Kamis, 29 Februari 2024

Menyaksikan Keberadaan Rabbul 'alamin

Bukankah indra a5’ hanyalah kemampuan menginderai, dimana outputnya hanyalah yang dinyatakan dengan ini atau itu?

Bukankah output dari indra a5’ dinilai oleh penilaian hati a5’’ dengan baik atau buruk, lalu bisa menimbulkan keinginan hati a6’’?

Kalau begitu, bukankah eksistensi atau keberadaan akan sesuatu adalah ada, bilamana dinyatakan oleh pikiran a7, yaitu ada dalam memori a5’’’ yang disebut dengan pengetahuan dalam wujud kesan / gambaran atau sebutan atau simbol?

Bukankah itu adalah kegiatan dari diri yang menyaksikan? Yang menyaksikan bagaimana indra a5’ menyampaikan ini atau itu, menyaksikan bagaimana penilaian hati a5’’ menilai baik atau buruk, menyaksikan bagaimana keinginan a6’’ muncul dan menyaksikan bagaimana memori a5’’’ menyampaikan pengetahuan yang diterimanya. Bukankah kemudian diri yang menyaksikan menyatakan kesaksiannya?

Bagaimanakah menyatakan keberadaan Rabbul ‘alamin?

Bukankah dengan menyaksikan keberadaan alam, muncul sebutan yang diberikan oleh memori, misalnya alam? Lalu pengertian a6’’’ akan menyampaikan kesimpulan bahwa adanya alam menandai adanya Yang menciptakan, Yang memelihara dan Yang menyempurnakannya. Disebut “Yang” adalah pernyataan sekaligus kesaksian pengertian a6’’’ akan keberadaan yang disebut Rabbul ‘alamin, yaitu Yang menciptakan, yang memelihara dan Yang menyempurnakan alam.

Bukankah sang diri sudah bersaksi atau bersyahadat bahwa Dia adalah Rabb-nya? QS A’raaf 7 ayat 172: Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (anfusihim): "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Betul, kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. Padahal dia masih berupa sperma (yang ditempatkan pada sulbi bapaknya) dan belum dihembuskan Ruh-Nya serta belum memiliki otak [bukankah setiap wujud membawa memori dari asalnya? Bukankah memori ini sama dengan memori a5’’’ yang ada pada otak a7 manusia?].

Bukankah kita semua pernah mengalami out of body experience? Misalnya saat kita tidur atau pingsan. Bukankah kita bisa menjawab pertanyaan orang-orang bahwa kita tidak tahu, tidak ingat dan lain-lain, namun raga kita masih bernafas atau ruhnya belum dicabut?

Kalau begitu, bukankah sang jiwa telah menyaksikan keberadaan Rabbul ‘alamin?

Yang mana? Yang menciptakan, memelihara dan menyempurnakan alam semesta. Yang mana sih? Yang ini, Yang itu, Yang Meliputi segala sesuatu, Yang Sendiri tidak ada duanya, Yang tidak kosong, Yang senantiasa dalam kesempurnaan.

Yang mana sih? Yang merupakan tempat kita semua kembali.

Yang mana, membingungkan? Yang disebut oleh para Nabi dengan Allah.


Papahan, 29 Feb 2024 / 19 Sya’ban 1445


Kamis, 15 Februari 2024

Perjanjian Kita Dengan Allah SWT

 Seorang anak menuntut kepada kedua orang tuanya, “Ayah dan ibu yang menginginkan aku ada di dunia ini, yang bukan mauku, maka menjadi kewajiban ayah dan  ibu untuk membahagiakanku.”

Lalu ayahnya menyampaikan kepada kami bahwa beliau akan menuntut Allah SWT untuk membahagiakan keluarganya.

Tuntutan tersebut adalah wajar. Hanya salah alamat. Mestinya tuntutan tersebut disampaikan kepada Allah SWT. Kenyataannya, hal ini sudah dituangkan dalam QS Al Fatihah. Tentunya tuntutan tersebut pastinya akan dipenuhi Allah SWT. Buktinya leluhur kita Nabi Adam (AS) diciptakan di surga, sarana kehidupan bisa dipergunakan untuk menyenangkan kita.

Namun tentunya harus ada perjanjian yang wajib kita penuhi dan yang paling utama adalah mengakui eksistensi Allah SWT dan bersedia mengabdi kepada-Nya. Diantara isi perjanjian tersebut sebagaimana disampaikan Nabi (SAW) lewat Mu’adz bin Jabal (RA) bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah (SAW) bersabda, “Allah Ta’ala berfirman:

·       “Hai anak Adam, malulah kepada-Ku ketika engkau bermaksiat, maka Aku malu kepadamu pada hari dipintakannya amal yang lebih besar. Jika Aku malu padamu, maka Aku tidak akan menyiksamu.

Pada saat kita bermaksiat, biasanya kita tidak ingat akan Allah SWT karena kecintaan kita akan perbuatan tersebut. Pun kalau kita ingat, namun kecintaan kita akan kenikmatan membuat kita mengabaikan-Nya.

·       Hai anak Adam, bertaubatlah engkau kepada-Ku, niscaya Aku akan memuliakanmu seperti memuliakan para Nabi.

Dalam upaya memenuhi janji, sejatinya Allah SWT banyak memberikan kemudahan-kemudahan, diantaranya adalah pertobatan. Namun entah kenapa umat semakin sulit untuk mau mengakui salah?

·       Hai anak Adam, janganlah kamu memalingkan hatimu dari-Ku, maka Aku akan menghinakanmu dan Aku benar-benar tidak akan menolongmu.

Kesenangan sudah menjadi target utama dalam kehidupan ini dan sarana untuk mendapatannya adalah dengan memiliki uang. Bukan saja menjadi target, uang juga sudah menjadi nilai. Buktinya orang yang memiliki uang akan lebih dihormati. Akibatnya kesibukan dalam memperjuangan untuk memperoleh uang ini memalingkan hati kita dari Allah SWT.

·       Hai anak Adam, kalau kamu berjumpa Aku pada hari Kiamat dimana kamu membawa amal-amal kebaikan seperti amal kebaikan penduduk bumi, maka Aku tidak akan menerima amalmu sehingga kamu membenarkan janji dan ancaman-Ku.

Kita melakukan amal ibadah didasarkan atas persepsi kita sendiri. Bahkan persepsi itu sudah menjadi kebenaran yang diyakininya. Padahal yang memiliki ini semua adalah Allah SWT, demikian pula kebenaran akan janji dan ancaman-Nya. Kenapa kita tidak meminta penjelasan dan pertolongan kepada-Nya daripada mempersepsikan sendiri dalam beramal?

·       Hai anak Adam, sesungguhnya Aku adalah Pemberi rezeki dan engkau yang Kuberi rezeki serta engkau tahu kalau Aku menepati rezekimu, maka sekali-sekali engkau jangan berani meninggalkan ketaatanmu pada-Ku sebab mengurus rezeki. Karena sesungguhnya jika kamu berani meninggalkan ketaatanmu kepada-Ku sebab mengurus rezekimu, maka Aku memastikan siksaan-Ku kepadamu.

Kita ketakutan akan kemiskinan bahkan mati kelaparan. Padahal kita hidup dihidupkan dan sudah sepantasnya dihidupi oleh Yang Menciptakan. Semestinya kesibukan mencari rezeki adalah bagian dari ketaatan kita kepada Allah dan bukan sebaliknya, yaitu mengabaikan ketaatan kita kepada-Nya karena sibuk mencari rezeki. Ini menandai bahwa kita semakin tidak percaya kepada-Nya.

Hai anak Adam, peliharalah karena Aku lima perkara itu, engkau pasti mendapatkan Surga.”””

Inilah perjanjian kita dengan Allah SWT yang dituangkan dalam hadits Qudsi[1] terseebut. Semoga Allah menolong kita untuk bisa memenuhi perjanjian tersebut.

Papahan, 2 Sya’ban 1445 atau 14 Feb 2024



[1] Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Al ‘Ushfuri, Terjemah dari kitab Al Mawa’idhul “Ushfuriyah, PT Karya Toha Putra, Semarang, 1993, hal. 31.

Jumat, 02 Februari 2024

Hidup Di Dunia Memang Susah

 

Diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyab (RA), ia berkata: “Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib (KW) keluar dari rumah, lalu Salman Al Farisi (RA) menjumpainya. Maka Ali berkata kepadanya, “Hai ayah Abdullah, bagaimana engkau berpagi-pagi?”

Jawab Salman, “Hai Amirul Mu’minin, saya berpagi-pagi antara empat kesusahan.”

Ali bertanya, “Semoga Allah merahmatimu dan apa empat kesusahan itu?”

Jawab Salman, “Menyusahi tanggungan keluarga yang membutuhkan roti, menyusahi Allah yang memerintahkan aku dengan keta’atan, menyusahi syetan yang menyuruhku berbuat maksiat dan menyusahi malaikatul maut yang akan mencabut nyawaku.”

Ali berkata, “Bergembiralah engkau wahai ayah Abdullah, sesungguhnya setiap perkara itu ada derajad bagimu. Dan sesungguhnya saya pernah datang pada Rasulullah (SAW) pada suatu hari, beliau bersabda, “Bagaimana engkau berpagi-pagi ya Ali?” Maka jawabku, “Ya Rasulullah (SAW), dalam empat kesusahan: di rumah tidak ada apa-apa selain air dan sesungguhnya saya seorang yang susah terhadap keadaan keluargaku, susah untuk menta’ati Allah, menyusahi akhir hayat dan susah terhadap malaikat maut.” Maka Nabi (SAW) berkata, “Bergembiralah engkau hai Ali, sebab menyusahi tanggungan keluarga itu menjadi tirai dari neraka, menyusahi ta’at terhadap Pencipta itu selamat dari siksaan dan menyusahi nasibnya di akhir hayat itu perjuangan dan itu lebih utama daripada beribadah sunah enam puluh tahun dan menyusahi malaikat maut itu menjadi penebus dosa seluruhnya. Ketahuilah hai Ali bahwa rezeki para hamba itu ada pada Allah Ta’ala. Maka susahmu itu tidak membahayakan dan tidak membawa manfaat melainkan bahwa engkau akan diberi pahala karena memprihatinkan tanggungan keluargamu. Maka jadilah engkau seorang yang bersyukur, ta’at dan berserah diri kepada Allah, niscaya engkau menjadi kerabat Allah Ta’ala.” Saya bertanya, “Pada perkara apa saya harus bersyukur kepada Allah Ta’ala?” Rasulullah (SAW) bersabda, “Syukur dapat melaksanakan Islam.” Ali (KW) bertanya, “Dengan apa aku menta’ati Allah?” Nabi (SAW) bersabda, “Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billahi ‘Aliyyil  ‘Adhiim (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).” Kataku, “Apa saja aku harus meninggalkan?” Jawab Rasulullah (SAW), “Kemarahan. Sebab (meninggalkan) kemarahan itu dapat memadamkan kemarahan Rabb Yang Maha Agung, dapat memberatkan timbangan amal dan akan menuntun ke Syurga.””

Salman Al Farisi berkata, “Semoga Allah menambahkan kemuliaan kepadamu dan sesungguhnya aku adalah orang yang menyusahi beberapa perkara itu, khususnya menyusahi banyaknya tanggungan keluarga.”

Ali berkata, “Hai Salman Al Farisi, aku mendengar Rasulullah (SAW) bersabda, “Siapa yang tidak memperhatikan nasib keluarga, maka dia tidak memperoleh bagian Syurga.”

Salman Al Farisi bertanya, “Apakah Rasulullah (SAW) tidak mengatakan (bahwa) orang yang mempunyai beberapa keluarga itu tidak akan beruntung selama?”

Ali menjawab, “Hai Salman Al Farisi, bukan demikian. Jika penghidupanmu dari yang halal, maka engkau berbahagia. Hai Salman, Syurga itu rindu kepada orang yang prihatin dan susah terhadap yang halal.”””[1]

Jujur, memang berat menghadapi keempat kesusahan hidup tersebut. Untunglah bahwa dalam keempat kesusahan tersebut, Allah SWT menganugerahi derajad yang tinggi. Mestinya dengan berita ini, kita tidak lagi mengeluh bahkan kita wajib bersyukur dan memenuhi kewajiban tersebut dengan riang gembira.

Sebaliknya, berhati-hatilah mereka yang menjalani kehidupan dengan segala kemudahan dan penuh kenikmatan duniawi.


Papahan, 02 Feb 2024 / 22 Rajab 1445



[1] Drs. M Ali Chasan Umar, Hikayat-Hikayat Teladan Dalam 40 Hadits terjemahan dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Al ‘Ushfuri, PT Karya Toha Putra, Semarang, 1993, hal 97 - 101

Jumat, 26 Januari 2024

Sugeng Kondur Bapak (Bapak Mas Supranoto)

Mendapat kabar atas wafatnya bapak Mas Supranoto, diri ini terasa lemas tanpa daya dan air mata kasih sayang pun mengalir. Siapa lagi yang akan dengan tulus Ikhlas menerima amanat untuk menjaga umat dan negara ini?

Masih ingat akan ucapan beliau yang mengatakan bahwa lubang Juja Majuja sudah semakin lebar, sumpah potong telinga bahwa Imam Mahdi sudah ada dan bagaimana beliau mengatasi perpecahan bangsa paska 212. Belum lagi didikan beliau yang luar biasa berbasis kepada inzal (beliau menyebut dengan wahyu) dan bukan persepsi diri. Nilai-nilai kami dibongkar habis dengan disuruh semedi dekat patung, dengan sajen-sajen; Dimana selama ini kami anggap sebagai kemusyrikan. Dengan enteng beliau bertanya, “Kok takut dengan patung dan sajen, bukan kepada Tuhan kalian?” Hingga beberapa teman pun keluar dari didikan beliau dan menyebar fitnah kemana-mana. Namun setelah menjalani dan lulus, kami baru mengerti iman yang sesungguhnya yang tidak kami duga sebelumnya.

Setelah masa “penyucian” selesai, barulah beliau membeber Islam versi Nabi Muhammad (SAW) yang beliau sebut dengan “Islami Nurul Muhammad”. Memang beliau adalah bernasab kepada Nabi (SAW), yaitu dibuktikan dengan pengakuan Rabithah Al Alawiyah berdasarkan dokumen silsilah dari jalur Buyut Mas Mochammad Saleh. Meski beliau tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang penting.

Pembeberan Islam versi Islami Nurul Muhammad memang luar biasa. Beliau bisa membeber secara nalar apa-apa yang disampaikan Nabi Muhammad (SAW) baik itu Rukun Iman dan Rukun Islam termasuk membeber perihal Al Qur’an. Padahal beliau tidak pernah mengaji Quran.

Beliau menemukan Rumus A yang bisa menjelaskan perihal ciptaan, penciptaan dan Sang Pencipta. Rumus yang diturunkan dari hukum atau fakta atau kepastian. Bukankah dengan rumus, peradaban atau perwujudaan bisa terjadi? Rumus A yang dianggap remeh oleh orang-orang yang sok tahu.

Mengenal beliau semenjak 2002, dengan begitu banyak peristiwa yang dilalui bersama beliau, bingung bagaimana mengenalkan beliau kepada publik. Sedangkan beliau tidak ingin dikenal. Masih ingat pesan beliau kepada mas Joyo bahwa kalau kelak beliau pulang, jangan beritahu siapapun, segera dikuburkan baru lapor perangkat RT / RW.

Beliau tetaplah bapak kami, meski kenakalan kami luar biasa dalam membantah argumen maupun petuah bahkan menyakiti hati beliau.

Selamat jalan bapak, semoga Allah merahmati dan mengampuni serta menempatkan bapak di maqam yang tertinggi. Insya Allah semua ajaran yang telah bapak sampaikan tetap akan kami hidupkan sebagai penerang umat yang mau menyimak. Maafkan anakmu yang durhaka ini. Kami akan segera menyusul. Ya Allah, maafkan dan ampuni kami yang durhaka ini.


Papahan, 25 Jan 2024 / 14 Rajab 1445


Minggu, 21 Januari 2024

Iman umat akhir zaman sangat mengagumkan

 

Dari Ibnu Abbas (RA) bahwasanya Rasulullah (SAW) bersabda, “Apakah kamu semua tahu iman orang yang sangat mengagumkan?”

Para sahabat (RA) menjawab, “Iman para malaikat, ya Rasulullah.”

Nabi (SAW) bersabda, “Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka itu berbakti terhadap perintah Allah.”

Para sahabat (RA) berkata, “Para Nabi ya Rasulullah (SAW).”

Nabi (SAW) bersabda, “Bagaimana para Nabi itu tidak beriman, sedangkan malaikat Jibril (AS) itu turun kepada mereka membawa perintah dari langit.”

Para sahabat (RA) berkata, “Para sahabatmu ya Rasulullah (SAW).”

Nabi (SAW) bersabda, “Bagaimana para sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka itu melihat mu’jizat dariku dan mereka mesti beriman dan aku pun menceritakan kepada mereka apa saja yang telah diturunkan kepadaku.

Tetapi orang-orang yang sangat mengagumkan imannya adalah golongan yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku, mereka pun membenarkan aku. Maka mereka itulah saudaraku.”

Iman umat akhir zaman didasarkan atas inzal dari pengetahuan a5’’’, pengertian a6’’’ dan akal a7’’’, artinya umat akhir zaman yang imannya sangat menakjubkan adalah yang bisa memastikan keberadaan Rabbul ‘alamin, selalu berupaya mendekatan diri kepada-Nya dan selalu berupaya hadir dengan tidak menyekutukan-Nya berdasarkan ilmunya serta tidak mengandalkan keajaiban-keajaiban.

Mereka bisa memastikan keberadaan Rabbul ‘alamin berdasarkan ‘ilmul yaqin, yaitu dengan menggunakan keberadaan dirinya dan alam semesta sebagai bukti akan adanya Rabbul ‘alamin atau Yang Maha Kuasa. Untuk menandai bahwa mereka beriman kepada-Nya adalah dengan melaksanakan ritual agama yang diperintahkan oleh-Nya dan telah disampaikan dan dicontohkan oleh utusan-Nya, yaitu Nabi Muhammad (SAW).

Setelah memastikan perihal ada-Nya Rabbul ‘alamin, mereka selalu konsisten berjuang untuk mengenal-Nya. Menjalankan ritual agama dengan pengenalan semakin dalam akan Dia merupakan upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Wujud dari hadir ke hadirat-Nya adalah dengan selalu menyaksikan atau selalu yaqin bahwa mereka disaksikan Allah SWT pada setiap saat dan setiap aktifitas.

Dalam QS Al Mu’minuun 23 ayat 2 – 9, orang-orang beriman dicirikan sebagai berikut:

o   Khusyu’ dalam sholat

o   Menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna

o   Menunaikan zakat

o   Memelihara kemaluannya

o   Memegang amanat dan janji serta

o   Memelihara sholatnya

Tentunya dengan ciri-ciri di atas, kita bisa mengukur kita sudah beriman atau belum. Namun ingat, yang pasti bisa dan berhak mengukur adalah Allah SWT sendiri. Oleh karena itu adalah lebih baik selalu berjuang meningkatkan keimanan dan amal sholeh kita dengan sikap bahwa kita belumlah sempurna.

Namun kebanyakan manusia adalah senang akan sesuatu yang instan dan luar biasa, seperti keajaiban-keajaiban. Ketika ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal tersebut, orang-orang pun mengimani lalu berduyun-duyun mendatangi. Karena bisa jadi keajaiban-keajaiban akibat bantuan makhluk gaib (khodam). Inilah bahaya dari strategi dan cara setan untuk menyesatkan manusia bahkan membawa mereka untuk dilaknat Allah. Diantara jebakan setan adalah kebiasaan mengaku sebagai orang beriman, seolah-olah mereka lupa akan QS Al Hujurat 49 ayat 14: Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam qolbumu (quluwbikum); dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Marilah kita perkuat keimanan kita dengan sebenar-benarnya dengan pengadaan, pendekatan dan penghadiran tanpa perlu mengharapkan keajaiban-keajaiban!


Papahan, 15 Jan 2024 / 5 Rajab 1445

Minggu, 14 Januari 2024

Akhir zaman membawa semakin banyak jiwa-jiwa terhijab

QS Al Anfaal 8 ayat 24: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi (yachuwlu) antara manusia (al mar`i) dan hatinya (qalbihi) dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.

Ingatkah bahwa kita menjalani kehidupan dengan sibuk mengikuti naluri dan kesenangan hawa nafsu? Bahkan dalam menjalankan kegiatan keagamaan juga didasarkan atas kedua hal tersebut dan bukan dilaksanakan dengan pengertian a6’’’. Artinya kalau tidak ngawur ya seperti orang tidak sadar. Bukankah itu semua merupakan bukti bahwa diri kita dicipta adalah untuk kesenangan?

Dengan sibuk memburu kesenangan, maka sudah sepantasnya diri kita terhijab dari qolbu yang merupakan pusat terbitnya keimanan kepada Allah SWT.

Akibatnya Allah SWT pun dilupakan bahkan diabaikan, dianggap tidak ada. Pun kalau dianggap ada hanya akan dijadikan sebagai pengabul akan kesenangan.

Dengan terkabulnya kesenangan, maka orang tersebut dianggap sukses. Apalagi kalau sudah menjadi crazy rich, yaitu mampu membayar kesenangan apapun. Dan kesuksesan mereka menjadi teladan bagi yang lain. Maka orang-orang pun berlomba-lomba memamerkan (flexing) kesuksesan melalui berbagai media.

Namun tidakkah kita tahu bahwa setiap orang akan mati?

Lalu mereka pun menciptakan khayalan (persepsi) berupa reinkarnasi. Akibatnya orang-orang kurang mempersiapkan diri menghadapi kematian. Reinkarnasi yang terjadi pada segelintir orang adalah produk setan. Setan-setan berpura-pura menjadi produk reinkarnasi pada orang-orang tertentu untuk mengecoh mereka-mereka yang terbawa kepada dorongan spiritual. Tujuan setan-setan mengecoh adalah agar menjauhkan manusia lain dari iman kepada Allah SWT. Menjauh dari tujuan itu artinya tersesat. Bahkan ada yang tersesat dan menyesatkan, hingga bukan saja menjauh dari tujuan, bahkan dilaknat-Nya.

Marilah kita kembali kepada seruan Allah dan Rasul-Nya, yaitu seruan yang membawa kepada kehidupan, sebelum kamu akan menyesal dalam keabadian. Karena akhirat itu pasti dan reinkarnasi hanyalah persepsi.


 

Papahan, 09 Jan 2024 / 28 Jumadil Akhir 1445


Sabtu, 23 Desember 2023

Ini aliran apa ya? Jangan-jangan ini aliran sesat.

 

Ketika membaca tulisan kami, kebanyakan bertanya-tanya, ini aliran apa ya? Bahkan ada yang langsung menyatakan bahwa ini aliran sesat.

Inilah menariknya pola pikir orang-orang zaman sekarang, yaitu secara tidak sadar selalu berbasis kepada nilai-nilai aliran agama. Nilai pribadi muncul dari penilaian hati a5’’ yang berhubungan dengan adanya informasi a5’’’ yang telah dia terima sebelumnya dan dipercayai sebagai nilai kebenaran dan juga indra & motorik a5’. Dengan menerima informasi baru yang berbeda dengan nilai-nilai pribadinya, maka secara reflek ketiganya akan memberikan reaksi penolakan.

Nilai pribadi adalah apa yang dipercayai sebagai kebenaran. Nilai pribadi ada yang bersifat persepsi, namun karena dipercayai sebagai kebenaran, maka nilai tersebut akan menjadi ukuran. Otomatis yang berbeda akan dicap salah. Orang Barat menyebut pola pikir semacam ini sebagai “fixed mindset” yang banyak dicela dan bukan “growth mindset” yang didorong oleh mereka untuk dikembangkan bahkan dibuahkan dalam laku.

Permasalahannya adalah bagaimana kita bisa membangun suatu nilai pribadi yang pasti benar bukan yang dipersepsikan benar oleh pribadinya?

Sebagaimana disebutkan di atas, nilai pribadi berasal dari penilaian hati a5’’. Hati a6 yang berada dalam dada orang sejatinya adalah Rahmat Ilahi. Tentunya yang berasal dari Rahmat Ilahi pastilah benar adanya, karena Dia lah Sang Maha Benar Al Haqq (a5’’ >>> a6). Penerimaan akan nilai Ilahi ini tidaklah mudah, karena bertentangan dengan dorongan hawa nafsu (ghodhob). Otomatis nilai pribadi adalah persepsinya sendiri (a6 >>> a5’’’). Sehingga pantaslah kalau Allah SWT berfirman dalam QS Al Mu’minun 23 ayat 52 – 54: Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. Selanjutnya bahkan dicap musyrik oleh Allah SWT dalam QS Ar Ruum 30 ayat 30 – 32: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan Kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan jangan kamu termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Semoga Allah membuka dada kita untuk menerima Islam (berserah diri menerima Allah SWT sebagai Ilah kita bukan meminta Allah SWT menuruti hawa nafsu kita) dan cahaya dari-Nya serta menanamkan keimanan yang diperkuat dengan ruh-Nya, yang dengan itu pola pikir & tindakan kita berbuah keimanan dan amal sholeh yang bermanfaat buat diri, keluarga dan lingkungan.

Papahan, 10 Jumadil Akhir 1445 atau 23 Des 2023

Tujuh Tingkat Pemahaman Ilmu

Pada setiap wujud ataupun peristiwa, umumnya akan dilihat dari sudut pemahaman lahir saja. Misalnya perut merasakan lapar, maka pemahamannya...