada Allah.

QS At Taghabun 64 ayat 4: Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi dada (ash-shuduwri).

QS Al Mulk 67 ayat 13: Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi dada (ash-shuduwri).

QS Al Insyirah 94 ayat 1: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu (shadraka)?

QS Al ‘Adiyat 100 ayat 10: dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada (ash-shuduri).

QS An Naas 114 ayat 5: yang membisikkan ke dalam dada (shuduwri) manusia,

Shadr juga dimaknai sebagai pikiran (mind), yaitu dalam QS Al Isra 17 ayat 51: atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu (shuduwrikum). Maka mereka bertanya, “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah, “Yang telah menciptakan kamu pada kali pertama.” Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, “Kapan itu?” Katakanlah, “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.”

Makna Shadr yang lain adalah bangkit keluar (yashduru) terdapat dalam 1 ayat, yaitu dalam QS Al Zalzalah 99 ayat 6: Pada hari itu manusia bangkit keluar (yashduru) dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka.

Shadr dimaknai sebagai memulangkan / pergi meninggalkan (yushdira) terdapat dalam 1 ayat, yaitu dalam QS Al Qashash 28 ayat 23: …. Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan, sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan / pergi meninggalkan (yashdira), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”

Dari penjelasan ayat-ayat di atas, sudah jelas bahwa shadr atau dada yang dimaksud adalah suara hati atau bathin kita sendiri atau suara pikiran kita (mind). Ada yang menyebutnya dengan kesadaran diri. Meski kita sudah mengetahui yang dimaksud, namun sebaiknya kita menggunakan istilah sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam Quran atas kenyataan tersebut, yakni pernyataan bathin seseorang.

Pernyataan bathin ini, pada awalnya akan cenderung semaunya sendiri demi kepuasan dirinya, sehingga Quran menyebutnya sebagai an-nafs al-‘amarah bi-suu’ atau diri yang memerintahkan kepada kejahatan, QS Yusuf 12 ayat 53: Dan aku tidak membebaskan diriku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  Rahmat Allah itu dimulai dari terbitnya sikap pengakuan kepada Allah sebagai hamba-Nya (Islam). Dari pengakuan ini, maka Shadr yang merupakan tempat terbitnya Islam akan dibuka oleh Allah dan dianugerahi cahaya (nurin), sebagaimana dijelaskan dalam QS Al An’aam 6 ayat 125 dan QS Az Zumar 39 ayat 22. Shadr ini juga merupakan istana dari Rabbin-naas.

Jadi suara hati tidak selalu harus diikuti, karena bisa jadi belum dibuka Allah untuk bisa tahu diri dan belum memperoleh pencerahan. Untuk bisa mendapatkan ridho untuk dibuka, maka kita bersikap memposisikan diri kita pada shadr kita. Dampaknya adalah dada kita akan membusung, teruskan dengan pernyataan diri (Iftitah) dan permohonan untuk dibukakan (Al-Fatihah) serta cahaya (nurin), yaitu Al Quran. Sikap ini selalu kita lakukan dalam sholat saat berdiri. Ibaratnya mereka yang sudah memasuki gapura ampunan dan sudah berada di halaman masjid.

Shadr berbeda dengan qalbu. Selain berbeda maqam, juga berbeda perannya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Papahan, 19 Ramadhan 1445 atau 30 Mar 2024

Sumber: Quran

Selasa, 12 Maret 2024

Proses Kematian

Banyak pertanyaan yang memenuhi benak kita, diantaranya adalah bagaimanakah proses kematian berlangsung?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan melihat pendekatan dari pengetahuan A8, A9 dan A10. Kita tidak memiliki pengetahuan A8 (Katon) akan proses itu, karena belum mengalami sendiri. Dan itu adalah sesuatu yang mustahil, kecuali Allah berkehendak. Namun pengetahuan A10 (Klenik / Mistik) akan hal itu yang bisa kita percayai kebenarannya telah disampaikan oleh Nabi (SAW) dan Syekh Abdurrahim bin Ahmad Al-Qadhi telah menuangkan dalam kitab, Daqaiqul Akhbar.

Jiwa orang yang durhaka dicabut dari jasadnya seperti sepotong besi pembakar daging ketika dicabut dari bulu domba yang basah. Sedangkan jiwa orang yang berbakti keluar dengan cara mengalir dari raganya, seperti air yang tumpah dari wadahnya. Jiwa tersebut diambil oleh para malaikat dan diletakkan dalam suatu wadah. Mereka membungkusnya dengan lembaran kain kafan. Bungkusan yang berisi jiwa orang yang durhaka berbau busuk, sedangkan bungkusan yang berisi jiwa orang yang berbakti berbau wangi dan menyebar seperti minyak misik.

Para malaikat membawa bungkusan tersebut ke langit. Bungkusan yang berisi jiwa orang yang durhaka dilaknati oleh segala sesuatu di antara langit dan bumi serta bisa didengar oleh semua makhluk, kecuali manusia dan jin. Sedangkan bungkusan yang berbau harum ketika melewati satu malaikat kecuali bertanya, “Bau apakah yang sangat harum ini?” Para malaikat yang membawa bungkusan itu menjawab, “Ini adalah bau harum jiwa si fulan.”

Sesampai di depan langit, rombongan yang membawa bungkusan jiwa orang yang durhaka, serta merta semua pintu langit ditutup. Lalu terdengarlah suara menyeru dari hadirat Allah Dzat Yang Maha Penyayang, “Kembalikan jiwa itu ke tempat tidurnya!” Para malaikat pun mengembalikan jiwa orang yang durhaka ke jasadnya di kuburnya. Kitab orang-orang yang durhaka dalam Sijjin sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya QS Muthaffifin 83 ayat 7: Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya Kitab orang-orang durhaka tersimpan dalam Sijjin. Namun terhadap rombongan yang membawa jiwa orang yang berbakti, semua pintu langit akan terbuka. Dari setiap langit ada sesosok malaikat yang bergabung hingga sampai langit ke tujuh. Ketika rombongan sudah sampai langit ke tujuh, terdengarlah suara dari hadirat Allah, “Tulislah semua amal perbuatannya di ‘Illiyin!” Hal ini telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya QS Muthaffifin 83 ayat 18: sekali-kali tidak, sesungguhnya Kitab orang-orang berbakti itu dalam ‘Illiyyin. Kemudian para malaikat mengembalikan jiwa orang berbakti tersebut ke bumi. Karena sesungguhnya ia diciptakan dari tanah bumi sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya QS Thaha 20 ayat 55: Dari bumi itulah Kami menjadikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.

Dari kisah ini ternyata setiap orang yang meninggal akan menerima buku catatan amal perbuatannya yang kelak akan dia pertanggungjawabkan. Juga disebutkan bahwa mi’raj ke langit tidak bisa dilakukan oleh semua orang, karena adanya malaikat-malaikat penjaga yang tidak bisa ditembus, kecuali dengan izin Allah SWT. Meski QS Ar Rahman 55 ayat 33 telah menyampaikan kemungkinan tersebut bisa dengan kekuatan (sulthan): Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulthan). Bukankah kekuatan itu adalah milik Allah Yang Maha Kuasa juga?

Lalu bagaimanakah dengan pengetahuan A9 (Karang) perihal proses kematian?

Dalam buku Life After Life, Raymond A Moody mengumpulkan ribuan informasi dari orang-orang yang mengalami near death experience (NDE) dan menyimpulkan sebagai berikut:

1.       Ineffability atau indescribability, mereka cenderung tidak bisa menggambarkan apa yang disaksikannya karena tidak adanya padanan di alam dunia.

2.       Outside Our Space Time, fenomena NDE adalah di luar ruang dan waktu.

3.      Out of Body Experience (OBE), mereka bisa menyaksikan jasadnya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

4.      Communications, mereka bisa mendengar percakapan orang-orang hidup di sekitar jasadnya, namun tidak mampu berkomunikasi dengan mereka.

5.      Awareness of Being Death, mereka menyadari bahwa mereka sedang dalam proses kematian.

6.      The Tunnel, mereka melewati suatu terowongan hingga sampai pada sesuatu cahaya yang cemerlang, penuh kasih dan membahagiakan.

7.       The Light, mereka berada dalam cahaya yang sangat terang, namun tidak menyilaukan.

8.      Friends and Family, mereka bertemu dengan teman-teman dan anggota keluarganya yang telah meninggal.

9.      The Prime of Life, mereka seperti hidup dalam usia puncak, sekitar 30 tahunan.

10.   Life Review, mereka ditunjukkan semua amal perbuatannya.

Informasi dari Raymond A Moody sayangnya tidak membedakan apakah yang diwawancarai adalah orang berbakti ataukah orang durhaka dan juga mereka akhirnya belum jadi meninggal. Namun informasi yang disampaikan oleh Moody adalah pendekatan atas proses kematian dan bisa membantu menjelaskan pengetahuan A10 yang telah disampaikan Nabi SAW.

Dari pengakuan tersebut, mereka dalam keadaan usia puncak dan telah mencapai ke suatu tempat yang bercahaya cemerlang, penuh kasih dan membahagiakan. Mereka merasakan kehadiran orang-orang yang pernah mereka kenal, namun lebih dulu meninggal seolah mereka menyambut kedatangannya. Informasi ini bilamana disikapi secara tidak bijak bisa menjadi nilai yang dipercayai dan bisa mendorong orang untuk berlomba-lomba mengakhiri hidupnya. Padahal mereka belum memahami peran hidupnya di alam dunia dan tidak memiliki pengetahuan perihal jin qarin yang bisa jadi akan menyesatkan mereka. Untungnya dalam informasi tersebut juga disampaikan perihal life review, sehingga mereka paling tidak telah mengetahui akan adanya pertanggungan jawab.

Pada fenomena NDE ada peristiwa OBE yang biasa kita jalani, diantaranya melalui proses tidur. Namun kebanyakan kita tidak bisa menjaga kewaspadaan jiwa, sehingga terseret pada tarikan jasad. Pun kalau kita bisa menjaga kewaspadaan jiwa, namun bila tidak mengingat Allah, maka bisa terseret oleh setan-setan dari golongan jin.

Informasi tersebut juga menegaskan bahwa manusia terdiri atas jiwa dan raga yang disebut dengan diri dan ruh yang dihembuskan padanya. Pada raga juga terdapat daya dan kemampuan yang bisa dimanfaatkan dengan penguatan dari ruh tersebut.

Hikmah dari kisah perihal jalan kematian ini adalah sang jiwa ternyata bisa terbebas dari ruang dan waktu. Juga paling tidak untuk menyemangati kita dalam berbakti kepada Allah Yang Maha Kuasa dan jangan sampai berlaku durhaka, hingga Dia yaqin bahwa kita adalah sebenar-benar hamba-Nya yang tunduk dan patuh.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Papahan, 1 Ramadhan 1445 atau 12 Mar 2024 

Daftar Pustaka

1.       Syekh Abdurrahim Bin Ahmad Al-Qadhi, Kehidupan Sebelum & Sesudah Kematian (Daqaiqul Akhbar), Turos, Jakarta, 2015

2.       Raymond A. Moody JR., M.D., Life After Life, Harper Collins, Australia, 2015

3.      Roy Abraham Varghese, There Is Life After Death, Career Press, NJ, 2010

Kamis, 29 Februari 2024

Menyaksikan Keberadaan Rabbul 'alamin

Bukankah indra a5’ hanyalah kemampuan menginderai, dimana outputnya hanyalah yang dinyatakan dengan ini atau itu?

Bukankah output dari indra a5’ dinilai oleh penilaian hati a5’’ dengan baik atau buruk, lalu bisa menimbulkan keinginan hati a6’’?

Kalau begitu, bukankah eksistensi atau keberadaan akan sesuatu adalah ada, bilamana dinyatakan oleh pikiran a7, yaitu ada dalam memori a5’’’ yang disebut dengan pengetahuan dalam wujud kesan / gambaran atau sebutan atau simbol?

Bukankah itu adalah kegiatan dari diri yang menyaksikan? Yang menyaksikan bagaimana indra a5’ menyampaikan ini atau itu, menyaksikan bagaimana penilaian hati a5’’ menilai baik atau buruk, menyaksikan bagaimana keinginan a6’’ muncul dan menyaksikan bagaimana memori a5’’’ menyampaikan pengetahuan yang diterimanya. Bukankah kemudian diri yang menyaksikan menyatakan kesaksiannya?

Bagaimanakah menyatakan keberadaan Rabbul ‘alamin?

Bukankah dengan menyaksikan keberadaan alam, muncul sebutan yang diberikan oleh memori, misalnya alam? Lalu pengertian a6’’’ akan menyampaikan kesimpulan bahwa adanya alam menandai adanya Yang menciptakan, Yang memelihara dan Yang menyempurnakannya. Disebut “Yang” adalah pernyataan sekaligus kesaksian pengertian a6’’’ akan keberadaan yang disebut Rabbul ‘alamin, yaitu Yang menciptakan, yang memelihara dan Yang menyempurnakan alam.

Bukankah sang diri sudah bersaksi atau bersyahadat bahwa Dia adalah Rabb-nya? QS A’raaf 7 ayat 172: Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (anfusihim): "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Betul, kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. Padahal dia masih berupa sperma (yang ditempatkan pada sulbi bapaknya) dan belum dihembuskan Ruh-Nya serta belum memiliki otak [bukankah setiap wujud membawa memori dari asalnya? Bukankah memori ini sama dengan memori a5’’’ yang ada pada otak a7 manusia?].

Bukankah kita semua pernah mengalami out of body experience? Misalnya saat kita tidur atau pingsan. Bukankah kita bisa menjawab pertanyaan orang-orang bahwa kita tidak tahu, tidak ingat dan lain-lain, namun raga kita masih bernafas atau ruhnya belum dicabut?

Kalau begitu, bukankah sang jiwa telah menyaksikan keberadaan Rabbul ‘alamin?

Yang mana? Yang menciptakan, memelihara dan menyempurnakan alam semesta. Yang mana sih? Yang ini, Yang itu, Yang Meliputi segala sesuatu, Yang Sendiri tidak ada duanya, Yang tidak kosong, Yang senantiasa dalam kesempurnaan.

Yang mana sih? Yang merupakan tempat kita semua kembali.

Yang mana, membingungkan? Yang disebut oleh para Nabi dengan Allah.


Papahan, 29 Feb 2024 / 19 Sya’ban 1445


Kamis, 15 Februari 2024

Perjanjian Kita Dengan Allah SWT

 Seorang anak menuntut kepada kedua orang tuanya, “Ayah dan ibu yang menginginkan aku ada di dunia ini, yang bukan mauku, maka menjadi kewajiban ayah dan  ibu untuk membahagiakanku.”

Lalu ayahnya menyampaikan kepada kami bahwa beliau akan menuntut Allah SWT untuk membahagiakan keluarganya.

Tuntutan tersebut adalah wajar. Hanya salah alamat. Mestinya tuntutan tersebut disampaikan kepada Allah SWT. Kenyataannya, hal ini sudah dituangkan dalam QS Al Fatihah. Tentunya tuntutan tersebut pastinya akan dipenuhi Allah SWT. Buktinya leluhur kita Nabi Adam (AS) diciptakan di surga, sarana kehidupan bisa dipergunakan untuk menyenangkan kita.

Namun tentunya harus ada perjanjian yang wajib kita penuhi dan yang paling utama adalah mengakui eksistensi Allah SWT dan bersedia mengabdi kepada-Nya. Diantara isi perjanjian tersebut sebagaimana disampaikan Nabi (SAW) lewat Mu’adz bin Jabal (RA) bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah (SAW) bersabda, “Allah Ta’ala berfirman:

·       “Hai anak Adam, malulah kepada-Ku ketika engkau bermaksiat, maka Aku malu kepadamu pada hari dipintakannya amal yang lebih besar. Jika Aku malu padamu, maka Aku tidak akan menyiksamu.

Pada saat kita bermaksiat, biasanya kita tidak ingat akan Allah SWT karena kecintaan kita akan perbuatan tersebut. Pun kalau kita ingat, namun kecintaan kita akan kenikmatan membuat kita mengabaikan-Nya.

·       Hai anak Adam, bertaubatlah engkau kepada-Ku, niscaya Aku akan memuliakanmu seperti memuliakan para Nabi.

Dalam upaya memenuhi janji, sejatinya Allah SWT banyak memberikan kemudahan-kemudahan, diantaranya adalah pertobatan. Namun entah kenapa umat semakin sulit untuk mau mengakui salah?

·       Hai anak Adam, janganlah kamu memalingkan hatimu dari-Ku, maka Aku akan menghinakanmu dan Aku benar-benar tidak akan menolongmu.

Kesenangan sudah menjadi target utama dalam kehidupan ini dan sarana untuk mendapatannya adalah dengan memiliki uang. Bukan saja menjadi target, uang juga sudah menjadi nilai. Buktinya orang yang memiliki uang akan lebih dihormati. Akibatnya kesibukan dalam memperjuangan untuk memperoleh uang ini memalingkan hati kita dari Allah SWT.

·       Hai anak Adam, kalau kamu berjumpa Aku pada hari Kiamat dimana kamu membawa amal-amal kebaikan seperti amal kebaikan penduduk bumi, maka Aku tidak akan menerima amalmu sehingga kamu membenarkan janji dan ancaman-Ku.

Kita melakukan amal ibadah didasarkan atas persepsi kita sendiri. Bahkan persepsi itu sudah menjadi kebenaran yang diyakininya. Padahal yang memiliki ini semua adalah Allah SWT, demikian pula kebenaran akan janji dan ancaman-Nya. Kenapa kita tidak meminta penjelasan dan pertolongan kepada-Nya daripada mempersepsikan sendiri dalam beramal?

·       Hai anak Adam, sesungguhnya Aku adalah Pemberi rezeki dan engkau yang Kuberi rezeki serta engkau tahu kalau Aku menepati rezekimu, maka sekali-sekali engkau jangan berani meninggalkan ketaatanmu pada-Ku sebab mengurus rezeki. Karena sesungguhnya jika kamu berani meninggalkan ketaatanmu kepada-Ku sebab mengurus rezekimu, maka Aku memastikan siksaan-Ku kepadamu.

Kita ketakutan akan kemiskinan bahkan mati kelaparan. Padahal kita hidup dihidupkan dan sudah sepantasnya dihidupi oleh Yang Menciptakan. Semestinya kesibukan mencari rezeki adalah bagian dari ketaatan kita kepada Allah dan bukan sebaliknya, yaitu mengabaikan ketaatan kita kepada-Nya karena sibuk mencari rezeki. Ini menandai bahwa kita semakin tidak percaya kepada-Nya.

Hai anak Adam, peliharalah karena Aku lima perkara itu, engkau pasti mendapatkan Surga.”””

Inilah perjanjian kita dengan Allah SWT yang dituangkan dalam hadits Qudsi[1] terseebut. Semoga Allah menolong kita untuk bisa memenuhi perjanjian tersebut.

Papahan, 2 Sya’ban 1445 atau 14 Feb 2024



[1] Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Al ‘Ushfuri, Terjemah dari kitab Al Mawa’idhul “Ushfuriyah, PT Karya Toha Putra, Semarang, 1993, hal. 31.

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...