Kamis, 15 Februari 2024

Perjanjian Kita Dengan Allah SWT

 Seorang anak menuntut kepada kedua orang tuanya, “Ayah dan ibu yang menginginkan aku ada di dunia ini, yang bukan mauku, maka menjadi kewajiban ayah dan  ibu untuk membahagiakanku.”

Lalu ayahnya menyampaikan kepada kami bahwa beliau akan menuntut Allah SWT untuk membahagiakan keluarganya.

Tuntutan tersebut adalah wajar. Hanya salah alamat. Mestinya tuntutan tersebut disampaikan kepada Allah SWT. Kenyataannya, hal ini sudah dituangkan dalam QS Al Fatihah. Tentunya tuntutan tersebut pastinya akan dipenuhi Allah SWT. Buktinya leluhur kita Nabi Adam (AS) diciptakan di surga, sarana kehidupan bisa dipergunakan untuk menyenangkan kita.

Namun tentunya harus ada perjanjian yang wajib kita penuhi dan yang paling utama adalah mengakui eksistensi Allah SWT dan bersedia mengabdi kepada-Nya. Diantara isi perjanjian tersebut sebagaimana disampaikan Nabi (SAW) lewat Mu’adz bin Jabal (RA) bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah (SAW) bersabda, “Allah Ta’ala berfirman:

·       “Hai anak Adam, malulah kepada-Ku ketika engkau bermaksiat, maka Aku malu kepadamu pada hari dipintakannya amal yang lebih besar. Jika Aku malu padamu, maka Aku tidak akan menyiksamu.

Pada saat kita bermaksiat, biasanya kita tidak ingat akan Allah SWT karena kecintaan kita akan perbuatan tersebut. Pun kalau kita ingat, namun kecintaan kita akan kenikmatan membuat kita mengabaikan-Nya.

·       Hai anak Adam, bertaubatlah engkau kepada-Ku, niscaya Aku akan memuliakanmu seperti memuliakan para Nabi.

Dalam upaya memenuhi janji, sejatinya Allah SWT banyak memberikan kemudahan-kemudahan, diantaranya adalah pertobatan. Namun entah kenapa umat semakin sulit untuk mau mengakui salah?

·       Hai anak Adam, janganlah kamu memalingkan hatimu dari-Ku, maka Aku akan menghinakanmu dan Aku benar-benar tidak akan menolongmu.

Kesenangan sudah menjadi target utama dalam kehidupan ini dan sarana untuk mendapatannya adalah dengan memiliki uang. Bukan saja menjadi target, uang juga sudah menjadi nilai. Buktinya orang yang memiliki uang akan lebih dihormati. Akibatnya kesibukan dalam memperjuangan untuk memperoleh uang ini memalingkan hati kita dari Allah SWT.

·       Hai anak Adam, kalau kamu berjumpa Aku pada hari Kiamat dimana kamu membawa amal-amal kebaikan seperti amal kebaikan penduduk bumi, maka Aku tidak akan menerima amalmu sehingga kamu membenarkan janji dan ancaman-Ku.

Kita melakukan amal ibadah didasarkan atas persepsi kita sendiri. Bahkan persepsi itu sudah menjadi kebenaran yang diyakininya. Padahal yang memiliki ini semua adalah Allah SWT, demikian pula kebenaran akan janji dan ancaman-Nya. Kenapa kita tidak meminta penjelasan dan pertolongan kepada-Nya daripada mempersepsikan sendiri dalam beramal?

·       Hai anak Adam, sesungguhnya Aku adalah Pemberi rezeki dan engkau yang Kuberi rezeki serta engkau tahu kalau Aku menepati rezekimu, maka sekali-sekali engkau jangan berani meninggalkan ketaatanmu pada-Ku sebab mengurus rezeki. Karena sesungguhnya jika kamu berani meninggalkan ketaatanmu kepada-Ku sebab mengurus rezekimu, maka Aku memastikan siksaan-Ku kepadamu.

Kita ketakutan akan kemiskinan bahkan mati kelaparan. Padahal kita hidup dihidupkan dan sudah sepantasnya dihidupi oleh Yang Menciptakan. Semestinya kesibukan mencari rezeki adalah bagian dari ketaatan kita kepada Allah dan bukan sebaliknya, yaitu mengabaikan ketaatan kita kepada-Nya karena sibuk mencari rezeki. Ini menandai bahwa kita semakin tidak percaya kepada-Nya.

Hai anak Adam, peliharalah karena Aku lima perkara itu, engkau pasti mendapatkan Surga.”””

Inilah perjanjian kita dengan Allah SWT yang dituangkan dalam hadits Qudsi[1] terseebut. Semoga Allah menolong kita untuk bisa memenuhi perjanjian tersebut.

Papahan, 2 Sya’ban 1445 atau 14 Feb 2024



[1] Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Al ‘Ushfuri, Terjemah dari kitab Al Mawa’idhul “Ushfuriyah, PT Karya Toha Putra, Semarang, 1993, hal. 31.

Jumat, 02 Februari 2024

Hidup Di Dunia Memang Susah

 

Diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyab (RA), ia berkata: “Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib (KW) keluar dari rumah, lalu Salman Al Farisi (RA) menjumpainya. Maka Ali berkata kepadanya, “Hai ayah Abdullah, bagaimana engkau berpagi-pagi?”

Jawab Salman, “Hai Amirul Mu’minin, saya berpagi-pagi antara empat kesusahan.”

Ali bertanya, “Semoga Allah merahmatimu dan apa empat kesusahan itu?”

Jawab Salman, “Menyusahi tanggungan keluarga yang membutuhkan roti, menyusahi Allah yang memerintahkan aku dengan keta’atan, menyusahi syetan yang menyuruhku berbuat maksiat dan menyusahi malaikatul maut yang akan mencabut nyawaku.”

Ali berkata, “Bergembiralah engkau wahai ayah Abdullah, sesungguhnya setiap perkara itu ada derajad bagimu. Dan sesungguhnya saya pernah datang pada Rasulullah (SAW) pada suatu hari, beliau bersabda, “Bagaimana engkau berpagi-pagi ya Ali?” Maka jawabku, “Ya Rasulullah (SAW), dalam empat kesusahan: di rumah tidak ada apa-apa selain air dan sesungguhnya saya seorang yang susah terhadap keadaan keluargaku, susah untuk menta’ati Allah, menyusahi akhir hayat dan susah terhadap malaikat maut.” Maka Nabi (SAW) berkata, “Bergembiralah engkau hai Ali, sebab menyusahi tanggungan keluarga itu menjadi tirai dari neraka, menyusahi ta’at terhadap Pencipta itu selamat dari siksaan dan menyusahi nasibnya di akhir hayat itu perjuangan dan itu lebih utama daripada beribadah sunah enam puluh tahun dan menyusahi malaikat maut itu menjadi penebus dosa seluruhnya. Ketahuilah hai Ali bahwa rezeki para hamba itu ada pada Allah Ta’ala. Maka susahmu itu tidak membahayakan dan tidak membawa manfaat melainkan bahwa engkau akan diberi pahala karena memprihatinkan tanggungan keluargamu. Maka jadilah engkau seorang yang bersyukur, ta’at dan berserah diri kepada Allah, niscaya engkau menjadi kerabat Allah Ta’ala.” Saya bertanya, “Pada perkara apa saya harus bersyukur kepada Allah Ta’ala?” Rasulullah (SAW) bersabda, “Syukur dapat melaksanakan Islam.” Ali (KW) bertanya, “Dengan apa aku menta’ati Allah?” Nabi (SAW) bersabda, “Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billahi ‘Aliyyil  ‘Adhiim (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).” Kataku, “Apa saja aku harus meninggalkan?” Jawab Rasulullah (SAW), “Kemarahan. Sebab (meninggalkan) kemarahan itu dapat memadamkan kemarahan Rabb Yang Maha Agung, dapat memberatkan timbangan amal dan akan menuntun ke Syurga.””

Salman Al Farisi berkata, “Semoga Allah menambahkan kemuliaan kepadamu dan sesungguhnya aku adalah orang yang menyusahi beberapa perkara itu, khususnya menyusahi banyaknya tanggungan keluarga.”

Ali berkata, “Hai Salman Al Farisi, aku mendengar Rasulullah (SAW) bersabda, “Siapa yang tidak memperhatikan nasib keluarga, maka dia tidak memperoleh bagian Syurga.”

Salman Al Farisi bertanya, “Apakah Rasulullah (SAW) tidak mengatakan (bahwa) orang yang mempunyai beberapa keluarga itu tidak akan beruntung selama?”

Ali menjawab, “Hai Salman Al Farisi, bukan demikian. Jika penghidupanmu dari yang halal, maka engkau berbahagia. Hai Salman, Syurga itu rindu kepada orang yang prihatin dan susah terhadap yang halal.”””[1]

Jujur, memang berat menghadapi keempat kesusahan hidup tersebut. Untunglah bahwa dalam keempat kesusahan tersebut, Allah SWT menganugerahi derajad yang tinggi. Mestinya dengan berita ini, kita tidak lagi mengeluh bahkan kita wajib bersyukur dan memenuhi kewajiban tersebut dengan riang gembira.

Sebaliknya, berhati-hatilah mereka yang menjalani kehidupan dengan segala kemudahan dan penuh kenikmatan duniawi.


Papahan, 02 Feb 2024 / 22 Rajab 1445



[1] Drs. M Ali Chasan Umar, Hikayat-Hikayat Teladan Dalam 40 Hadits terjemahan dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Al ‘Ushfuri, PT Karya Toha Putra, Semarang, 1993, hal 97 - 101

Jumat, 26 Januari 2024

Sugeng Kondur Bapak (Bapak Mas Supranoto)

Mendapat kabar atas wafatnya bapak Mas Supranoto, diri ini terasa lemas tanpa daya dan air mata kasih sayang pun mengalir. Siapa lagi yang akan dengan tulus Ikhlas menerima amanat untuk menjaga umat dan negara ini?

Masih ingat akan ucapan beliau yang mengatakan bahwa lubang Juja Majuja sudah semakin lebar, sumpah potong telinga bahwa Imam Mahdi sudah ada dan bagaimana beliau mengatasi perpecahan bangsa paska 212. Belum lagi didikan beliau yang luar biasa berbasis kepada inzal (beliau menyebut dengan wahyu) dan bukan persepsi diri. Nilai-nilai kami dibongkar habis dengan disuruh semedi dekat patung, dengan sajen-sajen; Dimana selama ini kami anggap sebagai kemusyrikan. Dengan enteng beliau bertanya, “Kok takut dengan patung dan sajen, bukan kepada Tuhan kalian?” Hingga beberapa teman pun keluar dari didikan beliau dan menyebar fitnah kemana-mana. Namun setelah menjalani dan lulus, kami baru mengerti iman yang sesungguhnya yang tidak kami duga sebelumnya.

Setelah masa “penyucian” selesai, barulah beliau membeber Islam versi Nabi Muhammad (SAW) yang beliau sebut dengan “Islami Nurul Muhammad”. Memang beliau adalah bernasab kepada Nabi (SAW), yaitu dibuktikan dengan pengakuan Rabithah Al Alawiyah berdasarkan dokumen silsilah dari jalur Buyut Mas Mochammad Saleh. Meski beliau tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang penting.

Pembeberan Islam versi Islami Nurul Muhammad memang luar biasa. Beliau bisa membeber secara nalar apa-apa yang disampaikan Nabi Muhammad (SAW) baik itu Rukun Iman dan Rukun Islam termasuk membeber perihal Al Qur’an. Padahal beliau tidak pernah mengaji Quran.

Beliau menemukan Rumus A yang bisa menjelaskan perihal ciptaan, penciptaan dan Sang Pencipta. Rumus yang diturunkan dari hukum atau fakta atau kepastian. Bukankah dengan rumus, peradaban atau perwujudaan bisa terjadi? Rumus A yang dianggap remeh oleh orang-orang yang sok tahu.

Mengenal beliau semenjak 2002, dengan begitu banyak peristiwa yang dilalui bersama beliau, bingung bagaimana mengenalkan beliau kepada publik. Sedangkan beliau tidak ingin dikenal. Masih ingat pesan beliau kepada mas Joyo bahwa kalau kelak beliau pulang, jangan beritahu siapapun, segera dikuburkan baru lapor perangkat RT / RW.

Beliau tetaplah bapak kami, meski kenakalan kami luar biasa dalam membantah argumen maupun petuah bahkan menyakiti hati beliau.

Selamat jalan bapak, semoga Allah merahmati dan mengampuni serta menempatkan bapak di maqam yang tertinggi. Insya Allah semua ajaran yang telah bapak sampaikan tetap akan kami hidupkan sebagai penerang umat yang mau menyimak. Maafkan anakmu yang durhaka ini. Kami akan segera menyusul. Ya Allah, maafkan dan ampuni kami yang durhaka ini.


Papahan, 25 Jan 2024 / 14 Rajab 1445


Minggu, 21 Januari 2024

Iman umat akhir zaman sangat mengagumkan

 

Dari Ibnu Abbas (RA) bahwasanya Rasulullah (SAW) bersabda, “Apakah kamu semua tahu iman orang yang sangat mengagumkan?”

Para sahabat (RA) menjawab, “Iman para malaikat, ya Rasulullah.”

Nabi (SAW) bersabda, “Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka itu berbakti terhadap perintah Allah.”

Para sahabat (RA) berkata, “Para Nabi ya Rasulullah (SAW).”

Nabi (SAW) bersabda, “Bagaimana para Nabi itu tidak beriman, sedangkan malaikat Jibril (AS) itu turun kepada mereka membawa perintah dari langit.”

Para sahabat (RA) berkata, “Para sahabatmu ya Rasulullah (SAW).”

Nabi (SAW) bersabda, “Bagaimana para sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka itu melihat mu’jizat dariku dan mereka mesti beriman dan aku pun menceritakan kepada mereka apa saja yang telah diturunkan kepadaku.

Tetapi orang-orang yang sangat mengagumkan imannya adalah golongan yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku, mereka pun membenarkan aku. Maka mereka itulah saudaraku.”

Iman umat akhir zaman didasarkan atas inzal dari pengetahuan a5’’’, pengertian a6’’’ dan akal a7’’’, artinya umat akhir zaman yang imannya sangat menakjubkan adalah yang bisa memastikan keberadaan Rabbul ‘alamin, selalu berupaya mendekatan diri kepada-Nya dan selalu berupaya hadir dengan tidak menyekutukan-Nya berdasarkan ilmunya serta tidak mengandalkan keajaiban-keajaiban.

Mereka bisa memastikan keberadaan Rabbul ‘alamin berdasarkan ‘ilmul yaqin, yaitu dengan menggunakan keberadaan dirinya dan alam semesta sebagai bukti akan adanya Rabbul ‘alamin atau Yang Maha Kuasa. Untuk menandai bahwa mereka beriman kepada-Nya adalah dengan melaksanakan ritual agama yang diperintahkan oleh-Nya dan telah disampaikan dan dicontohkan oleh utusan-Nya, yaitu Nabi Muhammad (SAW).

Setelah memastikan perihal ada-Nya Rabbul ‘alamin, mereka selalu konsisten berjuang untuk mengenal-Nya. Menjalankan ritual agama dengan pengenalan semakin dalam akan Dia merupakan upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Wujud dari hadir ke hadirat-Nya adalah dengan selalu menyaksikan atau selalu yaqin bahwa mereka disaksikan Allah SWT pada setiap saat dan setiap aktifitas.

Dalam QS Al Mu’minuun 23 ayat 2 – 9, orang-orang beriman dicirikan sebagai berikut:

o   Khusyu’ dalam sholat

o   Menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna

o   Menunaikan zakat

o   Memelihara kemaluannya

o   Memegang amanat dan janji serta

o   Memelihara sholatnya

Tentunya dengan ciri-ciri di atas, kita bisa mengukur kita sudah beriman atau belum. Namun ingat, yang pasti bisa dan berhak mengukur adalah Allah SWT sendiri. Oleh karena itu adalah lebih baik selalu berjuang meningkatkan keimanan dan amal sholeh kita dengan sikap bahwa kita belumlah sempurna.

Namun kebanyakan manusia adalah senang akan sesuatu yang instan dan luar biasa, seperti keajaiban-keajaiban. Ketika ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal tersebut, orang-orang pun mengimani lalu berduyun-duyun mendatangi. Karena bisa jadi keajaiban-keajaiban akibat bantuan makhluk gaib (khodam). Inilah bahaya dari strategi dan cara setan untuk menyesatkan manusia bahkan membawa mereka untuk dilaknat Allah. Diantara jebakan setan adalah kebiasaan mengaku sebagai orang beriman, seolah-olah mereka lupa akan QS Al Hujurat 49 ayat 14: Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam qolbumu (quluwbikum); dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Marilah kita perkuat keimanan kita dengan sebenar-benarnya dengan pengadaan, pendekatan dan penghadiran tanpa perlu mengharapkan keajaiban-keajaiban!


Papahan, 15 Jan 2024 / 5 Rajab 1445

Minggu, 14 Januari 2024

Akhir zaman membawa semakin banyak jiwa-jiwa terhijab

QS Al Anfaal 8 ayat 24: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi (yachuwlu) antara manusia (al mar`i) dan hatinya (qalbihi) dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.

Ingatkah bahwa kita menjalani kehidupan dengan sibuk mengikuti naluri dan kesenangan hawa nafsu? Bahkan dalam menjalankan kegiatan keagamaan juga didasarkan atas kedua hal tersebut dan bukan dilaksanakan dengan pengertian a6’’’. Artinya kalau tidak ngawur ya seperti orang tidak sadar. Bukankah itu semua merupakan bukti bahwa diri kita dicipta adalah untuk kesenangan?

Dengan sibuk memburu kesenangan, maka sudah sepantasnya diri kita terhijab dari qolbu yang merupakan pusat terbitnya keimanan kepada Allah SWT.

Akibatnya Allah SWT pun dilupakan bahkan diabaikan, dianggap tidak ada. Pun kalau dianggap ada hanya akan dijadikan sebagai pengabul akan kesenangan.

Dengan terkabulnya kesenangan, maka orang tersebut dianggap sukses. Apalagi kalau sudah menjadi crazy rich, yaitu mampu membayar kesenangan apapun. Dan kesuksesan mereka menjadi teladan bagi yang lain. Maka orang-orang pun berlomba-lomba memamerkan (flexing) kesuksesan melalui berbagai media.

Namun tidakkah kita tahu bahwa setiap orang akan mati?

Lalu mereka pun menciptakan khayalan (persepsi) berupa reinkarnasi. Akibatnya orang-orang kurang mempersiapkan diri menghadapi kematian. Reinkarnasi yang terjadi pada segelintir orang adalah produk setan. Setan-setan berpura-pura menjadi produk reinkarnasi pada orang-orang tertentu untuk mengecoh mereka-mereka yang terbawa kepada dorongan spiritual. Tujuan setan-setan mengecoh adalah agar menjauhkan manusia lain dari iman kepada Allah SWT. Menjauh dari tujuan itu artinya tersesat. Bahkan ada yang tersesat dan menyesatkan, hingga bukan saja menjauh dari tujuan, bahkan dilaknat-Nya.

Marilah kita kembali kepada seruan Allah dan Rasul-Nya, yaitu seruan yang membawa kepada kehidupan, sebelum kamu akan menyesal dalam keabadian. Karena akhirat itu pasti dan reinkarnasi hanyalah persepsi.


 

Papahan, 09 Jan 2024 / 28 Jumadil Akhir 1445


Sabtu, 23 Desember 2023

Ini aliran apa ya? Jangan-jangan ini aliran sesat.

 

Ketika membaca tulisan kami, kebanyakan bertanya-tanya, ini aliran apa ya? Bahkan ada yang langsung menyatakan bahwa ini aliran sesat.

Inilah menariknya pola pikir orang-orang zaman sekarang, yaitu secara tidak sadar selalu berbasis kepada nilai-nilai aliran agama. Nilai pribadi muncul dari penilaian hati a5’’ yang berhubungan dengan adanya informasi a5’’’ yang telah dia terima sebelumnya dan dipercayai sebagai nilai kebenaran dan juga indra & motorik a5’. Dengan menerima informasi baru yang berbeda dengan nilai-nilai pribadinya, maka secara reflek ketiganya akan memberikan reaksi penolakan.

Nilai pribadi adalah apa yang dipercayai sebagai kebenaran. Nilai pribadi ada yang bersifat persepsi, namun karena dipercayai sebagai kebenaran, maka nilai tersebut akan menjadi ukuran. Otomatis yang berbeda akan dicap salah. Orang Barat menyebut pola pikir semacam ini sebagai “fixed mindset” yang banyak dicela dan bukan “growth mindset” yang didorong oleh mereka untuk dikembangkan bahkan dibuahkan dalam laku.

Permasalahannya adalah bagaimana kita bisa membangun suatu nilai pribadi yang pasti benar bukan yang dipersepsikan benar oleh pribadinya?

Sebagaimana disebutkan di atas, nilai pribadi berasal dari penilaian hati a5’’. Hati a6 yang berada dalam dada orang sejatinya adalah Rahmat Ilahi. Tentunya yang berasal dari Rahmat Ilahi pastilah benar adanya, karena Dia lah Sang Maha Benar Al Haqq (a5’’ >>> a6). Penerimaan akan nilai Ilahi ini tidaklah mudah, karena bertentangan dengan dorongan hawa nafsu (ghodhob). Otomatis nilai pribadi adalah persepsinya sendiri (a6 >>> a5’’’). Sehingga pantaslah kalau Allah SWT berfirman dalam QS Al Mu’minun 23 ayat 52 – 54: Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. Selanjutnya bahkan dicap musyrik oleh Allah SWT dalam QS Ar Ruum 30 ayat 30 – 32: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan Kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan jangan kamu termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Semoga Allah membuka dada kita untuk menerima Islam (berserah diri menerima Allah SWT sebagai Ilah kita bukan meminta Allah SWT menuruti hawa nafsu kita) dan cahaya dari-Nya serta menanamkan keimanan yang diperkuat dengan ruh-Nya, yang dengan itu pola pikir & tindakan kita berbuah keimanan dan amal sholeh yang bermanfaat buat diri, keluarga dan lingkungan.

Papahan, 10 Jumadil Akhir 1445 atau 23 Des 2023

Minggu, 17 Desember 2023

Di Zaman Ini, Dimanakah Wali-Wali Allah?

 

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah (SWT) bertanya kepada Musa (AS). “Musa, apakah engkau telah mengerjakan suatu amalan untuk-Ku?”

“Rabb-ku saya telah sholat, puasa dan bersedekah, bersujud karena-Mu serta memuji-Mu, membaca Kitab-Mu dan berdzikir kepada-Mu,” jawab Musa (AS).

“Musa, di dalam sholat ada pembelaan bagimu, di dalam puasa ada surga untukmu, di dalam sedekah ada naungan untukmu dan di dalam tasbih ada Cahaya untukmu. Lalu apa amalan lain yang engkau kerjakan untuk-Ku?”

“Rabb-ku, tunjukkan padaku amalan yang dapat kukerjakan untuk-Mu?”

“Musa, apakah engkau menolong wali-Ku? Apakah engkau memusuhi musuh-Ku?”

Musa pun mengerti bahwa amalan yang paling utama adalah mencinta dan membenci karena Allah serta membenci musuh-musuh-Nya.[1] Ini adalah akhlak orang-orang yang Zuhud.

Semua amal umat manusia adalah bagi dirinya, kecuali amalan orang-orang yang menolong wali-wali Allah. Dengan menolong wali-wali Allah, mereka beramal untuk Allah (SWT). Siapakah wali-wali Allah dan bagaimana mengetahui keberadaan mereka? Menurut para Ulama, wali-wali Allah adalah mereka yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1.       Beriman, bertakwa dan suka menyembunyikan diri

Allah SWT berfirman dalam QS surat Yunus ayat 62-64: Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa, bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar,

Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya: “Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal (RA), kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?”

Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah (SAW) bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para Imam Petunjuk dan para Pelita Ilmu.”

2.       Selalu ingat kepada Allah dan jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah SWT

‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah (SAW) bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahasia, karena mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Rabb-nya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Rabb-nya.

Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Jiwa mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayang-Nya.

Mereka suka membagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi jiwa mereka di langit. Jasmani mereka di bumi, tetapi jiwa mereka di Arsy. Ruh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah QS Ibrahim 14 ayat 14: dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku."

Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya: “Ia pernah mendengar Rasulullah (SAW) bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, wali-wali-Ku adalah orang-orang yang Aku cintai. Mereka selalu mengingat-Ku dan Aku pun mengingat mereka.”

Dari Said (RA), ia berkata: “Ketika Rasulullah (SAW) ditanya: “Siapa wali-wali Allah?”

Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”

3.       Mereka saling menyayangi dengan sesamanya

Dari Umar Ibnul Khattab (RA) berkata: “Rasulullah (SAW) bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para Nabi dan para Syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.”

Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?”

Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” Kemudian Rasulullah (SAW) membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

4.       Pandai mengendalikan diri di saat marah, wara’ dan berbudi pekerti yang baik

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas (RA) bahwa Rasulullah (SAW) bersabda: “Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, yaitu: pandai mengendalikan diri di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”

5.       Selalu berjuang mencari ridha Allah

Rasulullah (SAW) bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para Nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan ridha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal karena akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para Malaikat dan para Nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.”

Kemudian Rasulullah (SAW) menangis karena rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksa-Nya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari perjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”

6.       Selalu menegakkan agama Allah

Imam Ali Bin Abi Thalib (KW) berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka.

Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agama-Nya dan syariat-Nya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi ruhaninya membumbung ke alam Malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i yang dianugerahi keyakinan kepada agama-Nya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”

7.       Selalu mencintai dan merindukan Allah

Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para Siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hamba-Ku yang mencintai-Ku dan selalu merindukan Aku dan Aku pun demikian. Mereka suka mengingat-Ku dan memandang-Ku dan Aku pun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. ”

Tanya seorang Siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?” Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, tetapi mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba, ketika tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam sholatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepada-Ku. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untuk-Ku. Mereka rindu dengan kasih sayang-Ku.

Mereka Aku beri tiga karunia: Pertama, Aku beri cahaya-Ku ke dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaran-Ku kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajah-Ku kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”

8.       Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung

Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan: “Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pingsan.”

Maka dengan izin Allah, orang itu segera sadar, sehingga Rasulullah (SAW) bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?”

Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan” sampai akhir surah (QS Al Mukminun 23 ayat 115 - 119).”

Maka Rasul (SAW) bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”

Mereka dianugerahi karunia dari Allah (karamah) yang menunjukkan kecintaan Allah kepada mereka, sebagaimana hadits-hadits berikut:

Dari Anas ibnu Malik (RA) berkata: “Rasulullah (SAW) bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”

Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah (SAW) pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh karena itu, berdoalah untuk kami.”

Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.

Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan Nabi-Mu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.

Dari Ibnu Umar (RA), katanya: “Rasulullah (SAW) bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmat-Nya dan diberi hidup dalam afiyah-Nya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurga-Nya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”

Di zaman ini dimanakah kita bisa menemukan mereka, sehingga kita bisa beramal untuk Allah SWT?

Kita tidak perlu sibuk mencarinya, namun berjuanglah hingga kita memiliki akhlak seperti yang dijelaskan di atas.

Papahan, 3 Jumadil Akhir 1445 atau 16 Des 2023



[1] Menyingkap Hati Menghampiri Ilahi, Ziarah Ruhani Bersama Imam Al-Ghazali, Pustaka Hidayah, 1999, hal. 151.

Berprestasi Tanpa Menyakiti; Hamba Yang Rendah Hati

Dan hamba-hamba Ar Rahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapk...